Bima

Bima
Part. 43


__ADS_3

Mobil melaju dengan lambat di saat bangunan yang dituju telah terlihat. Jantung Bima dihantam gada besar, debarannya berubah tak karuan. Kedua tangan mencengkeram kemudi kuat-kuat, menahan gejolak yang tiba-tiba membuncah.


Kedua kakinya belum pernah menapak lebih jauh dari batas gerbang rumah besar tersebut. Namun, kali ini dengan tekad yang sudah ia teguhkan, Bima tak lagi menolak ajakan Revan.


Hari ini gua terima undangan lu, temen lama. Kapan lu balik ke sini? Gua kangen ama lu.


Mobil terus bergerak maju beriringan dengan degup jantung juga gumaman dalam hatinya. Batang hidung sang majikan belum terlihat di teras. Ia beranjak turun, berdiri sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru halaman.


Perasaan kagak asing ini bikin gua penasaran setengah mati. Rasa-rasanya gua pernah hidup di mari, atau gua pernah datang ke mari. Ah ... apa, ya? Gua sendiri kagak tahu.


Kepalanya memutar, bola matanya pula ikut beredar ke segala arah.


"Siapa kau?!" Sebuah seruan menghentikan pergerakan Bima. Ia tertegun, mendapati seorang laki-laki dewasa dengan balutan jas lengkap dengan dasi dan sepatu mengkilap yang menutupi kedua kaki, berdiri di atas teras rumah tersebut. Di tangannya sebuah tas kerja ia jinjing.


Matanya memindai tampilan Bima, satu alisnya terangkat melihat Bima yang menutupi wajahnya dengan masker. Berganti pandangan pada mobil di samping Bima.


"Di mana Dewa? Dan apa yang kau lakukan di sini? Apa kau yang membawa mobil tersebut?" Nada tak percaya dan sedikit angkuh terdengar membuat Bima meringis dalam hati. Bertanya hatinya pada diri sendiri, apakah selama ini majikan Dewa itu seorang yang angkuh lagi sombong?


"Maaf, Tuan. Saya Juan, anaknya pak Dewa. Bapak saya sedang tidak sehat di rumah, saya berinisiatif untuk mengantikan tugasnya mengantar Anda jika diizinkan." Bima menunduk memperkenalkan diri padanya, tapi entah kenapa hatinya menolak melakukan itu.


Perasaannya mengatakan, ia tak perlu menunduk pada siapa pun. Namun, lagi-lagi demi menguak misteri yang kerap ia jumpai, Bima harus melawan hatinya.


"Anaknya Dewa? Kenapa kau menutupi wajah?" Pertanyaan bernada mencibir itu menyentak harga diri Bima.


Dewa? Dia bahkan manggil Babeh pake sebutan nama doang. Apa kagak angkuh yang kaya begitu?


"Maaf, Tuan. Kata Bapak karena wajah saya dipenuhi jerawat, maka saya harus menutupinya supaya Tuan tidak merasa jijik terhadap saya," ungkap Bima menahan geram dalam hatinya.


Suara tawa terasa menghujam jantung Bima. Tawa yang mencibir, tawa menjengkelkan. Ia tak pernah ditertawakan seperti itu sepanjang hidupnya, tapi orang kaya itu ... kenapa orang-orang kaya selalu bersikap angkuh seperti laki-laki yang sedang berdiri di teras tersebut.


"Aku memang tidak terbiasa dengan orang-orang kotor apalagi wajahnya berjerawat." Bima mengetatkan rahang menahan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


"Akmal! Kenapa belum berangkat? Apa pak Dewa belum datang?" Sebuah suara lembut mengusik telinga Bima. Ia mengendurkan urat-urat di wajah yang menegang beberapa saat lalu. Matanya melirik pada seorang wanita paruh baya yang telah berdiri di samping anaknya itu.


Muka mereka emang mirip, tapi kelakukan laen.


Anak laki-laki angkuh itu bergeming, ia tak menyahut pertanyaan wanita tersebut. Kepalanya bergerak memberi isyarat pada si wanita untuk menoleh.


Bima mengangguk sedikit, ia berbeda dari pekerja lainnya yang akan membungkukkan tubuh di hadapan majikan. Hati Bima menolak melakukan itu.


"Kau ... siapa? Di mana pak Dewa?" Mata yang terhalang kaca bulat itu melirik pada mobil di samping Bima.


"Saya Juan, Nyonya. Saya anak pak Dewa, dan saya yang akan menggantikan tugasnya untuk bekerja kepada keluarga ini. Mohon izin saya menggantikan beliau, Bapak saya sudah tua dan kesehatannya pun sudah semakin memburuk dari hari ke hari. Jika Anda dan keluarga Anda membutuhkan Bapak saya, maka saya siap untuk menggantikannya," ungkap Bima dengan tegas dan yakin.


