
Kedekatan Melani dan juga om Arya bukan tanpa sebab, karena keduanya sudah kenal lebih awal. 7 tahun yang lalu saat itu Melani masih tinggal di rumah lamanya, Om Arya adalah salah satu tetangga dekatnya. Namun, kalau itu om Arya belum menikah sedangkan Melani berusia sekitar 11 tahun.
Lama tak bertemu tak membuat keduanya saling melupakan wajah mereka masing-masing, karena memang tak banyak yang berubah. Awalnya Melani merasa sangat terkejut saat mengenali om Arya yang tak lain adalah omnya Adam.
"Jadi sekarang kamu tinggal di mana?" tanya om Arya yang berjalan di samping Melani.
"Sekarang aku tinggal sama suami aku, Om," ujar Melani.
"Kamu udah nikah?" tanya om Arya.
Melani mengangguk pelan. Ia tak ingin menutupi fakta bahwa dirinya telah menikah.
"Selamat ya, atas pernikahanmu. Tapi nggak mau ngomong apakah suamimu tidak marah jika?"
"Dia nggak bakalan marah kok, Om. Lagian dia gak peduli sama aku," ucap Melani dengan sendu.
Arya sebagai pria dewasa, ia peka jika saat ini hubungan Melani dengan suaminya tidak sedang baik-baik saja. Ia mencoba untuk menghibur Melani agar tetap tegar.
"Jika kamu memang sudah tidak sanggup untuk bertahan, maka lepaskanlah agar tak menjadi beban hati dan pikiran. Untuk apa kita bertahan jika pasangan sama sekali tak menghargai? Kamu masih muda, masih panjang perjalananmu. Jangan mengurung diri dengan ketidakpastian, karena itu akan sangat menyakitkan," nasehat om Arya pada Melani.
Melani tersenyum tipis seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh om Arya, jika perjalanannya masih panjang. Jika ia memang tak berjodoh dengan Alzam, mungkin ia harus pergi dari sisinya. Untuk apa bertahan jika tidak pernah dianggap.
Cukup lama Arya membawa Melani sekedar berjalan-jalan di mall. Selain untuk menghibur gadis itu, Arya juga sedang penat dengan segala rutinitas setiap harinya. Mungkin dengan jalan-jalan pikirannya akan kembali fresh.
Sebenarnya Melani merasa penasaran mengapa om Arya yang terkenal dengan ketampanannya itu bisa menjadi seorang duda. Namun, Melani malu untuk menanyakan secara langsung. Mungkin ia akan menanyakan pada Adam saja.
"Mel, kamu makin besar makin cantik, ya?" puji Arya.
Melani hanya tersenyum tipis. Mendapatkan pujian dari Arya membuatnya serasa ingin melayang. Pesona Arya membuatnya lupa akan niat awal untuk mencombangkan Arya dengan Naura.
"Masih dalam masa pertumbuhan, Om. Besok kalau udah jadi emak-emak pasti kayak singa," kekeh Melani.
"Kalau udah punya dasar cantik, mau kayak macan pun juga tetap cantik, Mel."
Untuk kali pertama Melani disanjung dan dipuji. Andaikan saja Alzam memperlakukan dirinya seperti Arya, mungkin Melani akan menjadi satu-satunya wanita yang sangat bahagia di muka bumi. Namun, sayangnya semua itu mustahil bagi seorang Alzam untuk memuji dirinya. Bahkan dengan tegas Alzam melarang keras Melani untuk jatuh cinta padanya.
Tidak hanya jalan-jalan, Arya juga membelikan baju dan aksesoris untuk oleh-olehnya. Melani sudah menolaknya, tetapi Arya terus memaksa dan akhirnya Melani pasrah untuk menerima pemberian dari Arya.
"Sekali lagi terima kasih, Om," ujar Melani yang sangat puas dengan harinya, karena bisa melupakan rasa sakit dalam dadanya.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Oh iya bisa minta nomor teleponmu, kali aja aku ada waktu luang dan kita bisa jalan lagi, kalau suamimu gak marah." Bak seperti sedang terhipnotis, Melani segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
"Tulis aja nomor om Arya di sini," ucapnya.
Setelah berhasil menyimpan nomor di ponsel Melani, Arya segera mengajak Melani untuk pulang. Selain telah lelah, ternyata hari juga sudah hampir sore. Keduanya terbuat dari dalam suasana hati yang bahagia karena kita saling melengkapi. Arya yang sedang kesepian dan Melani yang sedang patah hati. Tidak ada salahnya bagi mereka untuk berbagi perasaan.
Saat ini mobil telah meninggalkan mall dan menuju ke rumah Melani alias rumah Alzam. Tak seperti saat berada di mobil Alzam yang hanya akan membisu sepanjang perjalanan. Kali ini Arya dan Melani saling bertukar pengalaman. Bahkan kini Melani tak merasa canggung saat menanyakan mengapa Arya bisa menjadi duda. Ternyata apa yang dialami oleh Arya tak jauh beda dengan apa yang dialaminya. Pasangannya tidak mencintainya. Karena Arya tidak ingin tertekan dengan keadaan, ia memutuskan untuk berpisah.
