
Jelaga malam perlahan turun menyelimuti jagat. Membawa deru udara dingin yang melekat. Langkah ramai terdengar di jalanan, bincang-bincang ringan pun ikut didengungkan. Pemuda itu berjalan seorang diri, mengenakan koko dan sarung lengkap dengan peci pula.
"Eh ... Nak Bima, silahkan! Sesekali anak muda yang menjadi imam," ujar salah satu warga menepuk bahu pemuda itu. Ia yang baru saja menggelar sajadah, berhenti dalam bungkuk. Menoleh bingung pada laki-laki sepuh yang menjadi guru ngajinya selama ini.
"Em ... Pak Ustadz ...." Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, gegas menyalami laki-laki itu ketika sadar siapa yang berdiri di sampingnya.
"Ada apa? Sesekali kaum muda memimpin di depan, tidak ada masalah, bukan? Bapak yakin kamu sudah mampu mengimami masyarakat di sini," ujarnya lagi semakin membuat Bima salah tingkah.
Ia melirik sekitar, ada sebagian yang tersenyum ke arahnya. Beberapa mengangguk mendukung ujaran pak ustadz. Di antara mereka, sepasang mata berkaca-kaca menatapnya.
"Tapi Bima merasa belum mampu, Pak Ustadz. Bacaan Bima saja tidak fasih seperti yang lain. Bima takut salah." Ia menunduk, tak berani memandang manik berkabut di kejauhan yang dipenuhi harapan.
Pak ustadz menepuk bahunya dua kali, tersenyum bibir keriputnya memandang kerendahan hati yang dimiliki Bima.
"Bapak sering dengar Bima mengaji setiap bulan ramadhan. Bapak rindu bacaan anak Bapak ini. Bisakah Bima memberikan penawar rindu pada hati Bapak yang sudah renta ini?" ucapnya diselingi batuk yang dibuat-buat untuk meyakinkan Bima.
"Ayo!" Tangan rentanya memimpin Bima mendekati letak sholat imam. Pemuda itu bergeming, masih menunduk belum berani mengangkat wajah.
"Pak Ustadz ...." Tangan kanan laki-laki sepuh itu terangkat menolak protes dari Bima. Ia mengangkat wajah, menghadap kepada para jamaah yang telah berbaris. Di sana, di shaf yang ketiga, Dewa tersenyum bangga padanya. Ia mengangguk dengan matanya yang mengembun. Anak gua! Bergumam dalam hati yang dipenuhi rasa syukur.
Bima melirik pak ustadz yang berada di shaf pertama, bibirnya tersenyum kepalanya mengangguk pelan memberi dukungan kepada Bima. Iqamah dilantunkan. Semua jamaah berdiri tegak di barisan masing-masing.
Bima menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia berbalik menghadap para jamaah dengan sikap takzim yang jarang dimiliki anak muda di zaman ini. Meyakinkan hatinya bahwa ini adalah ilmu baru yang harus dia ambil manfaatnya.
"Sawuu shufuufakum, fainna taswiyatash-shoffi min tamamish-sholaat. Luruskan shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah kesempurnaan sholat," ucapnya penuh wibawa.
__ADS_1
Kagak nyangka gua, anak gua dipercaya dan bisa jadi imam sholat di mari. Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih atas segala nikmat yang Engkau limpahkan kepada keluarga kami.
Dewa menyeka sudut matanya. Ia ikut menimpali bersama jamaah lainnya, "Sami'naa wa atho'naa." Yang artinya, "Kami mendengar dan kami patuh."
Bima berbalik menghadap kiblat setelah memastikan semua jamaah meluruskan barisan. Niat dibacanya, sholat Maghrib waktunya. Tangan diangkatnya, suara takbir menggema ke seluruh penjuru masjid bahkan terdengar hingga ke rumah-rumah penduduk di sekitarnya.
"Allaahu Akbar!"
"Allaahu Akbar!"
Ayat demi ayat dilantunkan Bima dengan nada murottal menyejukkan. Dewa meneteskan air mata dalam shalatnya. Teringat akan dosa-dosa yang dulu ia lakukan. Tak pernah mengingat Tuhan, apalagi beribadah kepada-Nya.
Lantunan suara Bima mengusik Tina yang baru selesai mengambil wudhu. Wanita itu shalat di rumah. Matanya berkaca, hatinya berdegup. "Anak gua." Lisannya bergumam lirih.
Suara itu meskipun terdengar jauh, tapi telinga Tina awas mendengarnya. Ia mendirikan sholat mengikuti takbir dari suara Bima.
Bima kembali berbalik, menengadahkan tangan setelah hembusan napasnya yang panjang. Doa-doa usai shalat mengalir bagai arus sungai yang tenang. Dewa terisak, bahunya terguncang hebat. Ia tak dapat lagi menahan laju tangisnya ketika Bima melangitkan doa untuk kedua orang tua.
"Robbighfirlanaa dzunuubanaa wa liwaalidiinaa warhamhumaa kamaa ribbuunaa shighooroo." Diulang-ulangnya doa itu sebanyak tiga kali. Bima berbalik, menyalami ustadz dengan takzim.
