
Kisah yang telah usai biarlah berlalu, jangan pernah mencoba untuk mengungkitnya kembali. Biarkanlah luka mengering dalam balutan kebahagiaan, jangan pernah menyentuhnya kembali. Kubur semua kenangan yang tersisa, karena masa lalu tidak akan pernah bisa untuk menjadi masa depan.
***
Alzam yang baru saja gabung bersama dengan sang nenek dan juga Zahra, merasa heran karena kedua wanita itu sama-sama terdiam. Entah apa yang sudah terjadi, sehingga suasana menjadi canggung.
"Apakah ada yang salah?" tanya Alzam heran.
"Tidak ada. Jika kamu sudah tidak ada urusan lagi sebaiknya kamu pulang!" usir sang nenek.
Alzam sudah yakin jika telah terjadi sesuatu kepada dua wanita beda usia itu. Bahkan sang nenek meninggalkannya begitu saja. Saat Alzam ingin meminta penjelasan dari neneknya, dua orang pengawal sang nenek mencegahnya.
"Sebaiknya kamu pulang saja! Mood Nyonya besar sedang tidak baik!"
Alzam menatap Zahra yang membisu. Bahkan wajahnya juga kaku. "Sebenarnya apa yang telah terjadi kepada kalian? Mengapa wanita tua itu merajuk?"
Zahra menyendikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Aku hanya berkata jujur saat beliau memberikan pertanyaan. Apakah salah jika aku jujur?"
Alzam segera menarik lengan Zahra untuk meninggalkan taman belakang. "Apa yang sudah kamu katakan kepada wanita tua itu?" ulang Alzam dengan rasa penasaran.
"Aku hanya mengatakan jika aku tidak bisa menikah denganmu karena aku sudah menikah dan memiliki seorang anak."
Alzam mengacak kasar rambutnya. "Arrgghh! mengapa kamu mengatakan seperti itu kepadanya? Apakah kamu tidak melihat usianya yang sudah sangat tua? Harusnya kamu mengikuti rencanaku. Dia hanya menginginkanku untuk menikah." Terlihat Alzam begitu frustasi.
__ADS_1
"Itu urusanmu, bukan urusanku!"
Zahra mengabaikan Alzam begitu saja. Sebenarnya pikiran Zahra saat ini sedang kalut. Nenek Alzam baru saja menceritakan jika Alzam sedang menderita penyakit yang mungkin usianya tak akan lama lagi. Ada rasa iba dihatinya, tetapi Zahra masih sadar akan statusnya yang sebagai istri Kanna.
Tak ada kata tega. Zahra memang tidak bisa menerima permintaan nenek Rose untuk menikah dengan Alzam karena Zahra sudah bersuami. Meskipun Zahra tak bersuami, Zahra juga tak akan mau untuk masuk kedalam lubang yang sama lagi. Cukup sekali dia jatuh.
"Ra, apakah tak ada sedikitpun rasa yang tersisa lagi untukku?" tanya Alzam saat melihat Zahra acuh padanya.
"Rasa itu telah lama mati. Jangan pernah berharap jika rasa itu akan tumbuh kembali. Aku sengaja menggantikan Deena karena aku tidak ingin Deena hancur dalam didikan mu."
Alzam sadar jika tak akan mudah untuk menghidupkan bunga yang telah lama mati. Namun, Alzam yakin jika dia memiliki tunas yang siap berkembang. Seharusnya dia merawat tunas itu dengan baik daripada mengharapkan bunga yang telah mati.
"Aku tahu kesalahanku tak akan pernah bisa dimaafkan. Tapi bagaimana jika apa yang kita lakukan tadi malam akan menjadi adiknya Deena? Apakah Kanna masih akan menerimanya? Jikapun iya, apakah kamu sanggup untuk melihatnya terluka? Ra, kembalilah padaku. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan juga Deena, buah hati kita." Alzam seperti sedang mengemis cinta pada seorang Zahra. Padahal jika mau, bisa saja Alzam mencari wanita yang lebih cantik lagi dari Zahra. Namun, hati kecilnya menginginkan Zahra untuk menemani sisa hidupnya.
Zahra berdecih. Dia sudah sangat muak mendengar ucapan Alzam bak sampah.
Alzam yang merasa jika belum bisa memenangkan hati Zahrah memilih fokus mengemudi. Untuk saat ini rasanya sia-sia untuk membujuk Zahra untuk kembali kedalam pelukannya.
Tak berapa lama, mobil Alzam telah sampai di apartemen tempatnya menginap. Setelah memarkirkan mobilnya, Alzam segera membukakan pintu mobil untuk Zahra. "Silahkan!"
Zahra segera mengikuti langkah Alzam menuju ke kamarnya. Namun, sepanjang perjalanan Zahra merasa ada yang sedang mengikutinya. Saat dilihat kebelakang, matanya tak menemukan siapapun.
"Apakah Hanya perasaanku saja?" batin Zahra.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar apartemen tempat tinggal Alzam, Zahra segera mencari ponselnya yang dia charger di dalam kamar Alzam. Dengan cepat, Zahra segera menghidupkan ponselnya untuk memberi kabar kepada suaminya. Namun, saat ponselnya sudah menyala, Zahra tertegun dengan beberapa pesan yang masuk.
Awalnya nama Kanna yang tertera di layar ponsel. Akan tetapi setelah itu ada nomer baru yang mengirimkan sebuah gambar dan video.
Karena merasa sangat penasaran akhirnya Zahra memilih untuk membuka pesan dari nomer tanpa nama. Matanya terbelalak saat pertama kali dia melihat foto dirinya yang tanpa busana. Namun, foto itu tak mengalahkan emosinya saat dia memutar video singkat.
"Sungguh mas Alzam, keterlaluan! Bisa-bisanya dia mengabadikan kejadian tadi malam. Tidak akan kuberikan video ini sampai ke tangan mas Kanna," lirih Zahra dangdut kobaran di dada.
"Bagaimana, kamu suka?" tanya Alzam tiba-tiba. "Itu hanya potongannya saja. Aku punya yang full. Kamu mau melihatnya?"
"Kamu benar-benar gila, Mas!" bentak Zahra dengan rasa emosinya.
"Bukankah kamu sudah tahu jika aku memang gila? Lalu apa yang akan kamu lakukan, sedangkan suamimu sudah mengetahui apa yang kita lakukan tadi malam," ujar Alzam dengan senyum smirk.
Zahra yang mendengar penjelasan Alzam langsung terbelalak. "Maksud kamu apa, Mas?"
.
.
.
.
__ADS_1
Moon maap, belum sempat di edit dah hujan. Bisanya kalau udah hujan sinyal hilang 🙏
Makasih ya buat yang masih tetap bersama dengan Author sampai disini 🥰 Semoga gak Bosen 😀