Bima

Bima
Part. 93


__ADS_3

"Apa? Jadi kau gagal menabraknya?!" Seorang laki-laki paruh baya mencengkeram dagu pemuda yang tertunduk di hadapan. Mengangkatnya hingga wajah itu mendongak meskipun pandangannya terjatuh ke bawah.


Tubuhnya gemetar ketakutan, keringat rembes di dahi hingga ke leher.


"Apa saja yang kau bisa hingga melakukan pekerjaan seperti itu saja tidak becus!" hardiknya tepat di depan wajah sang pemuda, lantas menghempaskannya dengan kasar. Wajah itu tertoleh dengan kuat, anak muda itu meringis merasakan sakit di bagian leher.


"Aku sudah memberikan uang yang kau pinta, tapi kau malah mengecewakanku! Aku tidak mau tahu, bagaimana caranya kau membuat keluarga itu hancur atau ... mati saja sekalian! Aku tidak ingin mendengar kata gagal darimu. Jika tidak, tak ada lagi uang dan fasilitas lainnya. Dengarkan itu!" tegasnya lagi seraya berbalik meninggalkan pemuda tadi yang mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


Pemuda itu memejamkan mata rapat-rapat menepis segala emosi yang kian mencuat. Apa saja sudah ia lakukan, tapi tetap salah di mata mereka. Tetap saja dianggap tak bisa melakukan apa-apa.


Suara gerakan sofa di hadapan, membuat kepalanya terangkat. Wanita yang bergelar Ibu dalam hidupnya itu bangkit dari duduk dan menghampiri. Matanya yang tajam mengarah tepat di manik pemuda yang tak lain adalah anaknya itu.


"Kenapa kau selalu membuat kami kecewa? Padahal, kami selalu menuruti apa yang kau inginkan. Sekali saja ... sekali saja lakukan apa yang kami perintahkan dengan baik. Jangan terus-menerus membuat kami kecewa dan menganggapmu tidak becus apa pun," katanya sembari melangkah semakin dekat dengan sosok di hadapannya.


Ia menepuk pundak sang anak, tersenyum mengintimidasi dirinya.


"Lakukan apa yang Ayahmu bilang dengan baik dan hati-hati. Kali ini, buatlah dia bangga agar mau menyerahkan seluruh hartanya kepadamu. Kau bisa melakukannya untuk Ibu, bukan? Kau anak Ibu, jangan kecewakan hati Ibu, Nak," lanjutnya penuh tekanan.


Setiap kata yang diucapkannya, selalu menggetarkan jiwa dan raga sang pemuda. Dalam hati menolak, tapi ia tak mampu melawan. Hanya anggukan kepala yang dapat ia berikan tanpa mampu mengutarakan keberatan.


Ia sama sekali tidak tahu siapa yang coba dia sakiti selama ini, orang tua itu hanya mengatakan bahwa wanita dan laki-laki di rumah itu telah membuat mereka menderita seumur hidup dan menanggung beban malu seumur hidup pula.


"Ibu mengandalkanmu!" pungkasnya sambil menepuk lagi pundak tegar sang pemuda. Ia berbalik menyusul suaminya tanpa rasa berdosa sedikit pun.


Air mata pemuda yang tak lain adalah Lucky itu jatuh usai kepergian sang Ibu. Ia menunduk dalam-dalam menyesali hidupnya. Bahunya bergetar karena menahan desakan tangis yang semakin membuncah.

__ADS_1


Kenapa orang tua itu selalu menekan hidupku? Sekali saja aku ingin diperlakukan layaknya seperti anak-anak yang lain diperlukan orang tuanya.


Ia mengangkat wajah menatap arah kedua orangtuanya pergi. Tubuhnya berbalik meninggalkan ruang tamu yang selalu menjadi ruang sidang untuknya itu. Sidang atas perkara dari misi yang ia jalankan, ruang yang tak pernah memberikannya senyum kebahagiaan dari kecil.


Apakah mati lebih baik untukku? Sebenarnya siapa mereka? Kenapa Ayah dan Ibu teramat ingin hidup mereka hancur? Kulihat mereka orang-orang baik. Selama hidup bersama mereka, aku baru merasakan kasih sayang orang tua. Bagaimana rasanya diperhatikan? Bagaimana rasanya diperlalukan seperti anak? Aku ingin kembali pada keluarga itu, tapi rasanya tidak mungkin.


Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan air mata yang kian menganak sungai. Menjatuhkan tubuh di atas ranjang, menelungkup menyembunyikan wajah yang basah di dalam bantal.


Suara jeritan yang ia lakukan redam karena tertahan bantal. Kedua tangannya erat mengepal menahan luapan emosi dalam jiwa.


