
Suara teriakan begitu melengking ke telinga Alzam. Dengan cepat Melani menyambar handuk untuk menutupi tubuhnya yang volos.
"Pak Alzam ngapain ke sini?" tanya Melani yang merasa sangat gugup.
Alzam masih membeku di ujung pintu. Dirinya masih syok dengan apa yang ia lihat baru saja, meskipun ia sudah merasakannya.
"Malah bengong di situ! Mau mesumm ya!" lanjut Melani lagi.
Alzam langsung menggelengkan kepalanya dan menepis tuduhan Melani. Memangnya apa salahnya jika seorang suami melihat istrinya sedang mandi, bukankah tadi pagi mereka juga mandi bersama?
"Aku hanya mencarimu, aku pikir kamu diculik," kata Alzam apa adanya.
"Ya udah, ngapain lagi di situ? keluar dulu aku mau mandi!"
Saat itu juga Alzam keluar dengan pikiran yang ngebleng. Entah mengapa bibirnya tiba-tiba terasa kelu saat ingin menjelaskan apa maksud dengan tujuannya masuk ke kamar mandi.
...
Hari-hari berlalu begitu saja. Kesedihan yang dialami oleh Melani seketika berubah menjadi sebuah kebahagiaan yang selalu menghiasi harinya, seakan tak ada lagi kesedihan yang ia rasakan. Hubungannya bersama dengan Deena pun kian membaik. Bocah 5 tahun itu telah menerima Melani kembali. Bahkan Deena juga sudah mengganti panggilannya menjadi mama, sama seperti ia memanggil Zahra.
Saat ini hidupnya seperti seorang Ratu yang dimuliakan oleh sang raja. Ia dihujani dengan kasih sayang yang sangat tulus. Bahkan sebelumnya ia tak pernah membayangkan jika Alzam akan memperlakukannya dirinya sangat baik. Semua yang diinginkan olehnya selalu dikabulkan oleh Alzam.
"Mas, kamu ngapain di dalam kamar mandi sangat lama? Aku juga ingin memakainya," teriak Melani dari luar.
Alzam yang berada di kamar mandi menyuruh Melani untuk bersabar dengan alasan perutnya masih sakit.
Sebenarnya saat ini Alzam sedang berusaha membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya. Akhir-akhir ini darah itu sering keluar dengan sendirinya ketika ia merasa kelelahan, terlebih setelah Alzam melakukan penerbangan. Dan itu yang membuatnya sangat tersiksa.
"Mas cepatlah! Aku sudah tidak tahan!" teriak Melani lagi.
"Iya, aku keluar!"
Setelah dirasa darah itu sudah mulai berhenti, Alzam segera keluar dari kamar mandi. Baru saja pintu dibuka melanin langsung menyerobot masuk ke dalam.
"Aku tuh dah gak tahan, Mas Al malah santai. Awas dulu!" Melani langsung menutup pintu kamar mandi.
Dalam hati ia berpikir entah apa yang dilakukan suaminya di kamar mandi sehingga sangat lama.
__ADS_1
"Aku pikir hanya perempuan yang suka lama nongkrong di kamar mandi, ternyata laki-laki juga ada yang seperti itu," kata Melani sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.
Namun, tanpa sengaja matanya menangkap setitik bercak merah yang berada di lantai. Karena merasa penasaran Melani segera memastikan lebih jelas.
"Ini darah apa?" gumam Melani dengan rasa penasarannya.
Terdiam dalam pemikirannya, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kotak sampah di samping pintu. Dimana ada sebuah tisu yang benar perhatiannya. Seingatnya ia tidak pernah menyimpan tisu di kamar mandi, tetapi mengapa ada tisu di tempat sampah.
Saat dibuka ternyata tempat sampah itu penuh dengan tisu. Yang membuat matanya terbelalak adalah tisu itu ada bercak merahnya. Dipastikan lebih jelas ternyata bercak itu adalah darah.
"Apa ini?" Jantung Melani jangan berdebar ketika mengingat Alzam yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan cepat ya mencari keberadaan suaminya.
"Mas ... Mas Alzam," panggil Melani.
Karena tidak menemukan keberadaan Alzam dimanapun, akhirnya Melani memutuskan untuk mencarinya ke ruang kerja. Tepat saat ia membuka pintu Alzam sedang ingin mene sebuah pil.
"Mas Alzam!" Matanya bertemu dengan mata Alzam. Suaminya itu segera meletakkan menyembunyikan yang hendak ditelannya tadi.
"Apa itu?" tanya Melani dengan langkah mendekat.
Alzam menggeleng dengan pelan. "Maksud kamu apa, Mel?" tanya Alzam pura-pura.
"Aku memang bodoh, tapi aku tahu jika saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Apa yang kamu sembunyikan di tanganmu?" tanya Melani dengan wajah datar, bahkan tak ada senyum seperti biasanya.
Sebisa mungkin Alzam mencoba untuk menutupi apa yang ia sembunyikan, tetapi nyatanya Melani tak sedikitpun mempercayainya. Langkahnya semakin mendekat dengan tatapan mata yang menusuk. Bahkan tatapan seperti ini belum pernah Alzam rasakan selama usia pernikahan mereka.
"Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kamu sembunyikan!" tangan Melani menengadah meminta Alzam untuk memberikan sesuatu yang ia sembunyikan.
"Kamu ini kenapa sih, Mel. Aku tidak menyembunyikan apa-apa." Alzam bersikukuh dengan ucapannya. Namun, Melani tak mempercayainya sedikitpun.
"Kamu bilang sayang sama aku, kamu bilang kamu mencintaiku dan kamu bilang kamu ingin membahagiakanku. Apakah seperti ini caranya? Kamu membohongiku dan kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan atau aku akan mencari tahunya sendiri!" ancam Melani.
Saat itu juga Alzam memberikan sebuah botol yang berisi pil kepada Melani. Dengan tercengang Melani mempertanyakan obat apa yang berada di dalam botol itu.
"Itu adalah vitamin. Akhir-akhir ini kesehatan tubuhku menurun, jadi aku membeli vitamin agar staminaku tetap terjaga. Aku menyembunyikan dirimu agar kamu tak merasa khawatir, karena aku tidak mau membuatmu sangat mengkhawatirkan aku," jelas Alzam dengan berbohong.
Namun, karena Melani sudah menemukan sesuatu di kamar mandi tadi, sehingga ia memperdalam kecurigaannya. Melani bisa menebak jika itu bukanlah vitamin biasa.
__ADS_1
"Katakan apakah kamu sedang sakit?" tanya melalui datar.
"Apakah aku terlihat sedang sakit? Tidak kan? Aku saat ini baik-baik saja, Mel."
"Bohong!" Kali ini Melani meninggikan suaranya dengan mata yang berkaca-kaca, karena Alzam yang masih berusaha untuk berbohong. "Sampai kapan kamu akan membohongiku Mas?"
Kini mata Alzam menatap Melani yang tengah menatapnya dengan tajam dan menusuk. Bibirnya sangat kelu saat ia ingin mengatakan yang sebenarnya. Saat ini Alzam belum siap untuk mengatakan jika saat ini ia sedang mengulur sisa waktu yang ia miliki.
"Kenapa kamu malah diam, Mas? Baiklah aja kamu tidak ingin memberitahuku, aku akan mencari tahu hanya sendiri." Melani merasa putus asa ketika Alzam tak ingin berterus terang kepadanya.
Hanya helaan napas panjang yang keluar dari mulut Alzam. Mungkin ini cara Tuhan agar Alzam terus terang kepada Melani.
"Baiklah aku akan mengatakan yang sebenarnya, tetapi berjanjilah kepadaku ataupun yang terjadi nanti jangan pernah kamu meninggalkanku dalam ketidakberdayaanku maupun menangisiku karena ketidakrelaanmu. Sesungguhnya aku hanya manusia biasa."
"Kamu ngomong apa sih Mas? Aku minta kamu berterus terang bukan untukmu menasehati ku," protes Melani.
Dengan pelan, Alzam menuntun Melani untuk duduk di sebuah sofa.
"Mungkin kamu pernah mendengar jika aku pernah sekarat, tetapi saat itu Tuhan masih berbaik hati untuk memberikan kesempatan hidup agar aku bisa menebus semua kesalahanku. Mungkin saat ini waktuku telah habis dan Tuhan telah menginginkanku untuk kembali pada-Nya," jelas Alzam. "Saat ini aku sedang menunggu hari itu tiba, Mel."
Melani yang mendengarkan penjelasan Alzam hanya menggelengkan kepala. "Jadi kamu mau bilang jika saat ini kamu sedang sekarat dan hampir mati? Aku gak percaya, Mas! Kamu sakit apa, Mas? Mengapa kamu tak pernah bercerita kepadaku? Apakah kamu belum bisa menerimaku sepenuhnya sehingga kamu memendamnya seorang diri? Aku ini istri kamu Mas. Aku berhak tahu apa yang terjadi kepadamu. Kamu jahat." Akhirnya tangis Melani pecah.
Mata Alzam memerah, menahan air mata agar tidak jatuh. Ia pun segera memeluk tubuh Melani yang semakin terisak.
"Maafkan aku, Mel. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu menjagamu, karena nyatanya aku kalah oleh takdirku sendiri."
Air mata Melani kian berjatuhan seiring dengan rasa sesak didalam dadanya.
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
Alhamdulillah, terima kasih untuk kalian semua, tanpa kalian novel itu tidak berarti apa-apa. Maka dari itu aku ingin berbagi sedikit untuk kalian pembaca setia novel ini yang mengikuti dari awal sampai saat ini. Mungkin sudah banyak mereka yang pergi satu persatu, tapi tidak apa-apa mungkin belum berjodoh 😀 Insyaallah aku mau kasih bonus pulsa 30k untuk beberapa orang yang masih aktif dari awal sampai sekarang. Penilaian dilihat dari seberapa banyak kalian memberikan komentar 😀 Dan akan aku umumkan pada tanggal 1 Desember.
...~SEMOGA BERUNTUNG~...