
Dua gadis di rumah masih disibukkan dengan acara masak-memasak untuk mereka bawa ke rumah sakit. Ayra yang bertindak sebagai koki, dan Nasya membantunya. Tiga macam menu mereka buat dalam jumlah yang lumayan banyak.
Keduanya menempatkan makanan tersebut pada kotak-kotak makanan sebelum membawanya ke rumah sakit.
"Kak, bagaimana perasaan Kakak setelah Kakak bertemu dengan kak Bima?" tanya Nasya karena ia sendiri pun tak tahu persisnya seperti apa perasaan yang ia rasakan.
Si anak sulung itu tersenyum, jelas wajahnya memancarkan kebahagiaan.
"Jujur saja Kakak bahagia. Pada akhirnya, firasat Kakak selama ini tidak salah. Ibrahim masih hidup dan baik-baik saja, setidaknya sampai hari ini," sahut Ayra terdengar bahagia.
"Kak, siapa yang menabrak kak Baim, ya? Aku penasaran ingin tahu," celetuk Nasya lagi setelah merapikan semuanya. Ia duduk menunggu Ayra yang sedang mencuci tangan.
"Siapa pun, semoga dapat hukuman yang setimpal karena dia sudah membuat adik Kakak celaka," jawab Ayra yang diangguki Nasya setuju.
Ia turut duduk di kursi depan sang adik, memeriksa makanan yang akan mereka bawa ke rumah sakit untuk semua orang di sana.
"Kak, tampan mana? Kak Bima atau kak Briant?" Terkekeh Nasya usai bertanya. Ditambah pipi Ayra yang tiba-tiba merona merah.
Ayra yang malu melempar sang adik dengan sendok, rasanya senang dapat menggoda gadis cuek yang tak pernah berbicara tentang laki-laki itu.
"Kapan kak Briant akan datang melamar? Aku tak sabar ingin mengendong keponakan," ia berucap lagi sambil berdiri dan tertawa riang.
Ayra telah berubah mood. Wajahnya memerah, malu sekali. Sedang yang menggoda asik tak tanggung jawab.
"Katakan padanya aku menunggu dia datang melamar Kakak," serunya lagi sambil melarikan diri dan cekikikan.
Ayra melongo, kepalanya menggeleng pelan.
"Dasar anak kecil!" gumam pelan seraya beranjak dari duduk menuju kamarnya sendiri, "awas kau kalau Kakak tahu siapa laki-laki yang sering kau ceritakan itu!" Ia mengancam geram.
__ADS_1
Bersama kedua orang tua mereka pergi ke rumah sakit menemani Dewa dan Tina menjaga Bima. Biarlah, karena mereka pun teringin merawat Bima. Teringat akan perbincangannya bersama Nasya saat di dapur tadi, rasa penasaran Ayra seketika membuncah. Mendesaknya untuk bertanya pada Razka perihal siapa orang yang telah menabrak saudara mereka itu.
"Mmm ... Ayah, siapa yang menabrak Baim? Apa dia sengaja melakukannya?" tanya Ayra sambil menatap punggung sang Ayah yang sedang mengemudi.
Razka dan Aulia saling melempar tatap, jika mereka tahu sudah pasti akan syok mendengarnya.
"Kau akan tahu nanti saat pertemuan dengan orang tua si pelaku," jawab Razka penuh misteri.
Ayra berpaling muka, tak lagi bertanya karena jika sudah begitu itu artinya rahasia yang harus dia cari sendiri atau menunggu Razka memberitahu.
Mereka tiba di rumah sakit, tak sabar rasanya ingin melintasi lorong tersebut. Hilir-mudik para petugas medis yang selalu sibuk setiap saat menjadi hiburan tersendiri untuk mereka.
Suasana mulai sepi karena para pengunjung mulai dibatasi. Hanya beberapa saja yang masih terlihat duduk berbincang di teras-teras ruangan. Mereka tak sadar saat berpapasan dengan Fahru, dia sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit dan hanya menerima panggilan saja.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
"Apa Ibu sudah bertemu dengan pelakunya?" tanya Bima di sela-sela makannya.
"Sudah, apa kau ingin melihatnya? Dia sedang ada di penjara," tanya balik Aulia sambil melempar lirikan pada putranya itu.
Bima berubah murung, mengingat yang menabraknya adalah teman masa kecil, ia tak ingin Revan mendekam di penjara.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat murung?" Aulia mengusap kepala Bima, menatap manik yang sama dengan laki-laki tua di sana lekat-lekat.
