
Menunggu adalah kata yang paling membosankan, begitulah yang dirasakan oleh Kanna selama kurang lebih 16 jam dalam penerbangan. Namun, semuanya terbayar lunas ketika pesawat sudah mulai mendarat di Bandara.
Bukan hanya Kanna saja yang bahagia, tetapi Deena juga merasa sangat bahagia karena dia bisa kembali lagi ke tanah airnya. Namun, dibalik kebahagiaan terselip rasa sedih yang mendalam, karena saat ini sang kakek sedang terbaring di Rumah sakit.
"Bagaimana keadaan bapak, Bu?" tanya Kanna setelah bertemu dengan ibunya di ruang tunggu.
Sang ibu yang tak bisa menangis lagi segera memeluk tubuh anaknya. Berharap dia biasa kuat untuk menghadapi kenyataan yang akan datang.
"Bapak kamu masih kritis, Na. Bahkan kata dokter bapak kamu tidak bisa bertahan lama."
Kanna melepaskan pelukan dari sang ibu. Tubuhnya membeku untuk beberapa saat setelah mendengar penjelasan dari ibunya.
"Kamu harus ikhlas apapun yang terjadi nanti," lanjut ibunya lagi.
Zahra pun turut memberi kekuatan untuk ibu mertuanya agar lebih tegar untuk menerima keadaan. "Ibu yang kuat, ya. Disini ada Zahra dan juga mas Kanna."
Kanna merasa sangat teriris ketika melihat keadaan bapaknya yang telah dipasangi berbagai macam alat bantu untuk menopang hidupnya. Tanpa disadari, air mata yang berada di pelupuk mata telah jatuh membasahi pipinya.
"Mas ... yang sabar ya," lirih Zahra pelan saat melihat kondisi bapak mertuanya. "kamu harus kuat!"
Akhirnya untuk pertama kalinya Kanna menjatuhkan kepalanya di atas Zahra selama lima tahun bersama. Menumpahkan kesedihannya dalam pelukan sang istri. Kali ini Kanna tidak bisa menguatkan dirinya sendiri meskipun dia sudah berusaha dengan keras.
"Ra, bapak, Ra!" Kanna menumpahkan semua kesedihannya. Dia tidak peduli lagi dengan gengsinya.
"Sabar ya, Mas. Kita doakan yang terbaik untuk bapak."
Rasa lelah yang bersarang dalam tubuh Kanna tak dia rasakan. Bahkan dia rela tidak tidur hanya untuk menunggu bapaknya terbangun. "Pak, bapak harus segera bangun. Lihatlah Deena sudah kembali."
Malam ini Kanna sengaja menunggu sang bapaknya seorang diri. Dia menyuruh Zahra dan ibunya untuk beristirahat di rumah. Meskipun tempat mendapat penolakan dari ibunya, tetapi Kanna agar sang ibu pulang bersama dengan Zahra.
Kanna juga tak habis pikir dengan kedua kakaknya yang tak kunjung untuk menjenguk bapaknya, walaupun mereka sudah mendapat kabar lebih cepat. Dengan alasan pekerjaan mereka mengabaikan kondisi orang tuanya. Orang pertama setelah ibu yang berjasa dalam hidupnya.
Kanna tidak tahu bagaimana jalan pikiran kedua kakak yang terus sibuk mengajar dunia. Padahal semakin dunia dikejar, maka akan semakin menjauh.
__ADS_1
Kanna juga berusaha menghubungi keduanya, tetapi mereka tetap saja tidak bisa datang sebentar hanya sebentar.
Punggung Kanna terasa tegang. Mungkin karena dia kurang beristirahat. Namun, saat dia hendak menyandarkan tubuhnya di dinding, terlihat beberapa orang dokter masuk ke kamar bapaknya. "Ada apa ya?"
Kanna mendekat ke pintu kamar. Saat itu juga sang dokter membuka pintunya. Kanna yang merasa penasaran segera bertanya kepada sang dokter.
"Dok, ada apa?" tanya Kanna langsung.
Sang dokter membuang napas beratnya sebelum menyampaikan kondisi pasiennya.
"Maaf Mas, ayah telah tiada."
Tubuh Kanna membeku untuk beberapa saat. Dia masih tidak percaya dengan berita yang disampaikan oleh dokter. Tak lama kemudian tubuhnya lurus lantai.
