Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
46 | Kedatangan Alzam


__ADS_3

...Luka yang kering kembali menganga ketika pisau menyayat begitu banyak goresan lama hingga membuatnya terlena akan manusia yang tidak sempurna....


#SELAMAT MEMBACA#


Zahra melihat ada sesuatu yang berbeda dari Deena. Sang anak hanya memilih diam, bahkan dia tidak memegang bonekanya lagi. Zahra menganggap jika Deena masih marah kepada dirinya. Dengan pelan Zahra mendekati Deena untuk menghiburnya.


"Dee, mama minta maaf ya kalau mama nggak bisa nemenin kamu main lagi. Mama terpaksa harus sekolah lagi, Mama juga masih ingin mengajar impian Mama. Maafkan Mama jika mama egois," kata Zahra.


Bocah kecil itu hanya mendongak menatap sang Mama lalu bertanya, "Ma, kenapa Deena tidak memiliki teman? Mengapa mama dulu memilih tinggal di villa daripada di kota?"


Tubuh Zahra membeku jantungnya pun berdetak dengan kencang. Akhirnya apa yang dia khawatirkan terjadi juga. Belum lagi jika kelak Deena tahu jika Kanna bukanlah papa kandungannya. Dia pasti akan mempertanyakan siapa papa kandungannya dan dimana dia berada. Saat itu terjadi Zahra harus apa?


"Mama kenapa diam?"


Zahra membuang napas beratnya. "Maafkan Mama, Sayang. Gara-gara mama kamu tidak memiliki seorang teman. Gimana kalau Deena masuk playgroup aja. Di sana banyak teman, Deena bisa bermain bersama mereka," usul Zahra.


"Playgroup itu apa?" tanya Deena.


"Playgroup itu tempat belajar dan bermain. Seperti sekolah TK. Deena mau kan?"


Tanpa pikir panjang, Deena mengangguk untuk menyetujui usulan sama. Mungkin jika Deena masuk ke playgroup dia tidak akan kesepian lagi. Punya banyak teman yang bisa diajaknya bermain. "Iya, Deen mau."


Zahra pun akhirnya mengatakan kepada Kanna untuk memasukkan Deena ke sebuah playgroup. Sebagai orang tua, Kanna sangat antusias dengan keinginan Zahra.


"Nanti sehabis kuliah, kita cari playgroup yang bagus untuk Deena," kata Kanna.


"Makasih ya Mas, mas Kanna selalu mendukung tumbuh kembang Deena," ujar Zahra.


"Deena itu juga anak aku. Meskipun Bukan aku yang membuatnya, tetapi aku akan menyayanginya melebihi aku menyayangi anak kandung ku sendiri."


Zahra terdiam untuk sesaat. Dia menyadari jika dia belum bisa mewujudkan keinginan Kanna untuk memberikan seorang malaikat kecil. Namun, Zahra akan berusaha untuk mewujudkan keinginan Kanna meskipun ada sedikit trauma pasca melahirkan Deena.


"Maafkan aku ya Mas, jika aku belum bisa mewujudkan keinginanmu. Tapi mudah-mudahan Allah akan segera meniupkan nyawa rahimku lagi."


Karena tersenyum kecil sambil menarik tubuh Zahra agar masuk ke dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa Ra. Kehadiran Dina juga sudah melengkapi keluarga kecil kita. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun."

__ADS_1


🍂🍂🍂


Seperti apa yang telah dijanjikan oleh Kanna, setelah pulang kuliah mereka mencari sebuah playgroup yang bisa terjamin keamanannya.


Zahra yang merasa sedikit lelah, memilih untuk tidur sejenak di mobil. Kuliah yang dia anggap menyenangkan, ternyata sangat melelahkan otaknya yang sudah tidak bisa berpikir lebih cepat. Terlebih dia lelah untuk menanggapi seseorang yang terus mengejarnya. Zahra tidak tahu apa yang diinginkan pria itu. Meskipun Zahra sudah menghindar, tetapi ada saja cara pria itu untuk mendekatinya lagi.


Kanna yang melihat Zahra tertidur, tidak tega untuk membangunkannya. Akhirnya Kanna memilih turun sendiri untuk menanyakan playgroup yang akan ditempati oleh Deena. Dari beberapa tempat yang dikunjungi oleh Kanna, belum satupun playgroup yang membuat Kanna puas. Hingga akhirnya Kanna mencari informasi lebih dalam melalui mbah Google.


Kanna sangat teliti dan pemilih, apalagi itu untuk Deena. Dia akan memberikan yang terbaik untuk anak sambungnya.