Sejenak Melani terdiam, jika berpisah bisa membuatnya bahagia lalu untuk apa bertahan yang tak pernah dipedulikan? Mungkin sudah cukup perjuangannya untuk meluluhkan hati Alzam yang sangat keras. Bahkan jika ia tak mengadu kepada Zahra, mungkin saja sampai saat ini Alzam tak akan menghubunginya.
"Om, Makasih ya," kata Melani.
Arya yang menyetir tiba-tiba mengernyit saat mendapatkan ucapan terima kasih dari Melani.
"Bukankah tadi kamu sudah berterima kasih kepadaku? Berapa kali kamu akan mengucapkan kata itu?" tanya Arya.
"Bukan untuk oleh-oleh ini, Om."
"Lalu?"
"Untuk cerita om Arya yang sudah membuatku sadar jika tidak ada gunanya untuk bertahan jika kita tidak pernah dipedulikan. Lebih baik berpisah dan menata hidup baru karena perjalanan hidup itu masih panjang," ujar Melani dengan senyum tipis di bibirnya.
"Tapi sekarang aku sadar Om. Aku sudah lelah dan ingin menyerah. Om Arya bisa bantu aku, kan?"
"Tentu bisa. Katakan saja apa yang harus aku lakukan, selama aku bisa membantu aku pasti akan membantumu."
🥕🥕🥕
Setelah pertemuannya dengan om Arya siang tadi, hati Melani menjadi bimbang. Antara ingin bertahan atau menyerah. Sebenarnya ia sudah lelah untuk bertahan, tapi Iya memaksakan diri karena sangat menghargai sebuah ikatan pernikahan. Namun, setelah mendengar cerita dari om Arya hatinya menjadi gundah. Rasanya ia ingin menyerah.
Saat ini ia tak peduli pukul berapa di tempat tinggal Alzam saat ini. Yang ia tahu ingin menghubungi pria yang berstatus sebagai suaminya. Namun, nyatanya tak ada jawaban.
Melani memde.sah pelan sambil mengetik sebuah pesan, berharap Alzam akan membaca nanti.
"Lihatlah, bagaimana pria itu tak peduli denganku," kata Melani saat pesannya tercengang dua, meskipun masih berwarna abu-abu.
Karena tak ingin larut salam pemikirannya, Melani memutuskan untuk tidur saja dari pada pusing memikirkan sikap Alzam padanya.
🥕🥕🥕
__ADS_1
Pagi ini Melani berulang kali mengirimkan sebuah pesan kepada Alzam, tetapi tak satupun yang dibaca ataupun dibalas.
"Kamu kenapa, Mel?" tanya Naura yang baru saja keluar dari kamarnya.
Melani mendongak kemudian menatap Naura tanpa kata.
"Malah bengong!" kata Melani lagi.
Kini Melani mende.sah pelan dan berkata, "Kita harus pindah, Mbak," ujarnya.
Naura merasa syok dengan ucapan Melani yang mengatakan harus pindah. "Maksud kamu apa, Mel?"
"Kita tinggalkan tempat ini karena aku sudah lelah untuk bertahan di rumah ini, Mbak. Aku punya hati dan perasaan. Sampai kapanpun pak Alzam tak akan pernah bisa mencintaiku, lalu untuk apa aku bertahan?" Melani berucap dengan dada yang berdebar, berharap keputusannya tidak salah.
"Maksud kamu, kamu ingin bercerai?" tanya Naura ingin memastikan.
"Aku ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu, agar aku bisa berpikir apakah aku harus bertahan atau menyerah," ujar Melani.
Sebenarnya Naura tidak setuju untuk keluar dari rumah mewah yang baru saja ia tempati. Namun, Naura tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ini dirinya hanya menumpang dan tak punya kuasa apapun. Bahkan untuk menasehati Melani saja ia sudah tak mampu, karena Naura tahu jika Alzam sama sekali tak mencintai dirinya
"Aku tak akan pernah memaksamu untuk tetap tinggal di sini, karena aku tahu bagaimana perasaanmu selama ini. Yang benar saat ini kamu harus menenangkan pikiran terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Aku mendukungmu, Mel."
Melani bersyukur ternyata Naura tidak mencegahnya untuk pergi. "Makasih, Mbak."
.
.
.
.
...🥕🥕🥕...
...BERSAMBUNG...
Terkadang jika hati sedang lelah rasanya ingin menyerah. Semangat untuk diriku sendiri. Selagi nunggu novel ini update kembali mampir dulu yuk ke novel temen aku yang judulnya NIKAH DADAKAN DENGAN MUSUH karya kak AYi, mampir ya
__ADS_1