
Razka menelisik wajah canggung di hadapannya, pemuda itu menggigit bibir sembari memalingkan wajah dari tatapan sang Ayah. Ada apa dengannya?
"Memangnya ada apa? Apa sekarang kau mau bekerja di restoran Ayah?" selidik Razka tanpa berminat menghindari tatapan putranya.
Ia mengulum senyum, dikala Bima mengusap rambut gugup masih dengan wajah yang terbuang. Bima terpejam sejenak sebelum menjatuhkan pandangan pada manik laki-laki berlesung pipi itu.
"Mmm ... temanku sedang membutuhkan pekerjaan. Dia kesulitan mencari kerja karena hanya berbekal ijazah SMA saja. Apa Ayah bisa membantunya?" katanya lengkap dengan manik penuh pengharapan tanpa ingin adanya penolakan.
Razka terdiam, menilik pancaran iris kelam yang serupa dengannya itu. Di sana, ia menemukan cinta sang putra. Cinta pada seseorang yang akan mendampingi hidupnya kelak.
"Perempuan?" tembak Razka. Seketika raut wajah Bima berubah pias. Tak menyangka bahwa laki-laki di depannya itu dapat dengan mudah menebak apa yang ia sembunyikan.
Anggukan pelan dengan wajah yang menunduk menjawab tebakan sang Ayah. Mau bagaimana lagi? Apakah dia harus berbohong? Sungguh tidak mungkin.
"Baik. Bawa dia menghadap Ayah petang nanti, Ayah tunggu di restoran," katanya seraya menyeruput teh yang masih mengepulkan asap tipis.
Bima mengangkat wajah, binar matanya telah pun berubah. Bibirnya terlipat menahan senyum kebahagiaan yang teramat. Tak lama Nasya datang, keduanya berpamitan pergi ke kampus bersama.
Kening gadis itu mengernyit melihat tingkah pemuda yang tak henti bersenandung di sepanjang jalan. Ia bergidik tatkala kedipan nakal terlempar ke arahnya.
"Apa Kakak sedang jatuh cinta? Kenapa sedari tadi terus bernyanyi?" sungutnya melirik tajam pada Bima yang justru terkekeh mendengar pertanyaan darinya.
Tak ada sahutan, hanya hendikan bahu yang ia lakukan sambil terus memutar kemudi menuju kampus mereka.
"Ish! Kakak!" Kedua mata Nasya melotot lebar, ia memukul-mukul lengan Bima saat sebuah kecupan mendarat di pipinya. Terbahak pemuda itu, betapa senang menggoda sang adik seperti tadi.
"Udah, udah. Sakit! Emang kagak boleh gua cium pipi lu? Lu, pan, Adek gua," seru Bima sambil menahan kedua tangan Nasya. Ia memainkan alisnya naik dan turun, terus menggoda sang adik yang sudah merona merah kedua pipinya.
Nasya memberengut, menarik tangannya dengan kuat. Cepat-cepat keluar mobil dan berlari meninggalkan Bima sendirian di dalam sana. Lagi-lagi ia tertawa geli, merasa lucu melihat tingkah Nasya yang menggemaskan.
__ADS_1
Namun, senyumnya bertukar kerutan di dahi, kala ia menangkap sesosok pemuda yang mendatangi adiknya. Pemuda yang duduk bersama gadis itu kemarin. Yah, dia harus menyelidiki bagaimana sesungguhnya dia.
Bima turut keluar dari mobil, menghirup udara dalam-dalam mengisi paru-parunya yang mengempis. Betapa ia rindu dengan sahabatnya, motor itu. Bagaimana kabarnya?
Bima berjalan menyusuri lorong kampus menuju kelas. Ia tak acuh ketika melihat Yola yang tengah menggoda teman prianya. Tak sabar menanti petang, ingin segera bertemu dengan sang pujaan hati.
Kak, aku akan pergi bersama teman-teman sepulang kuliah. Ada tugas kuliah yang harus dikerjakan secara kelompok.
Sebuah pesan singkat yang dikirimkan Nasya padanya mengganggu konsentrasi Bima saat belajar di kelas.
Ke mana? Ia membalas.
Hanya di cafe yang tak jauh dari kampus, Kak. Aku sudah meminta izin Ayah, tapi Ayah menyuruhku meminta izin Kakak.
Ok. Lu kirim lokasi lu kalo udah di sana. Lu kagak boleh pulang bareng mereka, biar gua jemput kalo udah selesai!
