
Pertemuan tak terduga itu, membuat Bima ingin sekali mencabik wajah cantiknya. Kaki jenjangnya yang pernah ia langkahkan dengan membawa derai air mata Tina, teringin sekali Bima patahkan. Juga lisan yang tak mengenal malu itu, ingin ia tarik dari tempatnya jika saja ia tak memiliki rem dalam diri.
Bima membenarkan letak topinya menutupi kedua mata. Duduk tenang dibalik kemudi sekalipun tengah menahan rasa kesal di hati. Jemarinya erat mencengkeram benda bulat itu, kedua rahang ikut mengetat menolak gejolak dalam diri.
Bima membanting setir dengan sengaja merasa jengah dengan kelakukan dua sejoli yang duduk di kursi belakang.
"Hei, Juan! Kau ingin membuat kami celaka?!" hardik Akmal. Tubuhnya menekan belakang kursi yang diduduki Bima, wajah merah lengkap dengan mata melotot hampir keluar dari tempatnya, suara nyaringnya membuat telinga Bima berdenging nyaris menjadi tuli.
Bima memejamkan mata masih pada posisi yang sama tak beranjak sedikit pun. Ia terlalu berani untuk ukuran seorang pekerja.
"Maaf, Tuan, saya tidak sengaja. Ada kendaraan yang melaju tak karuan dari arah depan tadi. Jika saya tidak membanting setir, maka tabrakan tak bisa kita hindari," ucap Bima dengan tenang. Ia bahkan tidak melirik ataupun menganggukkan kepala.
Akmal memukul sandaran kursi Bima sebelum kembali ke tempatnya. Ia membenarkan jasnya yang sempat bergeser saat menghardik Bima tadi. Duduk bersandar bersama wanitanya. Bola mata Bima melirik dari spion tengah, ia tersenyum samar melihat wajah sang majikan yang memerah kesal.
"Jadi, apa kita lanjutkan perjalanan, Tuan? Atau kembali saja mengingat cuaca hari ini sepertinya sedang tidak bersahabat." Suara Bima kembali terdengar menunggu perintah dari tuannya. Sepasang manik di kursi belakang itu mendelik tajam usai memperhatikan keadaan langit yang biasa-biasa saja.
"Apa kau bilang?! Kurang ajar! Lanjutkan saja perjalananya dan jangan banyak bicara!" bentak Akmal menendang belakang kursi Bima cukup keras.
"Maafkan saya, Tuan, tapi Nyonya bilang kalau Anda harus memperlakukan saya seperti adik Anda sendiri." Bima mengompori sembari menjalankan mobilnya perlahan.
Ia tersenyum puas mendengar suara decakan lidah dari belakang tubuhnya. Mulut laki-laki itu komat-kamit tak jelas, bersungut-sungut dalam hati mengumpati Bima.
"Maaf saja, tapi kau bukan adikku. Untuk apa aku memperlakukanmu seperti adik, sedang kenyatannya kau hanyalah seorang supir untukku. Jadi, tidak usah banyak bicara hanya jalankan saja mobilnya," ketus Akmal dengan geram.
Bima mempererat genggaman tangannya pada kemudi, sungguh bertolak-belakang dengan Nyonya itu. Kenapa Ibu dan anak bisa berbeda sifat? Apakah Ayahnya? Ah ... tidak! Seingat Bima, Tuannya yang itu memperlakukan dirinya dengan baik tadi pagi.
__ADS_1
"Baik." Tak ada lagi kata yang diucapkan Bima. Pandangannya terhunus ke depan pada jalanan lurus di depannya. Suara-suara aneh mengusik telinganya, sebisa mungkin ia menahan untuk tidak mengatakan apa pun.
Bima membenarkan letak spion tengah yang menyoroti aksi tak pantas keduanya itu. Enggan sekali matanya yang masih perjaka disuguhkan adegan yang tak layak dipertontonkan pada publik.
Bima jengah, apakah selama Dewa berkerja ia tak pernah mendapati hal seperti ini? Ataukah memang baru kali ini karena ia merasa supir yang saat ini hanyalah bocah ingusan yang tak mengerti apa pun.
"Kenapa baru sekarang kau mengajakku jalan?" Suara perempuan itu mendayu manja. Ia bergelayut di dada Akmal sembari memainkan telunjuknya yang lentik membuat tulisan-tulisan abstrak.
"Tidak apa-apa, kemarin-kemarin aku disibukkan dengan tumpukan pekerjaan. Lagipula, kita selalu bertemu setiap akhir pekan meskipun tidak seperti sekarang, bukan?" rayu Akmal sambil mencubit mesra dagu lancip wanita itu.
