
"Kenapa kau pergi sendiri ke sini, Nak? Padahal, baru saja Ayah akan mengajakmu dan mengenalkanmu pada Ibu Aisyah." Razka memandang lekat pemuda di hadapannya. Bibirnya membentuk senyuman meski tipis. Maniknya menyipit menghalau sinar matahari yang memaksa menembus kornea.
Mereka duduk di sebuah bangku taman, berdua. Sementara yang lain berkumpul di atas tikar besar mempersiapkan makanan untuk makan siang mereka bersama di taman itu.
Bima menundukkan wajah, hatinya tertarik untuk mengikuti langkah Revan hingga terlupa meminta izin terlebih dahulu pada Ayahnya juga Ayra.
"Revan mengajakku, Ayah."
"Ayah mencarimu, tapi kau menghilang bersama Revan. Ayah pikir kalian pergi menghabiskan waktu bersama karena yang Ayah dengar kalian sudah berteman sejak kecil. Ternyata ...." Razka tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tebakannya salah.
Bima mengangkat wajah, ia tersenyum canggung kala maniknya bertabrakan dengan milik Razka.
"Ibu Aisyah sangat cantik. Taman ini menggambarkan bagaimana kecantikan beliau ketika hidup bahkan saat sudah tak lagi di dunia ini. Beliau meninggalkan kecantikannya pada Kakak, seandainya aku dapat mengenalnya ...."
Maka pasti tak akan ada aku atau Nasya di dunia ini. Bima melanjutkan kata-katanya dalam hati.
Seandainya Aisy-ku masih hidup, mungkin kalian tak akan pernah ada di dunia ini. Razka ikut bergumam dalam hati melanjutkan kalimat yang dipotong Bima. Ia tersenyum, mengusap rambut lembab Bima karena sorotan matahari.
Bagaimanapun takdirnya sekarang, ia sudah sangat bersyukur dan bahagia. Terlebih, dikaruniai anak yang luar biasa seperti Bima. Apalagi yang kurang dalam hidupnya? Semua yang ia inginkan telah ia dapatkan, hanya menunggu waktu yang tak diketahui.
"Doakan saja semoga dia tenang di alam sana. Ayah bangga padamu, Baim. Kedua orang tuamu itu memang luar biasa. Ayah tidak menyesal karena kau pernah dirawat mereka. Justru Ayah sangat berterimakasih kepada mereka berdua karena telah berhasil menjadikan anak Ayah ini 'orang' seperti yang mereka inginkan." Razka menepuk bahu Bima sebelum merengkuh pemuda itu ke dalam pelukan.
__ADS_1
Tak ada yang ia sesali dari setiap kejadian yang menimpa hidupnya. Semua ada hikmah yang terkandung di dalamnya, ada pelajaran yang harus diambil dari setiap tragedi yang menimpa. Tak akan Allah memberi ujian kepada umatnya tanpa solusi terbaik dan hasil yang terbaik pula.
Bima tersenyum, ia membenamkan wajah di pundak Razka merasakan kehangatan sentuhan laki-laki tua itu.
Uhuk-uhuk!
Bima melepas pelukan disaat tiba-tiba Razka terbatuk hebat. Akhir-akhir ini kesehatannya mudah terganggu. Mungkin karena faktor usia yang mulai menggerogoti kesehatan sang Ayah sedikit demi sedikit. Sama seperti Dewa yang juga mudah sakit.
"Ayah tidak apa-apa?" tanya Bima cemas. Ia tak tahu harus apa. Di tengah batuknya, Razka mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa dia baik-baik saja.
Bima mengurut dada sang Ayah mengurai rasa sesak dan sakit akibat batuk yang tiba-tiba menyerang. Perlahan, sesak itu berkurang. Napas Razka yang tersengal pun mulai normal kembali.
"Apa Ayah baik-baik saja?" Kembali bertanya memastikan keadaan sang Ayah.
"Ayah baik-baik saja. Kau tahu, Nak ... akhir-akhir ini, Ayah sering bermimpi didatangi mendiang Ibu Aisyah. Tak ada yang dia katakan, hanya tersenyum sambil menatap Ayah lalu pergi kembali. Dia terlihat bahagia, wajahnya berseri, nampak cantik bersinar. Mungkin dia merasa lega karena sebentar lagi putrinya akan menikah," ungkap Razka.
