
Zahra terlihat sangat frustasi ketika Alzam mengatakan jika dia sudah mengirimkan video itu pada Kanna. Sebagai seorang istri, Zahra sudah tak memiliki harga diri lagi. Di jamah pria lain dan dilihat oleh suaminya. Zahra benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kanna saat ini.
"Ra, kamu makan dulu ya!" Alzam sudah membawakan jenis makanan Indonesia.
Zahra yang duduk disebuah sofa memilih acuh dan mengabaikan Alzam sibuk untuk menyantap hidangan makan malamnya.
"Kamu harus makan. Aku tidak mau jika kamu sampai sakit. Oh iya, aku dengar kalau tauge bisa membantu kesuburan. Aku sengaja memesannya agar kamu selalu subur dan bisa membuat adik untuk Deena," ujar Alzam dengan santai.
Kepala Zahra terasa pusing dengan sikap Alzam yang semena-mena kepada dirinya. Jika hanya untuk mencari perhatian, buka seperti ini caranya. Zahra bisa saja memperlakukan Alzam sangat baik jika dia tidak gila seperti ini.
"Tidak usah bermimpi kamu, Mas! Aku tidak akan sudi untuk mengandung anakmu lagi!" ketus Zahra.
"Sudah terlambat, Ra! Aku sudah menanam bibit premiumku kedalam rahimmu. Sekarang hanya tinggal menunggu kapan bibit itu akan bersemi."
🍂🍂🍂🍂
Kanna yang merasa tidak terima atas perlakuan Alzam segera menuju ke apartemen dimana Alzam berada. Kali ini dia tidak akan membiarkan pria gila itu menyentuh istri lebih dalam lagi. Terlalu bodoh saat Kanna membiarkan Zahra diambil oleh Alzam.
"Dia pikir aku akan tinggal diam?" batin Kanna yang sudah mengemudikan mobilnya. Karena Kanna tidak ingin terjadi sesuatu kepada Deena, Kanna menyipitkan Deena kepada seorang kenalannya.
Dua puluh menit berlalu. Kini mobil Kanna sudah sampai di depan sebuah gedung. Terlihat juga beberapa orang memantau Kanna saat dia memasuki gedung tersebut.
Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh orang suruhannya, Kanna langsung menuju kamar yang ditempati Alzam. Kali ini Kanna sudah siap untuk mengambil Zahra dari tangan Alzam. Kanna juga sudah menyiapkan beberapa orang yang sudah siaga tempat itu.
Kanna sudah memencet bel kamar Alzam dan memilih untuk membelakangi pintu agar Alzam tak mengetahui dirinya.
Saat mendengar pintu dibuka Kanna segera berbalik arah dan langsung menyerobot untuk masuk dalam. Alzam yang merasa terkejut segera mengejar Kanna.
"Hei! Siapa kamu!" teriak Alzam yang belum sempat melihat wajah Kanna. Kanna sengaja melakukan cara itu agar, tak ada CCTV yang merekamnya.
Setelah mengetahui jika pria yang baru saja menerobos ke dalam adalah Kanna, Alzam bertepuk tangan dan tertawa.
"Hebat! Aku selalu dengan keberanianmu," ujar Alzam mencibir Kanna yang nekat untuk masuk ke dalam kandangnya.
Zahra yang berada di sebuah sofa sangat terkejut dengan kedatangan Kanna. Dia tidak menyangka jika suaminya akan penyekat untuk datang ke tempat ini.
"Mas Kanna," gumam Zahra kemudian berlari untuk memeluk Kanna.
__ADS_1
"Kamu gak papa?" tanya Kanna yang membalas pelukan istrinya.
"Mas, maafkan aku," isak Zahra dalam dekapan Kanna.
Hati Kanna seperti teriris ketika dia mengingat kembali sebuah video yang dikirim oleh Alzam. Suami mana yang akan terima jika istrinya telah dinodai oleh pria lain.
"Hebat!" seru Alzam sambil bertepuk tangan. "Aku tidak menyangka jika kamu akan secepat ini datang."
Perlahan tangan kanan melepaskan pelukannya. Kini matanya sudah menatap Alzam dengan kebencian yang sudah mendukung tinggi. Dengan dada yang terasa panas Kanna segera menyerang Alzam dengan membabi buta. Alzam yang tidak siap, hanya bisa menerima setiap pukulan yang mengenai tubuhnya. Bahkan baru saja beberapa tinjuan, tubuh Alzam langsung tumbang.
"Kamu memang pantas mati!" Kanna terus menghajar Alzam tanpa henti.
