
Lidah terasa kelu untuk beberapa saat, Bima tak mampu mengucap kata bahkan di dalam pikir pun tak ada susunan kata yang terbentuk untuk ia ucap. Pandangannya fokus pada pemilik biji manik coklat kehitaman di hadapan. Wajahnya muram terlihat, kobaran kesedihan memercik ke atas permukaan iris miliknya itu.
"Ngapa lu bisa sampe lepas kendali?" tanya Bima setelah sekian detik tercenung mendengar penuturan Revan, sahabat sekaligus sepupunya itu.
Helaan napas yang dilakukan pemuda seusia Bima itu terdengar berat. Seolah-olah ia sedang memikul beban yang bergelayut manja di pundaknya. Ia menundukkan kepala, menatap rerumputan yang mereka pijak tanpa dosa.
"Aku bingung saat itu. Jujur saja, aku putus asa pada waktu itu hingga membuatku tak dapat berpikir jernih. Teman-temanku di sana selalu mengatakan bahwa alkohol dapat mengurangi beban derita kita. Nyatanya, justru menambah beban dalam hidupku. Sampai saat ini, aku belum bertemu dengan korban yang aku tabrak," ungkap Revan.
Bima menangkap penyesalan lewat suaranya yang lemah dan helaan napas yang ia hembuskan. Diam-diam bibir pemuda itu membentuk senyuman, yang meskipun samar tetap bisa dilihat.
"Emangnya lu tau siapa yang lu tabrak itu?" tanya Bima berpura-pura. Pandai sekali kau!
Revan mengangkat wajah, gelisah yang merundung hatinya nampak jelas di pancaran iris kecoklatan itu. Ia menatap langit cerah dipayungi awan putih yang bergerak beriringan dengan lamban.
"Aku tahu. Kedua orang tuanya datang ke penjara melihatku. Apa kau tahu, Bima ... dunia ini ternyata memang hanya selebar daun kelor. Orang yang aku tabrak itu adalah sepupuku sendiri, anak Pamanku yang hilang dua puluh tahun lalu. Takdir terlalu rumit, bukan? Serumit benang kusut yang butuh puluhan tahun untuk dapat mengurainya," ungkap Revan dengan riak wajah berubah-ubah.
Mata yang sempat membelalak itu, kembali normal setelah mengatakan apa yang ada di hatinya. Bima tak terkejut sama sekali, ia sudah tahu semuanya. Hanya saja, masih ingin merahasiakan tentang siapa dia dari Akmal dan Revan. Ia sendiri yang akan memberitahu mereka perihal siapa dirinya.
"Lu kagak ada niat buat nemuin sepupu lu itu? Yah, biar saling kenal gitu."
Lagi-lagi helaan napas dihembuskan Revan dengan panjang. Ia belum siap, terlebih dialah penyebab sepupunya itu terbaring di ranjang rumah sakit.
"Aku belum siap." Ia menoleh pada Bima dan tersenyum, "kau bekerja? Atau kuliah?" tanyanya mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
Bima mencibirkan bibir, tersenyum dengan wajah berpaling, menatap air kolam yang beriak karena pergerakan ikan di dalamnya.
"Gua kerja, gua juga kuliah. Orang susah kaya gua siapa yang mau biayain selain gua sendiri. Nyak Babeh gua udah tua, kagak mungkin gua suruh mereka terus kerja. Yah ... kita emang satu umur, tapi beda nasib," ucap Bima sambil terkekeh.
Sungguh pertemuan dua sahabat yang mengharukan, Revan yang tak tahu jika Bima adalah Ibrahim anak dari Pamannya sendiri, dan Bima hanya ingin melihat seperti apa ketulusan yang selalu terpancar lewat sorot mata.
Di bawah rindangnya pohon beringin yang menjadi bukti dua pemuda saling melepas rindu. Mereka bercerita kian kemari, membagi pengalaman hidup masing-masing. Revan terpukau dikala Bima berkisah tentang dirinya yang pernah menjadi pembalap liar.
"Waw! Kau keren, kawan! Lain waktu bawa aku ke tempat perkumpulan teman-temanmu. Aku ingin bergabung," seru Revan dengan binar di matanya.
"Yah, lain waktu karena gua udah kagak pernah balapan lagi," sahut Bima memberitahu. Tak apa, yang penting Revan bisa mengenal kelompok tersebut. Ia pecinta balapan.