"Ra, bangun. Kita udah sampai di rumah," kata Kanna menggoyangkan tangan Zahra.


Zahra mengerjap dan mengucap matanya. Benar saja saat ini mobil Kanna sudah berada di depan rumahnya.


"Kok pulang sih, Mas? Bukannya kita mau cari playgroup untuk Deena?" tanya Zahra terheran.


"Semua udah beres. Besok Deena sudah bisa masuk ke playgroup. kamu mau jalan sendiri atau aku gendong?" tanya Kanna.


"Apaan sih, Mas. Aku bisa jalan sendiri," jawab Zahra dengan pipi yang telah bersama.


Karena Zahra sudah merasa malu, akhirnya dia segera turun dari mobil. Namun, ada sesuatu yang membuatnya membeku.


Sosok yang bersama dengan Deena membuat jantungnya ingin terlepas. Begitu juga dengan Kanna.


"Mas, kenapa dia bisa berada di sini? Kenapa dia bisa menemukan keberadaan Deena secepat ini?" tanya Zahra pada Kanna yang sudah memegangi tubuh Zahra.


"Kamu tenang dulu, Ra. Kita masuk ya." Kanna berusaha untuk menguatkan hati Zahra.


Terlihat jika Deena sedang bermain dengan seorang pria. Pria yang tidak asing bagi Zahra. Pria yang sudah memberinya luka. Namun dia tidak bisa memungkiri jika dia adalah ayah kandung Deena. Entah bagaimana dia bisa menemukan keberadaan Deena begitu cepat.


Saat Deena dan Kanna masuk, Mbak Yani minta maaf atas kelancangannya untuk mengundang pria asing ke rumahnya. Tetapi semua itu mbak Yani lakukan karena Deena yang memintanya. Bahkan Deena sampai menangis tergugu hanya karena ingin bertemu dengan pria itu.


"Mama ... Papa," teriak Deena saat melihat kedatangan kedua orang tuanya.


"Deena punya teman baru, Ma, Pa. Sini Kenalin ini namanya om Al. Dia sekarang adalah teman Deena," tambah Deena dengan wajah yang sumringah.


Alzam pun berusaha tersenyum saat melihat kedatangan Zahra dan Kanna. Namun, dia tersenyum ketika di dalam hatinya saat mendengar Deena memanggil laki-laki lain dengan sebutan papa. Seharusnya sebutan itu hanya untuk dirinya.

__ADS_1


"Dee, Mama sedang tidak enak badan. Mama kamar dulu ya," kata Zahra tanpa ingin menetap ke arah Alzam. "Mas, aku ke kamar duluan ya," lanjutnya pada Kanna.


Kanna hanya mengangguk pelan. Dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Zahra. "Iya, duluanlah, biar aku yang menanganinya," lirih Kanna.


Sepeninggal Zahra, Kanna segera menghampiri Deena dan menyalami Alzam.


"Maafkan jika anak saya telah merepotkan Anda," ujar Kanna.


Alzam hanya tersenyum tipis. "Saya tidak pernah merasa direpotankan. Malahan saya merasa sangat bahagia jika Deena membutuhkan saya," kata Alzam bangga.


"Papa gak marah kan kalau om Al main ke rumah kita. Kata om Al, Deena mirip sama anaknya. Tapi sayang anak Om Al pergi meninggalkannya. Kasian dia kan, Pa?"


"Iya, gak papa Sayang. Boleh Papa berbicara sebentar dengan om Al? Kamu lihat mama sebentar ya," kata Kanna untuk mengalihkan Deena.


"Iya, Pa. Deena lihat mama dulu. Om Al, Deena lihat mama dulu ya," pamitnya kepada Alzam.


"Iya Sayang," jawab Alzam.


Hening untuk beberapa saat. Suasana pun menjadi canggung. Alzam masih membisu. Dia menunggu Kanna untuk berbicara. Namun, ternyata Kanna juga membisu.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan!" ketus Alzam.


"Baiklah aku akan katakan! Tolong ingat dengan jelas! Jauhi Deena!"


Alzam malah menertawakan ucapan Kanna. "Aku tidak pernah mendekatinya, untuk apa aku menjauhinya. Dia yang mendatangiku, karena dia tahu darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya," cibir Alzam.


"Meskipun Zahra menikah dengan seribu pria di dunia ini tetapi dia tidak akan pernah memungkiri jika aku adalah ayah kandung Deena. Sampai kapanpun Deena adalah anakku. Mungkin kamu lupa jika aku sudah membeli Zahra agar bisa mengandung anakku. Cepat atau lambat aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," tambah Alzam lagi.


.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2