Bima

Bima
Part. 34


__ADS_3

"Tin! Tina!" Suara Dewa menggema mengusik telinga Tina yang baru saja melipat sajadah. Ia beranjak dengan terburu-buru mendatangi pintu. Tersenyum bibirnya menyambut kedatangan suami dan putra mereka satu-satunya itu.


"Tin! Tahu kagak lu, tadi anak kita jadi imam di masjid. Bacaannya enak bener bikin hati gua jedag-jedug jadinya," pekik Dewa ketika pintu terbuka dan menampakkan Tina dengan balutan daster bermotif bunga janda bolong.


Tina tersenyum sumringah, ia melongo untuk dapat melihat Bima yang sedang berbincang dengan salah satu temannya di kejauhan. Keduanya duduk di atas tugu pinggir jalan, dengan rokok tersulut di tangan.


"Mana anak gua?" Tina antusias bertanya. Dewa menyingkir membiarkan Tina melihat sendiri anaknya di kejauhan yang sedang tertawa bersama temannya. Entah apa yang sedang mereka ceritakan? Apakah tentang seorang gadis.


Ia berpamitan setelah melihat keberadaan Tina. Berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang berdiri di teras rumah.


"Assalamu'alaikum, Nyak!" Ia datang menyapa, menyalami tangan renta Tina dengan senyum di bibir.


"Hebat bener anak Nyak. Bangga ama lu, Tong!" seru Tina sambil memeluk Bima dan menepuk-nepuk punggungnya lembut.


"Semua juga berkat doa Nyak ama Babeh. Bima kagak bakal bisa kaya begini kalo bukan karena Nyak ama Babeh," sahut Bima sambil mengecup lembut pundak Tina yang sentiasa tertutup hijab itu.


Kepalanya mengangguk, bibirnya terlipat menahan tangis yang mencuat. Dewa ikut menyunggingkan senyum, merasa bahagia di masa tuanya.


"Alhamdulillah, ya Allah ... di masa tua ini kami merasa berguna hidup di dunia. Terima kasih karena Engkau telah mendatangkan seorang anak dalam keluargaku ... anak yang sholeh, pintar dan berbakti. Terima kasih, ya Allah!" Dewa menengadahkan tangannya, meluapkan rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberi kesempatan kepadanya untuk dapat merasakan bagaimana menjadi orang tua.


Bima melepaskan pelukan, ia berhambur memeluk Dewa bersama Tina yang meneteskan air mata haru.


"Udah. Yuk, masuk! Nyak udah siapin makanan," ucap Tina menyudahi. Keduanya mengurai pelukan. Memasuki rumah bersama-sama dan duduk dengan tenang di meja makan.


Bima membuka tas kuliahnya, di bawah sorotan lampu belajar, ia sedang mengerjakan tugasnya membuat sebuah makalah. Tina mengintip sebentar sebelum memasuki kamarnya membawa baju-baju yang baru saja ia lipat.


Ia mengulas senyum, melihat Bima yang bergeming fokus pada tugasnya meskipun mendengar kedatangan Tina. Ia kembali keluar tanpa ingin mengganggu Bima. Duduk di ruang depan menonton televisi acara kesukaan.

__ADS_1


Bima merentangkan kedua tangan sebelum beranjak dari kursi. Kedua kaki berayun meninggalkan ruangan kamarnya. Ia menuju dapur mengambil sebotol air mineral sebelum ikut bergabung bersama Dewa dan Tina.


Dewa yang tak memakai baju, menampakkan tatto di tangannya. Tatto bergambar naga itu selalu berhasil mencuri perhatian Bima. Nampak gagah dan sangar. Ia melirik lengannya yang berotot. Menyembul dari balik kaos pendek yang ia kenakan.


Kalo gua juga pakek, pasti cakep di tangan gua.


Ia tersenyum membayangkan tatto tersebut terlukis di atas permukaan kulitnya.


"Bima!" tegur Dewa saat tak sengaja mendengar suara tawa kecil yang berasal dari belakang tubuhnya. Bima bersemu malu, ia menggaruk tengkuk sebelum beranjak duduk di dekat kedua orang tuannya.


"Ngapa lu senyum-senyum?" tegur Dewa lagi setelah anaknya itu duduk. Tina ikut melirik penasaran.


