Bima

Bima
Part. 65


__ADS_3

Di sebuah restoran sudut kota, seorang laki-laki berkacamata duduk tenang sembari memperhatikan lalu-lalang manusia di sekitar tempatnya duduk. Hatinya tak sabar menunggu, segelas jus telah tandas tanpa sisa di gelasnya.


"Ah, sial!" Ia mengumpat di kala hatinya terus gelisah. Berdetak tanpa jeda waktu, sesak mulai merambat memenuhi rongga dada. Ia menarik napas dalam-dalam, pandangan ia lemparkan ke dalam restoran.


Ia meraih gawai setelah melirik jam yang menggantung di dinding. Mengetik sebuah pesan singkat untuk sang istri di rumah.


[Aul, datanglah ke restoran di sudut kota, kita makan siang bersama di sini. Ajak sekalian Ibrahim, aku ingin mengenalkan kalian pada seseorang.]


Pesan terkirim, tak lama centang biru pun menyambut. Razka meletakkan kembali ponselnya di atas meja setelah membaca pesan balasan dari Aulia, istrinya. Bagaimana reaksi Aulia saat ia melihat Bima nanti?


Ia kembali merenung, memikirkan soal Bima juga Aulia. Tak tertinggal pemuda yang mengaku sebagai Ibrahim di rumahnya itu.


Aku ingin melihat ekspresi mereka ketika melihat Bima.


Ia terkekeh tanpa suara. Pandangan matanya melilau ke segala arah di luar restoran tersebut. Tak ada yang menarik, selain alam hayalnya yang membayangkan keterkejutan dua orang itu.


Di rumah, Aulia tersenyum sumringah menerima pesan dari Razka. Ia yang baru saja menyapu rumah, gegas membersihkan diri. Niat ingin membuat makan siang pun, ia urungkan karena suaminya mengajak ia dan Ibrahim makan di restoran.


Tanpa Aulia ketahui, diam-diam Ibrahim masuk ke dalam kamarnya. Menoleh ke kanan dan kiri, juga seluruh sudut kamar luas tersebut. Mendengar suara gemericik air, ia menyunggingkan senyum. Menerobos masuk dan mulai melakukan aksinya.


Membuka laci-laci yang ada, juga lemari pakaian milik mereka. Entah apa yang dicarinya, ia tersenyum puas setelah menemukan sebuah kotak berisi beberapa perhiasan Aulia juga sejumlah uang tunai.

__ADS_1


Ia melirik ke arah kamar mandi, wanita itu masih berada di sana. Gegas membawa kotak tersebut keluar dan memasuki sebuah kamar yang lain. Menguras isinya, sedang kotak itu ia simpan di kamar tersebut.


Dengan puas ia keluar kamar dan kembali duduk tenang di kamarnya menjadi anak yang menyedihkan. Duduk di dekat jendela, berpura-pura menjadi bosan. Padahal, dia adalah seekor rubah yang licik.


Tak lama melamun, Aulia mengetuk pintu kamarnya.


"Baim, kau sedang apa? Cepatlah siap-siap, Ayah mengajak kita makan siang bersama di restoran," panggil Aulia tanpa membuka pintu kamar tersebut.


Mendengar kata restoran, ia kembali tersenyum. Makanan enak di sana, ia akan menghabiskannya lagi seperti waktu itu. Orang kaya memang suka sekali menghamburkan uang.


"Iya, Ibu. Aku akan bersiap dulu!" teriaknya seraya beranjak mendekati lemari dan mengganti pakaiannya. Seperti seorang Tuan Muda yang dilayani beberapa budak, ia melempar pakaian ke sembarang arah. Tanpa peduli membereskannya, Ibrahim palsu itu gegas keluar menemui Aulia.


"Kau sudah siap?" tanya Aulia yang mendapat anggukan kepala dari pemuda jenaka itu. Tingkahnya bertolak-belakang, ia bermuka dua dan pandai memainkan perannya.


"Bukan. Tempatnya lain, tapi makanannya tak kalah enak dari tempat yang kemarin," sahut Aulia dengan senyum tersungging di bibir. Di luar, tengah menunggu seorang supir suruhan Razka sebagai jemputan untuk mereka.


Lihat! Kurang apa lagi? Mau pergi-pergi saja ada yang menjemput. Oh ... nikmatnya jadi orang kaya. Tak kusangka hanya karena benda tak berharga itu, hidupku berubah.


