
Kanna sudah berusaha mengerahkan orang-orang suruhanya untuk mencari keberadaan Alzam hingga ke sudut kota. Namun, hingga sampai saat ini mereka belum menemukan keberadaan Alzam. Entah kemana pria itu menghilang. Apakah masih hidup atau sudah mati.
"Jadi papa Alzam menghilang?" tanya Deena dengan wajah lesu.
"Bisa dibilang seperti itu karena keberadaannya belum ditemukan. Tapi percayalah, pasti akan baik-baik saja," hibur Kanna pada anak sambungannya.
"Apakah papa Alzam sudah benar-benar meninggal?" tanya Deena.
Kanna dan Zahra saling bertukar pandangan, mereka terkejut mengapa Deena bisa bertanya seperti itu.
"Tidak, Sayang. Papa Alzam pasti sedang menyembunyikan diri untuk kesembuhannya. Bukankah Deena juga sudah berdoa untuk kesembuhan bapak Alzam?" Kini giliran Zahra yang menghibur anaknya.
Sepertinya rencana Kanna tak berjalan dengan semestinya. Seharusnya dia bisa membuat Deena senang. Namun, kenyataannya malah semakin membuat Deena semakin bersedih.
Hari telah berlalu bulan, tak terasa kini sudah 6 bulan berlalu.
Pagi ini setelah kepergian Deena ke playgroup, Zahra dan Kanna sibuk untuk menghias rumahnya. Hari ini adalah hari bersejarah untuk Zahra dan juga Deena. karena tepat hari ini usia Deena genap lima tahun. Mereka ingin memberikan kejutan kepada malaikat kecilnya, meskipun hanya sekedarnya saja.
"Mas, apakah belum ada kabar selanjutnya?" tanya Zahra tiba-tiba.
"Belum, Ra. Bahkan aku juga sudah menambahkan beberapa orang untuk mencarinya. Namun, mereka tetap tidak bisa menemukan keberadaan Alzam," ujar Kanna.
Hampir satu jam keduanya menghias rumah, berharap ketika Deena pulang dia akan senang dengan kejutan yang telah disiapkan.
Saat Zahra pergi ke dapur tiba-tiba matanya kunang-kunang dan pandangannya langsung gelap. Seketika tubuh Zahra langsung terjatuh di lantai. Karena yang melihat langsung bergegas menghampiri Zahra.
"Ra, kamu kenapa, Ra?" Kanna menepuk pipi Zahra. "Zahra bangun! Jangan bercanda, gak lucu!" ucap Kanna khawatir.
Sadar jika Zahra sedang pingsan, Kanna segera membawa tubuh Zahra keluar. Tujuan Kanna saat ini adalah menuju ke rumah sakit. Dia takut terjadi sesuatu kepada Zahra.
"Ra, bangun! Kamu kenapa?"
Hati Kanna yang diliputi oleh rasa kekhawatiran tak peduli lagi dengan laju mobilnya. Karena saat ini dia hanya ingin segera sampai ke rumah sakit.
"Jika sampai terjadi sesuatu kepadamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, Ra. Kamu dengar itu!"
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil Kanna sudah sampai di depan rumah sakit. Kanna segera mengeluarkan Zahara dengan cara menggendongnya. Ini adalah kali kedua Kanna membopong Zahra masuk rumah sakit. Dia berharap tidak terjadi sesuatu kepada Zahra.
"Suster, tolong istri saya Suster!" pinta Kanna saat melihat seorang suster.
"Kenapa dengan istrinya, Pak? Mari ikut saya ke ruang periksa!"
Suster itu melangkah cepat untuk menuntun langkah Kanna ke ruang periksa. Beruntung saja dokter yang sedang bertugas masih ada di dalam.
"Dok, tolong dok, ini ada pasien tak sadarkan diri," ujar Suster.
Dokter segera menyuruh Kanna untuk membaringkan Zahra di meja periksa. Perlahan dokter membuka kelopak mata Zahra dan dilanjutkan untuk memeriksa detak jantungnya.
"Pasien hanya pingsan. Mungkin karena perutnya belum terisi makanan sedikitpun. Apakah pasien mempunyai riwayat penyakit mag?" tanya dokter setelah selesai memeriksa Zahra.
"Setahu saya tidak ada, Dok. Karena istri saya sangat memperhatikan pola makannya. Namun, memang beberapa hari terakhir selera makannya menurun. Mungkin karena sedang banyak beban pikiran saja," jelas Kanna.
Kanna masih menunggu Zahra terbangun.
Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba suara bisa pingsan. Apakah dia masih memikirkan keadaan Alzam yang belum bisa ditemukan? Pikiran karena malah semakin kemana-mana.
Tak berapa lama ada pergerakan dari Zahra. matanya mengerjap pelan. Dengan kepala yang masih berat, Zahra berusaha untuk bangkit.
"Kamu udah sadar, Ra? Sekarang kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi sempat pingsan," ucap Kanna.
"Sebentar, aku panggil dokter dulu," lanjut Kanna lagi.
Sesuai dengan pesan dari dokter, Kanna harus segera memberitahu jika Zahra telah sadar. Karena dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan kepada Zahra.
Tak berapa lama dokter itu muncul bersama dengan Kanna. Sang dokter segera mendekat kearah Zahra dan langsung memeriksanya lagi. Zahra pun hanya pasrah karena saat ini tubuhnya pun terasa sangat lemas. Mungkin karena memang dia belum sempat sarapan dan langsung membantu Kanna untuk menghias rumah, sehingga dia tak memiliki tenaga.
"Tadi saya sempat ragu, tetapi sekarang saya sudah yakin jika yang berdetak ini adalah janin," ujar Dokter setelah memeriksa Zahra.
Zahra dan Kanna hanya bisa terbelalak lebar ketika mendengar penjelasan sang dokter. Apakah saat ini keduanya salah mendengar? Atau memang saat ini memang ada janin di dalam rahim Zahra?
"Anda mengatakan apa, Dok?" tanya Kanna yang ingin memastikan lebih lanjut.
__ADS_1
"Saat ini sedang hamil. Kalian kenapa terkejut? Apakah kalian pasangan suami istri?" tanya sang dokter.
Terasa berat Kanna untuk menelan salivanya. Tubuhnya terasa bergetar, dengan keringat yang mengucur deras. Lidahnya terasa kecil untuk mengucapkan sepatah kata.
"Ha-mil," ucap Kanna dengan terbata. Bahkan dia mengabaikan pertanyaan sang dokter.
Begitu juga dengan Zahra, jantungnya berdebar dengan kuat, berharap sang dokter tak salah memeriksanya.
"Dok, Anda sedang tidak bercanda 'kan?" tanya Zahra dengan tubuhnya yang masih terasa lemas.
"Kalian ini aneh! Dapat kabar bahagia kok malah gak percaya. Baiklah untuk memastikan lebih lanjut silahkan kalian USG saja!" saran dokter dengan gelengan kepala.
Dengan bibir yang mengembang lebar Kanna menghampiri Zahra yang masih terbaring. Bibirnya tak henti untuk menyunggingkan senyumnya saat menatap Zahra dan perutnya yang masih rata.
"Ra, kamu hamil, Sayang. Kita akan punya anak," ujar Kanna yang langsung memberikan kecu.pan di kepala Zahra.
"Mas, ini bukan mimpi 'kan?" Zahra yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Tidak, Sayang. Ini bukan mimpi! kita harus segera USG untuk memastikan lebih lanjut. Awas saja jika dokter itu sampai membohongi kita!"
Kanna tak membuang waktu lagi. Dia segera membawa Zahra ke ruang USG untuk memastikan apakah benar di rahim Zahra ada janin yang sedang bersemayam.
Kini wajah keduanya tak lepas dari senyum yang terus mengembang. Kanna tak hentinya mengucap kata syukur setelah yakin jika saat ini Zahra sedang hamil. Beruntung saja saat itu Kanna belum mengatakan sesuatu kepada Zahra karena Kanna masih yakin dengan mukjizat yang akan datang.
Sebelum pulang, keduanya mendapat sedikit pencerahan dari sang dokter mengenai kondisi kehamilan Zahra. Kehamilan yang masih rentan, karena usianya yang masih berjalan sekitar 3 Minggu, terlebih Zahra yang pernah mengalami keguguran. Keduanya pun mengerti dan akan berhati-hati untuk menjaga calon buah hati mereka.
Senyum yang yang tak memudar meskipun saat ini mereka sudah meninggalkan rumah sakit.
Tak hentinya Kanna mengucap kata syukur. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan telah berkehendak.
"Ra, Denna pasti akan merasa sangat bahagia jika mengetahui dia akan segera punya adik. Akhirnya doanya terkabul juga, Ra." ujar Kanna yang tak bisa membohongi perasaannya. "akhirnya Deena mendapatkan hadiah spesial di hari ulang tahunnya."
.
.
__ADS_1
.
Sudah bahagia kah kalian? Author yang tidak bahagia karena bab yang tak kunjung lolos ðŸ˜