Bima

Bima
Part. 95


__ADS_3

\=Bumi ini cukup untuk menampung semua orang, tapi tetap saja tidak memberikan kepuasan bagi satu orang yang tamak\=


Fahru dan Emilia mendongak bersamaan, memandang wajah sang putra sulung yang baru saja berucap. Rasa tak percaya kata-kata tadi akan meluncur dari lisannya, membuat hati mereka bertanya-tanya ada apa dengan pemuda itu?


"Terlalu nyaman hingga membuatmu lupa daratan, Kak," celetuk Revan asal. Ia sibuk memainkan gawai, tak terlalu peduli pada keadaan sekitar.


"Apa maksudmu berkata demikian, Akmal? Apa kau takut sepupumu akan mengambil haknya?" tanya Emilia dengan kerutan di dahi menjelaskan kebingungannya.


Akmal menghela napas, ia terlihat gelisah berputar-putar kian kemari. Duduk di kursi tak tenang, betapa ia khawatir posisinya akan digantikan oleh Ibrahim.


"Aku sudah menduduki kursi itu selama beberapa tahun ini. Aku juga yang mengembangkan perusahaan itu dengan kerja kerasku juga tim. Sekarang, semua akan diambilnya. Lalu, aku akan digulingkan tanpa perasaan. Apa menurut Ibu itu bukan tindakan kejam? Jadi, selama ini aku hanya dimanfaatkan saja oleh Paman Razka?" Manik pemuda itu menatap penuh ambisi kedua orang tua di depannya.


Pernyataan sang putra membuat Emilia syok ringan, napasnya tersengal-sengal, keringat bermunculan di sekitar dahi. Rasa tak percaya Akmal bisa memiliki pemikiran seperti itu.


"Kau terlalu berambisi, Kak," celetuk Revan lagi masih sibuk dengan gawainya. Akmal memejamkan mata, mencoba menahan geram terhadap sang adik yang berceloteh asal dan dianggap tak tahu apapun.


Fahru dalam posisi yang bingung, yang dikatakan Akmal benar adanya, tapi juga pemikiran itu tak dibenarkan sepenuhnya hati Fahru.


"Jadi, menurutmu seperti apa seharusnya?" tegas Fahru mengorek isi pemikiran putra sulung mereka.

__ADS_1


Akmal membuang pandangan, menunduk dengan jemari tertaut erat. Wajah itu perlahan terangkat memandang Fahru dan Emilia secara bergantian.


"Bukankah itu perusahaan milik keluarga? Bukan milik Paman Razka. Mamah adalah adik kandung Paman dan Nona Muda keluarga Pratama. Mamah memiliki hak yang sama di perusahaan tersebut. Paman Razka tak bisa mengklaim perusahaan tersebut adalah miliknya, lantas hanya anaknya yang berhak menduduki kursi pemimpin di sana. Apa dia lupa ada Mamah yang pastinya memiliki bagian dari perusahaan tersebut?" Akmal masih terpaku pada wajah kedua orang tua di hadapannya.


Baik Fahru maupun Emilia, keduanya tak menyangkal apa yang diucapkan Akmal semuanya benar. Namun, anak itu pun sepertinya lupa posisi keturunan dari anak laki-laki lebih kuat dibandingkan anak perempuan.


"Kau mudah diadu domba, Kak. Belum tentu juga anaknya Paman Razka ingin menduduki kursi itu, tapi kau sudah kebakaran jenggot lebih dulu." Revan beranjak, malas mendengarkan percakapan yang menurutnya tak ada guna itu.


Ia terus berjalan menuju kamarnya sendiri, menutup pintu dan asik bermain game tanpa harus dicemari pemikiran Akmal yang keliru.


"Yang dikatakan adikmu itu benar. Kita saja belum bertemu dan berbincang langsung dengan anak Pamanmu itu. Bagaimana kau bisa menyimpulkan sesuatu sebelum kau terlibat langsung dengan yang bersangkutan." Fahru menghela napas, mengurangi sesak akibat terkejut mendengar buah pemikiran sang putra.