Jama'ah di samping Dewa menepuk bahunya usai mengusap wajah. "Bapak Dewa pasti bangga memiliki anak yang luar biasa seperti nak Bima. Bapak sangat beruntung, di dunia ini saja sudah memiliki tabungan." Ia beranjak usai mengungkapkan isi hatinya. Dewa tak menanggapi, anggukan kepalanya menjawab tanpa kata.
"Beh!" Bima duduk bersimpuh di hadapannya yang masih tertunduk menutup wajah. Dewa mengangkat kepala, direngkuhnya tubuh Bima dengan tangis yang berlanjut.
"Babeh bangga ama lu. Makasih lu udah buat Babeh ngerasa berguna di hari tua Babeh ini," tuturnya sambil menepuk-nepuk punggung Bima dengan bangga.
__ADS_1
"Pak Dewa sungguh termasuk orang-orang yang beruntung. Salah satu amal yang tak akan putus walaupun kita telah ditimbun dengan tanah adalah anak yang sholeh. Yang selalu mendoakan kedua orang tuanya." Pak ustadz tersenyum tatkala Dewa melepas pelukan dan menatapnya.
"Terima kasih, Pak Ustadz. Semua berkat ajaran dan didikan Pak Ustadz hingga anak saya bisa seperti ini. Sungguh, jasa Bapak tak akan pernah bisa saya balas dengan apa pun," tutur Dewa dengan hatinya yang tulus murni.
"Sama-sama, Pak. Semua ini juga tak terlepas dari peran Bapak dan Ibu di rumah. Kalian orang tua yang telah berhasil dalam mendidik anak. Baiklah, saya duluan. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!" Ia berlalu bersamaan dengan semua para jama'ah yang lain. Menyisakan Dewa dan Bima yang duduk berhadapan. Ia memang patut membanggakan diri memiliki anak yang sholeh yang akan selalu mendoakannya kelak, tapi ada hal yang membuatnya gelisah dari itu semua. Dan itu nampak jelas terpancar dari maniknya yang hitam.
"Beh, ada apa? Kenapa Babeh ngelamun?" Bima menilik wajah Dewa yang sendu. Laki-laki tua itu kembali meneteskan air mata mengingat siapa dirinya untuk Bima.
"Babeh bangga ama lu, Bim. Babeh juga bersyukur ama Allah karena dikasih anak sholeh kaya lu. Hati Babeh juga lega, tapi apa Babeh ini termasuk beruntung? Sedangkan Babeh kagak tahu doa lu bakal nyampe apa kagak buat Babeh ama Nyak di akherat nanti," ungkapnya tertunduk.
Hatinya benar-benar gelisah mengingat tak ada ikatan darah di antara mereka. Ia meragukan doa yang dilangitkan Bima untuk kedua orang tua. Apakah doa itu tertuju padanya, ataukah pada orang tua kandung Bima yang sesungguhnya. Apakah dia akan mendapat bagian dari doa tersebut?
Bima ikut tertunduk, berpikir. Ia tak tahu jika akan ada perasaan semacam ini. Ia sendiri pun tak tahu harus menjawab apa.
Bima mengusap punggung Dewa, sedikit berbohong tak apa, bukan?
"Beh, kata pak ustadz. Doa anak itu bakalan sampe ke orang tuanya sekalipun mereka tak ada ikatan darah karena orang tua tak harus yang melahirkan kita. Babeh ama Nyak orang tua Bima yang sebenernya walaupun Bima bukan lahir dari rahim Nyak, tapi doa yang Bima baca semua untuk Babeh ama Nyak. Cuma Allah yang tahu hati kita, Beh. Jadi, biar Allah yang nentuin semuanya." Bima tersenyum ketika wajah tua di hadapannya terangkat dan menatap padanya. Ia memeluk Bima erat.
"Makasih ... makasih karena lu anggap Nyak ama Babeh sebagai orang tua lu. Makasih, Tong. Lu emang-"
"Anak Babeh Dewa!" tukas Bima cepat. Tersenyum bibir keriput itu. Bima membenamkan wajah di pundaknya teringat akan petuah sang ustadz saat ia mengaji dulu.
"Adapun soal doa anak, hadits yang menyebut doa anak sholeh, yang dimaksud adalah anak kandung karena anak kandung memiliki kedudukan dan hukum tersendiri dalam Islam-"
__ADS_1
"Adapun anak angkat, sisi yang dipandang dalam masalah doa adalah sisi asbab (sebab). Jika ia menjadi orang sholeh oleh sebab orang tua angkatnya, maka setiap amal sholeh termasuk doa akan menuai pahala bagi orang tua angkatnya tersebut. Wallaahu a'lam." Bima memejamkan mata. Siapa pun Dewa dan Tina, baginya mereka berdualah orang tua sesungguhnya.
Dewa melepas pelukan, dirangkulnya bahu Bima bersama mereka meninggalkan masjid.