Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
93 | Salah Paham


__ADS_3

Hati Zahra yang sudah terlanjur kecewa memilih untuk mengurung diri didalam kamar bersama bayinya. Pikiran masih berkelana memikirkan Kanna yang tak kunjung pulang. Biasanya pukul 6 sore dia sudah sampai di rumah. Namun, sepertinya hari Kanna lupa akan rumahnya, bahkan lupa juga dengan kamarnya.


Setelah memastikan semua keperluan sang bayi sudah lengkap di sampingnya, Zahra pun turut untuk membaringkan tubuhnya disamping bayi mungil yang sudah terlelap. Mungkin malam ini Zahra akan bergadang sendirian, karena sang suami tengah bersama dengan wanita lain.


Tok .. Tok .. Tok


Suara pintu kamar Zahra diketuk dari luar. Karena tak ada suara yang mengetuk, Zahra memilih untuk mengabaikannya. Mungkin itu hanya ibu mertuanya yang ingin memastikan keadaan baby boynya.


Suara ketukan kembali terdengar. Lagi-lagi hanya suara ketukan saja tanpa ada yang memanggil dirinya membuat Zahra mendengus kesal.


"Ibu apaan sih? Gak tahu apa kalau anaknya udah bikin bad mood?" gerutu Zahra yang terpaksa untuk membuka pintu.


"Ada apa Bu—" Mata Zahra terbelalak lebar saat melihat siapa sosok yang ada didepan pintu kamarnya.


Bibirnya ingin tersenyum, tetapi dia masih ingat jika saat ini hatinya sedang kesal.


Sosok Kanna berdiri dengan sebuah kue yang berbeda di tangannya. "Happy anniversary to 5 year's old, Sayang," ujarnya.


Zahra hanya mendengus pelan dan berusaha untuk menutup pintunya, tetapi Kanna segera menahannya. "Hei .. are you oke? Ini hari anniversary pernikahan kita, lho. Masa kamu ngambek gitu? Kan gak lucu, Sayang."


"Aku capek, mau tidur," datar Zahra.


"Bohong! Seharian kamu cuma ada di kamar, kok. Kata mbak Ida kamu juga udah siapkan menu untuk dinner. Aku udah pulang, lho," bujuk Kanna.


Zahra yang masih memendam rasa kesal terasa sangat malas untuk melanjutkan rencananya melakukan dinner romantis berdua dengan Kanna.


"Dinner aja sama cewek yang udah nemenin kamu seharian tadi. Ngapain pulang?" ketus Zahra.


Kanna terkekeh pelan saat melihat ekspresi wajah Zahra yang sedang cemburu.


"Jadi kamu marah karena cewek yang ngangkat telepon tadi? Dia dalam bu Maya, salah satu dosen di kampus. Tadi kan aku udah bilang kalau hari ini aku mengikuti seminar," jelas Kanna.


"Terus ngapain pakai ke kamar mandi segala?"


"Astaga, Sayang .... aku tuh tadi sakit perut. Gak mungkin 'kan kalau aku tahan sampai acara selesai? Kebetulan hape aku ada di tas. Karena terus berbunyi dan ternyata panggilan dari kamu, bu Maya memberanikan diri untuk mengangkat. Dia pikir ada berita penting. Kalau gak percaya biar aku hubungi dia sekarang," jelas Kanna dengan kesungguhan.

__ADS_1


Apa yang diceritakan Kanna adalah sebuah kebenaran yang sesungguhnya. Namun, seperti Zahra tak mempercayainya. Kanna pun merogoh ponselnya dan berniat untuk menghubungi bu Maya.


"Gak udah dihubungi!" cegah Zahra yang langsung merebut ponsel Kanna.


Kanna hanya pasrah saat ponselnya di razia oleh sang istri. Sesekali Zahra melirik kearah Kanna. Ternyata ada pesan balasan untukku, tetapi karena Zahra langsung memblokir nomor Kanna, pesan itu tak terkirim.


"Ya udah aku maafin!" ucap Zahra dengan nada berat.


"Ya udah, kita ke taman belakang ya!"


"Ngapain?" tanya Zahra heran.


"Potong kue ini!" Kanna menunjuk pada kue yang ada ditangannya. "udah, masalah baby boy biar mbak Ida dan neneknya yang nunggu."


Zahra hanya pasrah saat tangannya dituntut oleh Kanna untuk menuju ke taman belakang. Jika saja bukan karena perempuan yang bernama Maya itu tak mengangkat panggilan telponnya, mungkin kejutan yang ingin diberikan untuk Kanna bisa berjalan dengan lancar. Semua ini karena Zahra yang langsung mematikan sambungan telepon tanpa bertanya siapa perempuan itu. Rasa cemburu membutakan mata dan hatinya.


Zahra merasa takjub dengan sebuah meja yang telah dihias dengan rapi dan indah. Lilin yang mengelilingi sekitar meja membuat suasana terasa lebih romantis.


