
Bertemu calon mertua? Siapa yang tak senang saat laki-laki yang diharapkan menjadi pasangan ibadah, mengajak bertemu dengan orang tuanya. Kecuali, Nasya. Gadis berhijab itu mendesah beberapa kali.
Hatinya berdebar-debar, mertua siapa yang akan ia jumpai. Meskipun hanya sandiwara, tapi rasanya benar-benar mendebarkan dada. Menunggu waktu yang seolah berjalan lebih cepat dari biasanya.
Ia meringis saat sudut matanya melirik jam di tangan, cepat sekali hingga waktu pulang hanya tinggal menunggu beberapa menit saja.
"Hah ... bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan nanti?" Nasya menghembuskan napas untuk kesekian kalinya. Berharap debaran dalam jiwa akan terurai sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya tanda kelas dibubarkan pun terdengar. Nasya menggigit bibirnya, rasa gugup yang tiba-tiba datang membuat wajahnya pucat pasih dengan peluh yang membanjiri.
"Nasya?"
"Ah ... tidak! Tidak!"
"Hei, ada apa denganmu? Kau melamun?" sentak salah seorang temannya sambil mengguncang bahu Nasya yang tiba-tiba menutupi wajah dengan panik.
Nasya menurunkan tangan, menatap bingung ketiga gadis yang terheran-heran melihatnya. Ia tersenyum, seolah-olah mengatakan jika ia baik-baik saja.
"Tidak ada apa-apa. Aku pergi dulu!" katanya seraya beranjak sambil menyambar tas dan bergegas mengambil langkah seribu. Tak ingin ditanyai lebih banyak soal keanehan yang terjadi padanya.
"Eh, Nasya?" mereka memekik, lantas saling menatap dengan bingung sebelum menyusul temannya itu.
"Kakak!" lirih Nasya disaat melihat Bima yang berdiri sambil bersandar pada pilar menunggunya. Pemuda itu beranjak melangkah mendekati sang adik yang berhenti tak jauh darinya.
"Kakak!" Nasya memanggilnya lirih. Meneguk ludah basi dengan susah payah melihat wajah datar Bima.
"Jadi lu pegi ama dia? Lu kagak takut? Kalo lu takut baeknya kagak usah pegi. Itu pertanda buruk buat lu," ujar Bima penuh perhatian.
Nasya tersenyum, ia merapat pada Bima dan memeluk pinggang pemuda itu. Wajahnya mendongak bertatapan dengan manik kelam milik Bima.
"Kalau begitu, kenapa Kakak tidak ikut pergi saja bersama kami. Aku akan lebih aman jika bersama Kakak," katanya dengan lembut.
Manik Bima menelisik dalam. "Emang lu pikir gua bakal biarin lu pegi sendiri abis kejadian itu? Enak aja!" Bima memberikan sentilan pelan pada dahi Nasya dengan jari telunjuknya.
"Aw ... sakit!" keluhnya sambil mengusap-usap dahi yang berdenyut sedikit.
"Halah, lebay lu! Udah sono pegi. Gua bakal awasin lu," katanya yang diangguki Nasya. Gadis itu berjalan menuju parkiran khusus guru.
Kepalanya dengan cepat tertunduk disaat senyum pria di samping badan mobil menyambutnya. Ia sigap membukakan pintu mobil membiarkan Nasya memasukinya. Disusul dirinya yang segera duduk di balik kemudi. Bima sudah bersiap di atas motor, helm menutupi wajah, menunggu target lewat.
Bima benar-benar menjadi penguntit hari itu. Ia lekas menghidupkan mesin motor begitu mobil yang membawa Nasya melintasi tempatnya menunggu. Meski jarak cukup jauh, tapi Bima tak tertinggal. Mobil-mobil dan kendaraan lainnya yang berada di antara mereka tak menghalangi pandangan Bima dari mobil tergetnya.
__ADS_1
Mobil yang dibuntuti Bima memasuki gerbang sebuah perumahan modern. Ia turut berhenti disaat mobil berhenti di halaman sebuah rumah bergaya minimalis. Bima berteduh di bawah pohon ketapang sutra yang tumbuh dengan rimbun.
Nasya mengedarkan pandangan sebelum mengikuti langkah pria yang mengajaknya ke rumah itu. Laki-laki itu bahkan membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar khawatir timbul fitnah yang tak diinginkan.
Ia membawa Nasya memasuki rumahnya. Kecil dan sederhana, tapi nampak bersih dan rapi.
"Bapak hanya tinggal berdua?" tanya Nasya disaat ia tak melihat siapa pun lagi selain dirinya dan pria tersebut.
"Tidak, aku tinggal dengan Nenek dan perawatnya. Tak ada siapapun lagi karena orang tuaku telah meninggal sejak aku kecil," jawabnya tanpa menoleh ke belakang tubuh.
Ia terus membawa Nasya ke halaman belakang rumah, di sana seorang wanita renta duduk di sebuah kursi roda. Seluruh rambutnya memutih, di sampingnya duduk seorang wanita paruh baya yang menemaninya berbincang.
"Itu Nenek. Bersandiwaralah dengan baik," katanya seraya merubah ekspresi wajahnya yang semula datar jadi tersenyum hangat.
"Nenek! Assalamu'alaikum! Aku pulang!" serunya ceria. Nasya menjatuhkan rahang melihat perubahan itu.
Apakah ...?
"Ah ... cucuku telah pulang. Bagaimana pekerjaanmu, Nak?" sambut suara renta sembari memeluk kepala yang jatuh di atas pangkuannya.