"Revan?" Seorang gadis memanggilnya membuat Revan harus beranjak dan berpamitan pada Bima. Mereka saling memeluk sebelum berpisah. Jadilah, Bima kembali seorang diri di bangku taman tersebut.
Pertemuannya dengan Revan benar-benar mengesankan kali ini. Ia memandang punggung sahabat sekaligus sepupunya itu yang kian menjauh bersama seorang gadis berpenampilan seksi dan cantik. Yang pasti, dia bukan Khaira. Lega hati Bima saat melihat gadis itu bukanlah gadis yang bersemayam di hatinya.
"Duh, gua lupa. Ayah ama Nasya pasti nungguin gua." Ia buru-buru beranjak meninggalkan bangku taman yang menjadi saksi pertemuannya dengan Revan.
Mengingat-ingat jalan kembali di mana Razka menunggu karena ini adalah kali pertama dirinya pergi menyusuri taman tersebut.
"Gua jadi keingetan tu cewe. Ngapa kagak nyamperin gua waktu di rumah sakit, ya," gumam Bima di perjalanan menuju gazebo Ayahnya berada.
"Kakak!" Nasya berhambur memeluk Bima saat ia melihat Kakaknya itu. Ia sangat mencemaskannya karena Bima begitu lama datang.
__ADS_1
"Kakak tidak apa-apa? Kenapa lama sekali?" tanyanya sambil mendongak menatap manik kelam Bima. Bibir pemuda itu tersenyum, ia merengkuh erat tubuh sang adik dan mengajaknya kembali berjalan menemui Ayah mereka yang masih menunggu.
"Kagak apa-apa, lu kagak usah kuatir ama gua." Bima kembali mengulas senyum menenangkan.
"Kita makan dulu. Sayang jika tidak dimakan. Kedua Ibumu sudah membekali kita begitu banyak makanan," ucap Razka disaat kedua anaknya tiba di gazebo tempatnya menunggu.
Ia membuka kotak bekal dan menghamparkannya di atas lantai gazebo yang terbuat dari papan kayu tersebut. Ketiganya menikmati makanan sebelum kembali ke rumah. Suasana yang asri membuat siapa saja betah berlama-lama untuk tinggal. Termasuk mereka yang masih duduk menikmati sepoi angin meski makanan telah mereka habiskan.
Puas rasanya dapat menghirup aroma segar yang disediakan alam semesta. Bima tak lagi murung, kakinya sudah lebih baik. Ia berniat akan masuk kuliah juga bekerja kembali. Kali ini meskipun harus memaksa kedua wanita itu untuk setuju.
"Bagaimana kaki Kakak? Sudah lebih baik?" tanya Nasya di perjalanan pulang mereka. Ia merunduk mendekatkan wajahnya pada kursi Bima di samping kemudi.
"Udah, Alhamdulillah. Ayah, besok aku ingin bekerja dan kuliah. Aku sudah merasa lebih baik," jawab Bima yang langsung berpaling pada Razka meminta persetujuannya.
"Itu terserah kau, Nak. Ayah hanya bisa mendukung saja. Mobilmu sudah Ayah siapkan, jangan dulu membawa motor," sahut Razka. Bima meneguk ludah. Ke kampus membawa mobil? Itu terlalu mencolok.
"Ayah-"
"Tidak, Baim. Ayah belum memberimu izin untuk bepergian menggunakan motormu. Tunggu sampai kondisi kakimu benar-benar pulih, baru kau boleh membawa benda itu," tukas Razka dengan cepat memangkas kalimat Bima yang belum selesai diucapkan.
Bima mendengus lesu. Ia bersandar pada kursi, pasrah dengan keputusan yang diberikan Razka padanya.
Berbagai pertanyaan diajukan dua wanita itu saat mereka tiba di rumah. Melihat Bima yang baik-baik saja mereka bersyukur. Lantas, Bima meminta izin keduanya tak lupa juga Dewa untuk memulai aktivitas yang selama ini terjeda karena masalah yang datang silih berganti.
__ADS_1
Melalui perdebatan alot dan keteguhan Bima, keduanya luluh jua.
Keesokan harinya, Bima telah bersiap pergi ke kampus. Sebelum itu ia akan menemui Akmal di rumah besar untuk mengantarnya ke kantor. Lihat saja! Seperti apa sambutan Akmal untuknya.