Bima

Bima
Part. 11


__ADS_3

Siang hari yang terik, sinar matahari membakar kulit. Sebagian orang memilih bersembunyi, tapi tidak dengannya yang berprofesi sebagai juru tertib. Dewa berdiri di tengah lapangan parkir, menuntun kendaraan yang keluar masuk ke tempat tersebut.


Kulitnya yang bertatto bersinar kala tersengat cahaya matahari siang itu. Pluit menggantung di lehernya, sesekali akan ia tiup ketika memberi arahan pada setiap kereta besi yang mampir di lapaknya.


Dua ribu rupiah, akan ia terima dari satu buah sepeda motor. Lima ribu rupiah untuk mobil. Terkadang mereka hanya memberi seribu rupiah, atau tidak membayar sama sekali dengan berbagai macam alasan. (Hayo, siapa yang nakal? Yang gak suka bayar?)


Padahal, mereka benar-benar memeras keringat, membanting tulang demi mendapatkan rupiah. Kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki hanya untuk sesuap nasi. Berilah dua ribu saja untuk mereka membeli kopi. Sebagai teman istirahat yang terus menambah semangat saat mengais rezeki.


Dewa tak pernah memaksa, jika ada yang tak memberinya uang maka, biarlah. Mungkin dia memang tak punya uang.


Hari itu, dia tak tahu bahwa sedang diawasi. Di sana, di sebuah mobil sedan berwarna hitam. Tiga pasang mata mengintai, memperhatikan setiap gerak geriknya. Memindai sikap lelaki bertatto naga itu.


"Apa yang bertatto naga itu?" tanya laki-laki dewasa yang tak berkedip matanya menatap Dewa. Dalam hati ia memuji kerja kerasnya Dewa sebagai juru parkir di sana. Namun, kecurigaan Ayra, membuatnya ingin mengetahui lebih tentang sosok lelaki tersebut.


"Benar, beberapa hari aku mengintai dia hanya untuk mencari tahu kebenarannya, tapi sulit, Ayah. Aku sering mengikutinya saat pulang, tapi dia selalu menghilang dan lepas dari pengawasan. Entahlah, aku sendiri bingung," sahut Ayra ikut menatap Dewa semakin penasaran.


"Kasihan sekali, dia sudah panas-panasan, rela berdiri di bawah terik matahari, tapi Ibu itu tidak membayarnya. Keterlaluan, apa susahnya mengeluarkan uang dua ribu rupiah saja dari sakunya. Padahal, tas yang dia pakai bagus. Dia juga terlihat banyak uang, tapi malah tidak membayarnya." Lain dengan Ayra, lain lupa dengan Nasya.


Di saat kedua orang lainnya membahas soal Dewa, ia malah memperhatikan pengguna jasa juru parkir yang tak mau membayar. Menggerutu panjang, sambil meremas jendela kaca di depannya. Ayra dan ayahnya saling pandang, bahu keduanya terangkat mendengar gerutuan panjang gadis kecil itu.

__ADS_1


"Hei ... ada apa denganmu, sayang? Apa yang kau perhatikan sebenarnya?" tanya sang Ayah sambil mengusap kepalanya yang membelakangi.


Gadis kecil itu menunjuk sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang wanita.


"Wanita itu tidak membayar parkir, Ayah. Kenapa dia kikir sekali hanya dua ribu saja, tapi tidak mau memberi." Nasya menunjuk sepeda motor tersebut yang kebetulan melintasi mobil mereka. Baik lelaki itu maupun Ayra, keduanya ikut melihat sepeda motor tersebut.


"Biarkan saja, setiap orang itu berbeda. Itulah gunanya sering keluar rumah, kita bisa melihat secara langsung tipe-tipe manusia di sekitar kita. Lihat pria bertatto di sana ...!" Lelaki itu menunjuk Dewa yang tak berkecil hati meskipun di antara pelanggan parkir ada yang tak membayar.


