
"Yah, terus seperti itu, sayang. Luar biasa," racau seorang laki-laki yang tak lagi muda dengan wajah yang menampilkan ekspresi penuh kenikmatan. Kedua matanya menari, terbuka dan menutup menikmati setiap sentuhan sepasang tangan di tubuhnya.
"Sudah lama rasanya aku tidak merasakan sentuhan seperti ini. Yah, begitu. Lakukan terus seperti itu," pintanya lagi bercampur dengan desisan yang dilakukan lidahnya.
Ia tak peduli suara-suara bising di sekitar, tak peduli pada hiruk-pikuk keramaian yang mengusik telinga. Ia sedang ingin menikmati waktu santainya sambil merasakan sentuhan yang jarang ia terima.
"Begini?" Sahutan sebuah suara membuatnya melenguh panjang.
"Benar, seperti itu. Lebih kuat lagi!" katanya lemah.
Ia tersenyum dengan kedua mata terpejam, hanyut dalam alam nirwana yang memabukkan.
"Ayah, Kakak, kenapa kalian hanya duduk di sini dan tidak bergabung bersama kami?" Lengkingan suara yang memekakkan telinga itu membuat mata Razka yang semula terpejam, akhirnya terbuka jua.
Bibirnya tersungging saat melihat gadis kecilnya itu berdiri dengan wajah cemberut. Semangat yang ia bawa dari rumah luntur disaat melihat Razka dan Bima justru duduk santai sambil berjemur. Bima memberikan pijatan-pijatan lembut di pundak, lengan, juga kaki Razka. Tak lupa punggungnya yang sering terasa pegal dan sakit. Itu yang mereka lakukan.
"Ada apa, sayang? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Razka sambil menikmati pijatan Bima di pundaknya.
Nasya berjalan semakin menghampiri, wajahnya masih ditekuk tak sedap. Ia menatap tajam pada Bima yang tersenyum canggung padanya. Ada janji yang belum ia tepati.
"Kakak bilang akan mengajariku, kenapa terus di sini asik berdua bersama Ayah?" sungutnya kepada Bima yang bergeming di belakang tubuh sang Ayah.
"Hei, hei ... Kakakmu sedang memijat Ayah. Sudah lama sekali Ayah tidak merasakan pijatan seperti ini. Beberapa menit lagi, ya. Ayah janji akan memberikan Kakakmu kembali padamu," tolak Razka yang kembali terpejam menikmati sentuhan tangan Bima.
Pemuda yang berlutut di belakang laki-laki itu menghendikan bahu tanpa rasa bersalah. Ia terus saja memberikan pijatan pada pundak sang Ayah tanpa peduli rengekan adiknya.
"Ternyata kau memiliki bakat memijat, ya. Rasanya enak sekali, nyaman. Urat-urat Ayah yang menegang terasa mengendur sedikit demi sedikit," puji Razka yang kembali mengagumi putranya sendiri. Dari mana dia belajar teknik memijat hingga tahu yang mana perlu dipijat dan tidak?
Nasya mendengus kesal, ia berbalik pergi sambil menghentak-hentakkan kaki di lantai tersebut. Laki-laki itu menggelengkan kepala maklum dengan tingkah anak-anak.
"Babeh yang ngajarin, Yah. Hehe ...." sahutnya tertawa.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu, Razka mengajak Bima dan kedua orang tua asuhnya untuk menghabiskan waktu bersama dengan mengunjungi tempat wisata di kota tersebut. Menciptakan sebuah kesan baik sebagai kenangan yang akan diingat seumur hidup.
"Ayah, aku ingin berlomba dengan Ayah juga Babeh di sana," kata Bima menghentikan gerakannya memijat pundak Razka.
"Berlomba? Hhmm ... boleh. Siapa takut?" sahut Razka sembari membusungkan dada. Jiwa mudanya meronta, padahal usia telah pun memakan waktunya.
Bima terkekeh seraya beranjak berdiri dan berjalan mengikuti laki-laki tua yang telah berjalan lebih dulu. Di sana, di tepi kolam, Dewa sedang duduk bersama Tina yang telah menceburkan diri ke dalam kolam.
Kedua lansia itu pun nampak bahagia, sudah lama rasanya mereka tidak pergi bermain ke tempat seperti itu. Rasa-rasanya bisa dihitung jari sejak Bima hadir di tengah-tengah mereka. Melihat Bima datang dengan senyuman, Dewa menyambutnya dengan senyum pula.
"Ayo, Beh, balapan ama Bima," ajak Bima melirik kepada Razka yang telah melakukan pemanasan di tepi kolam.
