Bima

Bima
Part. 84


__ADS_3

Hening. Tak ada yang berbicara lagi untuk beberapa saat. Ayra tercenung tak percaya, mencerna apa yang baru saja ia ketahui tentang sosok tua di hadapannya. Ia melirik Razka yang juga bungkam seribu bahasa. Sepertinya laki-laki itu juga cukup terkejut.


Razka memalingkan wajah pada putri sulungnya, ia menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk Ayra tak lagi membahas apa yang sudah lalu. Gadis berhijab itu menunduk sambil membuang napas panjang, menetralkan hatinya yang tiba-tiba bergolak mendengar pengakuan Dewa.


Pemuda itu pun ikut menegang, matanya yang tajam menatap Dewa dan Tina tak berkedip. Akan tetapi, ia tahu alasan dibalik Dewa melakukan itu semua karena dia sangat menyayanginya. Hati Bima tak sanggup menyalahkannya. Bagaimanapun tidak mudah bagi keduanya untuk dapat memenuhi semua kebutuhan Bima.


"Tidak apa-apa, Pak. Yang lalu biarlah berlalu karena ia tak akan mungkin kembali. Kita jadikan sebagai pelajaran untuk hidup yang lebih baik lagi ke depannya. Yang terpenting bagi kami, Adik Baim baik-baik saja dan kami diizinkan untuk saling mengenal satu sama lain. Bagiku, itu sudah cukup." Ayra tersenyum disaat tatapan Dewa dan Tina terjatuh kepadanya.


"Terima kasih karena sudah merawat adikku dengan baik. Sungguh, pengorbanan kalian tak akan bisa kami balas dengan apapun. Tolong izinkan aku untuk bertemu dan bermain dengannya kapanpun. Aku ingin menembus waktu yang tak sempat kugunakan untuk mengasuhnya di saat kecil," pinta Ayra lagi masih dengan garis bibir yang tertarik ke atas.


Dewa pun bersyukur, dalam tangis yang ia perdengarkan hatinya diliputi rasa sesal. Razka dan kedua anaknya berbeda dari yang lain. Mereka salah penilaian, dan mereka menyesali semua tindakan di masa lalu.


Razka mengusap bahu putri sulungnya dengan bangga. Ia memiliki pemikiran yang dewasa dan matang. Kelak, ia akan menjadi Ibu pengganti yang baik untuk Bima dan Nasya dikala Razka dan Aulia pergi menghadap Ilahi.


"Terima kasih, Nona. Terima kasih banyak karena tidak menghujat saya dan istri saya. Juga mohon maaf untuk semua yang telah terjadi di masa lalu. Mohon maafkan saya, Tuan Besar, Nona. Maafkan kami," ungkap Dewa lagi yang diangguki Tina.


Lisan wanita tua itu tak mengeluarkan kata sepatah pun setelah bercerita tentang Bima saat bayi tadi. Suasana yang ceria lagi hangat, berubah muram karena Ayra tanpa sengaja mengusik kenangan masa lalu yang ingin dilupakan Dewa dan Tina.


Kedua lansia itu menatap Bima, hati mereka cemas. Mereka takut ia akan menyalahkan dan pada akhirnya membenci mereka berdua. Namun, apa yang mereka takutkan tak pernah terjadi, Bima tersenyum ke arah mereka. Lambat-lambat beranjak dan mendekatkan diri pada keduanya. Ia memilih duduk di antara mereka untuk membuat hati tua keduanya terlepas dari rasa sesal dan tak enak.


"Nyak, bukannya tadi Nyak beli ikan? Gimana kalo kita manggang-manggang, 'kan, enak makan bareng-bareng. Sambel Nyak, bikin nagih," ucap Bima mengurai suasana muram di antara mereka.


"Wah ... boleh juga ide Kakak. Ayo, Bu, aku bantu mengipas!" sahut Nasya antusias. Ia bahkan sudah beranjak dari duduk, berdiri tak sabar sambil cengengesan.

__ADS_1


Tina tersenyum, mengangguk tanpa kata dan mengajak mereka ke halaman belakang untuk mempersiapkan semuanya. Dewa dan Razka membuat perapian, maklum, di rumah itu tak ada panggangan seperti yang dimiliki orang-orang kaya di rumahnya.


Tina dibantu Nasya dan Ayra membersihkan ikan, sedangkan Bima membuat tusukan dari sebilah bambu. Ia tersenyum, dikala matanya berpendar menatap Dewa dan Razka yang bekerjasama membuat tunggu panjang untuk memanggang.


Hatinya menghangat mendengar gelak tawa dari arah Tina dan kedua saudarinya yang sedang membersihkan ikan. Pikirannya terbang melayang pada sosok Aulia yang tak hadir di tengah-tengah mereka. Seandainya wanita itu tak egois, mungkin saat ini ia pun ada bersama mereka.


Ada yang kurang. Bibirnya tersenyum, terdapat rona merah di pipi dikala sosok Khaira membayang dalam pikiran. Ia belum memperkenalkan gadis itu pada orang tuanya, baik Dewa maupun Razka, tapi Dewa dan Tina pernah bertemu dengannya saat di rumah sakit dulu.


