Bima

Bima
Part. 74


__ADS_3

"Ibu, mana sarapanku?" Suara teriakan Ibrahim di rumah pagi itu, membuat jengah Aulia yang sedang mencuci pakaian. Pasalnya, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum pergi bersama Razka menemui Bima di rumahnya.


Ayra yang sedang memakan sarapannya, melirik sinis ke arah Ibrahim.


"Apa kau bisa membuatnya sendiri? Hari ini Ibu sedang sibuk, jadi tidak sempat membuatnya. Nasya dan Ayra juga membuat sarapan mereka sendiri," sahut Aulia meninggikan suaranya sambil terus memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci.


Tidak seperti biasanya, ia memisahkan baju-baju Ibrahim dengan baju yang lainnya. Menyimpannya dalam keranjang, rasanya enggan sekali mencucikan baju itu. Sementara Ayra dan Nasya saja mencuci pakaian mereka sendiri. Aulia hanya mencuci miliknya dan milik Razka saja.


Lihat saja! Memangnya berapa kali dia mengganti pakaian dalam satu hari? Sampai-sampai pakaian dia sendiri seperti pakaian tiga orang banyaknya.


"Aku tidak bisa, Bu. Bisa Ibu buatkan saja!" Ia kembali berteriak memerintah Aulia. Wanita itu menggeram, ia membanting pakaian ke dalam mesin karena kesal dengan teriakan pemuda malas itu.


"Ibu sedang buru-buru, Baim. Sudah ditunggu orang, kau buatlah sendiri. Goreng telur atau apalah terserah!" sahut Aulia setelah menetralkan kembali hatinya. Ia mengeratkan rahang, bergumam tak jelas. Mengumpat keras-keras dalam hati, pemuda yang menjadi benalu di rumahnya itu.


Tombol ditekannya, ia menunggu mesin itu bekerja. Razka yang mendengar dari teras rumah tertawa kecil. Ia menggelengkan kepala, hatinya merasa senang tentu saja.


"Kau terdengar kesal, Aul," gumam Razka sambil mengulum senyum. Ia meraih cangkir tehnya, menyesap rasa melati yang menguar dari teh tersebut. Razka menyentak koran yang sedang dibacanya, kejadian truk kemarin menjadi berita terdepan di koran yang ia baca.


Ibrahim melirik Ayra yang asik makan sendiri, omelette di piring gadis itu membuat air liurnya menetes tak terkendali. Dia lapar dan dia butuh makan. Ia mulai duduk berhadapan dengan Ayra, gadis itu bahkan tak peduli akan kehadirannya. Ibrahim meneguk liur berkali-kali, teringin sekali lidahnya merasakan goreng telur tersebut.


"Kak, buatkan aku sarapan seperti Kakak. Aku lapar, Kak," pintanya sambil mengusap-usap perutnya sendiri.


"Maaf, Baim, tapi Kakak sedang terburu-buru. Kak Briant sudah menunggu dari tadi," katanya sambil melanjutkan makannya lagi. Pemuda itu mencibirkan bibir, berpikir bagaimana caranya dia bisa makan pagi itu.


"Kalau begitu, bagi saja punya Kakak. Itu sepertinya terlalu banyak untuk dimakan sendirian. Ak-"

__ADS_1


Lisannya kelu, kalimatnya terjeda lantaran melihat Ayra yang sekaligus melahap omelette di depannya itu. Ia mengangkat bahu menunjukkan piring kosongnya pada Ibrahim. Terjatuh rahang pemuda itu, matanya melebar hampir melompat keluar.


"Habis," ucap Ayra usai meneguk air di gelas. Ia beranjak meninggalkan tempat duduk, tangannya menepuk bahu Ibrahim dengan langkah terjeda saat ia melintasinya.


"Belajarlah mandiri, jangan selalu mengandalkan orang lain," katanya seraya memberikan tepukan sebanyak dua kali di tempat yang sama sebelum ia berlalu dari hadapan pemuda itu.


Ibrahim berdecih jijik. Ia menepis bekas tepukan tangan Ayra di bahunya. Melirik sinis punggung yang menjauh itu hingga menghilang di balik pintu kamarnya.


Ibrahim yang kesal pun lantaran tidak diacuhkan Aulia juga Ayra, pergi meninggalkan dapur. Ia terus saja melangkah sampai keluar. Berhenti sejenak di teras melirik Razka yang sedang duduk santai membaca koran harian. Ia mendengus, dalam hati mengumpat karena masih kesal dengan kejadian kemarin di restoran.


Kakinya lanjut melangkah hendak keluar dari rumah. "Kau mau pergi ke mana?" Langkahnya terhenti saat suara Razka terdengar.