Pesan tegas yang dikirimkan Bima menjadi ultimatum kertas untuk Nasya. Balasan singkat yang ia berikan. Pesan singkat yang dikirimkan Nasya entah mengapa tiba-tiba membuat perasaannya menjadi buruk.
"Dek!" panggil Bima. Nasya berlari menghampiri berdiri tegak di hadapannya. Di belakang, ketiga teman Nasya menyusul dan menunggunya.
"Lu kudu ati-ati, kalo ada apa-apa buru-buru telepon gua. Perasaan gua kagak enak soalnya. Oya, gimana ama cowok kemarin?" tanya Bima menyelidiki.
"Mmm ... iya, Kak. Itu, aku sudah jadian tiga hari lalu. Maaf karena tidak memberitahu Kakak," katanya menunduk karena merasa bersalah.
Bima mengusap kepala gadis yang dibalut hijab itu, ia menyentuh dagunya mengunakan jari telunjuk, mengangkat wajah sang adik untuk bertatapan dengannya.
"Kagak apa-apa, inget pesen gua lu kudu ati-ati. Gua punya perasaan yang kagak enak ama tu cowok. Gua kagak larang lu buat hubungan sama siapa aja," ucap Bima pelan sambil tersenyum.
Nasya mengangguk, ia kembali pada temannya setelah mendapatkan izin dari Bima. Beginilah rasanya memiliki Kakak laki-laki. Asiknya diperhatikan, dimanja dan dilindungi. Nasya Berbunga dengan sikap Bima yang menjaga.
__ADS_1
Betapa ia beruntung menjadi adiknya. Bisa selalu dekat tanpa takut berjauhan apalagi saling melupakan. Sikap Bima hangat terhadapnya sebagai seorang Kakak.
Bima melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, ia tersenyum. "Waktunya menjemput sang pujaan hati!" serunya seraya berjalan meninggalkan gedung kampus.
Tak sabar hatinya ingin segera bertemu. Ia keluar dari mobil sengaja sedikit jauh dari rumah Khaira. Berjalan menyusuri gang, berpapasan dengan anak-anak kecil yang membawa belanjaan. Mungkin dari warung sang kekasih.
"Assalamualaikum!" Suara salamnya mengagetkan Khaira yang tengah duduk menunggu dengan gugup yang menguasai hatinya.
"Kakak! Wa'alaikumussalaam!" sambutnya seraya berdiri salah tingkah sendiri. Rok hitam selutut, kemeja putih berlengan panjang, rambut indah bergelombang dikepang rapi tersampir di bahu kiri.
"Cantik! Tapi mungkin lebih baik kalo lu pake ini!" Bima mengangkat sebuah paper bag di tangan, ia menyerahkannya pada Khaira sambil tersenyum.
"A-apa ini?" Bertanya dengan terbata. Khaira melongo ke dalam melihat isi di dalamnya. Entah apa itu? Yang pasti, terlihat seperti pakaian.
"Pake aja, gua tunggu di luar. Ibu ke mana?" ujar Bima sambil mendaratkan bokong di sebuah bale-bale terbuat dari bambu.
"Ibu ke pengajian, sebentar lagi pulang. Aku ganti dulu, Kak," katanya yang diangguki Bima. Ia masuk dan mengeluarkan apa yang dibawa Bima.
Matanya berkaca melihat sesuatu yang dibawa calon suaminya itu. Sebuah celana panjang berwarna hitam dan kerudung berwarna putih, ia mematut diri di depan cermin, mengenakan asal kerudung tersebut di wajahnya. Bibirnya tersenyum, indah merekah.
Setelah merapikan tampilannya, Khaira keluar dengan penuh percaya diri. Pakaian tertutup seperti ini, membuatnya merasa nyaman juga aman.
"Lebih cantik dari sebelumnya! Calon bidadari gua, kagak sabar rasanya gua buat nikahin lu, Ra," ujar Bima yang terpesona dengan kecantikan gadis berbalut hijab di hadapannya itu.
Khaira tersenyum malu, ia menyalami sang Ibu yang tengah duduk berbincang dengan Bima saat itu.
"Nak Bima benar, kau cantik sekali mengenakan kerudung ini, sayang. Semoga istiqamah terus," ucap Ibu sambil memberikan pelukan hangat untuk sang putri.
Keduanya pamit menuju lembaran baru hidup Khaira.
__ADS_1
"Entar gua beliin lagi baju-baju kaya gitu buat lu. Biar lu istiqamah kata Ibu," ucap Bima sesaat sebelum ia menjalankan mobilnya.
"Terima kasih."