Nasya benar-benar terpaku di tempatnya. Melihat kejadian langka itu, adalah hal yang luar biasa. Lihat saja wajah yang selalu nampak datar saat di kelas, kini tersenyum persis seperti anak kecil. Manja dan ceria. Wanita di samping Nenek lekas berdiri saat laki-laki itu menjatuhkan diri di hadapan majikannya.
"Lancar, Nek. Bagaimana hari Nenek? Apakah menenangkan?" Ia bertanya balik.
"Sama seperti biasa. Nenek kesepian karena kau harus pergi mengajar. Coba saja kau sudah menikah, Nenek akan punya teman berbincang selain Mirah," jawab Nenek dengan getar khas wanita renta.
"Coba tebak apa yang aku bawa?" katanya penuh misteri.
Nenek menatap cucunya sambil tersenyum ditahan, "Apa? Pasti tak jauh dari makanan-makanan itu. Nenek sudah tahu," katanya disambut gelengan kepala oleh sang cucu.
Ia beranjak, menatap Nasya yang masih terpaku di tempatnya.
"Kemarilah! Aku ingin memperkenalkanmu pada Nenek," katanya memanggil gadis itu dengan senyum manis di bibir.
Nenek tertegun, tak sabar ingin melihat, ia memutar kursi rodanya menghadap pada Nasya yang melangkah perlahan. Gadis cantik berhijab itu berhasil mencuri hati Nenek. Senyum merekah di bibir rentanya menyambut senyum yang diberikan Nasya.
"Assalamu'alaikum, Nek. Saya Nasya," katanya seraya meraih tangan tua itu dan menciumnya takzim.
Nenek benar-benar terharu, air matanya jatuh karena rasa bahagia yang tak terhingga. Ia menarik tubuh Nasya dan memeluknya. Air mata yang jatuh dari pelupuk membasahi pakaian Nasya.
Ia mengurai pelukan dan mengajaknya ke dalam untuk berbincang.
__ADS_1
"Mirah, buatkan minum dan bawa ke ruang tamu," titah Nenek pada asistennya.
Nasya berinisiatif mendorong kursi roda milik Nenek. Laki-laki itu terharu melihatnya, meskipun hanya sandiwara, tapi Nasya melakukannya dengan sangat baik.
Aku tak akan melepaskanmu, Nasya! tekadnya dalam hati. Ia menyusul keduanya menuju ruang tamu.
"Apa dia calon istrimu?" tanya Nenek setelah mereka duduk bersama di sofa ruang tamu rumah tersebut.
Nasya menunduk, rona merah di pipi tak dapat dicegahnya. Senyum tipis pun serta merta terbit tanpa ia sadari.
"Iya, Nek. Doakan saja semoga keinginan Nenek cepat terkabul," jawab laki-laki itu sambil melirik Nasya yang tertunduk.
"Aamiin. Tak sabar rasanya Nenek ingin segara melihat kalian bersanding di pelaminan," sambar Nenek yang memicu detak jantung Nasya menjadi tak beraturan.
Minuman datang, dilanjutkan bincang-bincang hangat antara Nasya dan kedua penghuni rumah itu. Dua jam berlalu dengan cepat, tapi untuk Bima yang menunggu terasa sangat lama. Ia keukeuh untuk tetap berada di sana sampai sosok sang adik muncul dari dalam rumah.
Bima sigap mengenakan helm saat melihat Nasya dan dosen yang membawanya keluar diikuti sebuah kursi roda yang didorong wanita paruh baya itu. Bima tertegun, dia tidak berbohong. Ada rasa bersalah bersarang di hatinya, tapi dengan begitu juga ia merasa puas.
"Kenapa terburu-buru sekali? Nenek masih ingin mengobrol dengan calon menantu," ucap Nenek sedih.
"Nek, kapan-kapan Nasya akan ke sini lagi menjenguk Nenek. Untuk sekarang, Nasya tidak bisa berlama-lama," ucap Nasya sembari menyentuh lembut tangan renta itu.
Pak dosen tampan itu benar-benar terhipnotis oleh sosoknya. Hatinya semakin yakin untuk menjadikan Nasya istrinya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Sampaikan salam Nenek pada orang tuamu," sambut Nenek sambil tersenyum.
Keduanya berpamitan, Bima sudah lebih dulu pergi dan menunggu di jalan. Ia ikut melaju saat mobil itu melewatinya.
"Mmm ... Nasya, aku boleh meminta tolong lagi?" katanya meski tak enak, tapi ia perlu mengutarakannya pada Nasya.
"Apa, Pak?" Nasya meliriknya dengan kerutan di dahi.
"Sebelumnya, aku ucapkan banyak terima kasih karena kau bersedia datang untuk bertemu Nenek," ungkapnya sambil mengukir senyum tulus.
"Tak apa, Pak. Saya senang bisa bertemu Nenek. Beliau sangat baik." Nasya menimpali.
"Mmm ... Nasya, temani aku pergi ke pesta Minggu depan. Bisakah?"
Minggu depan? Itu hari di mana Kak Ayra menikah. Kebetulan sekali.
"Maaf, Pak. Minggu depan saya tidak bisa. Kebetulan di rumah juga sedang ada acara hari itu. Saya tidak bisa meninggalkan rumah. Maaf sekali lagi," tolak Nasya tak enak.
__ADS_1
Ia menghela napas, tapi tak memaksa. Tak apa, setelah mereka berdua menikah nanti mereka akan selalu bepergian bersama ke mana pun mereka inginkan.