"Di rumah tidak ada sarapan, aku ingin membeli sarapan di luar," sahutnya ketus tanpa berbalik atau sekedar menolehkan kepala pada Razka.


"Bukankah kau bisa membuatnya sendiri?" Razka kembali bertanya, ia menurunkan koran memandang pemuda yang memunggunginya itu dengan dahi mengernyit tidak suka.


"Aku laki-laki, hidupku seharusnya dilayani. Seorang laki-laki tidak melayani dirinya sendiri," sengit Ibrahim dengan nada menggeram marah.


Razka tersenyum, kemandirian yang ia miliki di masa muda dulu tak ia dapati dari sosok pemuda yang mengaku sebagai putranya itu. Ia menggelengkan kepala merasa tak percaya pada pemikirannya itu.


"Melayani diri sendiri bukanlah termasuk tindakan tercela ataupun memalukan. Justru seorang laki-laki seharusnya bangga karena dapat melayani dirinya sendiri. Seorang laki-laki tidak melulu harus dilayani, ada kewajiban, ada hak yang harus dijalani. Sepertinya kau tidak mengenal Ayahmu sendiri. Aku tidak melihat diriku ada pada dirimu, Ibrahim, atau ...."


Razka menggantung kalimatnya membuat penasaran pemuda itu setengah mati. Namun, setelah beberapa saat ia terdiam menunggu, laki-laki tua di belakangnya tak kunjung membuka mulut. Ibrahim kembali melanjutkan langkah setelah suara Razka tak terdengar lagi. Tak peduli ucapan Razka barusan.


Laki-laki berkacamata itu menghendikan bahu tak acuh. Ia kembali pada koran yang sedang dibacanya, berita tentang seorang pemuda yang tertangkap kamera menyelamatkan seorang wanita dari amukan truk yang blong.

__ADS_1


Tak puas rasanya membaca satu atau dua kali, ia ulang-ulang tulisan tersebut sembari melihat sebuah gambar yang buram. Ia yakin itu Bima.


Ibrahim terlanjur kesal, terus membawa kakinya pergi meninggalkan rumah Razka. "Tidak bisa begini. Rencanaku tidak boleh gagal, aku harus mendapatkan itu bagaimanapun caranya. Jika tidak, Ibu dan Ayah akan marah kepadaku," gumam lisannya sambil terus melaju tanpa memperhatikan keadaan di depan.


Ciittt!!!


Ia terlonjak kaget ketika secara tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di depannya. Tangannya ia gunakan untuk mengusap dada yang berdegup tak karuan, hampir saja lepas jantung dari tempatnya.


"Kurang ajar! Sialan, kau!" umpatnya sambil meredakan napas yang memburu dan membuat sesak rongga dadanya.


Bima menoleh, memicingkan mata dari balik helm yang ia kenakan. Sungguh sial dirinya bertemu dengan pemuda itu. Pemuda yang tak dapat menjaga lisannya. Pemuda yang tak memiliki kendali dalam ucapan. Congkak dan memandang dirinya lebih tinggi dari siapa pun.


Tunggu dulu! Ngapa gua bisa ketemu ni berang-berang di mari, ya? Ngapain dia di sini?


Hati Bima bergumam, dahinya mengernyit memperhatikan sosok pendek di samping motornya yang berdiri dengan kesal.


"Hei! Turun kau, sialan!" hardiknya sembari menuding Bima dengan kejam. Sementara gadis di belakangnya masih menunduk karena menahan mual di perut. Ia merayap turun dan segera memuntahkan isi perutnya.


Bima berdecak, sama sekali tak peduli pada pemuda yang memerintah dirinya, "Eh ... elah! Pake mabok segala lagi!" katanya sambil menurunkan standar motor dan menghampiri Nasya yang tak henti menguras makanan di perut. Bima menekan-nekan tengkuk gadis itu, membantunya mengurangi rasa mual, seperti itu yang dilakukan Tina di saat ia muntah-muntah karena masuk angin.


Aulia yang merasa jantungnya berdegup, meninggalkan pekerjaan di dapur. Berlari ke teras, hanya sekedar memastikan bahwa hatinya tidak salah.


"Ibrahim!" panggilnya dengan suara lantang. Si pemuda itu menoleh, langsung berganti mode wajah menjadi menyedihkan. Namun, bukan dia yang dilihatnya, tapi pemuda yang sedang membantu Nasya itu yang ia tuju.


"Ibrahim!" Ia kembali bergumam, mengusik Razka yang juga telah menatap lurus ke depan jalan. Ia mendengar sebuah sepeda motor menderu, tapi belum terlihat si pengendara karena terhalang gerbang yang masih tertutup setengah.

__ADS_1


Ia dan Aulia saling pandang, menunggu dengan gelisah siapa gerangan pemuda yang berada di balik helm tersebut?


__ADS_2