"Ah ... kagak, Beh," katanya melengos. Dewa memicingkan mata, curiga pada anak muda itu yang kedapatan melirik ke arahnya. Ia menggelengkan kepala saat sadar ke mana arah pandangan Bima.


"Temen-temen Bima juga ada yang dipasang tatto di badannya. Macem-macem gambarnya, tapi tatto Babeh yang paling garang!" ucapnya tiba-tiba. Entah sadar atau tidak lisannya mengatakannya itu, tapi berhasil membuat Tina dan Dewa melirik ke arahnya.


Dewa melirik Tina, "Ada yang lebih sakit dari pada bikin tatto. Kalo lu mau tahu, besok lu ikut Babeh," katanya mengulas senyum yang membuat Bima penasaran setengah mati. Ia mengangguk tak bertanya ke mana Dewa akan mengajaknya.


Rasanya ingin cepat-cepat siang, tak sabar menanti ke mana mereka akan pergi. Sang fajar tak kunjung muncul, seolah-seolah sedang mempermainkan dan membiarkannya menanti lebih lama lagi.


"Yuk, Beh. Kagak sabar Bima pengen tahu ke mana Babeh bakal ngajak Bima," ajaknya antusias. Dewa menggelengkan kepala, terkekeh kecil melihat semangat yang berkobar-kobar di manik anak muda itu.


"Emangnya lu kagak kuliah?" tanya Dewa mengernyitkan alisnya heran.


Bima menggaruk rambutnya, berpaling wajah dari babehnya, berpikir. "A-ada, sih." Berucap ragu.


"Ya udah, lu kuliah dulu. Entar jam sebelas lu balik ke rumah. Babeh tunggu!" titah Dewa. Ia menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan asap di atas mejanya. Sebatang rokok dibakarnya, terselip di antara dua jari.

__ADS_1


"Ya udah, Bima berangkat kuliah dulu." Ia melengos lesu. Kembali ke kamar mengambil tas dan tugas diskusi yang ia buat semalam. Mendatangi Tina di dapur, bersalaman. Lantas mendatangi Dewa di teras, berpamitan.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


"Jam sebelas, ya? Ada apa jam sebelas?" Ia bergumam di jalanan. Berpikir akan ada apa di jam sebelas hari ini.


"Astaga! Ni hari Jum'at, jam sebelas tu, ya, sholat Jum'at. Gimana, sih, lu, Bim!" gerutunya menggelengkan kepala pelan sambil menambah kecepatan laju motornya. Ia lihai menyalip bahkan kendaraan-kendaraan besar pun dapat pula disalipnya dengan mudah.


Di parkiran kampus, Yola sudah menunggu kedatangannya. Pakaiannya yang minim membuat jengah seorang Bima. Wanita itu beranjak saat melihat motor Bima memasuki parkiran kampus. Kaki jenjangnya berlari kecil dan manja menghampiri.


"Hai, Bim! Kudengar akhir pekan nanti kau akan balapan. Aku akan datang dan mendukungmu, kau pastinya membutuhkan wanita cantik sepertiku, bukan?" katanya yang dengan berani menyentuh dada Bima.


"Singkirin tangan lu!" Ia menepis jemari lentik yang kerap menari di dadanya itu, "terserah lu!" Bima menggantungkan tas di lengan kanan, berjalan melewati Yola, gadis pengganggu Bima di kampus. Kelas dimulai, tapi pikiran Bima melayang ke rumah.


Matanya berkali-kali melirik pergelangan tangan, menghitung jarum yang berdetak lambat. Konsentrasinya terpecah, terus mengawang menebak-nebak ke mana Dewa akan membawanya.


Jam istirahat yang ditunggu akhirnya datang. Bima berlari ke parkiran. Di kampus, kerap diadakan sholat Jum'at untuk semua mahasiswa. Namun, kali ini, Bima meninggalkan kampus cepat-cepat menemui Dewa di rumah.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Ia buru-buru masuk ke rumah dan mencari Dewa.


"Babeh di mana, Nyak?" Bertanya saat hanya melihat Tina di dapur. Mulut Tina terbuka, tapi urung berkata saat suara guyuran air terdengar dari kamar mandi. Jari telunjuknya terangkat menunjukkan keberadaan Dewa pada anaknya.

__ADS_1


Bima menjatuhkan diri di atas kursi, lelah menunggu Dewa selesai mandi. Mungkin Dewa ingin mengajaknya sholat Jum'at bersama seperti saat kecil dulu.


__ADS_2