"Tara ... kamu suka?" tanya Kanna setelah sampai di meja dan menarik sebuah kursi untuk Zahra. Kali ini siapa yang akan diberikan kejutan, siapa juga yang terkejut.


"Sstt ... mana mungkin aku akan lupa dengan hari pernikahan kita, Sayang. Meskipun aku sibuk, tapi aku pasti akan mengingatnya. Dah ah, sekarang potong kuenya!" perintah Kanna.


Karena saat ini dalam suasana ulangan tahun pernikahan, Kanna tidak ingin membahas masalah yang lain, terlebih telah ada salah paham sebelumnya.


Senyum yang sempet tenggelam kini muncul kembali bak sinar rembulan. Hati yang sempat kesal dan tersulut rasa cemburu kini sudah bisa ditaklukkan oleh Kanna. Tak ada jurus yang istimewa, hanya sebuah ketulusan cinta yang Kanna miliki. Kekuatan cinta itu sangat dahsyat, mampu mengguncangkan suasana hati yang sedang dilanda rasa cemburu yang membakar hati.


Dibawah rembulan yang terang dengan suasana romantis, dua sejoli layaknya seorang muda-mudi yang lupa akan usia nan statusnya. Sejak mereka merasa dunia hanya miliknya berdua, tanpa mengingat baby boy yang tengah terlelap.


"Sayang, gimana kamu suka gak sama hadiah dari aku? Aku berjuang mati-matian untuk dapatkan kalung itu, lho."


Zahra mengernyit, pikirannya langsung tertuju pada sebuah kalung limited edition tadi. "Jadi itu hadiah dari Mas Kanna? Untuk gak aku buang," ujar Zahra dengan santai.


"Lho ... kok malah mau dibuang? Itu mahal lho, Sayang."


"Siapa suruh sok misterius gitu. Makanya yang jelas kalau memberikan sesuatu. Kalungnya udah aku kasih sama mbak Ida," ucap Zahra dengan berbohong. Mana mungkin dia memberikan kalung yang langka begitu saja kepada mbak Ida, sementara dia belum tahu siapa pengirimnya.

__ADS_1


"Kamu tuh emang gak peka. Udah jelas-jelas disitu aku tunjukkan untuk wanita yang istimewa, masa gak mikir sih dari siapa?!" protes Kanna.


Zahra ingin tertawa. Jika seperti ini sudah adil rasanya membuat Kanna salah paham, tak perlu tidur diluar, terlebih puasa satu Minggu.


Siapa suruh menciptakan salah paham. Enak kan rasanya kecewa?


Setelah selesai merayakan ulang tahun pernikahan, keduanya memutuskan untuk segera kembali kedalam rumah. Baru sampai didepan pintu masuk, ponsel Kanna berdering membuat Zahra mengernyit.


Kanna segera mengangkat panggilan itu dan memilih untuk menjauh dari Zahra. Baru saja ingin percaya, tetapi kini sudah dipatahkan lagi oleh rasa cemburu yang membakar hatinya. Zahra pun memutuskan untuk meninggalkan Kanna. Kali ini tekad untuk membiarkan Kanna tidur diluar kesampaian juga.


"Iya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf karena tidak bisa mengikuti acara sampai selesai karena anak saya tiba-tiba sakit," dusta Kanna dengan lawan bicaranya dibalik telepon. Kanna terpaksa berbohong untuk menyelamatkan diri kabur dari acara seminar.


"Baby boy, maafkan papa yang terpaksa mengumpankan dirimu sebagai kambing hitam. Semua ini papa lakukan hanya untuk membuat mama kama bahagia. Semoga kamu memaafkan kesalahan papa."


Setelah panggilan terputus, Kanna celingukan mencari keberadaan Zahra. Tahu jika Zahra sudah duluan ke kamar, akhirnya Kanna juga bergegas untuk mengejar Zahra. Malam ini tak akan Kanna lewatkan begitu saja setelah selama ini dia tersiksa karena menunggu kesiapan Zahra. Namun, sesampainya di depan pintu kamar mata Kanna terbelalak saat melihat bantal dan selimut yang sudah teronggok.


Kanna menggedor pintu kamar seraya memanggil nama Zahra. "Sayang, buka pintunya! Ini maksudnya apa?" teriak Kanna dengan rasa terheran.


"Malam ini kamu tidur diluar, Mas!"


Kanna yang mendengar balasan dari sang istri hanya bisa mengernyitkan dahinya. Baru saja mereka dimabuk asmara, tanpa angin dan hujan tiba-tiba sikap Zahra berubah.


"Apalagi salahku? Wanita memang luar biasa menguji kesabaran, untung sayang."


Dengan berat hati, akhirnya Kanna mengambil bantal dan selimut yang telah disiapkan untuk dirinya. Malam panjang yang sudah dia pikirkan hanya tinggal angan-angan.


.


.


.


...BERSAMBUNG...


Btw, baby boy belum punya nama. Kali aja ada yang mau nyumbangin mana untuk baby boy 😊

__ADS_1


__ADS_2