Bima

Bima
Part. 64


__ADS_3

Pagi hari itu, bara telah menjadi api yang berkobar. Merah menyala. Asap mengepul di ketujuh lubang di wajah. Kedua biji maniknya yang kelam menyalang, menembus hingga ke inti dari segala rasa.


"Kak, a-ada apa sebenarnya? Ke-kenapa Kakak terlihat marah?" tanya Fahru dengan lisan tergagap, kelu dan nyaris tak mampu berucap. Kedua kakinya gemetar tubuhnya yang menggigil jelas terlihat.


"Bukankah kalian tahu jika Juan itu berkuliah? Kenapa anakmu tidak meminta yang lain saja untuk mengantarnya? Kenapa harus Juan dan membuatnya meninggalkan kuliah demi tanggung jawab dia sebagai pekerja. Hubungi anakmu dan minta Juan kembali setelah mereka sampai. Aku tidak mau tahu!" Nada suara yang naik beberapa oktaf itu terdengar tidak main-main.


Razka menggunakan kekuasaannya sebagai pemilik sesungguhnya dari Pratama Grup. Berwibawa dan penuh ancaman. Sorot mata yang menjegil, mampu membuat lawan bicaranya menggigil.


Ia berbalik tanpa ingin mendengar bantahan dari adik iparnya itu. Fahru meneguk ludah basi dengan susah payah, jakunnya naik-turun dengan lambat. Razka tak pernah semarah itu. Ada apa dengan pemuda bernama Juan itu?


Pintu mobil dibantingnya, mesin menderu tanpa perasaan. Ia mundur dan berbalik cepat meninggalkan kediaman lamanya itu. Nasya bingung dengan sikap Ayahnya pagi itu, tapi ia tahu perasaan Razka sudah tak nyaman semenjak di rumah karena pemuda manja itu.


"Pah? Ada apa? Aku mendengar suara Kakak tadi, sepertinya dia marah?" tanya Emil yang datang tergesa karena mendengar suara Razka yang tinggi.


Fahru memijit pelipisnya, ia berbalik dan melangkah gontai, kemudian ambruk di sofa. Wajahnya nampak lelah, Emil mengikuti dengan dahi yang berkerut.


"Kakak marah karena Juan mengantar Akmal selama tiga hari ke luar kota," lapor Fahru pada istrinya yang ikut duduk di sofa tersebut.


"Kenapa harus marah? Bukankah itu sudah tugasnya? Sama seperti pak Dewa, bukan?" sahut Emilia menimpali laporan suaminya.


"Kakak tidak suka Juan meninggalkan kuliahnya. Dia marah karena itu, Mah. Kakak memintaku untuk menghubungi Akmal dan menyuruh Juan kembali," ucap Fahru lagi sembari menjatuhkan kepala pada sandaran kursi dengan mata yang terpejam.


"Aneh, kenapa Kakak harus seperti itu? Memangnya seistimewa apa pemuda itu?" gumam Emilia merenungkan sikap Razka pagi itu.


"Aku tidak tahu. Kau hubungi Akmal dan pinta Juan kembali setelah mereka sampai. Aku akan mengirimkan yang lain untuk menyusul dan menemaninya," titah Fahru melirik Emilia yang masih merenung.


Terpaksa Emilia menghubungi putranya. Meski harus berdebat terlebih dahulu, pada akhirnya Akmal menyetujui Juan kembali.

__ADS_1


Sementara di dalam mobil, Nasya tak dapat lagi menahan lidahnya untuk tidak bertanya pada sang Ayah.


"Ayah, ada masalah apa? Kenapa Ayah terlihat marah sekali pada Paman?" Ia melempar lirikan pada sosok laki-laki yang berkacamata di sampingnya.


Garis bibir yang tertarik ke atas, membentuk senyuman sebelum ia menyahut, "Tidak ada apa-apa. Oh, ya? Ayah tak sengaja mendengar kemarin kau menyebut nama Bima? Kau mengenalnya?" Penasaran yang menghinggapi hatinya membuat Razka tak mampu menahan diri.


"Kak Bima? Dia temanku, kebetulan kami berada di satu kampus yang sama," jawab Nasya menatap lalu-lalang kendaraan di depan mobilnya.


"Oya? Sudah berapa lama kalian berteman? Bukankah kita baru beberapa hari di kota ini?" Razka melirik putrinya sejenak, sambil tersenyum tak menyangka mereka telah saling mengenal satu sama lain.


"Ayah pasti lupa lagi. Kami berteman sejak kecil." Dahi Razka mengernyit, tapi ia tak menyahut. "Apa Ayah ingat anak laki-laki hebat yang aku ceritakan dulu? Saat kita tinggal di desa?" lanjut Nasya bertanya. Ia membenarkan posisi duduknya menghadap Razka.


Laki-laki itu terdiam, berpikir sambil mengingat cerita masa lalu di mana Nasya masihlah anak-anak. Namun, sampai kepalanya menjadi pening, ia tak dapat menemukan kisah itu.


