Bima

Bima
Part. 135


__ADS_3

Menjelang hari H, seluruh persiapan untuk acara pernikahan Ayra dan Briant telah rampung dilakukan. Banyak pihak terlibat untuk kelangsungan acara tersebut, termasuk para pegawai restoran yang dikerahkan Razka untuk urusan dapur. Tim keamanan Pratama Grup juga telah bersiap dengan seragam mereka.


Setiap malam mereka mendapatkan instruksi dari Bima selaku pengganti Briant. Meskipun canggung karena bekerja ditemani oleh Tuan Muda sendiri, tapi sebisa mungkin Akmal tetap bekerja secara profesional.


Bima memang pantas mengepalai tim kemananan perusahaanya, di bawah perintahnya langsung semua anggota telah bersiap menghadapi kemungkinan yang terjadi pada acara.


Di sisi lain kesibukan rumah besar, satu hati tengah berbunga. Hubungan antara siswa dan dosen sepertinya akan berhasil. Nasya menyukai perhatian-perhatian kecil yang diberikan pria tersebut. Ia juga kerap mengirimkan hadiah sebagai penyemangat Nasya dalam belajar.


Namun demikian, keduanya bungkam dari publik. Tak ada yang tahu soal kedekatan mereka bahkan ketiga sahabatnya sendiri pun tidak mengetahui hal itu.


Hari yang ditunggu dua sejoli untuk menyatukan visi dan misi mereka dalam biduk rumah tangga pun tiba. Ketegangan jelas terlihat di raut wajah Briant. Peluh seringkali turun dari dahi merembes hingga ke lehernya.


"Tenang, Nak. Kau tak perlu tegang. Bukankah kau sudah berlatih dengan giat? Mommy yakin, kau akan bisa menghadapi kegugupanmu itu," ujar Sasa memberi ketenangan pada putranya.


Hentakan napas yang dilakukan Briant mengurai sesak yang menghimpit rongga dada karena ketegangan yang melanda.


"Aku gugup, Mom. Benar-benar gugup," katanya sedikit bergetar.


"Kau tak harus gugup, sayang. Mereka semua telah menerimamu. Tak seperti Daddy dan Mommy yang perlu perjuangan keras untuk dapat bersatu," sambar Rendy yang melangkah pelan memasuki kamar putranya.


"Daddy?" Lelaki itu tersenyum saat pandangnya beradu dengan milik Briant. Ia mendekat, menepuk dua kali bahu putranya sebelum memeluk.


"Sama seperti Mommy, Daddy juga yakin kau akan bisa melawan gugupmu," bisiknya yang menambah keyakinan pada hati Briant.


Ia melepas pelukan, berpindah pada Sasa yang tersenyum haru melihatnya. Masih jelas dalam ingatan, disaat ia berjuang mencari Ayah dari anaknya. Meninggalkan negaranya hanya untuk bertemu dengan suami yang diusir orang tuanya dari rumah.


Masih jelas dalam ingatan, disaat Briant kecil terus bertanya padanya 'Apa Mommy sudah bertemu Daddy?'. Air matanya menetes mengingat anak kecil yang dibawanya telah tumbuh dewasa dan akan segera menerima tanggung jawab atas hidup anak orang lain.


"Jangan menangis, Mom! Aku tak bisa melihat Mommy menangis lagi," katanya sembari mengusap air mata di pipi Sasa.


Wanita itu mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Sedang apa kalian? Apa kita tidak akan pergi?" pekik Lucy dengan penampilannya yang menarik dan ceria. Dia memang anak yang ceria.


"Kita berangkat sekarang, sayang," ucap Sasa seraya menggandeng Briant keluar kamar.


Briant merangkul bahu Lucy dan mengecup pucuk kepalanya.


"Jangan menggoda Tuan Muda, beliau sudah memiliki calon istri," ingat Briant yang dapat didengar jelas oleh kedua orangtuanya.


Lucy berdecak kesal. Ia berpaling saat dua pasang mata menatapnya tajam.


"Kau menyukai Tuan Muda? Benarkah?"


"Sejak kapan kau menyukainya?"


Kedua mulut itu bergantian menggoda putri mereka yang sudah merona.


"Tapi, sayang. Yang dikatakan Kakakmu benar. Tuan Muda sudah memiliki calon istri hanya saja masih disembunyikan. Jangan kecewa dan patah hati, jodohmu mungkin sedang dalam perjalanan," ucap Sasa mengusap kepala putrinya yang cemberut.


"Mommy pikir jodoh itu barang yang dibeli secara online? Sedang dalam perjalanan. Ada-ada saja," cibirnya tak urung tersenyum jua.


