
Butuh waktu untuk menemukan dimana Deena berada. Dengan langkah cepatnya Kanna berusaha untuk segera menemukan Deena. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada bocah itu akan mengalami trauma kembali.
"Deena!" panggil Kanna, berharap Deena mendengar panggilannya.
Didalam ruangan yang kosong, samar-samar Naura mendengar nama Deena dipanggil. Saat dia melihat ke arah Deena, ternyata bocah itu seperti sedang menggigil. Naura tidak tahu apa yang terjadi kepada Deena. karena panik Naura berteriak meminta tolong berharap seseorang yang memanggil Dina mendengar teriakannya.
"Tolong! Kami disini!" teriak Naura dengan keras.
Di luar, Kanna yang mendengar permintaan tolong bergegas untuk mencari dari mana suara itu.
"Deena! Kamu dimana, Nak?"
Kanna berusaha untuk mencari asal suara yang meminta tolong dan tepat di sebuah ruangan dengan jelas Kanna mendengar suara itu. Tanpa pikir panjang Kanna segera mendobrak pintunya.
Matanya langsung menghindar untuk mencari keberadaan Deena. Tepat disebuah kursi tubuh Deena diikat.
"Deena!" teriak Kanna.
Kanna segera berlari menuju ke arah Deena yang terlihat sudah menggigil. "Kamu gak papa, Sayang?" Kanna segera melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Tak ada kata yang terucap dari bibir Deena. Bocah itu langsung memeluk Kanna dan mengajaknya untuk pulang.
"Papa ayo kita pulang! Deena takut," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya pada Kanna.
"Iya, Sayang. Kita pulang sekarang." Kanna pun segera mengangkat tubuh Deena. Namun, kini matanya menangkap seseorang yang sedang diikat juga. Dia tak lain adalah Naura, adik dari Zahra.
__ADS_1
Sebelum keluar Kanna membantu melepaskan tali yang mengikat tubuh Naura.
"Mas, maksaih ya," ucapannya setelah Kanna berhasil membebaskan dirinya.
"Mending kamu ikut kami pulang saja!" ajak Kanna pada adik iparnya.
Melani mengangguk pelan. Mungkin saat ini pulang ke rumah kakaknya adalah jalan yang terbaik daripada dia pulang ke rumahnya dan akan ditangkap kembali oleh bapaknya. Naura pun mengikuti langkah-langkah untuk segera meninggalkan ruangan itu.
Sesampainya di luar, Kanna menyuruh Naura untuk menjaga Deena sebentar karena dia ingin melihat bagaimana Alzam menghadapi pria gila itu. Namun, saat Kanna baru saja hendak menuju ke halaman belakang beberapa polisi yang menggunakan seragam lengkap telah pak Hasan. Dia juga melihat Alzam dan Melani mengikutinya dari belakang. Mata pak Hasan pun menatap tajam kearah Naura yang sedang menggendong Deena.
"Mbak Na." Seketika Melani berlari kearah Naura. "Mbak Na sama Deena gak kenapa-napa kan?"
Namun, saat Melani hendak menyentuh tubuh Deena bocah itu menepis tangan Melani. "Aunty jahat!" ujarnya. Saat itu juga Deena meronta untuk turun dari gendongan Naura.
"Papa, ayo kita pulang! Deena gak mau pulang ke rumah papa Alzam lagi Aunty jahat!" teriak Deena dengan kuat, membuat Alzam terpancing untuk menghampiri Deena.
"Ada apa ini?" tanya Alzam yang merasa penasaran karena Deena terlihat marah kepada Melani. Padahal sebelumnya Deena sangat memuji Melani, tetapi hanya hitungan jam tiba-tiba Deena membenci Melani.
"Dee, ada apa? Apa yang udah dilakukan Aunty padamu?" tanya Alzam yang sudah melirik kearah Melani.
"Aunty jahat! Dia udah ninggalin Deena sendirian di sekolahan dan bertemu dengan kakek itu. Deena gak mau temenin lagi sama Aunty!"
Saat ini Melani harus memberi penjelasan apa kepada Deena. Dia memang bersalah telah Deena di sekolahnya karena ingin mengetahui bagaimana keadaan kakaknya. Dengan tertunduk lesu Melani mau minta maaf kepada Deena. "Maafkan Aunty, Dee. Semua ini salah Aunty. Jika Aunty tidak pergi, mungkin kamu tidak akan mengalami penculikan seperti ini. Sekali lagi untuk minta maaf ya, Nak," sesal Melani.
__ADS_1
Namun, percuma saja jika Melani meminta maaf kepada Deena yang masih labil karena belum bisa mengerti akan keadaan yang sedang menimpanya.
Karena Deena terus meminta pulang, akhirnya Kanna memilih untuk meninggalkan tempat itu dan mengajak Naura untuk pulang ke rumahnya. Sebagai seorang kakak sudah kewajibannya untuk memberi perlindungan kepada Naura. Sungguh perpisahan yang menyakitkan untuk hati Melani meskipun hanya sesaat. Semua anganan dalam hatinya hancur seketika karena sebuah keteledorannya. Jika dia tidak bisa mendapatkan hati Deena lalu bagaimana dia bisa mendapatkan hati Alzam.
"Sudah jangan menangis! Aku tidak pernah menyukai seorang wanita menangis di depanku, ayo pulang!" ajak Alzam dengan ketus.
Selama perjalanan menuju ke rumah, tak ada sepatah kata yang mampu Melani katakan. Dia masih menyesali kecerobohannya yang sudah meninggalkan Deena. Untuk saat ini dia sudah sangat pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Alzam. Dia rela jika Alzam akan langsung menjatuhkan talak kepada dirinya karena dia sudah gagal untuk menjaga anaknya.
"Pak, aku benar-benar minta maaf. Semuanya terjadi karena kecerobohanku. Sekarang aku sudah pasrah dengan keputusan pak Alzam. aku sudah ikhlas jika Pak Alzam akan menjatuhkan talak kepadaku," ucap Melani sebelum turun dari mobil.
Alzam mende.sah pelan. "Penyesalanmu tidak berarti apa-apa, meskipun setelah ini aku pasti akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan Deena lagi. Sudahlah, kamu beristirahat dulu saja di rumah karena aku masih memiliki pekerjaan di kantor."
Melani hanya mengangguk pelan. Dia tahu jika saat ini Alzam sedang kecewa kepada dirinya, tetapi nasi telah menjadi bubur. Melani tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi setidaknya Deena sudah aman.
"Iya, Pak."
Setelah memastikan Melani masuk ke dalam rumah, Alzam segera meninggalkan pekarangan rumahnya.
.
.
...🥕🥕🥕...
__ADS_1
Sambil nunggu novel ini Up lagi mampir dulu yuk ke novel teman aku judulnya PERNIKAHAN SALSA, mampir ya!