"Maafkan Ayah, sayang. Ayah sudah tua jadi sangat mudah lupa." Ia tersenyum meminta pemakluman. Mendengus gadis di sampingnya, tapi ia maklum karena seiring usia menua ingatan pun melemah.


Helaan napas terdengar dari arah Razka, ia sendiri pun tidak tahu bagaimana lagi membujuk Aulia agar berhati-hati. Namun, ia yakin semuanya akan terungkap disaat Nasya berhasil membawa pemilik kalung itu yang tak lain adalah Bima. Razka tersenyum membayangkan itu terjadi.


"Sudah sampai. Masalah Ibumu jangan terlalu dipikirkan, dia sedang tidak bisa berpikir bijak untuk saat ini. Belajarlah yang benar." Razka mengusap kepala putrinya. Gadis itu mendongak, lantas mengangguk patuh sebelum meraih tangan ayahnya dan keluar dengan harapan dapat bertemu Bima.


Razka memutar kemudi dan pergi ke tempat tujuan selanjutnya. Ia ingin melihat keadaan kantor sejak dipimpin oleh Akmal, keponakannya. Nasya pun turut melangkah, bibirnya menyunggingkan senyum sepanjang ia berjalan menuju gedung.


Ia duduk menunggu waktu, dengan sebuah roti di tangan menanti Bima datang menghampiri. Namun, sudah lebih dari lima belas menit, Bima tak muncul juga. Bel tanda masuk pun sudah dibunyikan, tapi Bima tetap tak nampak batang hidungnya.


"Aku akan mendatangi kelas kak Bima saat istirahat nanti," gumamnya sambil beranjak menuju kelas. Sepanjang pelajaran, fokus Nasya tak ada di dalam kelas tersebut. Ia melanglang-buana entah ke mana, yang pasti mencari keberadaan Bima.


Nasya menyusuri lorong lantai tiga gedung, hatinya berdegup menuju kelas Bima. Ia menghela napas sebelum melangkahkan kaki memasuki kelas Bima.

__ADS_1


"Permisi!" Semua orang tercengang melihat sosoknya yang berhijab. Di bangku belakang Yola yang diapit kedua temannya tak memperhatikan Nasya. Merasakan senggolan di kedua sisi tubuhnya, ia mendongak. Mengernyit tak senang wajahnya. Ia melipat kedua tangan di dada, tersenyum mencibir Nasya yang berdiri mematung di depan kelas.


"Ada apa kau datang ke kelas ini?" ketus Yola tanpa beranjak dari duduknya. Nasya melempar tatapan padanya, ia menghela napas menguatkan diri.


"Aku mencari kak Bima, apa kak Bima tidak masuk hari ini?" Bertanya sambil tersenyum manis.


"Bima? Dia izin dan hanya menitipkan tugas saja hari ini." Seorang laki-laki menimpali. Nasya melirik ke arahnya, kecewa karena tak mendapati Bima hari itu.


"Oh ... baiklah. Terima kasih, Kak." Ia melengos keluar dengan wajah menunduk kecewa. Gagal sudah membawa Bima ke rumahnya hari ini. Gumam-gumam tak jelas keluar dari sela-sela bibirnya sambil kembali ke kelasnya sendiri. Duduk lesu menjatuhkan kepala di bangku.


"Hei, kau dengar? Hari ini akan ada dosen baru menggantikan yang lama. Kudengar dia masih single dan tampan," suara teman-temannya tak ia pedulikan. Ia tak ingin mendengar perihal dosen baru atau apalah. Ia ingin Bima.


"Maaf, Ayah. Tidak hari ini," katanya kecewa.


Sementara di perjalanan, Bima gegas kembali ke kotanya setelah mengantar Akmal dengan selamat sampai ke hotel tujuan. Entah kenapa hatinya berbunga-bunga saat tahu Razka yang memintanya kembali.


"Ngapa Tuan Besar minta gua balik, ya?" Ia bergumam sendiri memikirkan perintah tadi. Tersenyum bibirnya, ada rasa bahagia di hati yang ia rasakan.


Gawainya berdering, menghentikan senyuman Bima. Ia melirik dengan dahi yang berkerut, sebuah nomor asing menghubunginya.


"Siapa?" Bertanya pada diri sendiri. Baru saja hendak menjawab, dering itu telah berhenti dan digantikan oleh sebuah notifikasi pesan yang menyusul masuk.


Bima menghentikan laju mobilnya saat lampu berganti merah. Ia melihat pesan tersebut dari nomor asing tadi.


[Bima, datang ke restoran di ujung kota. Aku mengundangmu makan siang bersama.]


Semakin mengernyit dahi pemuda itu, nomor siapa. Ia tak bertanya dan ingin melihat sendiri siapa orang yang telah mengiriminya pesan tersebut. Bima meletakkan kembali ponsel dan bergegas menuju kotanya. Ia ingin sampai sebelum jam makan siang datang.

__ADS_1


__ADS_2