Ingin pergi saja dari rumah itu, sekalian saja mati karena hidup pun percuma. Ia merasa hanya dijadikan alat balas dendam saja oleh kedua orangtuanya.


Meninggalkan Lucky yang meratapi nasibnya, menyesali hidupnya, kembali pada Bima yang masih nampak bingung melihat ekspresi kedua gadis di hadapannya. Terutama Nasya yang menatap dengan mata melotot lebar.


"Apa Kakak sungguh-sungguh tahu, siapa itu Revan?" tegasnya lagi mendekatkan wajah pada Bima yang tertegun. Kedua tangan menumpu di kedua sisi ranjang. Pemuda yang terbaring di atas ranjang pesakitan itu, hanya mengangguk gugup karena begitu dekatnya wajah mereka.


"Revan itu teman gua." Bima memalingkan wajahnya yang memanas, mendorong hidung Nasya yang hampir menempel dengan hidungnya. Membuat wajah gadis itu menjauh dan memberi ruang pada dua lubang di hidung untuk menarik udara.


"Mmm ... mmm ... mmm ...." Nasya menggeleng-gelengkan kepala dengan kedua tangan terlipat di dada. Menatap Bima yang termangu dalam rasa bingung yang menggantung.


"Dia anaknya Bibi Emilia dan Paman Fahru-"


"Aku tahu," tukas Bima cepat untuk pernyataan Nasya. Ya, tentu saja dia tahu nama orang tua Revan, tapi tak tahu jika mereka adalah Paman dan Bibinya.


"Ish ... dengarkan dulu!" sungutnya tak terima, "bibi Emilia itu adalah adik Ayah, adik kandung Ayah. Apa Kakak mengerti apa maksudnya?" tekan Nasya terdengar gemas melihat reaksi bingung masih melekat di wajah sang Kakak laki-laki.

__ADS_1


Sementara Dewa dan Tina sudah mengerti, mereka sedikit syok, tapi saat mengingat kedekatan keduanya tak diragukan lagi. Razka dan Aulia mengulum senyum, Ayra menggeleng-gelengkan kepala.


"Kau jangan membuatnya bingung, langsung saja pada intinya. Revan itu-"


"Sepupu kita, Kakak. Sepupu kita!" Nasya menukas cepat ucapan Ayra. Ia tak ingin didahului Kakaknya untuk memberitahu Bima soal status Revan dalam keluarganya.


Bima melebarkan bola mata, terkejut bukan main saat mendengar siapa itu Revan.


"Se-sepupu? Revan ... sepupu kita? Kagak salah lu?" ucap Bima yang diselingi batuk karena dada secara tiba-tiba menyempit.


"Kau mengejutkan Kakakmu, sayang." Aulia melirik sang putri bungsu yang nampak puas telah meluapkan isi hatinya.


Tina buru-buru menyambar gelas, dan membantu Bima untuk meneguk air. Mengusap-usap dadanya untuk mengurai sesak yang menghimpit.


"Benar, Nak. Revan dan Akmal adalah sepupumu. Selama ini kau bekerja pada Pamanmu sendiri, dan perusahaan itu seharusnya milikmu. Kau yang berhak menduduki kursi CEO di sana. Ayah akan memperkenalkan dirimu pada mereka semua," timpal Razka memperkuat keterangan Nasya.


Kali ini, Dewa yang membelalak karena terkejut. Ia dan Tina tak menyangka jika anak yang diasuh mereka merupakan seorang pewaris dari perusahaan terbesar di kota itu. Ini benar-benar kejutan untuk mereka. Pantas saja Razka menempatkan Bima di ruangan elit seperti saat ini.


"Bapak tidak perlu terkejut. Anak kita adalah seorang yang hebat, aku yakin dia mampu memimpin perusahaan itu," ucap Razka sambil menatap Dewa yang masih termangu dengan senyum keyakinan.


"Tapi, Ayah ... aku tidak ingin memimpin perusahaan itu. Aku ingin bekerja sesuai kemampuanku. Bukan aku menolak, tapi aku merasa tidak mampu. Biarkan saja Tuan Muda yang memimpinnya_"


"Kau Tuan Muda itu, Ibrahim. Bukan dia! Berhenti menyebutnya Tuan Muda, dia sepupumu!" tukas Ayra tegas terdengar.


Bima memutar bola mata pada Kakaknya itu. Ia tersenyum sebelum berucap, "Tapi mereka belum tahu siapa aku, Kak. Biarkan saja seperti ini dulu, aku yang akan memberitahu mereka pelan-pelan."

__ADS_1


Meski ada drama perdebatan antara Ayra dan Nasya juga Aulia tentu saja, tapi melihat Bima yang bersungguh-sungguh mereka pun menurut.


__ADS_2