Bima

Bima
Part. 19


__ADS_3

"Kenapa gua ngerasa kagak asing ma tu rumah, ya? Padahal, 'kan, gua baru di sini. Ah ... dah lah!" Bima mengibaskan tangan sebelum mengayuh sepedanya. Ia tak tahu jika Dewa sempat melihatnya tadi.


Dikayuhnya pedal sepeda itu, lebih cepat. Sebentar lagi Maghrib akan datang menyeru. Sementara di rumah besar itu, Revan berjalan lesu di teras. Ia menunduk sambil menenteng tas di tangan.


"Ada apa denganmu, anak manja? Kenapa kau terlihat lesu?" sambar seorang remaja laki-laki sambil menepuk bahu Revan. Bocah seusia Bima itu, menghendikan bahu tak ingin diganggu. Hatinya sedang kecewa karena Bima menolak ajakannya memasuki rumah.


Anak remaja itu memiringkan kepala, melihat kondisi adiknya yang terus menunduk. Bibir maju beberapa centi, cemberut dan sedih terlihat.


"Hei, ada masalah? Katakan saja pada Kakakmu ini! Apa anak itu mengganggumu lagi?" tanya sang Kakak sambil merangkul bahu kecil Revan dan meremasnya.


Kepala bocah itu menggeleng, tak ingin menyahut. Ia terus membawa kakinya melangkah memasuki rumah. Revan membanting dirinya pada sofa di ruang tengah. Raut kecewa jelas terlihat di wajahnya itu.


Sang Kakak mengangkat bahu tak acuh tatkala dua pasang mata bertanya lewat sorotannya. Ia ikut mendaratkan bokong di samping Revan, menelisik wajah yang ditekuk di sampingnya itu.


"Hei, jika ada masalah jangan memendamnya sendirian. Kau masih punya Kakak di sini, dan orang tua di sana. Jadi, katakan apa yang membuatmu menjadi seperti ini?" seru remaja itu lagi sambil menyentuh punggung adiknya.


"Sayang! Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu murung seperti ini? Apa temanmu itu menyakitimu?" Suara wanita yang lembut diikuti sapuan di kepala membuatnya mendongak.


Maniknya yang sendu menusuk tepat pada biji coklat di hadapannya. Ia berhambur memeluk wanita itu.


"Apa aku masih boleh bermain di rumah dia, Mamah? Ibunya mengizinkan aku bermain di sana setiap hari," ucapnya dengan kepala terangkat. Pancaran maniknya penuh harap, ada kebahagiaan juga keraguan di dalamnya.


"Apa kau begitu senang bermain di sana? Hei, lihat! Baju siapa yang kau kenakan ini, sayang?" Wanita itu menjauhkan tubuhnya sedikit, menatap pakaian yang dikenakan putranya.


Revan memandangi tubuhnya sendiri, ia lupa mengganti baju sebelum pulang tadi. Wajah polos itu terangkat, bibirnya merekah membentuk senyuman yang meminta rasa maklum. Tangannya menggaruk pelipis antara malu dan bingung.

__ADS_1


"Ini pakaian Bima, dia meminjamkannya padaku. Aku lupa menggantinya, Mamah. Bagaimana ini?" katanya bingung. Apa dia perlu mengembalikannya atau bagaimana?


"Kau ... diberi hati malah meminta jantung pula. Kau harus mengembalikannya. Dia itu hanya meminjamkanmu, tidak memberimu. Faham? Sanah pergi! Antarkan ke rumahnya!" timpal Kakak memasang wajah yang serius.


Revan menunduk, wajahnya berkedut-kedut ingin menangis.


"Akmal! Jangan menggoda adikmu seperti itu!" sergah Ibu mereka sambil mengusap kepala Revan yang mulai berguncang, "tidak apa-apa. Kau bisa menanyakannya besok. Kalau tidak, bawa serta baju ini saat nanti kau bermain dengannya. Sudah, jangan menangis lagi." Ia memeluk putra bungsunya, tangisnya mulai mereda sesaat wajahnya terbenam di dada sang Mamah.


Remaja yang dipanggil Akmal itu, mendengus. Ia beranjak setelah melirik jam di dinding. Sementara, Revan masih memeluk mamahnya karena merasa bersalah pada Bima telah membawa serta pakaian yang dia pinjamkan.


Di jalan, di antara kendaraan yang tiada habis melintas, seorang anak dengan berani mengayuh sepeda. Menyusuri pinggiran, mendahului kemacetan. Kedua kakinya bergerak lincah mengayuh pedal tak terlihat lelah sama sekali.


Dewa yang terjebak di antara kemacetan, kembali melihat anaknya. Ia tersenyum, Bima tumbuh mandiri dan kuat. Tidak pernah merengek kepadanya, tidak pernah meminta ini dan itu.


