
...Sedalam-dalamnya ku pendam bangkai, pada akhirnya tercium juga. ...
......~Alzam~......
Hari ini aku membutuhkan untuk libur lagi. Ternyata memiliki dua orang istri itu tidaklah segampang yang kupikirkan. Aku harus memutar isi kepala agar Aira tak mengetahui jika aku sudah menikahi Zahra terlebih dahulu.
Berat memang jika aku harus hidup dalam kepura-puraan selama satu tahun kedepan.
Saat aku ingin kembali lagi ke rumah Zahra, mbok Inah memintaku untuk berbicara empat mata. Setelah sampai di taman belakang, mbok Inah masih membisu untuk beberapa saat sebelum mengintrogasiku lebih lanjut.
"Den! sampai kapan den Al akan terus hidup dalam kepalsuan seperti ini? Apakah sedikitpun den Al tak memikirkan bagaimana perasaan kedua wanita yang telah den Al lukai? Mbok tahu jika tadi malam den Al menginap di rumah non Ara. Den, jika memang den Al tak mencintai non Ara, lepaskan dia. Kasian dia, Den!" kata mbok Inah penuh penekanan.
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya aku juga tidak ingin memanfaatkan Zahra, tapi aku sudah terlanjur membelinya, meskipun dia tak mengetahui perjanjianku dengan ibunya. Aku hanya butuh waktu satu tahun, setelah itu aku akan melepaskannya.
"Aku tidak bisa melepaskannya, Mbok. Saat ini dia sedang hamil," ujarku dengan tatapan lurus ke depan.
Bola mata mbok Inah hampir saja keluar saat mendengar pengakuanku yang mengejutkan.
"Hamil?" cicit mbok Inah dengan rasa shock.
"Iya, Mbok. Sebentar lagi kami akan memiliki anak. Aku tidak akan sanggup jika melihat Aira kecewa dengan kenyataan yang ada. Setidaknya kami sudah memiliki anak, meksipun bukan dari rahim Aira," ucapku dengan bangga.
"Itu terlalu kejam untuk non Ara, Den! Tidak akan ada seorang ibu yang rela berpisah dari darah dagingnya, Den!" Ya Allah Gusti, sadar Den, sadar!"
Kulihat mbok Inah sangat kecewa dengan sikapku yang sangat kejam. Menurut ku, aku tidaklah kejam karena aku telah membeli Zahra seharga 100 juta. Bukankah itu adalah harga yang fantastis? Hanya aku yang berani membelinya dengan harga segitu, Mbok."
"Sungguh den Al tak punya hati sedikitpun! Mbok sangat kecewa dengan cara berpikir den Al. Selama ini mbok tak pernah mengajarkan kepada den Al untuk menyakiti seorang wanita." Kulihat lagi mbok Inah mengusup jejak air mata yang telah merembes. Wanita yang sudah kuanggap sebagai pengganti ibuku itu benar-benar kecewa dengan sikapku.
__ADS_1
Tanpa kata, mbok Inah berlalu meninggalkanku yang masih membisu. Ada nyeri di dada saat melihat mbok Inah menangis karena kebodohanku. Kuhela napas beratku, akan tetapi saat aku ingin masuk ke rumah, kulihat Aira sudah berdiri disamping pintu. Tubuhku semakin kaku saat melihat dia tengah menyeka air matanya.
"Aira," lirihku.
Dia hanya terisak dalam diam. Bibirku pun mendadak terasa kelu untuk bersuara. Semakin dekat langkahku, semakin terdengar isaknya. Aku bisa menebak jika dia mendengar percakapanku dengan mbok Inah.
Dengan sesenggukan akhirnya Aira berusaha untuk bersuara. "Mas, katakan jika yang ku dengarkan itu tidaklah benar. Ada apa dengan rahimku? Mengapa aku tak bisa memiliki anak? Apakah aku mandul?" tanya Aira dengan air mata yang telah tumpah ruah di pipinya.
Tak tahu bagaimana ku jelaskan jika rahimnya telah rusak. Aku menjambak rambutku dengan frustasi.
"Kenapa diam, Mas? Jawab!" bentak Aira.
Aku masih membisu, lidahku benar-benar kelu.
"Wanita mana yang telah kamu hamili, Mas?" tanya Aira dengan lemah.
"Mas Al, jawab!" bentak Aira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ra ... maaf," ucapku dengan gugup.
Meskipun aku pembohong berat, tetapi untuk saat ini aku tak memiliki nyali untuk menatap mata Aira.
"Jelaskan sekarang atau aku akan pulang ke Bandung!" acam Aira.
Mataku langsung membulat lebar. Segera ku gelengankan kepalaku. Aku tidak ingin masalah ini sampai terdengar ke pihak keluarga Aira.
"Ra ... aku akan jelaskan, tapi ku mohon kamu tetap disini," pintaku dengan penuh harap.
__ADS_1
"Cepat jelaskan!"
Kuambil napas dalam-dalam sebelum ku keluarkan dengan kasar. Belum juga setengah permainan aku sudah kalah. Karena tak ingin kehilangan Aira, akupun menjelaskan tanpa ada satupun yang ditutupi. Namun diluar dugaan, Aira malah mendaratkan tanparan keras di pipiku.
PLAKkK
"Kamu sudah keterlaluan, Mas! Aku pikir kamu adalah pria yang baik dan tulus. Tak ku sangka kamu tega melakukan semua ini padaku, terlebih pada Ara! Bahkan aku sangat percaya jika dia adalah pembantu rumah ini. Pantas saja dia pergi meninggalkan rumah ini. Wanita manapun tak akan sanggup dengan kelakuan suaminya yang kejam seperti kamu, Mas!"
Kucoba untuk menenangkan Aira yang terus terisak dalam tangisnya, tetapi dia menolak saat ingin ku sentuh.
"Aku melakukan semua ini demi kamu, Ra. Demi masa depan kita."
"Cukup Mas! Aku sangat kecewa denganmu!" Aira langsung berlari menuju kamar. Saat ku kejar, dia sudah masuk kedalam kamar.
"Ra, aku minta maaf. Aku salah. Semua ini aku lakukan untuk kamu, Ra. Aku hanya tak ingin melihatmu bersedih," ucapku sambil menggedor pintu kamar.
Tak ada respon dari Aira. Mungkin saat ini dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
Langkahku gontai saat menapaki anak tangga. Mataku sekilas melihat mbok Inah yang sedang berada di dapur. Ingin sekali ku lampiaskan kemarahanku padanya. Namun, otakku masih bisa berpikir dengan jernih. Dia adalah wanita pengganti ibuku.
"Mbok, titip Aira untuk beberapa hari. Saat ini dia butuh waktu untuk untuk sendiri," ujarku pada mbok Inah. Aku tak butuh jawaban iya atau tidak.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG