
Senja datang menjemput malam, dua orang tua itu baru saja sampai di kantor polisi. Wanita yang bersamanya nampak tegang sekaligus kesal pada orang yang telah menabrak anaknya itu.
"Tenangkan hatimu, Aul. Kita tidak tahu apa dia sengaja atau tidak melakukanya?" ucap Aulia sambil menyentuh tangan Aulia, dan menyematkan jarinya pada jari wanita itu.
Aulia menjeda langkah, ia mendongak menatap suaminya yang tampak tabah. Pandang mereka bertemu untuk beberapa saat lamanya, sebelum wanita berhijab itu menatap ke depan lagi. Ia menghela napas, menenangkan hatinya yang teringin mencabik si pelaku.
Ia mengangguk pada suaminya dan lanjut melangkah memasuki bangunan yang seumur hidup bahkan tak ingin mereka masuki. Di sana seorang petugas duduk menunggu kedatangan mereka. Ia mempersilahkan keduanya untuk duduk berhadapan dengannya.
"Selamat sore, Tuan, Nyonya! Maaf, jika kami mengganggu waktu Anda," sapa laki-laki berseragam itu dengan sopan. Ia tersenyum pada mereka berdua yang nampak tegang.
"Sore, Pak. Tidak apa-apa, sama sekali tidak mengganggu. Mmm ... bagaimana, Pak? Apa benar pelaku penabrak anak kami berada di sini?" tanya Razka tak sabar rasanya ingin melihat seperti apa wajah pelaku itu.
Kepala laki-laki itu mengangguk masih dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya.
"Benar, Tuan. Sekelompok anak muda menahan si pelaku dan mobil yang menabrak motor anak Anda. Dia sedang berada di dalam tahanan. Silahkan!" jawab polisi tersebut sembari menunjuk ke arah bagian kiri tubuhnya.
Ia beranjak diikuti Razka dan Aulia yang mengekor di belakangnya. Di balik sebuah ruang yang terhalang jeruji besi, seorang laki-laki muda sepertinya, duduk meringkuk. Ia membenamkan wajah pada lutut, kedua tangannya merangkul kaki dengan erat. Bahunya terguncang, sepertinya dia sedang menangis.
"Anak muda itu sedang berada di bawah pengaruh alkohol. Dia mabuk dan tak dapat mengendalikan mobil yang dikendarainya. Silahkan!" Razka dan Aulia berdiri di depan ruangan tersebut. Memandangi pemuda yang seusia Ibrahim, putra mereka.
Mendengar suara-suara, kepala pemuda itu terangkat. Mata sembabnya memandang ke arah dua orang yang berdiri termangu di depan jeruji. Ia belum mengenali keduanya, atau mungkin belum sadar bahwa yang berdiri di sana adalah paman dan bibinya.
"Tuan, Nyonya! Tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja menabrak anak kalian. Saya ... saya menyesal. Maafkan saya," mohon pemuda itu. Ia bertumpu di atas lantai dengan kedua tangan yang mencengkeram erat jeruji.
Razka dan Aulia terkesima saat melihat wajah pemuda pelaku penabrak Bima. Mereka mengenalinya, teramat mengenali.
__ADS_1
"Revan?" panggil Razka dengan rasa tak percaya bahwa yang menabrak Bima adalah keponakannya sendiri.
Rasa kesal dan marah yang menguasai hati Aulia saat masuk ke gedung tersebut, menguap sedikit demi sedikit. Hanya saja, hatinya menolak percaya bahwa pemuda yang berada di balik jeruji adalah anaknya Emilia.
Mendengar namanya disebut, Revan mengangkat wajah. Matanya telah basah hingga ke pipi, bibirnya bergetar ingin berucap.
"Kau Revan, bukan? Apa kau tidak mengenal Pamanmu sendiri?" tegas Razka dengan sorot mata yang tajam menohok maniknya.
Revan tertegun, ia menilik dengan teliti wajah laki-laki hampir tua di luar jeruji itu. Kedua bola matanya berputar ke kanan dan kiri, menatapi Razka dan Aulia secara bergantian.
"Pa-paman? Bi-bibi? Kenapa kalian ada di sini? Kukira kalian orang tua anak yang aku tabrak," ucap Revan sembari perlahan mengangkat tubuhnya berdiri.
Razka melangkah mendekat, dipandangnya manik Revan yang dipenuhi penyesalan itu. Pemuda itu menyusut air mata, sedikit lega hatinya karena yang datang bukanlah yang ia duga.