Sementara di dalam kamar pengantin, Ayra tak kalah gugup. Ia ditemani Nasya yang terus memperhatikan dirinya lewat cermin besar di sana.


"Kenapa kau terus melihat Kakak? Apa riasan ini terlalu tebal?" tanya Ayra seraya menatap pantulan dirinya dalam cermin. Nasya menggelengkan kepala.


"Riasan Kak Zia memang top. Aku ingin belajar padanya. Kakak benar-benar mirip dengan Ibu Aisyah. Aku khawatir Ayah justru tak rela Kakak dinikahi laki-laki lain," cerocos Nasya sembari memeluk Ayra dari belakang tubuhnya.


Tersipu wajah cantik itu. Kepalanya menggeleng pelan, merasa konyol dengan pernyataan adiknya itu.


Suara pintu berderit membuat keduanya menoleh. Di sana, Aulia dan Sasa berjalan pelan sambil tersenyum.


Seandainya itu kau, Ibu ... kebahagiaanku akan terasa lebih sempurna.

__ADS_1


Meski dilawan dan ditolak sekalipun, tetap saja hatinya merindukan sosok Aisyah. Terlebih saat seperti ini. Seharusnya Aisyah yang menemani, menuntun dan menyerahkan ia pada laki-laki yang telah berstatus suami untuknya.


Rindu itu ada dan tak pernah terobati. Hatinya tak pernah lupa menyebut dan memanggil sosoknya yang telah pergi. Berharap ia akan dapat merasakan hadirnya seperti waktu kecil dulu.


"Sayang, kau cantik sekali, Nak." Aulia menyentuh dagu Ayra dengan telunjuknya. Mengusap pipi gadis yang beberapa menit lagi akan terlepas masa lajangnya.


"Kau pasti gugup. Sama seperti calon suamimu tadi. Apa kau tahu, tangannya bahkan sampai basah oleh keringat karena terlalu gugup, tapi dia berhasil melawannya dan sekarang sudah berhadapan dengan penghulu," ungkap Sasa menghibur Ayra.


Ayra tersenyum, air matanya menggenang di ujung pelupuk. Ditahannya agar ia tak jatuh dari sana.


Gadis itu tertegun saat ia melihat Razka berdiri di ambang pintu. Menatapnya dengan sendu dan pandangan yang penuh kerinduan.


"Ayah!" panggilnya lirih. Kedua wanita yang mengerti memberikan mereka waktu berdua. Aulia bahkan menarik Nasya untuk ikut keluar dari kamar Kakaknya.


Langkah Razka mengetuk lantai kamar putrinya. Melihat Ayra, teringat pada pernikahannya dulu bersama Aisyah. Gadis itu nampak cantik, persis seperti mendiang sang Ibu dulu. Razka seperti melihat Aisyah dalam diri putrinya.


"Sayang!" Direngkuhnya tubuh Ayra ke dalam pelukan. Air mata jatuh tanpa ia sadari.


Aisy, kaukah di sini? Aku melihat dirimu dalam diri putri kita. Apa kau juga merindukan aku, sayang?


Hatinya menjerit, saat bayangan Aisyah yang pergi secara tiba-tiba melintas kembali dalam benak. Ayra termangu saat isak tangis Razka membuat tubuhnya terguncang.


"Aisy!" Jatuh air mata Ayra dikala suara Razka menyebut nama ibunya dengan lirih. Ia dapat merasakan rindu yang mendalam dalam diri laki-laki itu. Sejujurnya, ia rapuh.


"Ayah?" Ayra bersuara menyadarkan Razka dari bayang-bayang Aisyah yang datang.


Ia mengurai pelukan, mengusap kedua pipi sang putri sambil tersenyum.


"Kau mirip sekali dengan mendiang Ibumu, sayang. Benar-benar mirip. Kenapa rasanya Ayah tidak rela melepaskanmu untuk orang lain?" guraunya sambil terkekeh sendiri.


Ayra mengusap kedua pipi laki-laki itu, bibirnya tersenyum, pandangannya lekat pada manik sang Ayah.

__ADS_1


"Ayah merindukan Ibu? Aku juga merindukannya, Yah. Apa Ibu saat ini ada di antara kita? Aku hanya ingin Ibu menyaksikanku menikah hari ini," ungkapnya tanpa berpaling dari tatapan Razka.


Laki-laki itu tak dapat menyahut, hanya mengangguk dan kembali memeluk anaknya. Akad sebentar lagi akan dimulai, di ambang pintu Bima menyusul.


__ADS_2