Ia berpaling ke hadapan, menatap arak-arakan awan di langit. Hari yang cerah, secerah calon pengantin di sana. Bima tertunduk, firasat tak baik tiba-tiba datang. Tentang sang Ayah yang saat ini sedang tersenyum. Mungkin di atas awan sana, ia melihat Ibu Aisyah tersenyum ke arahnya.
"Ayah, kenapa Ayah menceritakan itu padaku? Aku yakin, Ayah tidak memberitahu Ibu tentang ini," cetus Bima yang tepat sasaran.
Razka memutuskan pandangan dari langit dan menunduk sebelum ia menatap putranya yang menunggu jawaban.
__ADS_1
"Karena kau adalah laki-laki. Putra Ayah satu-satunya. Setelah kepergian Ayah, maka tugas melindungi mereka akan beralih kepadamu. Kau yang akan bertanggungjawab menjaga mereka selepas kepergian Ayah. Apa kau mau berjanji pada laki-laki tua ini akan menjaga ketiganya dengan baik dan melindungi mereka dari orang-orang yang berniat jahat, terutama gadis kecil kita?" ungkap Razka menatap penuh harap pada putra satu-satunya itu.
Tatapan yang dilakukan Bima sulit diartikan Razka. Entah apa yang sedang dia pikirkan, yang pasti Razka melihat pancaran kesedihan di maniknya yang sekelam malam.
Bima menunduk, tarikan napasnya terasa berat saat ia lakukan. Kepalanya menggeleng lemah, bibir yang bergetar ia lipat. Sejujurnya hati Bima merasa sedih mendengar penuturan sang Ayah yang belum lama dikenalnya.
"Aku tidak tahu, Ayah. Aku tidak tahu karena sejujurnya aku pun masih membutuhkan sosok Ayah untuk dapat membimbingku. Aku masih butuh nasihat Ayah, aku masih butuh pelukan Ayah. Aku masih sangat membutuhkan Ayah. Bagaimana mungkin aku yang masih sangat membutuhkan Ayah ini, dapat menanggung beban berat di pundakku?" Tangis Bima pecah, membayangkan perpisahan setelah beberapa saat bertemu, sungguh hatinya tak sanggup.
Razka menyeka air di matanya, ia sendiri tak menampik masih ingin bersama putra yang baru dikenalnya itu. Jika Tuhan memang bermurah hati padanya dengan membiarkan ia hidup lebih lama melihat Bima, maka ia akan sangat bersyukur untuk itu. Jikapun ajal datang tak lama lagi, maka ia bisa apa? Karena apa yang ada di dunia hanyalah titipan semata.
Razka kembali memeluk putranya, ia ingin lebih lama bersamanya sebelum waktu memisahkan.
"Masih ada Babeh Dewa yang bisa kau mintai nasihatnya. Sama saja, bukan? Dia bahkan sudah lebih lama hidup denganmu dibanding Ayah. Jangan menangis, Ayah yakin putra Ayah adalah orang yang kuat. Ayah bangga padamu, Nak. Ibrahim putraku," ucapnya diakhiri kecupan di puncak kepala pemuda yang masih menangis dalam peluknya itu.
Tak ada sahutan dari Bima, hanya pelukan erat ia lakukan pada tubuh yang terasa ringkih itu. Apakah waktu sebegitu kejamnya? Memisahkan anak dan Ayah yang baru saja bertemu dan saling mengenal belum lama ini.
"Sudah, jangan menangis. Ini adalah perbincangan antara laki-laki. Para wanita di sana tak perlu tahu soal ini. Kau mau berjanji pada Ayahmu ini?" tutur Razka.
Bima mengurai pelukan, mengusap air di mata. Lama ia tatap manik sang Ayah, menyelami rasa cinta yang diberikan laki-laki itu untuknya meskipun belum lama bersama.
"Aku berjanji, Ayah. Aku berjanji sebagai anak laki-laki Ayah, sebagai putra Pratama. Aku berjanji," katanya tegas, tapi bergetar. Razka tersenyum puas. Ia menepuk-nepuk bahu putranya dengan bangga.
__ADS_1
"Tapi sebelum itu, maukah Ayah memenuhi satu keinginanku?"