"Ayo! Siapa atut?" Dewa beranjak berdiri di samping Razka. Kedua orang tua itu pun merenggangkan otot-otot renta mereka sebelum menceburkan diri ke dalam air.
"Ayo, sayang! Kau pasti bisa!" teriak Aulia yang duduk diapit kedua putrinya.
"Ayo, Bang! Jangan bikin gua malu lu!" Tina ikut berteriak menyemangati suaminya. Dewa mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Meski dadanya berdebar karena sudah lama sekali rasanya ia tak pernah berenang.
"Ayah pasti menang!"
Kedua gadis itu meneriaki Razka menambah kobaran semangat dalam jiwa. Razka melemparkan senyuman, menepuk dadanya bangga. Sementara Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Siapa yang memberiku dukungan? Ah ... Ara, seandainya kita sudah menikah ....
Ia terkekeh dengan wajah bersemu, membayangkan Khaira duduk di sana dan ikut meneriaki namanya seperti Aulia dan Tina. Betapa hatinya berbunga-bunga. Sudahlah, dia sedang bekerja. Bima meminta Razka menyiapkan supir antar jemput untuk gadis itu ketika ia tak bisa melakukan.
Nasya yang melihat sikap aneh Bima beranjak menjauh. Ia akan menjadi pendukung Bima saja.
"Ayo, Kakak! Jiwa muda tak boleh kalah. Itu akan sangat memalukan!" teriak Nasya yang membuat semua wanita di sana melongo karena-nya.
"Apa? Aku hanya menjadi pendukung Kakak. Kenapa kalian menatapku seperti itu?" sungutnya saat mendapati ketiga wanita itu menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Aulia melengos sambil mendengus. "Yang muda seharusnya mengalah saja. Buat yang tua menjadi senang," ujar Ayra sambil kembali melempar pandangan ke arah tiga laki-laki itu.
Nasya mendengus, ia tak peduli dan terus meneriaki Bima memberinya dukungan. Aulia menggelengkan kepala, biarlah. Toh, Bima memang tak memiliki pendukung.
Bima memberikan satu jempolnya kepada Nasya, ia memposisikan diri di tengah kedua orang tua itu. Bersiap untuk terjun ke dalam air berlomba dengan kedua laki-laki yang berjasa dalam hidupnya.
"Ayah, Babeh, udah siap?" tanyanya.
Keduanya mengangkat ibu jari secara bersamaan tanpa kata karena sedang berlatih menahan napas sebelum terjun langsung ke dalam air.
"Mulai!" teriak Nasya yang tak tahu kapan datangnya, ia sudah berdiri di belakang Bima. Kedua orang tua itu jatuh ke dalam air, sedangkan Bima termangu mendengar suara Nasya.
Ia melirik tempat Adiknya duduk, merajut alis bingung sejak kapan dia ada di sana.
"Hei, hei, kenapa kau tidak ikut terjun? Malah seperti orang linglung. Ayo, turun! Masuk ke dalam air, jika tidak maka kau akan dieliminasi," ucap Nasya sembari mendorong-dorong punggung Bima yang masih termangu di tepi kolam.
"Sejak kapan lu-"
"Apanya yang sejak kapan? Makanya fokus, jangan melayang-layang terus ke mana-mana. Terjun sana! Susul Ayah dan Babeh. Mereka sudah hampir mencapai ujung kolam," ucap Nasya dengan cepat memangkas kalimat tanya Bima yang belum selesai.
Byur!
Bima menjatuhkan diri ke dalam air. Teriakan demi teriakan menggema memberi dukungan untuk mereka. Dewa dan Razka telah berada di ujung kolam dengan napas tersengal-sengal. Mereka melakukan tos saat melihat Bima yang masih berada di tengah.
Tepuk tangan dan sorak sorai gembira terdengar di tengah keramaian para pengunjung tempat wisata tersebut. Ayra dan Aulia menghampiri Razka, Tina mendekati Dewa, sedangkan Nasya berdiri sambil melipat tangan di dada menunggu Bima.
Ia menggelengkan kepala di saat pemuda itu mencapai ujung dengan sangat terlambat.
"Hmm ... tak patut! Memalukan kaum muda saja," dengusnya sok-sokan. Bima yang gemas, menarik tangan sang Adik ke dalam air membuatnya memekik karena terkejut.
"Aku tidak bisa berenang! Aku tidak bisa berenang!" jeritnya frustasi dan panik. Semua orang tertawa melihat itu. Hati mereka diliput rasa bahagia melihat tingkah Bima dan Nasya yang menggemaskan. Kedua anak itu masih berada di dalam air, Bima mengajari Nasya berenang. Sementara yang lain telah duduk mengeringkan tubuh.
__ADS_1
Berbahagialah, putra-putri Pratama.