Bima

Bima
Part. 55


__ADS_3

Ayo, cepat! Cepatlah!


Sang fajar telah menyingsing, mulai menampakkan cahayanya yang berkilauan di ufuk timur sana. Perlahan merangkak naik menunjukkan jati diri yang sesungguhnya. Menabur harapan ke segala arah dan penjuru dunia. Menyalurkan energi kepada mereka para pejuang nafkah. Sang Mujaahid fi sabilillaah.


"Bagaimanapun jalan takdir kita ke depannya, kita harus segera bersiap meniti di atas jalannya. Itulah menerima dengan rela, selalu berbaik sangka terhadap apa yang akan terjadi pada hidup kita. Seperti itulah aku belajar, Kakak."


Nada jenaka yang diucapkan gadis itu kemarin siang, membuat Bima menarik garis bibir ke atas. Obrolannya bersama Khaira dan kedua orang tuanya di ruangan itu, menciptakan kesan mendalam di hati mereka. Ia sosok gadis yang periang, polos dan lugu, tentunya mudah sekali dimanfaatkan. Begitulah penilaian mereka terhadap gadis yang diajak Bima kemarin itu.


"Bener kata Ara, apapun yang terjadi ke depannya gua kudu siap menerima." Ia mematut diri di depan cermin kecil di kamar mandi ruangan Dewa. Hari ke hari, kondisi laki-laki tua itu berangsur-angsur membaik.


Ia keluar, menenteng tas di tangannya. Bibirnya dimajukan saat bersiul ....


"Eh? Ada apa, Nyak?" Langkahnya terjeda ketika Tina menghadang. Kedua tangan wanita itu bertolak di pinggang, dengan wajah yang menyeramkan. Bima melirik Dewa yang duduk di ranjangnya, terangkat bahu tua itu tak mengerti apa yang terjadi.


"Kagak boleh lu bersiul di kamar mandi. Pamali, sama aja lu ngundang setan di mari!"


"Ah ... ampun, Nyak! Ampun!" Bima meringis. Ucapan Tina yang disusul jeweran di telinganya membuat Bima tak henti mengaduh kesakitan.


Ia memegangi tangan Tina yang masih menempel erat di telinganya.


"Ampun, Nyak. Bima lupa. Sakit, Nyak!" ucapnya sembari mengusap-usap telinga kirinya yang memerah, "Nyak, sakit!" adunya manja. Berjalan mendekati Tina yang duduk di kursi dekat ranjang suaminya.


"Tin, kebangetan lu, ya. Telinga anak gua ampe merah kaya begitu," timpal Dewa berpura-pura merasa kasihan padahal telinga Bima tidak apa-apa. Bibir pemuda itu cemberut, mengangguk manja meminta pembelaan.


"Eh ... gua, pan, asal aja jewernya. Kagak mungkin sakit. Boong lu, Tong!" tudingnya tepat di depan wajah Bima. Terbuka mulut nakal itu dengan lebar, giginya yang berbaris rapi dan putih itu mencuat ke permukaan. Matanya menyipit hampir tertutup semuanya. Tina mendengus, Dewa terkekeh. Bima memeluknya, dan mengecup pipi keriput itu.


"Bima berangkat dulu, Nyak, Beh. Assalamu'alaikum!"

__ADS_1


"Wa'alaikumussalaam!" Tersipu Tina, memerah kedua belah pipinya. Dalam hati tak pernah luput dari mendoakan anak satu-satunya itu agar selamat sampai ia kembali ke rumah. Langkah yang diayunnya nampak lebih ceria, ia berjalan di selasar rumah sakit sambil bersenandung riang.


Sesekali tubuhnya berputar persis seperti artis India yang sedang berdendang. Ia membanting tas di bagian belakang mobil sebelum masuk dan duduk di balik kemudi. Tak sadar, sepasang mata di dalam sebuah mobil itu tengah memperhatikan dirinya. Bibirnya ikut tersenyum, ia ingin terus dan terus melihat Bima meskipun di kejauhan.


Ia tak beranjak sampai mobil Bima menghilang di belokan. Barulah ia keluar dan melangkah masuk ke rumah sakit setelah memastikan Bima benar-benar menghilang. Ia berdiri di depan ruangan Dewa, mendengarkan perbincangan kedua lansia di dalamnya.


"Bang, apa Bima udah ketemu ama tu Tuan, ya?" tanya suara Tina terdengar lesu. Tangan Razka yang sudah terangkat terhenti di udara, ia urungkan untuk mengetuk dan memilih untuk mendengarkan.


"Gua kagak tahu, Tin. Ya, emang udah kudunya mereka ketemu dan saling kenal. Kalo seandainya Tuan itu emang orang tuanya Bima, tu anak kagak usah jauh-jauh nyariin mereka." Suara Dewa menimpali dengan pelan.


