
"Kau ... siapa yang mengajarimu berbohong?!" hardik Aulia setelah mendengar ucapan Nasya. Gadis itu tidak mengatakan kebenaran bahwa kalung tersebut adalah milik orang lain yang harus dia kembalikan.
Nasya memandang Aulia tak percaya, suara tinggi wanita itu benar-benar membuatnya kecewa. Tak lama, ia memutuskan tatapan dan lebih memilih untuk menundukkan wajah. Aulia meneguk ludah, ia sudah menahan emosi sejak mendengar cacian Nasya untuk Ibrahim tadi. Jika saja Razka tak mencegahnya, bisa saja ia melakukan kekerasan terhadap putri bungsu mereka itu.
Ayra tak tahu harus apa, tapi ia tidak setuju dengan Aulia yang menghardik Nasya.
"Bu, tidak perlu membentak seperti itu? Kita hanya perlu membicarakan hal ini dengan kepala dingin, bukan?" ucap Ayra dengan lembut. Tak ingin memercik minyak di atas api.
"Benar, Aul. Kau harus tenang dengarkan dulu penjelasan Nasya, setelah itu kita bisa menarik kesimpulan," timpal Razka ikut menenangkan Aulia.
Namun, wanita itu terlanjur kecewa, ia kecewa karena menurutnya Nasya telah berbohong dengan mengakui kalung itu sebagai miliknya. Padahal, jelas-jelas itu milik Ibrahim sejak bayi.
"Kenapa kau membuatku kecewa? Kau tidak memiliki kalung yang sama seperti yang dimiliki Ibrahim, dan sekarang malah mengakui itu milikmu? Apa maksudmu, Nasya? Apa kau tidak ingin Kakakmu itu kembali ke rumah?" Suara Aulia kembali meninggi, Ayra gegas memeluk adiknya yang menganga tak percaya.
Razka menghela napas panjang, Aulia sudah bukan dirinya lagi.
"Bukan seperti itu, Bu. Kalung itu milik temanku, aku harus mengembalikannya karena dia pernah meminjamkannya padaku. Itu bukan miliknya. Dia pembohong, Ibu," jelas Nasya sambil menatap Aulia dengan tatapan penuh keyakinan.
Sementara di dalam kamar sana, pemuda yang mengaku sebagai Ibrahim itu tengah tersenyum menikmati drama keluarga ini.
"Bagus. Usir saja dia dari rumah, aku muak dengannya. Bisa-bisa kebohonganku terbongkar nanti," gumamnya sambil memandang kepalan tangan yang berisi kalung tersebut.
Aulia mendengus, ia tertawa kesal sebelum menatap nyalang Nasya. "Lihat, bukankah dia berbohong? Dia hanya mencari alasan saja karena tak ingin Ibrahim ada di rumah ini. Tadi kau bilang itu milikmu, sekarang kau bilang itu milik temanmu. Teman yang mana? Kau baru beberapa hari di sini, tidak mungkin rasanya ada orang lain yang langsung meminjamkan barangnya kepadamu. Terlebih jika itu barang berharga seperti kalung itu." Aulia tetap menolak, ia bersikukuh pada pemikirannya sendiri yang keliru.
"Sudah, Bu. Jangan bertengkar lagi hanya karena aku. Jika Adik tidak menginginkan aku ada di rumah ini, maka aku akan pergi saja dari sini. Maafkan aku, jika kehadiranku telah mengusik ketenangan keluarga kalian." Semua orang menoleh pada arah suara laki-laki yang tiba-tiba ikut menimpali.
__ADS_1
Dia, pemuda yang mengaku sebagai Ibrahim itu tengah berdiri dengan membawa tas miliknya. Wajahnya dibuat murung dan menyedihkan, berpura-pura merasa kecewa karena tak diterima oleh semua orang yang ada di rumah itu.
"Jika kau ingin pergi dari rumah ini, setidaknya kembalikan dulu kalung itu padaku. Itu bukan milikmu!" sengit Nasya tak memandang Aulia yang tengah bersedih sekaligus kecewa.
"Nasya! Keterlaluan!"
"Hentikan, Aul! Kau sendiri pun tidak memiliki bukti yang kuat untuk menyakinkan Nasya. Mungkin dia hanya belum bisa menerima kehadiran Ibrahim atau dia hanya ingin melindungi kita dari tipu daya orang-orang yang tidak bertanggungjawab," sergah Razka dikala Aulia bangkit dari duduknya dan hendak mendekati Nasya.
Aulia terpaku di tempat, kedua tangan mengepal erat. Gejolak emosi terus mengikis akal sehatnya. Sementara Nasya sendiri, tetap bergeming pada pendiriannya. Ayra merasa bersalah akan situasi yang sedang terjadi. Semua itu karena dia yang telah membawa pemuda itu ke rumah.
"Ayah, jadi Ayah juga tidak percaya padaku? Bagaimana ini, Kak Ayra? Bukankah Kakak yang memaksaku untuk ikut ke rumah, dan apa ini? Kenapa justru aku disudutkan dan Kakak tidak membela sama sekali?" Pandangannya ia jatuhkan pada Ayra. Mencari pembelaan dari orang yang telah membawanya ke rumah itu.