"Ibu, apa Ayah bisa membebaskannya dari penjara? Aku tidak ingin dia di penjara. Aku yakin, dia tidak sengaja menabrak ku. Bisakah Ibu ...?" tanyanya dengan sungguh-sungguh.
Pandangan yang menghujam itu, benar-benar serupa dengan milik suaminya. Tatapan yang selalu meneduhkan, tapi tegas terlihat. Tatapan melindungi juga menenangkan emosi. Dia keturunan Razka yang hilang. Sikap dan sifatnya benar-benar tak jauh berbeda.
__ADS_1
"Nanti Ibu tanyakan padanya jika itu yang kau inginkan. Apa kau mengenal siapa yang menabrak mu?" Aulia mengernyitkan dahi, dan semakin bingung dikala melihat Bima tersenyum.
"Dia teman masa kecilku, Ibu. Ayahnya tadi datang ke sini menjenguk dan meminta maaf. Dia juga anak dari majikanku, Ibu. Katanya, dia terlalu rindu pada Mamahnya hingga mengemudi dengan cepat. Tolong bebaskan dia dari penjara, Ibu. Katakan pada Ayah, dia temanku," mohon Bima sambil menyentuh lengan Aulia dengan tangannya yang bebas dari jarum infus.
Tangan yang dibalut perban itu, membuat Aulia tersentuh. Ia tersenyum haru, mengangguk kecil. Entah tahu atau tidak Bima tentang siapa Revan sesungguhnya? Tentang laki-laki yang dia sebut sebagai majikan itu? Apakah dia mengetahuinya?
"Apa kau tahu siapa majikanmu itu?" Aulia bertanya menyelidik. Bima memberikan anggukan kecil sebagai jawaban.
"Dia seorang dokter, anaknya memimpin perusahaan besar Pratama, ibunya seorang pemilik sebuah restoran. Hanya itu yang aku tahu, Ibu. Selebihnya aku hanyalah seorang supir pribadi mereka sekaligus tim keamanan Pratama Grup," jawab Bima dengan yakin.
Jatuh air mata Aulia saat mendengarnya, Bima tak mengenali saudaranya sendiri. Ia menjadi pekerja di perusahaan miliknya sendiri. Bagaimana menjelaskannya?
"Apa Ayah tak salah dengar, kau ingin membebaskan pelakunya?" Razka datang menimpali bersama yang lainnya. Mereka tak sengaja mendengar percakapan Aulia dan Bima karena masih berada di ruangan yang sama.
Bima mengangkat pandangan, menatap Ayah juga dua saudaranya, berikut Dewa dan Tina yang turut berdiri mengelilingi dirinya. Ia mengangguk kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Razka.
"Iya, Ayah. Dia teman kecilku. Sudah lama kami tidak bertemu, aku rindu padanya, Ayah," jawab Bima dibarengi manik yang memohon pada sang Ayah.
"Tidak bisa, Baim. Dia harus dihukum karena sudah membuatmu celaka. Terlepas dari siapa pun dia, Kakak tidak rela membebaskannya dari penjara," timpal Ayra dengan tegas. Kekesalan jelas terlihat di wajahnya yang dibalut hijab berwarna salem.
Bima memutar pandangan, menegaskan lewat sorot matanya bahwa dia ingin Revan bebas dari penjara.
"Ayahnya datang dan meminta maaf padaku. Dia juga menjelaskan bahwa Revan tak sengaja menabrak ku karena ingin segera bertemu dengan Mamahnya. Aku ingin dia bebas, aku tidak ingin dia dipenjara ... Ayah, tolong bebaskan dia," jawab Bima, seraya memutar kembali matanya ke arah Razka, memohon.
Ayra tercenung mendengar nama yang disebutkan Bima barusan. Nama yang tak asing di telinga mereka, nama yang begitu akrab bagi lisan mereka.
"Si-siapa? Apa kau menyebut nama Revan?" Ayra terbata bertanya, hatinya syok saat mendengar nama Revan itu keluar dari mulut sang adik.
"Iya, dia Revan. Temanku, Kak. Teman yang sudah lama tak bertemu sejak kami lulus dari sekolah dasar karena dia melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri. Aku sudah memaafkannya," tegas Bima lagi dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Ayra dan Nasya menutup mulutnya. Benar-benar ingin menolak bahwa pelakunya adalah sepupu mereka sendiri. Razka masih terdiam melihat interaksi anaknya. Dewa dan Tina pun, tak berbicara. Mata tua mereka memperhatikan dengan jeli. Ada apa dengan keluarga itu?
"Apa kau tahu siapa Revan, Kak?" pekik Nasya dengan nada yang meninggi. Bima mengangguk. "Apa?"