"Tapi gua takut, Bang. Gimana kalo seandainya mereka ngambil Bima dari kita. Gua kagak siap pisah ama dia, Bang. Gua kagak tahu hidup gua entar jadi apa kalo Bima udah kagak ama kita."


Terenyuh hati Razka mendengar suara hati Tina yang apa adanya. Ia tersenyum, ketakutan itu yang menjadi pertimbangan Razka saat memilih memperhatikan Bima secara sembunyi-sembunyi.


"Terus kita mau gimana? Emangnya kita bisa apa? Mereka orang tuanya, mereka yang lebih berhak atas Bima. Kita kagak bisa ngapa-ngapain. Gua juga takut pisah ama dia, Tin. Belum siap di rumah kagak liat mukanya, kagak denger suaranya juga."


"Kalo gua boleh minta, gua pengen Bima ama kita ampe umur gua habis. Gua kagak minta apa-apa, apalagi imbalan harta. Kagak ada niat gua." Semakin dalam kepala Razka menunduk. Tak tega rasanya memisahkan mereka dengan anak itu meskipun hatinya begitu ingin bersama Bima.


"Iya, Bang. Ngapa jadi sedih gini, sih?" celetuk Tina tanpa sadar membentuk senyum di bibir Razka.


Ia menarik udara dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Tangannya bergerak mengetuk pintu ruangan Dewa sekedar ingin berbincang dengan kedua orang tua itu.


"Bang, bukannya tadi si Bima pamit kerja? Ngapa dia balik lagi?" Senyum di bibir Razka semakin lebar mengembang. Selain bahasa mereka yang unik, mereka juga terdengar apa adanya.


Kedua lansia itu menunggu seseorang yang sedang menarik tuas pintu ruangan. Jantung keduanya berdebar perasaan aneh pun kian menjalar. Dewa membeliak dengan tangan yang mencengkeram Tina erat saat sesosok laki-laki berkacamata muncul dari balik pintu.


Ia tersenyum dan mengangguk sedikit. Mata lebar Dewa melirik Tina yang kebingungan, ia tahu siapa yang datang. Sementara Tina tak mengenal siapa yang membuat suaminya sampai terkejut seperti melihat hantu.

__ADS_1


"Permisi, boleh saya masuk?" sapa Razka dengan ramah. Tanpa menunggu izin dari pemilik ruangan, ia melangkah masuk dan semakin mendekat. Lalu, berdiri di hadapan keduanya dengan wajah ramah yang dimilikinya.


"Si-siapa Anda, Tuan?" tanya Tina terbata-bata. Ia baru sadar, jika senyum yang dimiliknya begitu serupa dengan milik Bima.


Apa dia Tuan yang dimaksud Bang Dewa?


Laki-laki itu tersenyum, teramat ramah bagi mereka. Dewa sangat mengenalinya sebagai laki-laki yang mengintai di parkiran, dan kini sebagai Tuan Besar di tempatnya bekerja yang sekarang menjadi tempat kerja Bima.


"Saya Razka. Mohon maaf jika kedatangan saya begitu mengejutkan kalian berdua. Saya hanya ingin menjenguk pak Dewa yang katanya pernah bekerja di perusahaan sebagai tim keamanan dan sekarang digantikan oleh anak kalian. Bagaimana kabar Bapak?" cerocos Razka masih menahan diri untuk tidak bertanya soal Bima.


Ia harus mencari alasan yang tepat sebagai basa-basi sebelum mengatakan tujuan sebenarnya.


"S-saya sudah lebih baik, Tuan. Terima kasih atas perhatian Anda," sahut Dewa dengan Kepalanya yang menunduk. Lisannya gemetar tak dapat ia tahan, jantungnya berdebar tak dapat diaturnya. Ia benar-benar terguncang sekarang.


Apa dia mau ambil Bima, ya? Iya kalo Bima emang anak dia?


"Syukurlah jika begitu. Boleh saya duduk? Saya ingin berbincang lebih lama dengan kalian," pamitnya masih dengan senyum yang sama tersemat di bibirnya.


"Si-silahkan, Tuan. Silahkan!" Tina beranjak dari duduknya berpindah tempat ke sisi lain Dewa. Ia tahu kegalauan suaminya karena dia sendiri pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Dewa. Ketakutan.


"Terima kasih." Alunan nada ramah itu tak membuat gelisah mereka beranjak.


"Saya dengar dari keponakan saya perihal kinerja Anda yang luar biasa. Tidak hanya bertindak sebagai supir, tapi juga sebagai pengawal yang handal dan berpengalaman. Terima kasih karena sudah menjaga keluarga saya," ucap Razka begitu hati-hati. Dalam hati ia berterimakasih karena telah menjaga Bima.


Kedua lansia itu hanya mengangguk kecil tanpa dapat berucap dengan lisan. Debaran jantung mereka lebih terasa saat ini, kehilangan Bima sudah membayang di pelupuk mata keduanya.


Ah ... gimana ini? Hati gua ....

__ADS_1


__ADS_2