
Sesampainya di rumah, Kanna segera menggendong tubuh Deena, karena bocah itu sudah tidur. Zahra hanya mengikuti langkah Kanna dengan gontai. Pikirannya masih terbayang akan sosok Alzam untuk melewati malam yang dingin. Hatinya sangat resah, tetapi Zahra mencoba untuk menutupinya demi menjaga perasaan Kanna.
"Kamu mandilah!" titah Kanna sambil menyerahkan sebuah handuk kepada Zahra. Setelah itu Kanna memilih untuk membaringkan tubuhnya sambil memainkan ponsel Hal itu membuat hati Zahra berdesir ngilu.
Selama berada di kamar mandi, Zahra terus memikirkan keadaan Alzam. Bagaimana jika kondisi kesehatan Alzam semakin memburuk? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada dirinya?
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sikap mas Kanna juga sudah berubah. Aku harus apa?" Zahra bermonolog dengan menatap tubuhnya pada sebuah cermin.
Setelah selesai mandi, Zahra langsung naik ke tempat tidur. Namun, saat itu juga Kanna segera beranjak untuk bangkit. "Aku mandi dulu," ujarnya dengan nada ketus.
Zahra hanya bisa menyunggingkan tipis. Terasa perih, tetapi dia berusaha untuk menutupinya. "Iya, Mas."
Tanpa ingin memakai serum ataupun pelembab kulit, Zahra memilih langsung merebahkan tubuhnya di samping Deena. Satu-satunya harapan untuknya tetap bertahan.
Mata Zahra terus menatap pintu kamar mandi, berharap sang suami segera keluar. Namun, nyatanya hingga beberapa menit Kanna tak kunjung keluar. Ingin rasanya dia mengetuk pintu dan menanyakan apakah dia baik-baik didalam kamar mandi? Hati Zahra mendadak terasa gelisah.
"Mas Kanna ngapain sih di kamar mandi. Dah hampir setengah jam dia didalam," gumam Zahra.
Tak peduli lagi, akhirnya Zahra segera turun dari tempat tidur dan mengetuk pintu kamar mandinya.
TOK ... TOK ... TOK ...
"Mas ... Mas Kanna," panggil Zahra.
Tak ada sahutan, tetapi pintu kamar mandi langsung dibuka. "Ada apa?" tanya Kanna.
"Kamu ngapain di kamar mandi lama sekali? Ini sudah malam, nanti masuk angin lho," ucap Zahra dengan kekhawatirannya.
"Kamu kenapa belum tidur. Tidur sana! Jangan sampai kamu sakit!" Kanna mengalihkan pembicaraan dan berlalu meninggalkan Zahra yang masih membeku menatap punggung Kanna.
"Ada apa ini?" tanya Zahra pada diri sendiri.
Zahra pun ikut naik keatas tempat tidur. Dengan posisi Deena berada ditengah, Zahra sedikit kesulitan untuk menatap wajah Kanna.
Seharusnya keadaan ini tidak canggung meskipun hanya beberapa hari tak bertemu. Zahra sudah pernah mengalaminya, bahkan bisa sampai dua Minggu baru bisa bertemu dengan Kanna. Namun, tidak untuk malam ini. Kanna sangat berbeda, dia begitu acuh dan dingin.
"Mas ...," panggil Zahra pelan.
__ADS_1
Meskipun Kanna belum tidur, dia tak menyahut.
"Mas ... maaf jika aku sudah mengecewakanmu."
"Kamu pasti lelah, tidurlah. Besok kita akan kembali ke pulang."
Deg!
Jantung Zahra berdebar kuat saat mendengar ucapan Kanna yang mengatakan ingin pulang besok. Lalu bagaimana dengan nasib mas Alzam, pikir Zahra.
Ingin memprotes, tetapi Zahra takut jika Kanna berpikir macam-macam. Meskipun berat, Zahra harus siap untuk pulang.
Matanya menatap wajah Deena. Meskipun wajahnya hampir mempunyai kemiripan dengannya, tetapi ada bagian-bagian yang milik Alzam yang menempel pada Deena. Mata dan hidung adalah aset yang milik Alzam yang menempel pada Deena.
"Mas Alzam, jika memang usiamu tak panjang lagi, aku berharap jika kamu pergi dengan tenang dan damai," batin Zahra..
🍂🍂🍂🍂
Pagi menyingsing dengan sangat cerah. Saat membuka mata, Deena merasa sangat bahagia karena tepat disamping kanan dan kirinya ada kedua orang tuanya. Sudah berbulan-bulan Deena tak merasakan kehangatan pelukan keduanya.