Ia tersenyum licik, lain di wajah lain pula di hatinya. Supir itu mengangguk sebelum membukakan pintu untuk sang majikan. Keduanya duduk di kursi belakang dengan tenang, pemuda itu bersikap tak sabar ingin segera santap siang di restoran mewah berkelas.


"Ibu, kudengar Ayah memiliki perusahaan?" Ia bertanya memecah kebisuan. Aulia melirik padanya, raut jenaka yang ia tampilkan tak membuatnya curiga sama sekali.

__ADS_1


"Mmm ... ya, kau benar, tapi saat ini sedang dipimpin oleh keponakanmu karena waktu itu Ayah tidak memiliki anak laki-laki dan ia tak ingin anak-anak perempuannya terlibat kesibukan perusahaan," sahut Aulia menjelaskan.


Manggut-manggut kepala pemuda di sampingnya, terbersit sifat serakah di hati ingin menduduki tahta tersebut. Bukankah yang paling berhak atas itu adalah anak laki-laki Razka? Yang tak lain dan tak bukan adalah dirinya meskipun palsu.


"Tapi, Ibu ... bukankah itu milik Ayah? Seharusnya yang menduduki anak-anak Ayah. Entah itu laki-laki ataupun perempuan, sama saja. Posisi mereka tidaklah sekuat anak-anak Ayah, akan sangat mudah goyah dan dihancurkan. Bagaimana jika ada yang berbuat curang dan diam-diam berkonspirasi? Bukankah dia akan sangat mudah digulingkan? Lalu, perusahaan Ayah akan hilang," cerocosnya panjang lebar.


Mulai mempermainkan keyakinan Aulia yang telah tertanam sejak lama. Wanita itu, termenung mendengar penuturan Ibrahim palsu. Entah ia harus apa.


"Tapi Ayah dan Ibu sudah tidak ingin terlibat masalah perusahaan. Kepemimpinan perusahaan telah Ayah serahkan pada adiknya karena ia pun memiliki hak yang sama seperti Ayahmu," jelas Aulia dengan lemah lembut.


Ia tersenyum saat melirik sang putra yang terdiam seolah-olah mencerna ucapan sang Ibu yang baru saja sampai di telinganya.


"Tapi tetap saja yang paling berhak adalah anak keturunan Ayah. Jika Ayah tak ingin anak perempuannya ikut terlibat dalam bisnis perusahaan, bukankah aku bisa belajar tentang itu? Ayah bisa mengajariku agar perusahaan itu tidak disalahgunakan oleh mereka yang tidak bertanggungjawab. Aku yakin aku bisa jika saja ada yang mengajari. Bukan begitu, Ibu?" ucapnya lagi.


Ia mengulas senyum jenaka tatkala Aulia memandang ke arahnya. Aulia memang tak mengerti soal perusahaan dan semua masalah yang menyangkut di dalamnya. Ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama keluarganya tanpa ada yang berniat untuk melakukan kejahatan seperti dulu.


Trauma masa lalu masih sangat membekas dalam benaknya. Terjunnya Ibrahim ke dalam jurang dan menghilang selama dua puluh tahun masih teramat segar dalam ingatannya. Semua itu disebabkan karena apa yang telah terjadi di masa lalu. Soal harta dan kekayaan, terkadang membuat orang lupa diri lupa daratan.


"Apa kau begitu ingin memimpin perusahaan milik Ayah? Jika Ibu boleh minta, Ibu tidak ingin anak-anak Ibu terlibat di dalamnya. Ibu ingin anak-anak Ibu semua mandiri dapat berdiri di atas kaki sendiri tanpa mengandalkan orang tua, tapi jika pun Ayah mengizinkan, maka tidak ada salahnya kau dan Akmal bekerja sama mengembangkan perusahaan tersebut." Aulia mengusap rambut Ibrahim sambil tersenyum.


Pemuda itu mengangguk patuh bagai seekor kucing yang penurut. Nyatanya, ia adalah sang pemangsa yang tak berperasaan.

__ADS_1


Bagaimanapun caranya, aku harus menduduki perusahaan itu.


Kau tidak tahu apa-apa soal Razka. Bukan hanya perusahaan itu yang dia miliki, tapi restoran sate yang paling terkenal itu bisnis sesungguhnya milik Razka.


__ADS_2