Ayra semakin dibuat bingung dengan situasi yang sudah tak sehat itu, rasa bersalah di hatinya semakin bertambah. Salahnya kenapa tidak menyelidiki terlebih dulu sebelum membawanya ke rumah. Salahnya karena langsung percaya begitu saja tanpa bertanya lebih jauh tentang kalung tersebut.
"Aku tidak tahu ... aku tidak tahu!" Ia meremas kepalanya sendiri, menunduk sambil menangis. Antara harus percaya atau tidak, dia merasa bersalah.
"Tapi, Ibu ... bahkan Kak Ayra sendiri tak dapat membelaku, sedangkan dia yang telah membawaku ke rumah ini. Bagaimana mungkin aku akan hidup tenang di rumah ini?" ucapnya berpura-pura bersedih.
Nasya mendengus, sesedih apa pun ia membuat mimik wajah, hatinya tetap tidak akan mempercayai semua itu.
"Ayra! Kau dengar itu! Kau yang membawanya ke rumah, seharusnya kau memberikan pembelaan padanya," sentak Aulia dengan derai air mata yang tak terbendung.
"Aul-"
"Diam, Kak! Aku ingin dengar Ayra berbicara!" tukas Aulia tak ingin Razka turut campur. Laki-laki berkacamata itu, mendesah pasrah. Ia memandangi kedua putrinya yang berbeda sikap.
__ADS_1
"Bagaimana aku harus membelanya, sedangkan hatiku sendiri tidak yakin dia Ibrahim atau bukan?" sahut Ayra dengan segala keraguan yang ada di hatinya.
Ia tak berani mendongak menatap semua orang, Aulia tercenung mendengar kalimat jawaban Ayra. Bukan itu yang dia inginkan. Bukan seperti itu seharusnya Ayra menjawab. Bukan!
"Ibu dengar! Bahkan Kak Ayra sendiri meragukanku, padahal aku memiliki bukti ini," ucapnya kembali memanasi Aulia. Merasa Aulia berada di pihaknya.
"Karena benda itu bukan milikmu! Jika kau tidak mengembalikannya aku akan mempertemukan kalian secara langsung," seru Nasya menantang penipu itu.
Lihat! Dia berubah gugup. Ada ketakutan nampak di matanya. Nasya tersenyum sinis, dan Ayra mendongak penasaran siapa pemilik kalung sebenarnya yang dimaksud adik bungsunya itu. Razka pun menebak-nebak dalam hati dan menunggu saat itu tiba.
"Diam kau! Jika kalian tidak bisa menerima kehadirannya, maka aku sendiri yang akan membelanya. Jangan pernah mengusik hidupnya sekalipun kalian berada dalam satu atap!" pungkas Aulia sebelum menarik tangan pemuda itu masuk ke kamarnya.
Razka memejamkan mata, ingin rasanya membongkar semua, tapi bagaimana dengan orang tua itu? Ia gamang. Di lain tempat telah berjanji tak akan mengambil Bima, di rumahnya sendiri kacau karena kehadiran orang yang mengaku sebagai anak mereka.
"Ay, kau harus segera menjalankan apa yang Ayah perintahkan! Jangan pergi sendiri, ajaklah Briant. Dia akan melindungimu dari bahaya apapun," ucap Razka menatap Ayra yang mematung setelah kepergian Aulia.
"I-iya, Ayah. Semua ini memang salahku. Salahku karena tidak menyelidikinya terlebih dahulu. Aku tidak mendengarkan kak Briant dan langsung membawanya," ucap Ayra sambil menangis menutupi wajahnya.
"Tidak apa-apa, sayang. Jangan merasa bersalah. Sekarang kau harus istirahat sebelum menjalankan misi dari Ayah," ucap Razka lagi sambil menyapu lembut kepala putri sulungnya itu.
Ayra meredakan tangis, mengusap air matanya. Ia mengangguk tanpa kata dan beranjak ke kamarnya sendiri. Menyusun rencana untuk misi yang akan dia jalankan bersama Briant.
"Nasya, kau yakin itu bukan miliknya?" Razka melanjutkan persidangan. Nasya mengendurkan urat-urat di tubuhnya kala mendapat tatapan lembut dari cinta pertamanya itu.
"Apa Ayah percaya padaku? Tidak mungkin aku berbohong. Seorang teman lama meminjamkannya padaku, dan aku harus mengembalikannya karena itu bukan milikku atau miliknya. Aku sudah bertemu dengannya, dan dia ada di kota ini di kampus yang sama denganku. Bagaimana jika dia menanyakannya, Ayah? Aku tidak sengaja menghilangkannya dan tidak ingat kapan persisnya kalung itu hilang," papar Nasya menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Hmm ... ini rumit. Rumit sekali. Apa kau bisa membawa pemiliknya ke rumah? Kita pastikan apakah benar kalung itu miliknya," pinta Razka lagi teringin tahu pemilik aslinya. Dalam pemikirannya, ia menebak bahwa Nasya telah mengenal Baim atau Bima. Dan berharap Bima-lah yang akan dia bawa.
"Akan aku coba."