
Kali ini Zahra sudah tak berdaya lagi. Setelah muntah-muntah dia sudah tak memiliki lagi tengah. Bahkan seluruh tubuhnya terasa lunglai. Bahkan untuk berdiri saja dia sudah tidak kuat. Beruntung saja Kanna masuk ke kamar.
Setelah mencari dan memanggil Zahra yang tak ditemukan, akhirnya Kanna mengecek Zahra di kamar mandi.
"Astaga Ara, apa yang telah terjadi?" tanya Kanna dengan kepanikannya.
Dengan cepat Kanna membopong tubuh istrinya. Namun, tidak untuk diletakkan di tempat tidur, melainkan langsung di bawa ke luar.
Asisten rumah tangga yang melihat merasa sangat terkejut saat melihat majikannya dengan langkah terburu-buru. Terlihat dengan membopong istrinya.
"Non Ara kenapa, Tuan?" tanya mbak Mina.
"Gak tahu, Mbak. Aku menemukan Ara di kamar mandi sudah dalam keadaan seperti ini. Tolong ikut aku ke rumah sakit ya."
Wanita yang di panggil mbak Mina mengangguk dan segera berlari ke depan untuk membukakan pintu mobil.
Mbak Mina langsung duduk di bangku belakang agar bisa memegangi tubuh Zahra. Kanna yang menyetir sudah merasa sangat cemas dengan keadaan istrinya. Dia takut apa yang pernah terjadi pada Zahra akan terulang lagi.
"Tuan, sepertinya Non Ara ingin muntah. Coba berhenti dulu," kata mbak Mina.
Kanna mengikuti saran dari mbak Mina dan langsung menepikan mobilnya. Benar saja saat Zahra baru membuka pintu mobil dia mengeluarkan rasa yang bergejolak dalam perutnya. Namun, karena Zahra tidak mau makan, hanya air yang dikeluarkannya.
"Kamu kenapa, Ra? Jangan buat aku semakin khawatir."
"Aku gak papa, Mas. Mungkin hanya masuk angin atau asam lambungku kumat lagi."
Setelah memastikan jika Zahra sudah merasa lega, akhirnya Kanna melanjutkan lagi perjalanan agar segera sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Mbak Mina tak hentinya memijat bahu Zahra, berharap bisa meredakan rasa mualnya.
Tak butuh waktu lama, mobil Kanna telah berhenti di depan sebuah rumah sakit. Saat Kanna ingin membopong tubuh Zahra, Zahra menolaknya.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas."
"Tapi Ra ... " ucapan Kanna langsung di potong oleh Zahra.
"Aku gak papa dan masih kuat untuk berjalan, Mas. Kaki aku tidak apa-apa."
Kanna hanya pasrah. Dia memilih memapah tubuh Zahra untuk masuk keruangan dokter.
"Istrinya kenapa, Pak?" tanya seorang dokter yang hendak memeriksa keadaan Zahra.
"Saya tidak tahu makanya saya minta dokter untuk memeriksanya," balas Kanna yang merasa kesal dengan sang dokter.
"Sudah berapa lama terlambat?" ucap dokter yang mengenakan tag name Rosa, kepada Zahra.
Zahra yang sedang diperiksa mencoba untuk mengingat kapan terakhir kali dia datang bulan. "Sepertinya dua bulan yang lalu, Dok."
Seketika Zahra menutup mulutnya saat menyadari ucapannya. "Apa itu artinya saya ...." Zahra menjeda ucapannya.
"Bisa kemungkinan, Bu. Saya sarankan agar anda dan suami untuk memastikan lagi ke dokter Obgyn agar lebih jelas," saran dokter dokter Rosa.
Kanna yang mendengar saran dari sang dokter terbelalak dengan rasa keterkejutannya. "Maksud dokter, istri saya hamil?" tanya Kanna tak percaya.
"Kemungkinan besar, Pak. Karena istri bapak sudah telat dua bulan. Tidak menutup kemungkinan jika saat ini istri bapak sedang hamil," jelas dokter Rosa.
__ADS_1
Wajah Kanna langsung berbinar. Dia tak dapat lagi menyembunyikan rasa haru dan bahagianya. Harapan dan impiannya memiliki malaikat kecil akhirnya bisa terwujudkan.
"Ra, kamu hamil?" tanya Kanna memastikan pada Zahra.
"Aku gak tahu, Mas."
Karena Kanna ingin segera memastikan, akhirnya dia segera membawa Zahra ke dokter yang telah disarankan oleh dokter Rosa. Raut wajah bahagianya tak surut. Dia sangat berharap jika Zahra benar-benar sedang mengandung buah cintanya. Namun, tidak dengan Zahra yang merasa gugup.
Dia takut jika prediksi dokter Rosa itu tidak benar. Zahra yang pernah dinyatakan tidak bisa memiliki anak lagi pasca melahirkan Deena membuatnya tidak yakin. Dia sangat takut jika pada akhirnya Kanna akan kecewa dengan kenyataannya.
Setelah melakukan pengecekan bersama dokter ahli kandungan, Zahra memang dinyatakan sedang hamil dengan usia kandungan 9 Minggu.
"Selamat, sepertinya tidak ada yang salah dengan hasil sebelumnya. Anda memang sedang hamil," jelas sang dokter.
Zahra masih membeku dengan rasa tidak percaya. Namun, dia juga merasa sangat bahagia dengan keajaiban yang sedang dilimpahkan kepada dirinya.
"Ra, kamu hamil. Selamat, Sayang." Dengan rasa penuh bahagia Kanna segera memeluk tubuh Zahra. Penantiannya selama ini tidak sia-sia. Akhirnya Tuhan meniupkan ruh ke rahim Zahra setelah prediksi tidak bisa mengandung lagi.
Zahra tak kuasa untuk membendung air matanya. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
"Tapi ... " Sang dokter menjeda ucapan membuat Kanna melepaskan pelukannya.
"Tapi apa, Dok?" tanya Kanna penasaran.
"Sepertinya kandungan istri bapak lemah dan rentan akan keguguran. Saya sarankan agar istri anda harus rajin kontrol dan cek up untuk memantau tumbuh kembangnya," saran sang dokter.
Kanna dan Zahra saling bertukar pandangan. Ternyata meskipun bisa hamil lagi, kandungan Zahra dinyatakan lemah.
__ADS_1
"Baik Dok, saya tidak akan melupakan pesan dari dokter," ucap Kanna.