Kedua matanya yang tajam sekaligus menghanyutkan, mengingatkannya pada pemilik manik legam yang serupa. Siapa? Hati Emilia digandrungi rasa gelisah tiba-tiba, bertanya-tanya tentang sosok pemuda di hadapannya.


Namun, bibirnya yang dipoles lipstik berwarna merah muda pucat itu, membentuk senyuman mengapresiasi ketegasan Bima dalam berbakti pada kedua orang tua.


"Ulangi, siapa namamu?" pintanya seraya melangkah mendekatkan diri kepada pemuda yang memiliki postur tubuh yang sempurna itu. Tegap berisi, tak seperti anaknya Akmal yang memiliki perut sedikit membuncit.


"Juan, Nyonya. Nama saya Juan," sahut Bima dengan mematri pandangan pada kedua manik Emilia yang mengembun.


"Dua puluh tahun, Nyonya."


"Kau ... seusia dengan putra bungsuku, tapi dia tidak di sini. Kalian bisa berteman saat ia pulang nanti." Wanita ramah itu menyentuh bahu Bima.


Revan, kita udah temenan, Nyonya.


Tanpa diduga, Emilia memeluknya. Entah kenapa, hati menuntunnya untuk melakukan itu. Rindu pada siapa yang tak kunjung terobati, seolah sirna saat bersentuhan dengan kulit hangat milik Bima.


"Nyo-nyonya ...?"


Ngapa ama perasaan gua ni? Rasanya gua pengen peluk ni Nyonya, tapi gua takut kagak sopan.

__ADS_1


Bima bergeming dengan mata yang melebar karena terkejut. Maniknya bertabrakan dengan netra milik Akmal yang memicing penuh kebencian.


"Ma-mamah ...?" Lisan pemuda itu kelu, ia sungguh tak percaya dengan tindakan Emilia yang tak terduga.


"Ah ... maaf." Emilia melepas pelukan, tak hanya tubuhnya yang memberikan refleks memeluk Bima, tapi air mata itu jua membuatnya dilanda kebingungan yang luar biasa.


Emilia menjauhkan dirinya dari Bima, kepalanya sedikit dimiringkan dengan kedua alis yang terangkat.


"Kenapa kau tidak membuka masker? Bisa aku melihat wajahmu sebentar? Kau mengingatkanku pada seseorang," pinta Emilia dengan senyum terulas di bibirnya.


Bima memutuskan tatapan, membuangnya ke bawah menatap sepasang sepatu berkilap milik Dewa.


"Maafkan saya, Nyonya, tapi saya tidak bisa. Saya takut Nyonya dan keluarga merasa jijik dengan wajah saya yang tak sedap dipandang," ucap Bima dengan segala kerendahan hati yang dimiliknya.


Perasaan kecewa jelas tergambar di wajah Emilia. Namun, ia tak bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal yang tak disukainya.


"Baik. Jika kau tak ingin membuka maskermu, maka tunjukkan padaku ID milik pak Dewa," timpal Emilia sembari menadahkan tangan di depan wajah Bima.


Kepala pemuda itu mengangguk sedikit, ia merogoh saku jas bagian atas, dan mengeluarkan ID milik Dewa. Sebuah kartu identitas yang menunjukkan bahwa ia adalah anggota Pratama Grup.


Emilia menerimanya, menilik dan membacanya. Ia mengangguk setelah memastikan kebenaran ID tersebut. Menyerahkannya kembali kepada Bima sambil tersenyum.


"Mintalah ID baru atas namamu, Juan. Selamat datang di Pratama Grup, kau diterima," ucapnya sebelum berbalik kembali ke sisi putranya.


"Terima kasih, Nyonya." Bima menganggukkan kepala lagi.


"Kenapa Mamah memeluknya?" sungut Akmal tidak terima mamahnya itu bersentuhan dengan orang yang ia anggap rendah.


"Kenapa? Dia seusia adikmu, perlakuan dia seperti adikmu juga. Ingat, meski kau atasannya kau tidak bisa semena-mena terhadapnya," ucap wanita berkacamata bulat itu sembari menyentuh bahu anaknya.


Lidahnya berdecak kesal, ia tak melanjutkan perdebatan, memilih menyalami sang Mamah dan pergi memasuki mobil. Pintu dibantingnya cukup keras sebagai bentuk protes darinya.

__ADS_1


Bima mengangkat wajah sekejap, ia mengangguk berpamitan pada Emilia sebelum duduk di bangku kemudi.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2