"Ati-ati lu, Tong!" Bergumam sendiri meskipun tak dapat didengar Bima. Ia akan kembali ke kantor sebelum pulang ke rumah.


"Makin cinta gua ama dia. Bau masakannya udah kecium ampe sini. Laper gua." Bibirnya terus bergumam memuji sang istri. Teringat akan Bima yang ia lihat berada di rumah majikannya.


Terbersit ribuan tanya dalam benak, kenapa anaknya ada di sana.


"Apa Bima temenan, ya, ama anak majikan gua? Ngapa dia ada di rumah besar ntu tadi?" Berkerut dahinya, jarinya mengetuk-ngetuk kemudi menunggu lampu berganti hijau. Ia melipat bibir, berpikir tentang Bima.


"Gua kudu tanyain ama dia entar." Ia menjalankan mobilnya menuju kantor. Memarkirnya berjejer dengan mobil-mobil lainnya. Dewa enggan membawa mobil tersebut ke kontrakan meskipun diperbolehkan sebagai fasilitas karyawan yang disediakan kantor.


Ia lebih memilih menaiki sepeda motor bekas yang ia beli. Tersenyum bibirnya, Dewa masih terlihat gagah meskipun usia perlahan mengikis waktunya. Sebuah kantong plastik menggantung di motor, oleh-oleh untuk anak dan istri.

__ADS_1


Bima sampai lebih dulu, ia baru saja meletakkan sepeda saat motor Dewa terdengar menderu. Senyum bocah sepuluh tahun itu merekah menyambut kedatangan Babeh yang selalu ia tunggu.


"Babeh!" Ia melompat memeluk Dewa. Ditangkap sigap kedua tangan laki-laki itu. Dewa mencium dahinya sebelum menurunkan tubuh gembil itu dari pelukannya. Kesederhanaan dan keharmonisan mereka, kerap jadi perbincangan para tetangga.


Mereka kagum dan terkadang iri pada Tina yang amat dicintai anak dan suaminya.


"Apa ini, Beh!" Bertanya sambil menyambar kantong plastik di tangan Dewa.


"Cuma jajanan, bakal temen ngobrol kita," jawab Dewa sambil melangkah memasuki rumah. Tina keluar menyambut kedatangan suami dan anaknya. Mencium tangan Dewa takzim bergantian dengan Bima yang mencium tangannya.


"Eh, Tong, tadi Babeh liat lu di rumah majikan Babeh. Ngapain lu di sana?" Bima dan Tina saling lempar pandang bingung. Yang mereka tahu Dewa bekerja sebagai keamanan di sebuah perusahaan.


"Majikan Babeh? Tadi Bima nganterin Revan pulang, dia maen di mari sepulang sekolah." Tina mengangguk membenarkan saat mata Dewa melirik ke arahnya.


"Jadi den Revan itu teman lu, Tong?" Bima mengangguk. Pandangannya berubah setelah mendengar tentang siapa Revan.


"Revan temen baek Bima di sekolah, cuman dia temen Bima yang tulus. Kalo Revan anak majikan Babeh, jadi segen Bima ama dia." Bima menunduk, merasa telah berbuat salah kepada Revan.


"Kagak usah begitu, orang tua den Revan baek. Mereka ntu sering ngomongin anak yang suka nolong den Revan. Pengen ketemu ama ntu anak katanya. Babeh kagak ngira kalo temennya itu ternyata anak Babeh Dewa. Bangga bet, dah, ah!" Ia tersenyum sambil menarik tubuh Bima ke dalam pelukannya. Tina tersenyum ikut merasa bangga pada anaknya itu.


"Jadi, Beh. Bima masih boleh maen ama Revan?" Kepala anak itu mendongak menatap manik Dewa.


Tangan kekarnya mencubit pipi chubby Bima dengan gemas. "Maen aja, siapa yang larang lu buat maen. Babeh kagak larang lu mau maen ama siapa aja," ucap Dewa disambut pelukan erat Bima dan senyum di bibirnya.


"Maghrib. Dah, sono ke mushola. Entar abis ntu kita makan," ucap Tina memberi peringatan pada keduanya. Maghrib sebentar lagi menyeru, Dewa dan Bima gegas membersihkan diri bergantian sebelum berangkat ke mushola. Bersyukur, masyarakat di sekitar bisa menerima Dewa dan keluarganya.

__ADS_1


Kasih sayang yang didapat Bima tak pernah berkurang, perhatian yang tak jemu mereka berikan, menghadirkan rasa bahagia yang selalu membuat semangat hari-hari yang mereka jalani.


__ADS_2