"Innalilahi wa innailaihi ro'jiun."
Mata Kanna melihat saat semua alat yang terpasang di tubuh bapaknya sudah mulai dilepaskan. Air matanya jatuh begitu saja tanpa suara. Hatinya hancur. Bahkan seluruh tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Mulutnya pun tak sanggup lagi untuk mengeluarkan kata-kata. Beruntung ada seorang dokter yang membantu tubuh karena untuk bangkit.
"Pak, mengapa bapak malah pergi? Bapak bilang mau menggendong cucu Bapak. Saat ini Kanna sedang berusaha untuk mewujudkan impian Bapak, tetapi mengapa malah pergi." Tangis Kanna pecah saat tubuh bapaknya telah ditutup menggunakan.
Isak tangis pun juga menyelimuti rumah orang tua Kanna. Ibu Kanna yang tak percaya jika belahan jiwanya pergi untuk selamanya menangis sejadi-jadinya ditengah malam.
Zahra yang berada di rumah ibu mertuanya berusaha untuk menenangkannya. Kepergian orang yang sangat dicintai memanglah saat menyakitkan, terlebih itu adalah seorang suami. Tempat berbagi dan berkeluh kesah, tempat bersandar dari beratnya cobaan yang selalu bersama dalam suka dan duka. Namun, kini dia harus pergi untuk selamanya.
"Ibu yang sabar ya." Hanya itu yang bisa Zahra katakan pada ibu mertuanya.
"Bapak, Ra." Tangis itu tiada henti.
"Ibu harus kuat, terlebih harus ikhlas. Memang sulit, Bu. Tapi dengan cara seperti itu bapak akan pergi dengan tenang."
Beruntung saja ada Zahra yang di sisinya saat ini. Jika tidak, mungkin ibu Kanna akan terus meraung menyebut nama suaminya. Mungkin kata ikhlas adalah kata yang paling mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk jalani.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Setelah acara pemakaman, keluarga besar Kanna berkumpul untuk memberikan semangat dan dukungan kepada ibunya Kanna. Hidup dan mati yang milik sang pencipta.
Di dalam sebuah kamar, Deena menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada boneka Calline, meskipun dia tahu jika bonekanya tidak akan pernah meresponnya lagi.
"Call, aku sedih. Kakek baru saja pergi untuk selamanya. Aku takut jika papa Alzam juga akan pergi seperti kakek. Aku belum meminta maaf kepadanya dan aku juga belum mengatakan jika aku menyayanginya. meskipun dia jahat, tetapi dia sangat menyayangiku," oceh Deena dengan mengelus rambut Calline.
Namun siapa yang menyangka, tiba-tiba boneka Calline membalas ucapan Deena. Deena yang terkejut segera mendudukkan boneka Calline di meja. Ini adalah kali pertama boneka itu mau berbicara lagi kepada dirinya setelah sekian bulan membisu.
"Kamu mau berbicara lagi kepadaku?" tanya Deena dengan wajah yang bersinar. "Call, kamu udah nggak marah lagi sama aku?"
Deena yang awalnya ingin bersorak karena Calline sudah mau berbicara langsung dicegah oleh Calline. Boneka itu hanya mengatakan kepada Deena jika kecelakaan kakeknya adalah unsur kesengajaan dari seseorang yang tidak menyukainya.
"Jadi mobil kakek sengaja dirusak?" tanya Deena setelah mendengarkan penjelasan Calline.
"Kamu ngomong apa, Dee?" tanya Zahra yang sudah berada dibelakang Deena.
Deen yang terkejut langsung menutup mulutnya. Dia tidak menyangka jika mamanya akan masuk ke kamar.
"Tadi kamu ngomong apa, Dee?" yang Zahra lagi.
Saat Deena ingin menjelaskan kepada mamanya, Calline melarang. Karena hanya Deena yang bisa mendengarkan suara boneka Calline, akhirnya Deena mengurungkan niatnya.
"Gak ada kok, Ma. Emang tadi Deena ngomong apa?" tanya Deena pura-pura.
"Ah, lupakan saja! Mungkin Mama hanya salah dengar. Kita turun yuk dibawah ada yang mau ketemu sama Deena."
.
.
.
.
__ADS_1