"Kami memang orang tua anak yang kau tabrak, Revan. Dia anak Paman dan sekarang terbaring di rumah sakit dengan keadaan yang cukup menyedihkan. Sebelah kakinya cedera parah," papar Razka dengan nada tenang agar tak membuat keponakannya itu syok berat saat mendengar.
"Si-siapa, Paman? Kak Ayra, ataukah ... Nasya?" tanyanya terbata masih dengan wajah yang menunduk.
Melihat Revan yang nampak sedih, Aulia tak tega memarahinya. Ia menekan hatinya agar emosi tak sampai meluap dan tumpah ruah.
"Bukan mereka," tegas Razka. Kepala Revan terangkat, maniknya menghujam tepat di kedua bola mata Razka. Seingatnya, Razka hanya memiliki dua anak perempuan saja.
"Anak laki-laki Paman, Ibrahim," jawab Razka menegaskan lewat sorot matanya yang kelam.
Revan nampak bingung, ia membisu mengingat-ingat tentang anak laki-laki dari pamannya itu.
__ADS_1
"Dia anak paman yang hilang dua puluh tahun silam, Revan. Anak laki-laki yang terjun ke dalam jurang beberapa hari setelah dilahirkan. Dia sudah kembali dan baru saja berkumpul, sekarang terbaring di rumah sakit dalam keadaan menyedihkan." Razka lanjut menjelaskan kebingungan Revan.
Napas Revan semakin berat dan memburu. Ia berdosa, teramat berdosa. Air mata jatuh mengalir tanpa kendali, isak tangisnya perlahan mencuat meski terkesan ia tahan. Detik berikutnya, Revan menjatuhkan diri di lantai dengan air mata yang menganak sungai.
"Ampun, Paman! Ampun, Bibi! Ampuni aku, aku sangat berdosa. Maafkan aku, Paman, Bibi. Aku rela dipenjara untuk menebus semua dosaku jika itu bisa membuat kalian memaafkan aku. Paman, Bibi, aku benar-benar menyesal. Aku menyesal," tangis Revan tersedu-sedu.
Aulia melirik suaminya, manik wanita itu ikut bersedih melihat bagaimana Revan menyesali kecerobohannya. Terenyuh hati keduanya, terlebih saat bahu pemuda itu terguncang hebat dengan suara tangis yang terdengar pilu.
Aulia memasukkan tangannya, mengusap kepala pemuda itu dengan lembut.
"Tak apa. Dia sudah baik-baik saja. Jadikan semua itu pelajaran untukmu ke depannya. Bibi akan memintanya untuk datang menjengukmu di sini setelah sembuh nanti. Mmm ... Revan, orang tuamu sudah tahu soal ini?" ucap Aulia yang diselingi tanya saat teringat akan Fahru dan Emilia.
Revan mengangkat wajah, ia mendekat ke jeruji disaat Aulia menarik kembali tangannya.
"Papah sudah tahu, tapi Mamah aku tidak tahu. Mungkin Papah tidak memberitahu takut Mamah syok mendengarnya," jawabnya seraya menunduk saat bayangan Emilia marah dan kecewa melintas dalam benak.
Wanita itu kembali menatap suaminya, ia menghela napas sebelum kembali berucap, "Ya sudah, Paman dan Bibi akan kembali ke rumah sakit. Perkara ini akan kami urus dan bincangkan dengan orangtuamu. Sabar, ya."
Revan menganggukkan kepalanya yang tertunduk. Razka dan Aulia berpamitan, mereka akan kembali ke rumah sakit setelah dari rumah.
Sementara di rumah sakit, Fahru masih menetralkan keterkejutannya. Ia sungguh tak menduga, jika Juan adalah Bima, teman Revan di masa kecil.
"Aku benar-benar tidak tahu, kalau kau adalah Bima. Kenapa kau tak mengatakan namamu yang sebenarnya? Kenapa harus mengganti namamu membuatku tak mengenali teman anakku sendiri," ungkap Fahru.
Wajahnya sulit diartikan. Bima mengulas senyum maklum melihat kegugupan Tuannya.
__ADS_1
"Ada hal yang harus saya selidiki, Tuan. Jadi, saya terpaksa menyamarkan nama saya," sahut Bima lagi. Dewa dan Tina mengangguk membenarkan kala tatapan Fahru mengarah pada keduanya.
Gema adzan Maghrib berkumandang, Fahru berpamitan pergi ke mushola bersama Dewa. Ia masih ingin berbincang dengan Bima dan bertanya lebih banyak hal padanya.