
"Apa? Anak saya di kantor polisi? Menabrak orang? Tidak mungkin! Anda pasti salah orang," pekik seorang laki-laki paruh baya di sebuah rumah besar. Ia nampak frustrasi mendengar kabar tentang anaknya yang menabrak seseorang.
"Baik. Saya akan datang ke kantor untuk memastikan itu anak saya atau bukan," pungkasnya seraya menutup telepon dan membanting ponselnya ke atas ranjang.
Ia menyugar rambut frustasi, kesal bercampur kecewa karena anak yang seharusnya membuat bangga orang tua kini justru melakukan hal yang tak pantas dilakukan.
Ia menyambar kunci mobil juga gawai miliknya, tanpa memberitahu sang istri laki-laki beruban itu terus keluar dan pergi bersama mobilnya. Berkali-kali ia mengumpat dan mengancam dalam hati jika benar dia adalah anaknya.
Mobil yang dikendarainya melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan. Tanpa memikirkan hal yang lain untuk saat ini karena semua pikirannya dijejali oleh satu anak yang saat ini berada di dalam hotel prodeo.
Ban berdecit disaat kaki laki-laki berkaos oblong itu menginjak pedal rem dalam-dalam. Tak ingin menunda waktu, ia gegas keluar dari mobil dan masuk ke kantor polisi yang dimaksud si penelepon.
Betapa terkejutnya ia, melihat seorang pemuda sedang duduk berhadapan dengan dua orang polisi yang sedang menanyai. Ia menarik napas berat, bahunya melorot jauh. Menggeleng lemah.
Langkahnya gontai mendekati meja tersebut, ia duduk dengan tenang. Melirik sebentar putranya yang menunduk dalam.
"Selamat siang, Tuan!" sapa polisi yang menanyai pemuda tersebut.
"Hah ... ya, selamat siang, Pak!" sahutnya menekan rasa kecewa yang membuncah.
"Apa benar, ini anak Anda?" Ia hanya mampu mengangguk tanpa menyahut dengan kata.
"Anak Anda di bawah pengaruh alkohol, kami sudah memeriksanya. Ia menabrak sebuah sepeda motor dan korbannya seorang laki-laki muda." Membeliak kedua mata laki-laki itu tak percaya pada apa yang didengarnya.
Mabuk? Dia mabuk? Benar-benar membuatnya kecewa. Memalukan!
"Baik, Pak. Terima kasih, saya akan bertanggungjawab sepenuhnya atas seluruh biaya pengobatan korban hingga ia sembuh," sahutnya dengan yakin. Mau bagaimana lagi? Semua itu disebabkan oleh anaknya yang yang mabuk.
__ADS_1
"Baik. Terima kasih atas kerjasamanya," sahut pak polisi sembari beranjak berdiri dan berjabat tangan dengannya.
Rekan polisi tersebut membawa pemuda tadi ke dalam sel, sedangkan ayahnya akan pergi ke rumah sakit menemui korban. Ia melirik pada sang putra yang nampak pasrah berdiri di balik jeruji besi menatapnya.
Kekecewaan dalam hati jelas terpancar di sorot matanya yang tua. Sekali lagi ia menghela napas sebelum berpaling dan meninggalkannya sendiri di dalam bui.
Sementara di rumah sakit, di waktu yang sama, Razka terburu-buru menanyakan keberadaan Bima pada suster jaga. Ia melirik sekelompok anak muda yang duduk berjajar di halaman rumah sakit. Dewa mendekati mereka, ia yang tahu bawah anak-anak muda itu adalah geng motor Bima.
"Pak!" Ke sepuluh anak muda itu beranjak, mereka berdiri saat melihat Dewa mendekat. Menyalami orang tua itu dengan sopan. Dewa tersenyum bangga.
Di kejauhan, orang-orang yang ikut dengannya hanya menatap bingung ke arah mereka.
"Bima, Pak. Dia ...." Dewa menepuk bahu pemuda itu ketika ia tertunduk tak dapat mampu melanjutkan kalimatnya.
"Makasih, lu udah nolongin anak gua. Kalian temen-temen Bima yang baek, doain Bima supaya kagak kenapa-napa, ya," ucap Dewa yang mendapat anggukan kepala dari semua anak-anak itu.
Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Roy dan dua temannya. Ketiga anak muda itu akan kembali melanjutkan perjalanan karena mereka sedang melakukan kegiatan sosial.
"Pak!" Roy berjalan cepat ke arah Dewa tatkala matanya menangkap sosok tua itu. Diikuti dua temannya, mereka bertiga menyalami ketiga orang tua itu.
"Makasih, kalian udah nolongin Bima. Gimana keadaan Bima?" ucap Dewa kembali membuat bingung semua orang yang bersamanya.
"Alhamdulillah, Bima sudah ditangani dokter, Pak. Dia sudah dipindahkan ke ruangan dan sedang beristirahat. Nyonya menjaganya di sana. Maafkan kami tidak bisa menemani karena ada kegiatan yang harus kami lakukan," sahut Roy dengan wajah penuh sesal karena harus pergi sebelum Bima sadarkan diri.
"Kagak apa-apa, makasih sekali lagi udah nolongin Bima. Kalian hati-hati di jalan. Ingat! Orang tua kalian menunggu di rumah," nasihat Dewa yang mendapat anggukan kepala dari ketiga orang itu.
Mereka kembali menyalami tiga orang tua sebelum melanjutkan langkah menemui rekannya yang menunggu di halaman rumah sakit.
__ADS_1
"Bang, siapa mereka? Kok, Abang akrab bener ama mereka?" tanya Tina penasaran.
"Iya, Pak. Sepertinya mereka itu geng motor, lihat saja gambar di seragamnya," timpal Nasya yang juga ingin tahu tentang anak-anak muda yang mendatangi Dewa.
Razka dan Ayra hanya diam meski hati mereka pun sama ingin tahunya seperti dua orang itu. Langkah mereka berlanjut, mendengar keterangan Roy hati mereka sedikit lega.
"Mereka temen-temen geng motor Bima. Dulu, anak itu suka balapan. Balap liar sama mereka, tapi sekarang udah kagak pernah balap lagi dan milih kerja jadi supir Tuan Muda," jawab Dewa menjelaskan.
Nyes! Ada yang tercubit hatinya. Razka benar-benar tak tahu perihal anak muda itu, sedangkan Dewa tahu segalanya bahkan sampai teman-teman geng Bima.
Tina dan Nasya membulatkan bibir, teringat saat mereka melabrak Ibrahim sebelumnya.
"Pantas saja kak Bima tadi pagi seperti orang kesurupan, seperti terbang sampai perutku mual rasanya," celetuk Nasya memberengut kesal.
Tina hanya mengulas senyum, Dewa melakukan hal yang sama. Tidak dengan Razka. Rasa sesal karena tak tahu apa pun soal pemuda itu merongrong hatinya. Ia berjalan tertunduk, lantai yang dipijaknya lebih mengerti bagaimana perasaannya.
Di dalam ruangan, Aulia duduk dengan kepala yang ia letakkan di atas ranjang Bima. Matanya yang tak lagi berair menatap wajah sang putra tanpa berkedip. Ia mengusap-usap kaki Bima yang tak terluka, tapi terdapat beberapa goresan di sana sini.
Beruntung, ia tak mengalami cedera di kepala karena terlindungi helm yang ia kenakan. Hatinya masih saja menangis, tak henti meminta maaf pada dia yang masih terbaring dengan mata terpejam.
Aulia benar-benar menyesali sikapnya, jika ia tak egois mungkin kejadian naas itu tak akan pernah ada lagi. Namun, nasi telah menjadi bubur, menyesal pun tak akan mengembalikan Bima pada sebelum kecelakaan terjadi.
Ia sedikit beranjak ketika suara derit pintu ruangan mengusik rungunya. Razka terburu-buru melangkah, melihat sang suami, Aulia bergegas mendekati. Ia memeluk Razka, kembali menangis menumpahkan segala rasa.
"Kak, maafkan aku. Tolong maafkan aku, semua ini terjadi karena aku yang egois. Maafkan aku," sesal Aulia tersedu sedan dalam pelukan laki-laki itu.
Melihat pemuda yang terbaring di atas ranjang pesakitan, Dewa dan Tina berlari kecil mendekati. Air mata wanita tua itu kembali jatuh melihat kondisi anaknya yang tak berdaya. Dewa memeluknya, di hadapan mereka Ayra dan Nasya saling berpelukan.
__ADS_1