"Iya Ma. Pagi ini Deena senang sekali bisa berada ditengah-tengah mama dan papa," ujarnya.
Kanna yang mendengar celotehan Deena pun juga ikut membuka mata. "Udah bangun, Sayang?" sapanya yang langsung memberikan ciuman di pipi Deena.
Deen pun juga langsung membalas ciuman ke pipi Kanna dan bergantian ke pipi Zahra.
"Ya Allah hari ini Deena senang sekali karena bisa bobok lagi sama mama dan papa. Terimakasih karena semua doa Deena udah dikabulin." Deena menatap langit-langit kamar seraya menyapu wajahnya dengan kedua tangannya.
Detik kemudian Deena menghadap kearah Kanna dan mengabaikan mamanya. Meskipun Kanna dan Deena tak memiliki ikatan darah, keduanya terlihat sangat dekat. Bahkan Zahra yang berstatus sebagai ibunya akan kalah dengan Kanna.
"Pa, janji Papa mana? Belum juga jadi ya?" tanya Deena dengan kepolosannya.
Kening Kanna mengernyit. "Janji apa, Sayang?" Kanna sama sekali tak mengingat janjinya.
"Papa gimana sih, ganteng-ganteng tapi pikun," cibir Deena.
Kanna yang benar-benar tak mengingat janjinya hanya nyengir dan langsung menarik tubuh mungil itu untuk masuk kedalam tubuhnya yang kekar. "Maafkan Papa ya, papa beneran lupa. Memegang janji apa?"
__ADS_1
Deena mengerucutkan bibirnya. Bagaimana bisa sang papa melupakan janji manisnya.
"Papa pernah berjanji pada Deena jika Papa akan membuatkan adik untuk Deena kalau Deena mau bobok sendiri. Deena selama ini udah bobok sendiri. Sekarang adik untuk Deena udah jadi atau belum?"
Pernyataan Deena seakan menyetrum tubuh Kanna hingga kaku. Hatinya kembali perih jika mengingat janji yang tak akan pernah bisa dia tepati. Bagaimana Kanna akan menjelaskan jika kemungkinan besar adik itu tidak akan pernah jadi.
Begitu juga dengan Zahra yang mendadak kembali murung dan langsung memengagi perut dengan mata yang berkaca-kaca.
Seharusnya adik Deena itu masih ada jika dia tidak ceroboh. Semua karena kesalahannya sehingga adik untuk Deena pergi. Perlahan air mata Zahra keluar begitu saja.
Kanna yang masih terdiam menyadari jika Zahra menangis.
"Papa kok malah diam sih? Pasti belum jadi kan? Papa gimana sih? Deena udah lama menunggu adik Deena, Pa." Deena segera melepaskan tubuhnya untuk keluar dari dekapan Kanna. Namun, saat dia berbalik kearah mamanya, dia melihat jika sang mama sedang menangis.
"Mama menangis?" tanya Deena yang langsung menyeka air mata mamanya.
Zahra yang terkejut akan senyum kecil, langsung menyeka jejak air matanya.
"Mama hanya menangis bahagia, Sayang. Akhirnya kita bisa berkumpul kembali setelah berpisah lama, Nak," kilah Zahra untuk menutupi kesedihannya.
"Emang ada menangis karena bahagia? Deena aja nangis kalau Deena sedang merasa bersedih," celoteh Deena.
Hati Kanna sangat perih. Dia tahu jika Zahra sedang berbohong kepada anaknya. Ingin sekali bibir Kanna mengucapkan jika adik itu sudah jadi, tetapi takdir tak berkehendak kepada hidup adiknya. "Maafkan Papa, Dee," batin Kanna.
Kanna tak kuasa menahan hatinya yang nyeri. Dia kemudian memutuskan untuk ke kamar mandi. Bagaimana dia menepati janji yang telah dia buat kepada Deena.
Sesampainya di kamar mandi, tubuh Kanna langsung luruh dibalik pintu. Dia meremas kasar rambutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Selama ini dia sudah berusaha untuk kuat untuk menjadi sandaran keluarga kecilnya. Namun, dia sendiri tak punya sandaran untuk menguatkan dirinya sendiri. Hingga sampai saat ini bibir Kanna belum sanggup untuk memberi tahu vonis yang diberikan dokter untuk istrinya, karena Kanna masih menginginkan ada mukjizat yang akan datang.
"Ra, maafkan aku."
.
.
.
Sepi Woii .... jadi pengen nyiksa Zahra terus rasanya.
__ADS_1