Bima

Bima
Part. 10


__ADS_3

Sebuah firasat terkadang benar adanya. Namun, tak jarang orang menganggapnya hanya hisapan jempol semata. Berbeda halnya dengan sebuah ikatan yang terjalin karena adanya darah yang mengalir, akan selalu benar. Lagi-lagi kadar ilmu manusia berada di bawah dasar, menganggap semua itu hanya sesuatu yang mustahil.


"Siapa tadi namanya?" tanya lelaki yang duduk di balik kemudi, ia menggerakkan kepala ke samping tanpa memindahkan fokus mata dari jalanan. Menuntut jawaban dari gadis kecil yang duduk di kursi sebelahnya.


"Bima, Ayah. Namanya Bima. Dia tampan persis seperti Ayah, ada lesung pipi kecil di kedua sisi bibirnya. Dia juga hebat, preman bertubuh besar itu dapat dia kalahkan. Apa Ayah tahu bagaimana cara dia mengalahkannya?" Antusias gadis kecil itu lagi dan lagi menceritakan tentang kehebatan bocah laki-laki bernama Bima.


"Mmm ... Ayah lupa." Ia mengulum senyum. Melihat putrinya yang antusias sekali ia seolah-seolah lupa cerita yang baru saja didengernya. Benar, gadis kecil itu menghela napas menatap kesal ayahnya yang pelupa siang ini.


"Humpt!" Ia melipat kedua tangan di perut. Kedua pipi menggembung kesal, pria dewasa di sampingnya terkekeh.


"Mau bagaimana lagi? Ayah sudah tua, jadi mudah lupa. Maukah putri Ayah menceritakannya lagi?" katanya yang kali ini melempar lirikan sekilas pada gadis kecil yang masih merajuk.


Helaan napas terdengar panjang darinya sebelum ia bercerita untuk yang ke sekian kalinya, "Baiklah ...." Dengan kobaran semangat perjuangan para pahlawan, dia menceritakan ulang kehebatan Bima melawan preman yang tubuhnya bahkan tiga sampai empat kali lebih besar darinya.


Manggut-manggut kepala pria tersebut, seolah-olah ia tertarik pada kisah yang diceritakan putrinya tersebut. Tak ada firasat apa pun di hatinya sampai pada penuturan terakhir dari mulut gadis itu membuatnya termangu.


"Apa Ayah tahu? Wajah kami begitu mirip, aku dan kak Bima seperti saudara kembar yang berbeda jenis kelamin. Hanya saja, dia memiliki lesung pipi seperti Ayah ketika tersenyum, kak Bima mirip sekali dengan Ayah." Nasya menyudahi kisahnya, pandanganya berpaling pada jendela menatap jejeran gedung pertokoan di sepanjang jalan besar itu. Ia tersenyum saat bayangan Bima melintas di benaknya.


Pria di sampingnya melirik, ekspresinya mulai berubah. Dahinya yang mulai keriput itu, membentuk kerutan memikirkan kalimat penutup dari kisah sang putri.


Dia sama persis dengannya? Lesung pipi kecil, persis seperti diriku? Apakah dia Ibrahim? Ah ... tapi rasanya tidak mungkin, lagi pula Ibrahim sudah dinyatakan hilang sepuluh tahun yang lalu. Ya Allah ... perasaan apa ini? Kenapa rasanya menggebu ingin bertemu dengan anak itu?

__ADS_1


Lagi-lagi batas pengetahuan manusia menyimpulkan sesuatu dengan kata mustahil. Tak mungkin. Padahal, sungguh tiada mustahil bagi-Nya. Ia terdiam, melirik lagi pada putrinya yang bergeming pada minatnya menatap luar jendela.


Ia menghadapkan pandanganya, tarikan napas ia lakukan dengan panjang sebelum bertanya pada gadis kecil di sampingnya, "Mmm ... sayang, kau tahu di mana dia tinggal?" Berharap jawaban pasti karena rasa dalam dadanya terus bergejolak meronta dan menuntutnya untuk menemukan bocah yang diceritakan putrinya tersebut.


Nasya memalingkan pandangan dari apa yang dilihatnya, tersemat senyum di bibirnya saat manik mereka bertemu.


"Sayangnya aku tidak tahu. Dia tidak mengatakan di mana dia tinggal, dan aku lupa bertanya," sesalnya. Perasaan kecewa jelas tergambar di wajahnya yang tiba-tiba lesu dan menunduk. Menyesal kenapa dia tidak bertanya di mana bocah hebat itu tinggal.


