
Satu bulan berlalu, Bima mengikuti pelajaran dengan baik. Pada hakikatnya sekolah yang sekarang tak jauh beda dengan yang dulu. Hanya saja, sekolah itu memiliki dua jurusan yang dikhususkan. Kelas bisnis dan kelas pelatihan khusus.
Kursi Bima berada di urutan paling belakang, tapi justru kursi itulah yang menjadi perhatian semua guru ketika mengajar. Tak jarang Bima dimintanya mengulang penjelasan secara ringkas untuk menguji apakah dia mendengarkan guru ketika menerangkan.
Sikap Bima selalu membuat puas semua guru hingga lambat laun menjadikannya banyak dikenal siswa. Terutama saat kelas agama berlangsung, guru agama kerap memuji Bima karena ketangkasannya menjawab.
Anak Babeh Dewa!
Begitu puji Dewa tatkala melihat nilai-nilai pelajaran Bima setiap malam menjelang tidur.
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar, sebagian pergi ke kantin untuk membeli makanan, sebagian pergi ke lapangan sekedar bermain. Akan tetapi, Bima tetap duduk di kelasnya. Membuka kotak bekal yang selalu ia bawa dari rumah.
"Bim, kau membawa bekal lagi? Padahal, aku ingin mengajakmu ke kantin," tanya teman sebangkunya yang begitu baik terhadap Bima.
"Kau saja, Ibu membekaliku makanan. Apa kau mau mencicipinya?" Bima mengangkat sebuah makanan yang ditusuknya dengan garpu.
"Apa ini? Kenapa bentuknya aneh begini?" Ia menelisik makanan yang diangkat Bima. Benda bulat kecil, berbalut sambal kacang ....
"Ini cilok namanya. Cobalah!" Ia bergidik dan menggeleng. Mengibaskan tangan sambil berlari meninggalkan Bima di kelas. Tawa kecil Bima menggema sendirian.
Bima mulai belajar cara kehidupan semua siswa di sekolah itu. Sedikitnya dia mengerti beberapa hal yang sering dilakukan semua siswa, terutama dalam hal makanan. Mereka tak pernah menggunakan tangan, selalu ada sendok dan garpu dalam bekal makanan yang mereka bawa.
"Jajanan yang Nyak bikin emang nomor satu." Ia terkekeh sendiri, memasukkan makanan berbentuk bulat-bulat itu ke dalam mulutnya.
Bima beranjak usai menghabiskan semuanya. Merapikan kotak makannya ke dalam tas sebelum meninggalkan kelas menuju toilet. Bulu-bulu halus di tubuh Bima meremang tatkala keadaan toilet nampak sepi.
Dahi sempitnya berkerut melihat tiga orang siswa berjaga di depan toilet. Mengandalkan firasatnya, Bima terus berjalan melanjutkan hajatnya.
"Mau ke mana?" cegah salah satu dari mereka menahan dada Bima yang hendak masuk.
"Aku mau ke toilet. Memangnya tidak boleh?" ketus Bima tak suka.
Telinganya bergerak saat suara rintihan dan pekikan seorang anak terdengar dari dalam salah satu bilik toilet.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian menyiksa siswa yang lebih lemah dari kalian?" Wajah Bima menghitam. Maniknya yang pekat semakin kelam dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
"Bukan urusanmu! Sekarang, pergilah! Sebelum kami menyakitimu!" sengit siswa yang bertubuh besar. Ia membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka bertemu.
Bugh!
Brak!
Satu tinju Bima melayang mengenai ulu hatinya, tubuh besar di hadapannya terpental dan menabrak dinding toilet. Dua pasang mata yang lainnya membelalak, mulut-mulut mereka menganga melihat anak bertubuh besar itu terduduk lemas.
"Kurang ajar! Kau belum tahu siapa kami, ya? Berani sekali melawan kami. Memangnya siapa dirimu! Hanya anak malang yang beruntung!" Ia mencekal tangan Bima kuat-kuat.
Bima tak bereaksi berlebih, sekalipun hal itu membuatnya sakit, Bima tak meringis. Digenggamnya tangan itu menggunakan tangan miliknya, diremas kuat-kuat. Meringis anak itu, Bima memutar tangan tersebut sebelum melemparnya.
Melihat satu anak terakhir yang menyerah, Bima melanjutkan langkah menuju bilik toilet yang ia curigai. Tubuh anak itu gemetar saat Bima melintasinya, ia merapatkannya ke dinding ketakutan.