"Kakak! Sudah selesai?" Nasya dengan tiba-tiba mengejutkan, membuyarkan alam hayalnya tentang gadis manis ceria yang ia temui saat hujan tadi.


"Eh ... ngagetin lu. Udah beres, ini udah mau selesai," sahut Bima menekan jantungnya yang berdegup. Nasya duduk di depannya, melihat tangan Bima yang cekatan membuat tusukan. Ia terampil dan pastinya terlatih.


"Kakak, aku mau Kakak jemput setiap hari," celetuk Nasya secara tiba-tiba. Bima melirik dengan dahinya yang berkerut. Tersenyum melihat wajahnya yang lugu lagi polos.


"Ayah! Apa Kakak tetap akan bekerja kepada Akmal? Tidak pantas rasanya, seorang Tuan Muda Pratama menjadi supir orang lain," teriak Nasya mengadukan ucapan Bima pada Razka.


Seketika, ia teringat akan Akmal yang selalu semena-mena pada dirinya. Ini juga yang ingin dia bahas dengan Bima, tapi tunggu setelah mengisi perut mereka yang keroncongan nanti, Razka akan membahasnya.


Bima melirik Razka yang sempat termangu sebelum tersenyum kembali. Laki-laki itu bahkan tak menanggapi aduan sang putri bungsu kepadanya. Ia mengibaskan tangan, menunda pembahasan sampai hidangan sederhana ala Dewa dan Tina mereka nikmati.


"Kagak usah cemberut, iya Kakak jemput. Entar kita sama-sama pegi ke kampus, asal jangan ngakuin Kakak sendiri jadi pacar, ya," ucap Bima sambil tertawa kecil disaat Nasya mendengus kesal.


Dalam hati, memang inginnya Bima menjadi kekasihnya. Namun, kenyataan mengatakan lain, dia Kakak kandungnya. Dibantu Nasya, Bima membawa tusukan yang ia buat ke tempat Tina membersihkan ikan. Ia menusuk satu per satu ikan tersebut sebelum membawanya pada Dewa dan Razka.

__ADS_1


Sementara Tina dan kedua gadis itu menyiapkan sambal ala kadarnya. Sambal ala Tina tanpa mengubah resep dari biasanya. Lalapan kesukaan Dewa dan Bima pun tak luput ia sediakan.


Meninggalkan keseruan di rumah sederhana Bima. Di sudut kamarnya, Aulia tengah menangis tiada henti. Ia merasa sendiri dan kesepian. Tak ada anak dan suami, ke mana mereka pergi? Kenapa meninggalkannya sendiri? Hatinya tak henti bertanya, perlahan ia mulai menyadari kesalahan yang ia lakukan.


"Ya Allah ... kenapa semuanya jadi begini? Kenapa mereka semua justru meninggalkan aku? Kakak, Nasya, Ayra, di mana kalian? Kenapa aku kalian tinggal sendiri?" keluh Aulia tersedu-sedan di tepi ranjangnya sendiri.


Ia meremas sprei kuat-kuat. Tak kuasa hidup sendiri tanpa anak dan suami.


"Maaf, maafkan aku karena telah egois. Aku menyadari semuanya, tak seharusnya aku mengatakan itu. Tolong kembali, jangan tinggalkan aku sendiri. Nasya, Ayra, Ibrahim, jangan tinggalkan Ibu sendiri. Bagaimana Ibu akan hidup tanpa kalian?" Aulia tergugu, membayangkan ia harus hidup sendiri membuatnya menyesali lisan lancangnya yang tak terkontrol.


Semua kata-kata Bima mengiang di telinga, apa yang diucapkan pemuda itu terus menjejali indera rungu wanita itu hingga membuat tangisnya kian menjadi. Aulia menjatuhkan diri di atas ranjang, lemah terkulai.


"Tidak, tidak, tidak!" Ia menggeleng-gelengkan kepala menolak semua yang terlintas dalam pikirannya.


"Tidak! Jangan begini! Maafkan aku, Kak. Maafkan Ibu, Ibrahim. Ibu menyesal," rintih Aulia seorang diri. Ingin pergi menyusul, ia tak tahu harus ke mana.


Telepon dan SMS yang ia kirimkan tak kunjung mendapat balasan. Mereka sedang menghukumnya.


"Ibu?" Bima terperenyak secara tiba-tiba. Tubuhnya terjatuh ke atas rumput basah taman belakang rumah.


"Ada apa, Nak?" tanya Razka yang nampak bingung. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba Bima terjatuh dengan sendirinya.


Pemuda itu mengangkat pandangan, menempatkannya pada manik kelam Razka. Kegelisahan, ketakutan jelas nampak di sana.

__ADS_1


"Aku mau menyusul Ibu. Aku takut Ibu kenapa-napa, Ayah," katanya seraya beranjak dan berdiri di rumput. Tak ada yang mencegah, semua orang membiarkan Bima pergi menemui Aulia.


__ADS_2