"Dia memang terlihat sangar, jahat dan kejam. Coba lihat wajahnya itu, orang akan mengira dia seorang penjahat, tapi apa yang kita lihat tadi? Dia tidak marah sama sekali saat ada yang tidak membayar parkir. Sebuah buku akan dikatakan bagus saat kita telah membaca isinya, tapi cover yang cantik selalu menarik semua pecinta buku untuk membelinya. Padahal, dia tidak tahu seperti apa isinya. Jadi, sayang. Jangan menilai orang hanya dari bentuk lahirnya saja, perhatikan perilakunya maka kita akan tahu dan dapat menilai sendiri. Kalian faham?"


Ia melirik kedua putrinya bergantian, masing-masing tangannya pula mengusap kepala mereka sambil menyematkan senyum di bibir. Ayra menunduk, ia merasa tersinggung dengan penuturan sang Ayah, tapi itu juga dijadikannya pelajaran untuk ke depannya.


"Tapi kak Bima bagus luar dalam. Dia tampan, juga baik. Suka menolong persis seperti Ayah," puji Nasya kembali pada pembahasan awal.


Ayra dan sang Ayah gemas dibuatnya.


"Ya, ya ... terserah kau, sayang. Kita pulang, Ibu kalian pasti sedang menunggu." Mereka tertawa bersama. Hari ini pelajaran berharga mereka dapatkan. Dari seorang juru parkir bertatto yang memiliki tingkat keikhlasan dan jarang dimiliki orang lain.


Tanpa sadar, Dewa yang memiliki insting yang kuat, ternyata memperhatikan mobil mereka. Ia curiga, dan firasatnya mengatakan mobil itu berkaitan dengan Bima.

__ADS_1


"Gua curiga ntu mobil, kagak ada orang yang turun tau-tau pegi aja. Apa gua diintai, ya? Gawat kalo begitu, gua kudu ati-ati mulai ni hari," gumam Dewa sambil menatap mobil yang baru saja keluar area parkir. Jendela kemudi terbuka, satu tangan terjulur dengan selembar uang sepuluh ribu di antara dua jarinya.


Pandang mereka bertemu, laki-laki pengemudi itu tersenyum saat melintasi Dewa. Sungguh terkejut Dewa dibuatnya.


"Ngapa mirip bener ama Bima, ya? Jangan-jangan ... gua kudu bawa Bima pindah dari ni kota. Kagak bisa ... kagak bisa gua biarin dia nemuin Bima. Bima anak gua. Biar bumi jadi langit, dia tetep anak gua." Dewa gelisah, ia melempar uang sepuluh ribu yang diterimanya dari pengendara tadi.


Gegas mendatangi teman-temannya, mengambil tas, dan pulang dengan cepat. Tak ingin menunda lagi, tak ingin menyesal. Dia akan membawa Bima dan istrinya ke lain kota. Apa pun alasannya, akan dia pikirkan nanti.


Semua gelagatnya tertangkap netra Ayra. Semakin bertambah kecurigaannya terhadap Dewa bahwa lelaki bertatto itu tahu sesuatu soal Bima. Dia yakin, keterkejutannya saat melihat wajah sang Ayah berkaitan dengan wajahnya yang serupa dengan bocah bernama Bima itu.


Aku tidak akan menyerah. Aku akan kembali menyelidikinya bagaimanapun caranya. Aku harus mencari tahu siapa dan di mana dia tinggal. Maafkan aku, Ayah. Bukan aku tidak mendengarmu, tapi aku masih penasaran dengan laki-laki itu.


Ayra bergumam tanpa ekspresi. Ia tersenyum kala sang Ayah meliriknya dari spion. Dalam otak kecilnya, Ayra sedang menyusun rencana.


Sementara Dewa pun, memicu sepeda motornya kebut-kebut. Malam ini juga dia akan membawa Bima pergi dari desa itu. Beruntung, perkenalannya luas, dia memiliki teman di mana pun dan ke mana pun dia pergi. Hanya tinggal menghubungi salah satunya dan meminta mereka mencarikan tempat tinggal untuk mereka tinggali. Mudah sekali.


"Gua kagak rela Bima diambil, gua kagak rela. Bima anak gua ... dia anak gua. Gua Babehnya, gua orang tuanya. Kagak bisa!" racaunya di atas motor.


Air matanya terjatuh dan diterbangkan angin. Kesedihan telah menyelimuti hatinya meskipun Bima masih bersamanya saat ini. Bima anak gua.

__ADS_1


__ADS_2