Bima

Bima
Part. 101


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah setengah jam berlalu mereka berbincang. Mendengar celoteh Bima ini dan itu, juga Nasya dan yang lainnya.


Ada cemas terselip di antara senyum-senyum kebahagiaan mereka. Ada gundah menjelma di tengah-tengah tawa yang menggema.


Lirikan matanya begitu tajam terlihat menghujam satu sosok baru dalam keluarga itu. Sementara dia, tak menyadari sama sekali. Hatinya begitu tulus hingga ia tak pernah berburuk sangka pada orang lain.


"Jika kau adalah anak Paman Razka, itu artinya kau yang aku tabrak? Benar?" pekik Revan saat teringat akan kejadian tabrakan beberapa waktu lalu.


Dahi Akmal terlipat, matanya pun menyipit memandang sosok bersahaja yang duduk di antara mereka. Menelisik wajah Bima yang begitu serupa dengan Razka. Keduanya sama-sama memiliki lesung di pipi. Menambah manis saat mereka tersenyum.


Mendengar itu, Bima tersenyum. Lantas mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan Revan. Emilia menutup mulutnya, sedangkan Fahru memperhatikan si anak sulung. Ada yang aneh dengan anak itu.


"Apa kau baik-baik saja, Baim? Apa kau terluka? Kudengar kakimu cedera?" cecar Emilia dengan gurat cemas di wajah.


"Memang, Bibi. Aku cedera di kaki karena tertimpa badan motorku sendiri, tapi sudah tidak apa-apa. Aku sudah sembuh, Bibi tidak usah khawatir," sahut Bima tersenyum lega. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Ah ... maaf, Paman, Bibi." Fahru menoleh padanya. Ia tersenyum hangat dan tak banyak bicara hari itu, "aku harus pergi. Sudah beberapa hari aku tidak masuk kuliah, sekarang ada jam pagi aku tidak ingin terlambat," lanjut Bima berpamitan.


Nasya pun sadar setelah mendengar Bima berpamitan, tujuannya datang menyusul Bima adalah untuk bersama-sama pergi ke kampus.


"Benar, aku juga harus pergi kuliah. Ayo, Kak, berangkat. Aku mau ikut Kakak," seru Nasya yang sudah lebih dulu beranjak dari duduknya. Bima mengangguk, keduanya pergi setelah bersalaman dengan para orang tua di rumah itu.


Razka mengernyit ketika melihat Akmal yang masih duduk anteng di sofa. Laki-laki itu masih menjelaskan suasana hatinya lewat raut wajah muram. Mengundang tanya dalam benak yang menuntut jawaban.

__ADS_1


"Akmal? Ada apa denganmu, apa kau tidak berangkat ke kantor?" tanya Razka menyelidik. Matanya tak lepas dari sosok laki-laki yang justru menundukkan wajah ketika mendengar Razka bertanya.


Fahru dan Emilia sama-sama melempar lirikan pada putra sulung mereka. Sementara Revan sendiri mendengus melihat tingkah sang Kakak yang tak sadar juga posisinya.


"Mmm ... Paman, boleh aku bertanya, tapi maaf sebelumnya jika Paman akan tersinggung," katanya mengangkat bicara.


Razka mengulas senyum, ia mengerti apa yang ingin dikatakan Akmal. Sudah pasti berkaitan dengan perusahaan karena bagaimanapun Bima tetaplah yang lebih berhak atas perusahaan itu.


"Katakan saja, jangan sungkan. Apakah tentang perusahaan?" tebak Razka dengan nada tenang agar Akmal tak merasa tertekan.


Lagi-lagi, kepala laki-laki di hadapannya menunduk. Ia memainkan jemarinya yang bertaut, gugup seketika saja merundung hatinya. Keringat yang bermunculan membuat telapak tangannya terasa lembab, peluh pun tak dapat ia tahan saat bermunculan di sekitar dahi dan punggung.


Ia mengangguk lemah sebelum mengangkat pandangannya menatap Razka yang nampak tenang.


Akmal memiliki wajah dominan Emilia, tak seperti Revan yang menjadi jelmaan Fahru. Pemuda itu bahkan duduk santai sambil memainkan gawai.


