
Zahra mengerjap pelan untuk membuka matanya. Merasakan ada sesuatu yang aneh yang menimpa tubuhnya, Zahra mencoba untuk memeriksanya.
Mata Zahra terbelalak saat melihat lengan kekar Alzam menimpa perutnya. Dengan cepat, Zahra menyingkirkan lengan itu. Namun, saat Zahra ingin menyingkapkan selimut, dia menyadari jika ada sesuatu yang berbeda. Matanya juga melihat jika pakaian miliknya sudah teronggok dilantai.
Zahra meremas selimut dan melihat kesamping, dimana Alzam masih mendengkur dengan pulas. Dadanya naik turun saat dia menyadari jika tubuh Alzam juga tak mengenakan baju.
"Mas Alzam! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.
Alzam hanya menggeliat pelan. Matanya mulai terbuka dan melihat Zahra sudah menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Alzam tahu jika Zahra akan memaki dirinya. Namun, Alzam mengabaikan tatapan Zahra.
"Apa yang kamu lakukan kepadaku, Mas?! Jawab!" bentak Zahra saat Alzam mengabaikan dirinya.
"Apakah kamu tidak mengingatnya? Padahal kamu menikmatinya. Lihatlah punggungku, penuh dengan cakaran tanganmu." Alzam berusaha menujukan bekas cakaran kuku Zahra tadi malam.
Zahra menggeleng dengan pelan. Tidak mungkin dia melakukan hubungan bersama dengan Alzam tadi malam, sementara dia tidak ingat apa-apa.
"Tidak! Kamu pasti berbohong 'kan Mas? Katakan semua ini bohong!" sentak Zahra dengan genangan air mata. "Kamu benar-benar jahat, Mas!"
__ADS_1
Kini Zahra menumpahkan air matanya didalam kamar mandi. Dia tidak menyangka jika Alzam akan berani melakukan penyatuan tubuh dengannya, sementara dia tidak mengingat apa-apa.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" isak Zahra di bawah guyuran air shower.
Jika memang dia melakukan hubungan bersama dengan Alzam, mengapa sama sekali dia tidak bisa mengingatnya. bahkan dia juga tidak merasakan apa-apa.
Alzam yang sudah menunggu Zahra sejak tadi merasa heran mengapa Zahra tak kunjung keluar juga.
"Ra, kamu tidur atau mandi?" teriak Alzam dari luar.
Tak Ada jawaban yang diberikan oleh Zahra. dia mengabaikan setiap teriakan yang keluar dari bibir Alzam.
Saat Alzam baru saja memposisikan tubuhnya untuk mendobrak pintu, ternyata Zara sudah membuka pintunya lebih dahulu.
Zahra keluar menggunakan handuk kimono serta rambut yang dililit dengan handuk berwarna putih.
Alzam tersenyum tipis saat melihat tubuh Zahra yang masih sedikit basah.
__ADS_1
"Bersabarlah, aku sudah memesankan pakaian untukmu. Sebentar lagi akan ada seseorang yang mengantarkannya," kata Alzam kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.
Zahra hanya bisa menangisi takdir yang begitu kejam kepada dirinya. Sampai kapan author akan menyiksa dirinya. Padahal selama ini Zahra adalah tokoh yang baik dan wanita yang tangguh. Namun, sepertinya Author mempunyai sebuah dendam kepada Zahra.
Percuma saja jika Zahra menangis, karena tangisannya tidak akan pernah mengembalikan keadaan.
"Mas Kanna maafkan aku," isak Zahra.
Sementara itu didalam kamar mandi, Alzam menatap dirinya dalam pantulan kaca. Garis tegas di wajahnya sudah tak seperti dulu lagi. Namun meski begitu, aura ketampanannya tetap masih terlihat.
"Ra, maafkan aku. Setelah ini mungkin kamu tidak akan pernah bisa untuk memaafkanku, tetapi setidaknya aku punya sedikit harapan untuk tetap bertahan."
Sebenarnya tak pernah terlintas dalam pikiran Alzam untuk menyentuh Zahra. Namun, saat dia mengingat sosok Kanna yang kini menjadi suaminya Zahra, Alzam merasa sangat benci. Seharusnya Zahra hanya menjadi miliknya saja.
.
.
__ADS_1
.
Dah segini dulu, nanti sambung lagi.