
Lama terdiam menyelami masa lalu. Umpatan demi umpatan datang bergantian dari hatinya. Kenapa ia sampai lupa? Pikirannya mengutuk, kenangan saat kecil itu seolah ikut terkubur bersama kehidupan yang ia tinggalkan. Mata kecil itu, bibir itu, senyum itu, dia gadis kecil yang bersahabat dengannya saat di desa dulu.
"Nasya?" Akhirnya satu nama itu meluncur dari lisannya. Ia tertegun, bagaimana mungkin lupa pada seorang gadis kecil yang memiliki rupa yang sama dengannya? Sudah pasti itu dia?
"K-kau ... Nasya? Gadis kecil cengeng itu?" Bima masih tak percaya meskipun kepala gadis di hadapan terus mengangguk menjawab pertanyaan darinya.
"Iya, Kak. Aku Nasya, apa Kakak lupa padaku?" Suaranya tetap selembut dulu. Seperti guru bahasa Indonesia di sekolah Bima yang lama. Bagaimana dia menjelaskan tentang perasaannya saat ini?
Bahagia? Dia tidak tahu apakah bahagia bertemu dengan gadis itu? "Bagaimana kau bisa mengenaliku?" tanya Bima ikut penasaran.
Gadis itu tersenyum sambil mendekat kepada Bima, mengikis jarak antara mereka tanpa segan.
"Sebagaimana Kakak bisa mengenaliku lagi? Seperti itulah aku mengenali Kakak," sahutnya dengan yakin. Maniknya berpendar penuh kerinduan. Menghujam tepat ke dalam hati Bima. Gelenyar-gelenyar aneh ia rasakan menggelitik rindu yang selama ini ia simpan.
"Begitukah? Mungkin benar aku melupakanmu, tapi siapa yang akan lupa dengan wajah seseorang yang serupa dengan diri sendiri. Hatiku yakin itu adalah kau, Nasya. Siapa lagi? Gadis cengeng yang menangis di pintu pasar." Bima terkekeh, tapi sudut matanya berair.
Begitu pun dengan gadis kecil itu, kini ia menjelma menjadi gadis yang cantik.
"Kakak benar, siapa yang akan lupa dengan itu. Aku senang bisa bertemu dengan Kakak lagi," ucap Nasya. Bima menganggukkan kepalanya, ia pun tak menampik ada sebagian kecil hatinya merasa bahagia bertemu dengan gadis itu.
"Tapi, Kakak, kenapa Kakak pergi begitu saja? Apa Kakak tahu setiap hari aku menunggu Kakak untuk bermain. Aku mengajak Kakakku untuk mencari Kakak di parkiran, tapi tidak ada. Lalu, kami menemukan rumah Kakak. Hanya ada laki-laki bertatto di sana, dia mengatakan jika Kakak sudah pindah." Kalimat Nasya membuat Bima bingung bagaimana menjelaskan tentang kepergiannya yang begitu mendadak.
"Maafkan aku. Babeh mendapat pekerjaan di kota ini waktu itu. Kami pindah secara mendadak, dan tak sempat mengabari siapa pun. Maafkan aku," ucap Bima.
Gadis itu mengangguk, bibirnya kembali tersenyum menunjukkan dirinya yang baik-baik saja.
"Kakak, bukankah Kakak pernah mengatakan jika kita jodoh pasti kita akan bertemu lagi. Apakah kita berjodoh?" Tersipu gadis itu. Bima pun salah tingkah sendiri. Ia menggaruk kepalanya sambil membuang pandangan.
__ADS_1
"Lagu pula, kenapa wajah kita begitu mirip, Kak?" Pertanyaan lanjutan dari gadis itu membuat Bima berpikir keras mencari jawaban.
Bima tak menyahut, ia kembali melempar pandangan pada Nasya yang tersenyum menunggu jawaban. Matanya berkedip lucu. Bima tak dapat menahan tawa saat melihatnya.
"Ngapa lu gemesin banget, sih? Kata Nyak, biasanya jodoh itu punya kemiripan. Mungkin juga kita jodoh, ya. Tapi, apa lu mau nikah ama gua, Neng?" Kembali lagi pada bahasa lisannya.
Nasya tertegun, bahasa inilah yang khas dari Bima. Bahasa serampangan yang terdengar aneh dan semaunya. Setidaknya begitu yang ada dalam pikiran gadis itu.
"Kakak tidak pernah berubah. Bahasa itu yang selalu aku rindukan saat ingin berbincang dengan Kakak. Jika memang kita berjodoh, kenapa tidak?" Tertawa keduanya.