"Lagi pula, keturunan dari anak laki-laki itu kuat, Akmal. Posisi mereka tak mudah digoyahkan, meski Ibumu adik kandung Kak Razka, ia tak memiliki hak yang sama atas perusahaan itu. Tetap saja yang paling berhak adalah Kak Razka dan keturunannya. Sebaiknya rubah pemikiranmu, Nak," lanjut Fahru dengan tenang.


"Lalu, menurut Papah aku harus bagaimana? Apakah aku harus mengalah dan diam saja saat mereka mengambil semuanya? Bagaimana dengan kerja kerasku selama ini?" tegas Akmal yang seketika membungkam bibir keduanya.


Emilia memandang suaminya yang nampak tegang, percakapan dengan si sulung benar-benar memutar otak mereka untuk berpikir dan mencari tahu apa yang diinginkan putranya itu.


"Kau bisa bekerjasama dengannya, kalian bersama-sama mengembangkan perusahaan tanpa harus saling iri. Jika dia menduduki kursi CEO, maka kau bisa menjadi asistennya. Mengajari dia bagaimana cara menjadi seorang pemimpin. Memberitahunya bagaimana cara kerja seorang CEO karena kau lebih berpengalaman. Seperti halnya Briant yang Begitu sabar mengajarimu tanpa pamrih-"

__ADS_1


"Setelah Papah selidiki dan perhatikan, yang Papah lihat di lapangan Briant-lah yang bekerja dan kau terkadang santai melihat saja. Apa kau pikir Papah tidak mengawasimu?" papar Fahru panjang lebar.


Emilia membeliak sekali lagi, selama ini dia percaya pada putranya bisa memimpin perusahaan. Akmal tertunduk, mungkin menyadari kesalahannya selama menjadi pimpinan di perusahaan. Ia pikir, anak itu telah mati dan tak akan datang menggantikan.


"Itu dulu, Pah. Sekarang aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Tak akan aku berbicara seperti tadi jika aku masihlah main-main di posisi itu. Aku sudah banyak belajar dari Briant, dan sudah mengerti tugasku. Papah bisa tanyakan padanya," sahut Akmal dengan sorot mata penuh tekad yang meyakinkan.


Fahru menelisik manik putranya, terdiam memperhatikan. Mencari celah kebohongan yang biasa terbaca dari pancaran iris seseorang.


"Baik. Jika kau yakin akan kemampuanmu, maka bicaralah pada Pamanmu. Semua keputusan ada padanya, bukan pada kami," tegas Fahru pada akhirnya. Ia tak ingin berlama-lama dalam perdebatan yang tiada berujung. Terlebih itu adalah anaknya sendiri. Yang ia perankan adalah orang tua dengan tugas menasihati agar sang anak tak salah dalam melangkah.


"Baik!" Akmal tak kalah tegas menyahut. Ia beranjak usai memberikan tatapan tajam pada orang tuanya. Melangkah terus masuk ke kamar bersiap pergi ke kantor.


"Di mana Juan? Kenapa dia tidak masuk meski aku telah kembali? Aku harus memberinya pelajaran," gerutu Akmal. Ia sedang mematut diri di depan cermin besar di kamarnya sendiri. Membenahi dahi dan jas juga penampilan rambutnya yang harus sempurna.


Akmal menyambar tas kerja dan bergegas keluar kamar. Di luar, seorang supir pengganti telah menunggunya dengan sabar. Tanpa basa-basi ia langsung masuk dan duduk dengan tenang. Hatinya menjadi kesal pagi itu usai perdebatan ringan dengan kedua orang tuanya.


Ia ingin melampiaskan semuanya pada Juan jika saja ia masuk hari ini. Alasan yang tepat untuk memarahinya sekaligus meluapkan emosi dalam diri. Kedua tangannya terkepal, menahan geram yang merundung hatinya.


Awas saja jika kau ada di kantor hari ini. Aku tidak peduli kau kesayangan Paman Razka sekalipun. Kau harus menerima hukuman dariku karena sudah membiarkan aku sendiri di luar kota. Terlebih harus bersama supir yang tak becus apa-apa ini.

__ADS_1


Ia mengumpat dalam hati, matanya menyalang pada seorang laki-laki yang berusia lebih tua darinya di belakang kemudi itu. Ia tak pandai seperti Bima, tak cerdik seperti anak muda itu. Juga tak mampu bela diri yang akan melindunginya dari bahaya.


Sial!


__ADS_2