"Apa kau takut Baim akan menggantikan posisimu sebagai CEO?" Akmal membuang pandangan, tepat sekali pertanyaan Razka.


Ia menggigit bibir, melipatnya berkali-kali menahan gugup yang kian melanda hati.


Jika iya, maka untuk apa aku pergi ke kantor. Memeras pikiranku sendiri untuk perusahaan yang tidak akan menjadi milikku. Lebih baik aku duduk di rumah saja.


Akmal bergumam dalam gelisahnya hati. Razka menelisik wajah itu, wajah yang menggambarkan bagaimana suasana hati pemiliknya.

__ADS_1


"Aku belum menanyakannya kepada Baim, belum sempat berdiskusi dengannya soal perusahaan. Kau tenang saja, Akmal. Yang Paman lihat dari sikap Ibrahim, dia sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan. Dia lebih suka menjadi pekerja, bekerja secara bebas apa pun dia inginkan," ungkap Razka sambil terus memandangi wajah keponakannya.


Akmal tetap terlihat gelisah, apa yang Razka ucapkan sama sekali tak membuat hatinya merasa lega.


"Kau bekerjalah dengan benar, Akmal. Jika Paman mendapati kau bermain-main dengan posisimu saat ini, maka akan Paman pastikan Baim menggantikanmu. Paman akan memaksanya meski dia menolak karena itu adalah peninggalan nenek moyang kita. Apa kau mau berjanji pada Pamanmu ini akan bekerja dengan sungguh-sungguh?" ucap Razka lagi.


Nada suaranya tak main-main bahkan terkesan mengancam Akmal. Kepala laki-laki itu mendongak, menatap pasti pada manik kelam yang terkadang menghanyutkan siapa saja yang memandang.


"Aku berjanji, Paman. Aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan tak akan mempermainkan posisiku sebagai CEO di perusahaan itu. Paman bisa mengawasiku secara langsung agar aku tetap fokus pada tujuan," katanya dengan yakin dan pasti.


Razka menyematkan senyum, puas mendengar kepastian Akmal dalam berucap. Ia yakin, jika anak itu bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya maka perusahaan akan semakin berkembang di tangannya.


"Baik, Paman akan mengawasimu. Kau harus ingat, Akmal. Ada banyak godaan di posisi itu. Terutama dari para wanita yang hanya menginginkan uangmu saja. Berhati-hatilah, pilih wanita sederhana yang bisa menerimamu apa adanya. Bukan mereka yang hanya memandang dari hartamu saja. Kita butuh mereka, sebagai dorongan untuk menambah semangat bekerja. Kau mengerti?" Razka menegaskan.


Akmal menajamkan sorot mata, meyakinkan Pamannya itu bahwa ia akan mendengarkan nasihatnya. Masalah Yola ... sudahlah, ia tak akan lagi memikirkannya. Tujuannya adalah memperkuat posisi sebagai CEO di perusahaan tersebut dengan menjadi sesuai keinginan Razka.


"Baik, Paman," sahutnya yakin. Pada akhirnya perbincangan itu menemukan jalannya. Akmal bisa tetap bekerja dengan tenang tanpa takut posisinya akan diambil alih oleh Bima. Yang terpenting, ia harus membuktikan bahwa dia memang layak untuk menduduki posisi tersebut.


Razka pamit pulang, ia akan meninjau restoran cabang yang ia kelola sendiri. Tak ada niatan mengembangkannya lagi, itu saja sudah cukup untuknya memenuhi semua kebutuhan keluarga.


Sementara Bima dan Nasya ke kampus, Revan pun tak ingin tinggal diam. Ia pergi ke tepi ke sungai untuk menemui sang pujaan hati. Bila ia sudah berhasil mendapatkan hatinya, ia akan memperkenalkan wanita itu pada Bima dan keluarganya.


Dengan senyum tersemat cerah, sebuah buket bunga mawar merah digenggamnya dengan erat. Ia mulai menyusuri pinggiran sungai mencari sang cinta sejati.

__ADS_1


Senyum di bibirnya semakin merekah tatkala seorang gadis bersama dua gadis lainnya sedang bercengkerama sambil mencuci pakaian. Seperti masih di desa.


__ADS_2