Bima

Bima
Part. 132


__ADS_3

Dua bulan berlalu, kehidupan Bima dan Tina kembali berjalan normal. Beberapa hari terakhir ini bahkan ia diajak Aulia untuk menyibukkan diri di rumah besar Razka. Mempersiapkan acara pernikahan Ayra dan Briant.


Mereka bahkan sering menginap mengisi kamar-kamar kosong yang ada di rumah besar tersebut. Berkumpul dengan keluarga besar Pratama mengusir kesepian di hati Tina.


"Apa Nak Briant masih sering datang ke rumah dan bertemu Nak Ayra?" selidik Tina melirik kedua sejoli yang akan menikah itu. Pernikahan akan digelar kurang lebih sepuluh hari lagi.


Ayra melirik Briant dengan wajah tertunduk, sedangkan pemuda di sampingnya mengusap tengkuk salah tingkah.


"Kalian itu harus dipingit. Jangan bertemu sampai waktu akad tiba. Sebaiknya jangan pergi ke mana pun, tetap di rumah. Perbanyak pengetahuan tentang rumah tangga dan hak kewajiban suami istri," ucap Tina tanpa segan memberikan nasihat.


Aulia tersenyum mendengar itu, ia melirik putrinya yang tertunduk, lalu Briant yang seolah sedang mencatat apa yang baru saja diungkapkan Tina dalam otaknya.


"Kalian harus dengar kata Nyak. Beliau memberikan nasihat yang baik. Mulai besok, Nak Briant tetap di rumah. Kalian akan bertemu saat akad nanti," timpal Aulia pula dengan lembut. Begitu asiknya memiliki dua Ibu yang berhati lembut.


"Baik, Ibu, Nyak, saya akan mendengarkan nasihat kalian." Briant menyahut dengan tegas.


"Tapi jika saya tidak diperbolehkan pergi ke mana pun, siapa yang akan mengerjakan tugas saya sebagai asisten sekaligus sekretaris Tuan Akmal, Ibu?" tanya Briant menatap cemas Aulia.


Wanita itu melirik Tina, ia sendiri tak tahu bagaimana harus menjawab.


"Biar Bima aja yang gantiin Kakak ipar. Bima, 'kan, pernah kerjasama ama Kakak," sambar Bima yang baru saja datang kuliah dan langsung berkumpul bersama mereka usai menyalami para orang tua.


Semua orang terkejut mendengarnya, dia Tuan Muda sesungguhnya, tapi justru ingin menjadi pengganti Briant yang hanya seorang asisten.


"Tu-tuan Muda!" Terbata Briant memanggil Bima. Matanya berkedip tak percaya, sedangkan pemuda itu duduk tenang di antara Aulia dan Tina sambil mencomot sebuah kue dan memakannya.


"Ada apa? Apa Kakak meragukanku?" sungut Bima dengan mulut penuh.


"Telen dulu baru ngomong. Kagak baek lu ngomong mulut penuh begitu," ingat Tina sambil memukul lembut lengan atas putranya itu.


Ia menyeringai berharap dimaklumi dan dimaafkan.


"Bukan begitu, seharusnya Anda yang menduduki kursi CEO itu. Bukan jadi asisten pengganti," ungkap Briant mengatakan keberatannya.

__ADS_1


Bima mengibaskan tangan, tak peduli pada jabatan CEO yang disebutkan Briant tadi.


"Aku tidak menginginkannya, Kak. Aku hanya akan menjadi asisten sepulang kuliah dan selama Kakak cuti saja. Setelah itu, aku tidak akan lagi melakukannya," jawab Bima menegaskan.


Emilia merasa tak enak, tapi mendengar jawaban Bima yang lugas ia merasa sedikit lega. Obrolan terus berlanjut, mereka semua berkumpul. Duduk melingkar di atas sebuah tikar membicarakan hal remeh tentang pernikahan.


"Nyak, Bima jemput Ara dulu," pamit Bima pada Tina yang baru saja melipat mukena.


"Udah pamit belum ama Ibu lu?" tanya Tina seraya mengenakan kerudung instan sebelum keluar kamar bersama Bima. Mereka masih berada di rumah besar Razka dan berencana menginap malam itu. Sebuah rencana sudah ia susun bersama Revan untuk mengisi malam mereka.


