Bima

Bima
Part. 69


__ADS_3

Mobil truk tersebut terus melaju menerobos parkiran restoran, menghantam mobil-mobil yang terparkir di sana termasuk mobil yang dibawa bima.


Bum!


Brak!


Prang!


Kepala truk itu menghantam dinding kaca restoran. Jerit memekakkan turut membumbung tinggi, mengudara hingga tersebar luas ke luar. Razka mematung, kakinya melemas. Isak tangisnya menguat, menjerit memanggil anak dan istrinya.


Ia berlutut di belakang truk tersebut, meremas rambutnya sendiri. Menunduk penuh penyesalan.


"Kalian tidak bisa meninggalkan aku! Kalian tidak boleh pergi dariku! Ibrahim, kau bahkan belum memanggilku Ayah! Kalian tidak boleh pergi!" teriaknya lagi. Sementara pemuda yang bersamanya, hanya berdiri di tempat tanpa berniat ingin menolong atau sekedar mencari tahu bagaimana kondisi Aulia.


Lihat saja bibirnya yang kehitaman itu! Tersungging bahagia. Liciknya!


Sirine mobil ambulance dan polisi menyingkirkan kerumunan manusia di lokasi tersebut. Tim medis dan kepolisian bahu-membahu menolong para korban. Termasuk supir truk dan kondekturnya yang terjepit kepala truk.


Razka pelan-pelan beranjak, ingin melihat para korban kecelakaan tersebut. Dalam hati berharap, Aulia dan Ibrahim bukanlah termasuk ke dalam korban.


"Tidak! Kalian harus selamat! Aulia ... Baim, Anakku! Kalian harus selamat. Setidaknya, panggil aku Ayah sekali saja," gumam Razka sepanjang kakinya melangkah mendekati para malaikat tak bersayap yang menolong para korban.


Satu per satu korban dibawa, termasuk pengunjung restoran yang tak sempat menghindar. Total terdapat sepuluh korban, termasuk di dalamnya supir dan kondektur truk yang paling parah.


"Pak! Temukan anak dan istri saya. Mereka tertabrak truk ini tadi, Pak. Tolong, Pak!" pinta Razka setelah tak mendapati Aulia dan Razka pada korban yang dibawa polisi dan tim medis.

__ADS_1


"Tertabrak? Kemungkinan mereka terlempar jauh dari sini." Polisi tersebut memerintahkan beberapa anggotanya untuk mencari di sekitar lokasi. Razka ikut mencari, hatinya sudah tak menentu, air matanya tak henti jatuh.


Sementara Ibrahim, pemuda yang bersama mereka itu berlalu tanpa peduli. Berbekal emas dan uang yang dicurinya, ia pergi meninggalkan lokasi. Entah apa yang akan dia lakukan, dan ke mana dia akan pergi. Tak ada yang tahu.


Berita tentang kecelakaan itu pun segera tayang di televisi. Di berbagai chanel televisi menyiarkan berita tentang sebuah truk yang menghantam restoran.


Razka frustasi, pasalnya kedua orang yang dia cari tak dapat ia temukan. Polisi yang ditugaskan pun telah kembali untuk melapor. Mereka hanya menemukan tas milik Aulia juga sebuah kunci yang diduga kunci mobil milik Bima.


Sementara tubuh keduanya tak ada di sana. "Apa aku harus kehilanganmu untuk yang kedua kalinya, Baim? Ya Allah ... jangan lakukan ini padaku! Kumohon selamatkan mereka di mana pun keduanya berada. Kumohon." Razka kembali terperenyak di atas tanah, berlutut sambil mendekap kedua barang yang ditemukan polisi tersebut.


Ia menangis sesenggukan, lupa pada pemuda yang beberapa hari tinggal bersamanya di rumah. Ia hanya ingin keduanya selamat, jika pun mereka menjadi korban, setidaknya tubuh keduanya ditemukan. Tidak hilang seperti dua puluh tahun silam.


"Aul! Ibrahim! Di mana kalian?" Lisannya tak henti bergumam, hatinya tak putus berharap. Ia semakin dalam menunduk. Hampir jatuh tersungkur di atas tanah.


"Kak!" Suara lirih Aulia mengusik indera rungunya. Razka terhenyak, kepalanya terangkat cepat. Telinganya awas mendengar. "Kak!" panggil Aulia lagi. Wanita itu berdiri di belakang tubuh suaminya, terisak dengan derai air mata yang deras.


"Aul! Sayang!" Razka berlari dan menubruk tubuh istrinya itu. Menangis bersama sambil tak henti mengucap syukur atas keselamatan istri dan anaknya, tapi tunggu ....


Seolah tersadar bukan hanya Aulia yang ia cari, tapi anak yang bersamanya juga. Di mana? Di mana Ibrahim?


