Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
89 | Hancur


__ADS_3

Sudah dua Minggu sejak kecelakaan terjadi. Namun, tak ada tanda-tanda Kanna dan Deena sadar. Sebagai seorang ayah, Alzam tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Deena. Dia memutuskan untuk membawa Deena berobat keluar negeri.


Tak ada pilihan lain, Zahra hanya pasrah dengan keputusan Alzam. Semua itu dia lakukan semata-mata demi kesembuhan Deena. Saat ini keduanya membuang egonya masing-masing demi sang anak.


Dengan derai air mata, Zahra menghujani kecu.pan terakhirnya untuk Deena. Entah sampai kapan Deena akan sadar dan kembali ke sisinya lagi.


"Mas, titip Deena," ujar Zahra dengan menahan rasa sesak di dalam dadanya.


"Kamu tentang saja, aku pasti akan menjaga Deena dengan baik dan aku akan memastikan Deena akan segera bangun dari tidurnya. Kamu disini juga harus jaga kesehatanmu. Jangan banyak pikiran, ingat hanya tinggal beberapa minggu lagi hari persalinan mu tiba. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku."


Zahra mengangguk pelan. Air matanya pun menetes saat tubuh Deena sudah masuk kedalam sebuah mobil. Alzam yang merasa iba, memberanikan diri untuk membawa Zahra kedalam pelukannya.


"Ra maafkan aku. Semua ini karena kebodohanku. Jika aku bisa memutar waktu, aku tak akan pernah menyia-nyiakanmu. Semua sudah berlalu, tak ada yang perlu disesali. Maaf, sudah menabur luka di hatimu."


Setelah pelukan singkat itu terlepas, Zahra hanya bisa menatap punggung kekar itu meninggalkan dirinya bersama mobil yang membawa Deena. Hatinya kini benar-benar hancur. Air matanya semakin deras mengalir, kini hanya tinggal dirinya seorang untuk menguatkan diri.

__ADS_1


Baru saja Zahra ingin kembali ke ruangan Kanna, mata Zahra terbelalak saat melihat beberapa tim medis masuk kedalam kamar Kanna. Zahra yang penasaran berlari kecil untuk memastikan apa yang sudah terjadi.


"Sus, ada apa?" tanya Deena pada salah satu suster yang baru saja keluar dari kamar Kanna.


"Pasien mengalami kejang-kejang, Bu."


Tubuh Zahra mendadak terasa lemas. Namun, dia tetap menguatkan diri untuk masuk kedalam ruangan.


Mata terbelalak lebar saat semua alat medis telah dilepaskan dari tubuh Kanna. Dia menggeleng pelan. "Ini kenapa dilepas, Dok?" tanya Zahra dengan tubuh yang bergemetar.


"Apa?! Tidak mungkin! Pasti Dokter salah! Tidak mungkin suami saya meninggal. Tidak mungkin, Dok!" jerit Zahra yang tak kuasa menerima kenyataan yang ada.


Dia berlari menuju tempat dimana Kanna terbaring dan berusaha untuk membangunkan Kanna.


"Mas ... jangan bercanda, Mas! Ini gak lucu! Mas Kanna bangun!" teriak Zahra dengan isak tangisnya.

__ADS_1


Seberapa keras Zahra mencoba untuk membangunkan Kanna, tetap percuma. Karena Kanna sudah kembali kepada sang pencipta-Nya.


Seakan dunia terasa gelap. Tak ada cahaya yang menjadi penerangnya. Saat ini dunianya serasa hancur. Cinta dan impian lenyap begitu saja terbawa jasad yang terbujur kaku di liang lahat. Hanya tangis kesedihan yang menyelimuti hati. Seberapa kuat untuk tegar, nyatanya hati seorang wanita itu sangat rapuh. Terlebih tak ada satu tempat untuknya bersandar.


"Sabar, Nak. Ini adalah ujian terbesar dalam hidup kita, ketika orang yang kita cintai pergi untuk selamanya. Ada rasa tidak rela, tetapi pada akhirnya kita akan kembali kepada Sang Pencipta-Nya. Kamu harus kuat, demi anak yang ada didalam perutmu, Nak. Bukan kamu saja yang hancur, ibu juga jauh lebih hancur. Tak ada satupun keluarga yang tersisa. Hanya Kamu dan anak kamu yang ibu punya saat ini," ujar ibu Kanna untuk menguatkan hati Zahar


.


.


.


...SEKIAN...


...DAN...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


__ADS_2