Brak!
Cukup satu kali tendangan, pintu itu terbuka dan memperlihatkan apa yang ada di dalam.
"Revan? Kau menyakiti temanku!" Suara dingin Bima merubah suasana menjadi mencekam. Pandangannya menggelap, wajah merah padam, kedua tangan semakin kuat mengepal.
"Lepaskan atau aku yang memaksamu!" pinta Bima lagi dengan suara semakin parau.
Anak itu tersenyum mencibir, tekanan pada dada teman Bima semakin menguat mengejek anak baru itu.
"Siapa kau? Kenapa aku harus menurutimu? Dia budakku! Apa kau juga mau menjadi budakku?" ucapnya dengan angkuh.
"Budak? Apa di sekolah ini diperbolehkan perbudakan? Kurasa tidak!" Bima melangkahkan kakinya mendekat.
"Ah ...." Revan memekik. Kedua tangannya memegangi tangan besar yang menahan dadanya itu.
"Lepaskan!" Bima mendesak, menendang kuat-kuat paha anak yang menindas temannya.
__ADS_1
"Ah!" Ia terguling memegangi pahanya yang berdenyut nyeri. Bima menarik Revan dan memintanya berdiri di belakang tubuh.
"Karena aku Bima, dan dia temanku. Aku tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya termasuk kalian!" ujar Bima sebelum membawa Revan keluar toilet.
Anak itu menganga tak percaya, belum pernah ada orang yang berani melawan geng mereka. Ia semakin tak percaya saat melihat keadaan di luar toilet. Dua anak meringis kesakitan, dan satu anak menempel erat-erat pada tembok.
Bima tak acuh, ia terus membawa langkahnya bersama Revan menuju sebuah kursi.
"Kau tak apa?" Pertanyaan pertama setelah Bima duduk di sampingnya.
Revan belum menyahut, ia mengelus dadanya sendiri yang terasa sesak dan sakit. Terbatuk-batuk dan mengusapnya lagi.
"Apa sangat sakit? Kenapa kau tidak melawan? Kau seharusnya melawan tadi!" ucap Bima dingin. Revan menunduk, bukannya tak ingin melawan, tapi dia tak mampu. Keempat anak itu atlit bela diri andalan sekolah. Sayang, prestasi yang mereka raih justru mereka gunakan untuk menindas anak yang lain.
"Dia itu kuat, Bim. Aku pernah melawannya, tapi justru aku yang kesakitan. Aku tidak bisa melawannya," ungkap Revan dengan kepala tertunduk dalam.
Bima mendengus, ia mengangkat pandangan dengan berani ketika empat orang itu melintas di lorong yang lain. Pandangan mereka mengancam, tapi Bima bergeming tanpa takut.
"Apa yang mereka inginkan dari menindas siswa lain?" tanya Bima setelah lama terdiam.
"Pengakuan!"
"Pengakuan?" Bima berjengit. Ia menoleh pada Revan bingung. Temannya itu menganggukkan kepala sambil ikut menatap ke arahnya.
"Pengakuan seperti apa?" Bertanya menuntut.
"Pengakuan jika dialah yang terkuat di sekolah ini, dan memang terbukti selama ini tak ada yang berani melawannya. Setidaknya sebelum kau datang, Bima." Ucapannya membuat Bima membuang napas panjang. Tak habis pikir kenapa ada anak yang sudah melakukan tindak kriminal di usianya yang masih sangat belia.
"Konyol! Apa pihak sekolah tahu? Kenapa tidak melaporkannya saja?" Bima berpaling. Benar, ia sempat melihatnya tadi di mana semua siswa menunduk dan menjauh dari jalan saat empat orang itu melintas.
"Sudah, tapi mereka tak bisa berbuat banyak karena empat orang itu adalah andalan sekolah ini dalam turnamen bela diri," jawab Revan kesal.
Bima menepuk bahunya, ia mengajak Revan ke kelas sambil memikirkan cara bagaimana mengakhiri itu semua.
__ADS_1
"Jangan nekad? Mungkin tadi kau hanya beruntung saja." Seperti tahu apa yang ada di dalam otak Bima, ia memberi peringatan.
Bima menggaruk tengkuknya, berpaling karena ketahuan. Revan sudah baik-baik saja, itu yang terpenting. Dia tidak tahu siapa Bima. Anak Babeh Dewa.