
Senyum yang diukir bibir mungilnya, membuat wanita di dalam rumah ikut tersenyum merasakan bahagia. Kekhawatiran yang sempat menguasai hati, perlahan menguap dan memudar dengan sendirinya. Anak yang dirawatnya tumbuh dengan sempurna, di mana pun berada dia selalu bisa menarik simpati orang di lingkungannya.
Tina melihat sejumlah uang yang diberikan Dewa kepadanya. Siang itu ia berencana untuk pergi ke pasar membeli perabot rumah. Berbekal dompet usang yang dibawanya dari kampung, ia mulai memberanikan diri melangkah keluar.
Sekumpulan tetangga kontrakan tengah berbincang riang. Entah gosip apa yang sedang mereka bicarakan, Tina bersikap sopan saat melewatinya.
"Eh ... tetangga baru. Maaf, Bu. Bukannya kami tidak sopan, tapi kami takut sekali mengganggu Ibu. Selamat datang, ya, Bu. Maaf sekali lagi." Salah satu dari mereka menegur Tina. Ia bahkan tak segan mendekat dan merangkul lengannya agar mau berkenalan dengan tetangga di kanan dan kiri rumahnya itu.
"Saya Tina, baru sampai kemarin. Maaf karena belum sempat bertegur sapa dengan Ibu-ibu semua." Tina memperkenalkan diri pada mereka. Ia bahkan membungkukkan tubuh ciri orang-orang berpendidikan memberi hormat.
"Selamat datang Bu Tina. Jangan sungkan dengan kami. Kami di sini juga perantau. Ikut suami," celetuk mereka bergantian menyambut ramah Tina.
Senyum di bibir Tina tersungging manis dan ramah. Patutlah ia mudah diterima di lingkungan baru tersebut.
"Eh, Bu Tina. Apa yang di sana itu anak Ibu? Kami baru melihatnya," tanya wanita berdaster ungu sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Bima.
Tina menengok, di sana ... anak itu sedang tertawa bersama teman-teman barunya. Ia mengangguk masih dengan fokus pada Bima yang ceria.
"Bima namanya, kelas lima SD. Ya ... memang masih terlalu muda, tapi anaknya yang ingin bersekolah," jawab Tina menjelaskan tanpa ditanya.
Desas-desus terdengar seputar Bima. Tina malu-malu menanggapi, sesekali memainkan rambutnya yang berantakan diterbangkan angin. Wajahnya tertunduk dan terangkat salah tingkah.
"Eh ... Ibu mau ke pasar? Beli perabot, ya? Saya kasih saran, ya, Bu. Belinya di toko pak haji Ja'far, murah-murah." Ia sampai mengangguk memastikan bahwa yang dia sarankan adalah benar. Ditanggapi yang lain juga mendukungnya.
"Baik. Terima kasih, ya, Bu. Ya sudah, saya pergi dulu. Terima kasih lagi karena sudah menerima saya dan anak saya. Maaf, jika suatu hari terdengar bahasa aneh dari keluarga saya harap dimaklum karena kami belum terbiasa," ucap Tina meminta pemakluman.
"Iya, Bu. Kami maklum, kok." Diangguki yang lain.
__ADS_1
Tina berpamitan dan menghampiri Bima. Ia mengajak anaknya itu ke pasar ikut membeli perabot rumah.
"Gimana mainnya, Tong? Seru kagak?" tanya Tina sepulangnya dari pasar. Ia tidak sempat mempertanyakan karena bingung mencari angkutan umum.
"Alhamdulillah, Nyak. Teman-teman baru Bima pada asik, mereka sekelas sama Bima. Bima mau sekolah, Nyak." Sumringah sekali wajah tampan itu, ia melipat bibir tersenyum ditahan.
Tina menyapu rambutnya. Ia menarik Bima ke dalam pelukan. "Kita tunggu Babeh, ya. Mudah-mudahan Babeh cepet balik," ujarnya mengecup ubun-ubun anak laki-laki itu. Bima mendongakkan kepala, mengangguk sambil tak lepas senyum di bibirnya.
Malam pun datang tanpa ditunggu, Tina membeli televisi meskipun kecil. Sebagai hiburan untuk Bima sepulang sekolah ataupun saat liburan. Kini, di rumah kontrakan itu telah terisi perabot walaupun seadanya. Setidaknya, baju-baju mereka sudah termuat di dalam lemari.