Zahra yang melihat Kanna seperti orang kesurupan merasa sangat ketakutan. Bukan dia ingin membela Alzam, tetapi Zahra takut jika Kanna benar-benar sampai membunuhnya.
"Mas Kanna hentikan, Mas!" teriak Zahra dengan kepanikannya. "Mas Alzam bisa beneran mati!"
Tangan Kanna masih tertahan di udara ketika Zahra memintanya untuk menghentikan serangannya. "Apakah kamu sedang membela pria gila ini?"
Kanna segera berdiri. Dia tersenyum tipis ke arah Zahra. Wanita yang dia perjuangkan, tetapi malah membela pria breng*sek seperti Alzam yang sudah menodainya.
Seketika Kanna melihat ke arah Alzam yang sudah tidak berdaya. beberapa bagian wajahnya sudah babak belur dan mengeluarkan darah. "Dia memang pantas mati, karena dia telah berani menyentuhmu!"
Zahra tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menangis. Satu sisi lain dia merasa kepada Alzam. Namun, dia juga merasa bahagia saat Kanna datang untuk dirinya.
"Selama ini aku diam kerena menghargai siapa dirinya. Dia adalah ayah kandung Deena. Aku tidak mungkin menyakiti hati Deena jika membunuh pria baji.ngan ini. Namun, sekarang Deena sama sekali tidak peduli dengannya. Jadi tidak ada rasa bersalahku pada Deena jika aku membunuhnya."
Kanna yang selama ini lemah lembut, ternyata bisa terlihat menakutkan. Bagaimanapun juga Zahra tidak mau jika Kanna menjadi seorang pembunuh.
"Mas, sadar Mas! Mungkin saat ini kemarahanmu menutupi hatimu sehingga kamu nggak bisa mengontrol emosimu, Mas. Jika kamu sampai membunuh orang disini, apa konsekuensinya? Kamu akan dipenjara. Lalu apa yang akan aku katakan kepada Deena nanti?"
Dada Kanna masih naik turun. Rasanya dia belum puas untuk mengajar Alzam. Namun, dai akhirnya sadar, jika sampai dia benar-benar membunuh Alzam, bisa dipastikan dia tidak akan pernah bisa kembali ke keluarganya.
"Aku tidak akan membunuhnya, tapi aku akan membuatnya mati dengan sendirinya."
Akhirnya Kanna perjalanan ke arah Alzam yang sudah tak berdaya. Pria yang begitu angkuh, kini tergeletak tak berdaya.
"Tatakan berapa kunci password pintu ini?" tanya Kanna.
__ADS_1
Alzam acuh dengan pertanyaan Kanna. Meskipun dalam keadaan tak berdaya Alzam masih sempat untuk mencibir Kanna.
"Untuk apa aku mengatakan kepadamu? aku tidak mau mengatakan kepadamu."
"Oh, baiklah jika kamu tidak ingin mengatakannya. Aku akan melemparmu dari balkon agar tubuhmu hancur seketika!" ancam Kanna.
"Terserah. Aku tidak peduli," ujar Alzam sambil terbatuk.
Kanna benar-benar merasa sangat geram dengan Alzam. Disaat tak berdaya pun dia masih enggan untuk menyerah.
"Baiklah jika itu keinginanmu. aku akan membawamu lompat dari balkon dan tubuh kita akan hancur secara bersamaan. Dengan begitu, kita sama-sama akan mati."
Zahra yang mendengar ucapan Kanna langsung terbelalak. "Mas, kamu jangan gila!"
"Aku akan lebih gila jika tetap membiarkan pria baji.ngan ini tetap hidup!"
Zahra tidak menyangka jika Kanna tidak main-main dengan ucapannya. Dia menyeret tubuh Alzam ke balkon.
Zahra sangat panik. Untuk saat ini dia tidak bisa mencegah Kanna yang akan terjun dari balkon.
"Ya Allah bantu aku!" Dengan kepanikannya Zahra mencoba untuk menekan angka yang berada di pintu, berharap dia bisa membuka pintu secepatnya. Semua angka telah Zahra tekan. Namun, nyatanya tidak cocok.
"Aduh ... gimana ini," panik Zahra.
"Mas Alzam, berapa passwordnya!" teriak Zahra yang semakin panik.
.
.
.
BERSAMBUNG
Cuma mau bilang, tinggalin LIKE dan KOMEN dong, biar bisa melek mata othornya. Nih, selagi nunggu bab selanjutnya mampir dulu ke Novel TERJERAT PESONA SUAMI TANTEKU by Weny Hida. Mampir ya!
__ADS_1