Tangan besar sang Ayah, mengusap lembut rambutnya yang sedikit berantakan. "Tak apa, sayang. Lain kali, jika kalian bertemu tanyakan di mana tempat tinggalnya. Ayah ingin berterimakasih padanya, juga ingin bersilaturahmi dengan keluarganya. Jangan sampai lupa lagi, ya?" katanya menyunggingkan senyum tatkala wajah mungil itu menoleh padanya.


"Mmm!" Ia mengangguk antusias, "aku tidak akan lupa lagi untuk bertanya padanya. Kami berteman dan akan bertemu lagi jika takdir memihak. Semoga saat bertemu nanti, kak Bima mau mengatakan di mana dia tinggal," sahutnya memastikan bahwa ia tak akan lupa lagi saat nanti.


Laki-laki itu mengacak gemas rambut anaknya. Jalanan ibukota selalu ramai kendaraan, menimbulkan kemacetan yang mengular hingga puluhan meter panjangnya.


"Benar, Motor Kakak dipinjam Ibu. Tadi pagi Ibu mengantar pesanan ke rumah langganannya menggunakan motor dan Kakak dijemput temannya. Sekarang, kita akan menjemputnya," sahutnya menjelaskan. Tak ada lagi pembicaraan hingga mobil menepi di sebuah gerbang sekolah menengah menunggu para siswa yang berhamburan keluar kelas.


Seorang gadis remaja berhijab masuk dan duduk di bangku belakang mobil. Ia menyalami Ayah dan Adiknya bergantian. Tak ada wajah yang ceria, lesu dan tak bersemangat yang terlihat. Apakah dia putus cinta?


"Ada apa? Kenapa wajahmu suram, sayang?" tanya lelaki itu pada putri sulungnya yang baru saja duduk di kursi. Awan suram memayungi wajahnya yang cantik dan menenangkan. Ia persis ibunya dulu, wajah teduh milik Aisyah kini melekat di wajah remaja berhijab itu apalagi saat ia tersenyum, semua tak beda dengan mendiang ibunya.


"Tidak apa, Ayah. Aku hanya lelah," sahutnya sambil merebahkan diri pada sandaran kursi. Wajahnya ia palingkan ke jendela dengan ujung telunjuk yang digigit sedikit.

__ADS_1


"Laki-laki?" tebak sang Ayah yang melirik putrinya dari spion. Ayra melepas tangan di bibirnya, matanya mengerling pada spion menatap sang Ayah. Ia menggeleng lesu.


"Mungkin tentang bocah yang aku ceritakan ... Aku benar? Kakak juga selama ini mencarinya, bukan?" tebak Nasya membalik tubuh menghadap ke belakang.


Ayra beranjak, duduknya menegak tatkala mendengar tebakan adiknya. Lelaki pengemudi mengernyit, kedua putrinya sama-sama membahas soal bocah yang baru-baru ini menjadi bahan cerita di rumah mereka.


"Jadi benar? Apa karena bocah bernama Bima itu kau jadi seperti ini?" Lelaki itu menimpali tanpa melihat ke arah anaknya itu.


"Ayah tahu?" Lelaki yang mereka panggil Ayah itu mengangguk.


Ayra gugup, ia memandang Nasya yang memainkan alisnya naik-turun. Helaan napas terdengar darinya, dengan kepala tertunduk ia membenarkan.


"Aku hanya ingin melihatnya saja, Ayah. Nasya bilang dia mirip sekali dengan Ayah, tapi juga mirip Ibu. Apakah wajahnya sama persis sepertimu? Kita harus berterimakasih padanya, bukan? Dia telah menolongmu kemarin-"


"Tidak! Hari ini dia bahkan baru saja menolongku lagi. Kakak tahu? Dia hebat, bisa mengalahkan preman bertubuh besar tadi." Pernyataan Nasya membuat mata Ayra terbelalak. Mulutnya menganga lebar, terkejut.


"Di mana kau bertemu dengannya? Kenapa tidak memberitahu Ayah?" kejarnya antusias.


"Di sekolah, sepulang sekolah. Aku ingin mengenalkannya pada Ayah, tapi dia menolak. Katanya belum ingin," jawabnya sambil berbalik kembali ke depan.


Soal Ibrahim Nasya memang tak pernah tahu. Ini sengaja dirahasiakan darinya karena mereka tak ingin larut dengan hilangnya bayi tersebut. Dan Nasya tak pernah tahu jika ia memiliki seorang kakak laki-laki.

__ADS_1


"Ayah, aku mencurigai seseorang ...."


__ADS_2