
Dia melangkah dengan ringan. Hatinya dipenuhi kebahagiaan, berbunga-bunga seperti mereka yang tengah merasakan indahnya percintaan. Senyum yang diukirnya menambah karisma dan ketampanan. Ia bagaikan burung merak dengan bulu-bulunya yang bermekaran. Indah dan mempesona juga menakjubkan. Benar-benar menggiurkan.
"Bima?" Bima menjeda langkah, ia berbalik menjawab panggilan Tina. Wanita tua itu berdiri sebelum mendekatinya.
"Nyak lupa, di mana kalung yang dulu Nyak kasih ke lu? Perasaan Nyak kagak pernah liat lu pake tu kalung?" tanya Tina melirik tubuh anaknya mencari keberadaan kalung yang ia temukan bersama bayi Bima waktu itu.
"Kalung? Yang mana, Nyak?" Terlupalah ia akan kalung yang ia berikan pada seorang gadis cengeng di pintu pasar sepuluh tahun yang lalu. Mengernyit dahinya, mengingat kalung jenis apa yang pernah ia miliki.
Tina mendengus lelah, ia memandang Bima dengan tatapan yang sulit diartikan. Kecewa bercampur gelisah karena bisa saja kalung itu benda penting untuk keluarga kandung Bima.
"Kalung yang dulu Nyak kasih waktu lu umur sepuluh tahun. Apa lu lupa? Jangan-jangan kalung itu juga hilang, ya?" Mata wanita itu memicing curiga. Tak senang karena Bima tak dapat menjaga amanah yang ia berikan dengan baik. Jika tahu begini, lebih baik ia menyimpannya saja waktu itu sampai hari ini tiba.
Bima memutar bola mata, berpikir dalam-dalam. Menggali memori yang telah lama ia kubur.
"Nasya ...." Ia terhenyak ketika wajah gadis kecil yang menangis di pintu pasar membayang di pelupuk mata. Ia jatuhkan pandangan pada Tina kembali, riak gelisah di wajah sudah tak terkendali.
"Kalung itu Bima kasih pinjem ama anak kecil yang Bima tolong waktu itu, Nyak. Entar Bima tanyain. Moga-moga masih disimpen ama dia," ucap Bima gugup. Ia benar-benar gugup, "emangnya kalung itu kalung apa, Nyak?" lanjut bertanya karena Tina dan Dewa tak pernah memberitahunya soal kepentingan kalung tersebut.
Tina menghela napas, dalam hati berharap orang itu masih menyimpannya. Kalaupun hilang, semoga itu bukan petunjuk penting untuk Bima.
"Kalung itu ada di tangan lu waktu Nyak nemuin lu dulu di sawah. Nyak pikir, itu penting. Dipasang ama orang tua kandung lu, jadi Nyak simpen sampe lu umur sepuluh tahun dulu. Ngapa lu kasih pinjem ama orang? Gimana kalo itu petunjuk penting terus dimanfaatin ama orang laen? Bisa berabe, pan?" ujar Tina membuat Bima kalang kabut sendiri.
Ah, sial! Dia sendiri pun lupa menanyakannya pada gadis itu. Tentu saja itu petunjuk penting karena saat ini pun apa yang dikatakan Tina telah terjadi. Seseorang memanfaatkan kalung tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri.
"Klo gitu, Bima kudu buru-buru ke kampus, Nyak. Bima mau nanyain soal kalung itu ama dia. Moga-moga masih ada di dia. Assalamu'alaikum!" Ia terburu-buru meraih tangan Tina dan berlari mendekati sepeda motornya.
__ADS_1
Tak ingin terlambat bertemu dengan gadis itu. Ah, sial! Berulang-ulang ia mengumpat. Sambil berharap semoga kalungnya tidak hilang. Sudah lama sekali rasanya ia tak berkendara dengan sahabat kuda besinya itu.
Bima menaiki sepeda motornya yang telah lama berkarat. Menepuk-nepuk badan motor tersebut dengan senyum bangga yang mencuat. Tubuhnya ringan meloncat, duduk di atasnya dengan tenang. Ia rindu sentuhan juga kasih sayang.
"Lu siap kagak gua naikin? Udah lama lu, ya kagak keluar kandang?" Ia terkekeh usai mengajak bicara motornya. Mesin dijalankan, menderu bagai auman Tigris, harimau milik Zena, di bukit hijau pulau Liman.
"Let's go, Baby! Tunjukkan kejantananmu! Kita harus segera tiba di kampus," katanya sebelum menarik gas.
