Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
85 | Hadiah Alzam


__ADS_3

Selamat kepada kalian yang telah berhasil menembak paket dari siapa. Nih othor kasih kiss 😘😘


Selamat Membaca ....


Kanna mengernyit saat Zahra menyuruhnya untuk membuka sebuah paketan. "Ini apa? Dari siapa?" tanyanya.


"Gak tahu dari siapa karena nggak ada nama pengirimnya. Katanya mas Kanna buka biar tahu apa isinya. Katanya sih buat Deena," jelas Zahra.


Karena Kanna sangat merasa penasaran dengan apa isi paketan itu dia pun segera membukanya. Pikiran Kanna hampir sama dengan pikiran Zahra yang menebak jika itu adalah paketan dari orang yang tidak menyukainya. Namun, saat dibuka Kanna merasa sangat terkejut dengan isinya.


Sebuah boneka yang hampir menyerupai boneka Calline, tetapi ukurannya lebih besar. Di dalamnya juga ada sebuah kartu ucapan selamat tahun untuk Deena. Kanna hanya bisa membuang napas beratnya saat membaca tulisan tangan itu.


"Apa itu, Mas?" tanya Zahra yang penasaran.


Kanna segera menyerahkan kartu ucapan itu kepada Zahra. Tangannya juga mengeluarkan boneka yang ada di dalamnya. Tidak hanya itu saja ternyata ada sebuah kunci. Jika dilihat kunci itu menyerupai sebuah kunci rumah.


"Wah ... ini kakaknya Calline," ujar Deena dengan wajah berbinar saat melihat isi dari kotak tersebut. Deena tidak menyangka jika ada boneka yang sama seperti miliknya, tetapi lebih besar.


"Ini dari siapa, Pa?" tanya Deena yang ingin tahu.


"Papa juga gak tahu, Dee. Gak ada nama pengirimnya," jawab Kanna.


Tangan Kanna segera mengeluarkan satu persatu isi dari dalam kotak tersebut. Selain boneka dan juga kunci rumah ternyata masih ada sebuah amplop putih.


"Itu apa lagi, Mas?" tanya Zahra yang melihat tangan Kanna membuka sebuah amplop. Karena Kanna tidak tahu dia hanya menyendikkan bahunya. Perlahan kanan mulai membuka dan membaca isi dari surat tersebut.


Untuk kalian yang ada di jauh sana.


Mungkin kalian akan heran dan bertanya-tanya siapa pengirim misterius ini, atau mungkin kalian malah sudah bisa menembaknya. Terlepas dari itu aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang kalian miliki saat ini. Aku tidak ingin membahas yang lain, karena jika aku membahasnya tidak butuh lima kertas untuk menulisnya.


Teruntukmu Kanna, terima kasih kamu telah mencurahkan kasih dan sayangmu kepada Deena setulus hatimu. Bahkan kamu menyayanginya melebihi sayangmu kepada anakmu sendiri. Aku salut dengan ketulusanmu. Aku harap kamu bisa menjaganya. dengan baik.

__ADS_1


Dan teruntuk kamu Zahra, mungkin kata maaf tak akan bisa untuk menyembuhkan lukamu. Melalui surat ini aku ingin meminta maaf atas apa yang telah aku perbuat kepadamu selama ini. Sebenarnya tidak ada yang perlu ku sesali, semua telah berlalu. Terima kasih telah melahirkan anak kita, dan merawatnya hingga menjelma bagai bidadari kecil. Aku memang tak pantas disebut sebagai seorang ayah, tapi percayalah aku menyayangi kalian berdua. Dan satu lagi, jika malam itu aku sama sekali tak ingin kamu. Aku hanya menggunakan kesempatan itu untuk memancing amarah Kanna untuk membencimu.