Tersenyum ia dibuatnya, bibirnya yang tak pernah luntur dari pewarna merah itu mengecup singkat pipi gembil milik laki-laki di sampingnya.
"Ekhem ... Tuan, bolehkah saya merokok? Mulut saya rasanya sepat."
Kenapa suaranya tak asing di telingaku? Ia bergumam dalam hati, mata keduanya tak lepas dari punggung Bima yang bergeming pada kemudi.
"Anda tenang saja Tuan, saya akan membuka jendelanya," pungkas Bima di saat tak ada sahutan dari belakang tubuhnya.
Ia membuka jendela lebar-lebar, mematikan AC, mengeluarkan bungkusan rokok, dan mengambil satu batang. Bima mengeluarkan kacamata hitam dari saku, memasangnya sebelum menurunkan sedikit masker membuka mulut. Ia mulai mematik api pada rokok yang terselip di antara kedua belah bibirnya.
"Silahkan lanjutkan, Tuan." Tanpa rasa berdosa Bima mengucapkannya dengan enteng. Ia bersantai sambil mengemudi, menikmati sepoi angin yang menerpa wajah dengan sebatang rokok di tangan.
Kedua orang di belakangnya mendengus kesal. Mereka melipat kedua tangan dengan punggung bersandar pada kursi. Bagaimana mau melanjutkan? Sementara mereka harus ikut membuka jendela agar mendapat udara sebagai pengganti AC.
Bima tersenyum licik. Sementara ia bersantai, dua orang di belakangnya bergerak gelisah. Begini salah, begitu salah. Pada akhirnya kedua orang itu memilih memalingkan wajah pada jendela masing-masing.
__ADS_1
Rasain lu pada! Gua yakin lu berani kaya gini lantaran gua yang jadi supir lu. Coba kalo Babeh ... lu kagak berani, pan? Lu takut Babeh lapor ama Nyak Babeh lu. Baguslah! Kalo lu masih punya rasa hormat ama Babeh gua.
Bima bergumam sendiri dalam hati. Hatinya yang tadi panas, seketika berubah dingin. Telinganya tak lagi mendengar suara-suara aneh dari belakang tubuhnya. Berkali-kali lidah Akmal berdecak, melihat Bima yang tak henti menghisap rokok di tangan.
"Bisa kau percepat saja laju mobilnya? Kurasa kita hanya berputar-putar di jalan yang sama sejak tadi. Atau ...." Mata Akmal melebar seketika tatkala ia sadar apa yang dilakukan Bima. Terkekeh pemuda di hadapannya.
Ini adalah hari pertama Bima bekerja, tapi ia sudah berani mempermainkan tuannya sendiri.
"Maafkan saya, Tuan ...." Ia terkekeh kembali menjeda ucapannya, "Anda tidak mengatakan ke mana kita akan pergi. Oleh karena saya bingung sendiri, untuk itu saya memutuskan memutari jalan yang sama, tapi, Tuan ... saya lihat Anda begitu menikmati perjalanan tadi," lanjut Bima semakin berani. Tawa yang ia perdengarkan benar-benar membuat seluruh pembuluh darah dalam tubuh Akmal mendidih, meletup-letup.
Akmal geram begitu pun dengan wanita di sampingnya. Mata keduanya melebar tidak terima, tapi apa yang dikatakan Bima ada benarnya juga.
"K-kau ... berani sekali mempermainkan Tuanmu! Kau mau kupecat, hah?" hardik Akmal tak terima dengan sikap berani Bima.
Bima menggelengkan kepala, ia mengulum senyum tatkala pandangnya melirik pada wajah kedua orang yang memerah itu.
"Hanya Nyonya yang bisa memecat saya, Tuan, karena saya bekerja padanya bukan pada Anda. Saya mendapatkan tugas dari Nyonya untuk mengantar Anda ke mana saja Anda pergi. Bukan berarti saya bekerja kepada Anda. Jadi, Tuan ... Anda tidak bisa memecat saya," ucap Bima dengan pembawaannya yang tenang. Ia seperti air yang mengalir tenang, tapi tak takut apa pun.
Niat ingin menakuti, tapi yang ditakuti ternyata lebih buas darinya. Akmal memicingkan mata penuh kebencian terhadap Bima, tapi pemuda di balik kemudi itu tetap tenang dan bersantai ria. Tak terbawa emosi apalagi sampai frustasi.
"Jadi, ke mana kita akan pergi, Tuan?" tanya Bima setelah cukup lama terdiam.
"Ke pantai Utara."
"Laksanakan!"
__ADS_1