"Babeh kapan balik, Nyak?" tanya Bima. Ia memeluk tubuh Tina sambil berbaring menghadap televisi. Tangan Tina mengelus rambutnya lembut.
"Mungkin besok. Doain aja mudah-mudahan Babeh cepet balik," sahut Tina lirih. Hening, Bima tak lagi bertanya sampai matanya terasa berat karena kantuk. Ia berharap semoga Dewa tak akan lama di kampung.
Ayam tetangga berkokok bersahutan, adzan subuh berkumandang lantang di langit-langit gelap. Sang fajar mulai merayap menampakan diri.
"Nyak, di sini ada tempat ngaji kagak, ya?" Bertanya seusai melipat sarung dan koko yang ia kenakan untuk shalat.
"Ada, kemarin Nyak tanya-tanya sama Ibu-ibu di sini. Ada, ko. Abis ashar," sahut Tina dengan tangan yang sibuk bermain bersama alat masak.
Bima menyalakan televisi, tak ada yang dia lakukan. Cepat-cepat dia terbangun saat mendengar langkah kaki yang banyak berlarian. Bima termangu di depan jendela, memperhatikan teman-teman yang kemarin bermain dengannya, pergi ke sekolah memakai seragam.
Gua juga mau sekolah. Beh, cepet balik Bima mau sekolah.
Menunggu Dewa sambil tak henti mendoakan dalam hati. Tak ingin juga Dewa kenapa-napa dan selamat sampai rumah.
Sebuah pelukan membuatnya berpaling ke belakang, Tina menunduk mengecup dahinya dengan lembut.
__ADS_1
"Sabar, ya, sayang. Tunggu Babeh pulang, entar Bima daftar sekolah ma Nyak," ucap Tina yang disambut senyum dan anggukan oleh Bima.
Ia mengajak sarapan Bima, berdua saja. Bima jenuh, menunggu teman-teman pulang sekolah.
"Bosan, ya?" Tina datang. Sepertinya, jendela kaca itu menjadi tempat favorit Bima saat ini. Ia lebih banyak duduk di dekat jendela memperhatikan keluar.
Suara sepeda motor mengusik keduanya. Bima tersenyum, ia beranjak cepat, membuka pintu dan berlari keluar.
"Babeh!" Berteriak kuat. Ia melompat, ditangkap Dewa dalam dekapan.
"Lu, ya. Kaya udah bertahun-tahun aja Babeh tinggal." Dewa tertawa, mendekap tubuh Bima sambil membawanya masuk ke rumah. Tina menunggu mereka di ambang pintu, menyambut kedatangan suami dan anaknya.
"Ni, Babeh bawa oleh-oleh. Alhamdulillah semuanya lancar kaya jalan tol," ucap Dewa terdengar penuh kebahagiaan.
"Alhamdulillah!" sambut keduanya tak menyembunyikan kebahagiaan yang mereka rasakan.
"Besok, kita daftar sekolah, ya." Bima mengangguk sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
"Lu mau sekolah?" Bima mengangguk lagi dengan mulut penuh. Keluarga sederhana, tak kekurangan rasa bahagia.
Esok hari yang ditunggu Bima pun tiba, ia memakai kemeja biasa dan celana biasa. Tak tahu seragam apa yang harus dipakai. Diantar Tina dan Dewa mendaftar, Bima bertemu teman-temannya.
Mereka berdua bahkan menunggunya sampai jam pelajaran selesai. Hanya hari itu saja, esok harinya Bima berangkat bersama teman-teman dan Dewa mulai menerima tawaran pekerjaan dari Darma. Menjadi seorang petugas keamanan di sebuah perusahaan besar di kota tersebut.
Seragam serba hitam dengan logo membentuk huruf 'P' melingkar berwarna keemasan.
"Laki gua gagah bener, dah. Seragamnya kaya bodigad-bodigad ntu, Bang. Makin cakep aja dah, Abang. Makin cintaaaaaaaaaa Tina ma Bang Dewa!" Satu kecupan diterima Dewa di pipi. Bersemu wajah laki-laki itu, ia berpaling sambil mengusap tengkuk. Bibir dilipat menahan senyum. Ia menunggu Darma menjemput. Berangkat dengan senyum ikhlas, dilepas dengan doa ikhlas pula. Bahagia selalu.
__ADS_1