Namun, nyatanya aku salah. Ternyata Kanna pria yang jadi gardan tercepat untukmu dan juga untuk anak kita. Aku harap kalian bisa hidup bahagia selamanya. Mungkin kamu tidak akan asing lagi dengan kunci itu. Itu adalah kunci rumah lamaku. Karena Deena adalah satu-satunya pewarisku, maka aku memberikan rumah itu kepadanya. Bukan cuma itu saja, kelak jika dia sudah dewasa apa yang aku miliki juga akan menjadi miliknya*. Sampaikan salamku kepada Deena katakan kepadanya jika aku sangat menyayanginya.


^^^Sekian.^^^


^^^Alzam^^^


Kanna dan Zahra hanya bisa membuang napas sesak dalam dadanya. Dia tidak menyangka jika paketan itu dari Alzam yang tak ketahui keberadaannya.


"Papa dan Mama kenapa belum?" tanya Deena yang terheran dengan sikap kedua orang tuanya.


Kanna yang tersadar dari lamunannya segera menghampiri Deena dan menyampaikan pesan dari Alzam.


"Apa?! Jadi boneka ini dari papa Alzam?" tanya Deena wajah berseri.


Kanna hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Dia juga memberitahu jika Alzam menyayangi dirinya.


🍂🍂🍂


"Ra, aku minta maaf karena tidak bisa mengantarkan hari pertama Deena masuk sekolah TK. Sebenarnya aku merasa keberatan jika membiarkanmu seorang diri untuk mendampingi Deena, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku," ucap Kanna dengan berat.


"Gak apa-apa, Mas. Kamu tenang saja, Deena tidak akan kecewa meskipun kamu tidak ikut dengannya.".


Kanna benar-benar merasa sangat bersalah karena tidak bisa mendampingi Deena untuk pertama kali masuk sekolah TK.


"Dee, Papa minta maaf karena Papa tidak bisa mendampingi mu. Namun, sebagai gantinya Papa akan mengantarkan mu sampai ke dalam kelas, bagaimana?" tawar Kanna yang selalu bisa meluluhkan hati Deena.


Wajah yang tadinya kusut, kini mendadak licin seperti terkena Kispray. "Janji?"


Kanna hanya bisa menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Iya Papa janji."

__ADS_1


Kanna tidak menyangka jika waktu begitu cepat terlalu. Sepertinya baru kemarin Deena lahir, tetapi kini sudah masuk sekolah.


Menjadi murid baru membuat Deena tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman lainnya. Meskipun sebenarnya dia masih suka menyendiri.


"Ingat pesan Papa, Deena nggak boleh nakal sama teman-temannya, oke?" pesan Kanna sebelum meninggalkan acaranya."


"Siap, Pa!"


Setelah mengantarkan Deena hingga ke dalam kelasnya, Kanna segera melanjutkan lagi perjalanannya untuk menunju ke kampus.


Hari pertama masuk sekolah membuat Deena sedikit gugup. Namun, berkat dukungan dari kedua orang tuanya, Deena mampu mengusirnya.


Baru saja selesai dalam acara pengenalan, tiba-tiba sekolahan itu diserang oleh orang yang tak dikenal. Dengan ganas mereka menodongkan sebuah pisau kecil ke wajah para orang tua yang turut mendampingi anaknya.


Deena dan Zahra hanya saling bisa berpelukan. Keduanya tidak tahu apa yang telah terjadi. "Ma, Deena takut," lirih Deena dengan wajah ketakutan


"Kamu tenang saja, kita tidak akan kenapa-napa."


Namun, siapa yang akan menyangka jika salah satu dari mereka akan menarik paksa tangan Deena hingga terpisah dari Zahra.


"Mama tolongin Deena!" Dengan berteriak sambil meronta-ronta, berharap dia bisa lepas dari genggaman orang yang menariknya.


"Ma ... tolongin Deena, Ma ...."


Zahra yang ingin mengejar Deena, tiba-tiba saja merasakan perutnya yang terasa sakit. Dia mengaduh kesakitan hingga tubuhnya terjatuh ke lantai.


"Deena ...," panggil Zahra dengan menahan rasa sakitnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2