"Udah," katanya seraya mengambil tangan Tina dan menciumnya. Ia pamit pergi bersama motor legenda yang dibelikan Dewa untuknya.


"Kenapa dia tampan sekali?" gumam seorang gadis dari balik sebuah jendela.


Nasya yang kebetulan melintas tak sengaja mendengarnya.


"Siapa yang Kakak sebut tampan?" tanyanya berdiri di belakang gadis itu tanpa diizinkan.


"Kak Bima?"


"Bukan, tapi Ibrahim," sergahnya membenarkan.


"Yang Kakak sebut tampan tadi adalah kak Bima. Kakak gua!" tegas Nasya menirukan gaya bicara Bima yang terdengar keras dan arogan.


Gadis itu tersadar, menoleh pada Nasya dengan wajah merona merah.


"Nasya?" lirihnya menyebut nama gadis itu.


"Kakak menyukai kak Bima? Tapi kak Bima sudah memiliki calon istri," ujar Nasya memberitahu gadis yang tergila-gila pada Bima sejak pandangan pertama itu.


Senyum di bibirnya memudar, matanya berpaling ke sana ke mari mencari alasan. Beruntung suara sang Ibu memanggilnya, ia tak lagi menunda cepat-cepat pergi meninggalkan Nasya.


Hancur hatinya mendengar ucapan Nasya tentang Bima. Bertanya-tanya sendiri tentang siapa calon istri Bima sembari membantu para wanita.

__ADS_1


Beberapa hari terlewati, surat undangan disebarkan termasuk pihak kampus mendapat undangan dari keluarga Pratama. Selama itu dosen misterius di kampus terus memperhatikan Nasya saat berada di kampus.


Ia nampak tak senang saat melihat kedekatan Nasya dan Bima. Hatinya terbakar api cemburu. Ia keluar ruangan berniat menjagal langkah Nasya. Gadis itu berpisah dengan Bima dan berjalan sendirian di lorong.


"Nasya?" panggilnya yang kontan saja menghentikan kaki Nasya untuk melangkah.


"Ya Allah, Pak! Kenapa datang seperti hantu? Membuatku terkejut saja," pekik Nasya sambil mengusap dadanya yang berdegup karena terkejut.


Wajah gadis itu merona karena malu juga karena terlonjak kaget. Beruntung, buku yang dibawanya tidak jatuh berserakan seperti waktu itu.


"Maaf," katanya sambil terkekeh, "aku ingin berbicara denganmu. Boleh kita duduk di kantin," lanjutnya menunjuk pada lorong di mana kantin berada.


Nasya memicingkan mata, ada curiga juga senang dalam hati. Kepalanya mengangguk kecil setelah menelisik manik coklat keemasan di hadapannya. Ia mengekor di belakang pria berkacamata itu menuju kantin yang sepi karena semua siswa sedang berada di kelas bersiap untuk belajar.


Dua gelas jus buah telah dipesan pria itu untuk menemani obrolan mereka. Belum ada pembahasan yang dibukanya setelah hampir sepuluh menit duduk di sana. Hanya helaan napasnya saja yang terdengar


Apa dia sedang mengerjaiku? Kenapa sedari tadi hanya menatap gelas jusnya.


Nasya Bergumam dalam hati, mulai muncul rasa jenuh di sana. Jus miliknya telah habis setengah bagian. Ia berniat pergi saja dari sana jika tak ada pembahasan.


"Mmm ... Nasya!" Suaranya menyentak tubuh Nasya yang sudah terangkat sedikit dari kursi yang ia duduki. Ia daratkan lagi bokongnya di sana.


Gadis itu kembali duduk menunggu kelanjutan dari ucapannya yang bahkan belum dimulai.


"Aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau menolongku?" lirihnya sembari menatap wajah Nasya dengan binar penuh pengharapan.


"Ba-bantuan apa, Pak?" Nasya tergagap karena terkejut mendengar permintaan dosennya itu.


Lagi-lagi hembusan napas ia lakukan sebelum menjawab kegugupan Nasya.


Pria itu menatap lekat wajah Nasya, menyelami manik cokelat yang menghanyutkan dirinya.


"Nenekku sakit parah. Dia ingin aku menikah sebelum maut datang memisahkan kami. Nasya ... aku hanya berharap padamu tidak pada yang lain. Bisakah kau menolongku?" ungkapnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2