Bima merengkuh tubuh Nasya, tak ada penolakan dari gadis itu. Ia membalasnya sebelum keluar lorong menuju kelas masing-masing. Pertemuan itu mengingatkan keduanya pada persahabatan yang baru saja dimulai dan langsung berpisah.
Keduanya berpisah dan masuk ke kelas masing-masing. Bima tak sadar jika ada beberapa pasang mata yang mengintip mereka tadi. Ia mengumpat, kesal dan marah. Mengancam dan mengancam Bima juga gadis pindahan itu.
Sementara di sebuah restoran, Razka berkumpul bersama dengan keluarganya. Ayra, Aulia, juga pemuda yang mereka anggap sebagai Ibrahim. Hidangan menu makan siang begitu menggiurkan, berkali-kali pemuda itu kedapatan meneguk ludah. Tak sabar mulutnya ingin mengunyah.
"Kau mau makan apa, sayang?" tanya Aulia pada pemuda itu.
"Letakkan ini, ini, ini, dan ini. Ah ... yang itu juga. Aku mau," katanya menunjuk beberapa jenis lauk dengan serakah. Razka dan Ayra mengernyitkan dahi. Dia seperti orang yang tak pernah bertemu dengan makanan.
Lain kali aku akan mengajak Bima makan seperti ini. Ingin melihat apakah dia sama seperti pemuda itu?
Razka bergumam berencana sendiri. Ia meletakkan kembali sendoknya di samping piring. Selera makannya hilang melihat bagaimana cara pemuda itu makan. Lidahnya berdecak-decak seperti orang kelaparan, nasi berserakan.
Ayra ikut meletakkan sendok, keduanya hanya menonton Ibrahim palsu itu makan. Aulia sendiri, terus tersenyum. Tangannya mengusap-usap punggung pemuda yang ia anggap anak itu dengan lembut.
"Ah ... aku ke toilet dulu," pamit Razka. Ia menoleh pada Ayra, mengedipkan mata sebagai kode.
__ADS_1
"Mmm ... aku juga. Kalian makan saja," ucapnya saat Aulia menoleh. Razka sudah tak ada di sana, menyusul Ayra yang tersenyum kecut terlihat. Pergi meninggalkan meja.
Pergilah, pergi! Biar kuhabiskan semua makanan ini.
Pemuda itu bergumam dalam hati. Aulia kembali menoleh padanya. Ia meneguk ludah sendiri melihat cara makan pemuda itu.
Uhuk-uhuk!
"Air! Air!" Tangannya yang dipenuhi makanan terangkat ke arah Aulia meminta air. Sigap ia memberikan gelas padanya yang segera ditenggaknya hingga tandas.
"Pelan-pelan, sayang. Tidak akan ada yang mengambil makananmu," ucap Aulia sambil menepuk pelan punggungnya. Ia memberikan senyuman padanya, ada yang hilang dari senyum itu. Pemuda itu tak memiliki lesung pipi.
"Maaf, Bu. Aku belum pernah makan makanan seenak ini, boleh aku menghabiskannya?" katanya dengan mulut yang kembali penuh. Aulia menganggukkan kepala tanpa menyahut. Ia merasa risih sendiri.
Razka menunggu Ayra di dekat pintu toilet.
"Dari mana kau dapat pemuda itu! Siapa namanya dan seperti apa kehidupannya?" tanya Razka setelah putri sulungnya itu datang menghampiri.
"Aku menemukan pemuda itu sedang duduk di pinggir jalan sambil memainkan kalung yang dia punya, Ayah. Aku hendak ke butik bersama kak Briant, tapi urung saat melihatnya. Kupikir dia tidak akan seperti itu?" jawab Ayra sedikit gurat sesal nampak di wajahnya.
"Tidak apa-apa. Mungkin dia perlu menyesuaikan diri dengan kehidupannya yang baru, tapi bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Apakah saat ini kau merasa sudah menemukan adikmu itu?" tanya Razka lagi. Pertanyaan yang harus dijawab berdasarkan hati.
"Entahlah, Ayah. Aku merasa jauh dengan adik Baim, padahal dia ada bersama kita." Ayra yang menunduk mengangkat kepala secara perlahan. Memandang sendu pada Razka yang tersenyum.
"Yah ... mungkin hanya belum terbiasa, tapi Ay, Ayah ingin kau bersama Briant menyelidiki pemuda itu. Kita harus tahu seperti apa kehidupannya dan bagaimana orang tua asuhnya mendidik adikmu itu," titah Razka.
Ayra mengangguk pasti. Mereka kembali setelah cukup berbincang. Tercengang melihat makanan di meja makan itu hampir ludes semuanya.
__ADS_1
Dia manusia atau raksasa kelaparan?