Ia melesat bagai angin menyapu dedaunan yang gugur, menerbangkan debu-debu. Bima is back! Bergumam kecil dengan senyum tipis terukir dari balik helm yang ia kenakan.
"Kakak!" Seorang gadis menyerbunya begitu ia berjalan di koridor kampus lantai satu. Bima tersenyum melihat Nasya berdiri menunggunya. Ia merangkul bahu gadis itu, mengajaknya berjalan bersama.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Bima mengajaknya ke lorong yang jarang dilintasi mahasiswa. Mengajaknya berbicara rahasia dengan serius. Ia melilau ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang menguping.
"Nasya, lu inget kagak waktu kecil gua pinjemin lu kalung. Sekarang Nyak gua nanyain. Apa ... tu kalung masih ada di lu?" ungkap Bima langsung pada inti pembicaraan.
Nasya tertegun, itu juga yang ingin dibahasnya. Ia terdiam sedang menyusun kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya.
"Itu juga yang ingin aku bicarakan dengan Kakak. Beberapa hari kemarin aku tak sengaja menghilangkan kalung itu, Kak. Aku minta maaf, tapi ada seseorang yang menemukannya dan dia mengakui kalung itu miliknya. Dia mengadu domba kami semua, membuat kesalahpahaman setiap hari antara aku dan Ibuku. Kakak ...."
Nasya memandang Bima, tatapannya menyiratkan kesedihan. Ia memohon lewat sorot matanya.
"Ayah memintaku membawa Kakak ke rumah untuk aku membuktikan jika itu adalah kalung Kakak. Kuharap Kakak mau ikut ke rumah, bagaimana, Kak? Aku tidak ingin keluargaku hancur karena laki-laki itu," mohon Nasya sambil memegangi kedua tangan Bima dengan erat.
__ADS_1
Mereka saling menatap satu sama lain, menghantarkan keyakinan dalam diri pada masing-masing hati.
"Ayo, kita ke rumah lu sekarang!" ajaknya gegas menarik tangan Nasya keluar dari lorong kampus.
"Tapi, Kak, bagaimana dengan kuliah kita? Apa kita akan membolos hari ini?" Nasya menarik tangannya membuat langkah Bima terjeda.
"Saat ini yang paling penting kalung itu, kuliah bisa besok-besok, tapi masalah itu kita kagak tahu apa besok masih ada atau kagak?" sahut Bima seraya menarik tangan Nasya untuk melangkah lagi.
"Kata orang kagak baek nunda-nunda sesuatu yang penting." Bima terus menarik tangan gadis berhijab maroon itu memaksanya untuk mengikuti langkah lebar kaki Bima.
Gadis itu tertegun saat tiba di parkiran, begitu familiar dengan motor yang dinaiki Bima. Hanya saja, ingatannya pudar seperti tak membekas. Ia mematung, dahinya berkerut, sedang berpikir dalam-dalam tentang motor di hadapannya.
"Yeh ... malah ngelamun. Cepet naik!" seru Bima menyentak lamunan Nasya.
"Eh ... i-iya," katanya tergagap seraya memanjat motor Bima di jok belakang. Duduk anteng masih dengan pikiran yang mengelana mencari memori yang hilang di otaknya.
"Pegangan! Lu lagi sama pembalap sekarang. Lu kagak takut, 'kan, kalo gua bawa ngebut?" titah Bima lagi menoleh sedikit ke belakang tubuhnya.
"A-aku tidak tahu. Aku belum pernah naik motor besar seperti ini," katanya mulai ragu. Refleks tangannya memeluk tubuh Bima dikala hentakan ia rasakan sesaat setelah motor itu melesat.
"Kakak mengagetkan aku. Kenapa tidak bilang-bilang dulu kalau mau jalan?" teriaknya kuat-kuat. Suaranya redup terbawa angin, sayup-sayup sampai jua di telinga Bima.
"Gua udah minta lu buat pegangan tadi. Merem aja kalo lu takut," sahut Bima sambil berteriak pula.
"Kalau aku memejamkan mata, bagaimana Kakak akan tahu rumahku?" Ia mendengus meski tubuhnya gemetar ketakutan.
__ADS_1
"Oh, iya. Gua lupa. Ya udah, lu tunjukin jalannya biar kagak nyasar." Bima mengikuti arah yang ditunjukkan Nasya. Motornya tetap melesat lebih cepat dari kendaraan lainnya. Merasakan getar di belakang tubuhnya, Bima tersenyum teringat akan teman lama dikala kecil dulu, Revan. Ia sama menggigilnya saat duduk berboncengan sepeda dengan Bima.
Cit!!!!!