Razka membuka mata, melepas pelukan. Kedua tangannya memegang bahu Aulia mengguncangnya dengan lembut.


"Dimana Ibrahim?" tanyanya dengan cepat. Aulia termangu, mendengar Razka yang menanyakan Ibrahim padanya. Setau dia anak itu bersamanya tadi.


"Ibrahim?" ulang Aulia memastikan. Razka tercenung, Aulia belum tahu jika Bima adalah Ibrahim. "Bukankah dia bersama Kakak tadi. Di sana ...." Aulia menoleh ke depan restoran dengan jari telunjuk mengarah pada pemuda yang tadi berdiri di sana. Lisannya kelu saat tak mendapati Ibrahim.

__ADS_1


"Ke mana dia? Ke mana Ibrahim?" Panik seketika menguasai hatinya. Ia yang hendak pergi ditarik Razka dengan paksa.


"Bukan dia yang aku cari, tapi Juan. Di mana Juan? Bukankah dia tadi berlari ke arahmu? Di mana dia sekarang, Aul!" Razka mengguncang bahu istrinya lebih kuat. Rahangnya beradu ketat, matanya mereka menyala. Ia tak peduli penipu itu, ia ingin Bima.


"Ju-juan? Dia pergi dengan cepat setelah menyelamatkan aku tadi. Kak, apa Kakak dengar dia memanggilku Ibu? Juan memanggilku Ibu, Kak. Apakah dia ... apakah dia ...." Tangis yang menyeruak tak dapat ditahannya, ia menutup mulut saat bayangan Bima yang berlari sambil memanggilnya Ibu tadi kembali membayang.


Razka terdiam, ia memeluk tubuh istrinya dengan erat. Mengusap punggung rapuh wanita itu.


"Apa dia Ibrahim yang sebenarnya, Kak?" Ia melepas pelukan, menatap Razka dengan matanya yang basah. Bola matanya berputar mencari kebenaran lewat manik kelam di hadapannya itu, "katakan, Kak! Apa dia anak kita? Ibrahim?" tuntutnya dengan kedua tangan memukul dada Razka kesal.


"Aku akan memberitahumu, tapi tidak di sini. Kau akan tahu sendiri setelah melihat buktinya, Aul. Aku akan mengajakmu ke tempat mereka," ucap Razka sambil memegangi kedua tangan Aulia yang memukul dadanya, "sebelum itu, apa kau terluka? Apa dia baik-baik saja?" Kembali bertanya soal keadaan mereka.


"Juan ... dia langsung berlari meninggalkan aku begitu saja. Aku bahkan belum sempat bertanya kepadanya. Dia baik-baik saja dan aku, hanya terkilir sedikit," ucap Aulia memberitahu.


"Syukurlah! Sebaiknya kita ke rumah sakit dulu untuk memeriksa keadaanmu," ajaknya seraya menuntun Aulia menuju mobil mereka. Beruntung, mobil Razka terpakir jauh dari lokasi kejadian.


"Kak, bagaimana dengan Juan? Apa Kakak tahu ke mana dia pergi?" tanya Aulia teringat akan Juan yang pergi entah ke mana.


"Kau tenang saja, aku tahu ke mana harus mencari dia. Kita akan sama-sama mendatanginya," sahut Razka yang diangguki Aulia. Keduanya melangkah dengan pelan dan hati-hati karena kaki Aulia yang terkilir.


"Di mana Ibrahim? Kenapa dia tidak terlihat?" Aulia mengedarkan pandangan ke segala tempat mencari sosok pemuda yang selama ini mengaku sebagai Ibrahim.


"Aku tidak tahu, aku tidak memperhatikannya tadi." Razka tak acuh. Ia tak peduli jika pun pemuda itu pergi dan tak kembali. Ia tak ingin melihatnya lagi.


"Ayah! Ibu!" Suara panggilan itu menghentikan tangan Razka yang hampir menjeremba pintu mobil. Keduanya menoleh dan mendapati seorang pemuda dengan wajah panik dan mata yang basah berdiri di belakang tubuh mereka.

__ADS_1


Keduanya saling menatap sebelum kembali pada Ibrahim palsu itu. "Aku mencari kalian. Apa Ibu baik-baik saja? Aku takut terjadi sesuatu pada Ibu tadi. Maafkan aku, Ibu. Maaf. Aku terlalu syok dan kaget," katanya sambil membawa langkah mendekati mereka berdua.


"Tidak apa-apa, Ibu baik-baik saja. Kita pulang." Aulia harus menahan diri sampai ia melihat bukti yang akan ditunjukkan Razka padanya. Pemuda itu ikut masuk ke dalam mobil. Razka pun tetap menahan hatinya, ia ingin segera memperlihatkan bukti itu pada Aulia. Ia akan menyerahkan hukuman pemuda itu pada istrinya.


__ADS_2