Bima

Bima
Part. 36


__ADS_3

Usai kejadian itu, tak ada lagi yang memandang rendah kepada Bima. Mereka bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk di masjid tersebut. Bima dan Dewa meninggalkan rumah Allah itu dengan perasaan yang berbeda.


"Gimana? Lu udah ngerti, 'kan, kenapa Babeh ajak lu sholat di mari?" Dewa bertanya sambil melirik putranya yang berjalan di samping dirinya.


Bima menoleh, mengangguk kecil menjawab pertanyaan Dewa.


"Kagak semua tempat bisa nerima orang dengan latar belakang yang buruk di masa lalunya. Soal tatto ini, sebagian masyarakat masih nganggepnya hina karena cuman ngotorin tubuh sendiri aja. Yah, emang bener, sih. Coba kalo lu kagak bela tadi, gimana nasib tu anak? Pengen deket ama Tuhan aja dihalang-halangin." Bima tertegun, ia menunduk meresapi setiap kata yang diuntai Dewa menjadi kalimat nasihat itu.


"Bima ngerti, Beh," lirihnya. Ia melirik tangan Dewa, tatto naga itu sedang menertawakan dirinya. Bahunya melorot seiring napas yang ia hembuskan.


"Babeh cuman kagak mau lu sampe ngelakuin yang dulu Babeh lakuin. Dulu, Babeh tu orang yang kagak kenal ama Tuhan, jauh dari agama kagak tahu yang namanya ibadah. Babeh kagak mau anak Babeh ngikutin jejak buruk itu." Dewa menepuk pundak Bima, wajah yang tertunduk itu mendongak, bertemu dengan senyum tulus di bibir renta milik Dewa.


Kepalanya mengangguk. Melanjutkan langkah menuju rumah. Disambut senyuman ramah, yang tak lepas dari wanita yang melayani mereka tanpa lelah.


Begitulah kehidupan, tidak semua orang menyukai apa yang dilakukan orang lain. Apa yang dianggap baik, belum tentu baik menurut orang lain. Kata pak ustadz, hidup itu sewajarnya saja. Bima tercenung kala suara ustadz yang memberinya nasihat kembali menggema di dalam telinga.


Esok hari yang tak ditunggu kedatangannya, tetap ia jumpai juga. Hari itu, Bima mencari alasan untuk meredam kecurigaan Dewa dan Tina.


"Nyak, Babeh, kalo Bima pulang telat, berarti Bima lagi cari kerjaan. Doain Bima moga-moga Bima cepet dapet kerjaan sesuai yang Bima mau," pamitnya pada Tina dan Dewa siang hari itu.


Uhuk-uhuk!


Suara batuk yang membandel berasal dari Dewa itu membuat Bima tidak tega jika ia harus mengecewakan dirinya. Namun, mau bagaimana lagi?


"Iya, lu ati-ati di jalan. Kagak usah pulang malem-malem," pinta Tina yang diangguki Bima. Ia pergi dengan perasaan yang tak menentu. Teman-temannya tak henti mengiriminya pesan, memastikan kedatangannya malam nanti. Akan tetapi, tak satu pun Bima tanggapi. Ia masih ragu.


Motor yang ia kendarai melaju pelan di jalanan. Berhenti saat lampu jalan berubah merah, menunggu hijau kembali. Di seberang sana, turut mengantri sebuah mobil yang kemarin sempat hilang dari intaian.

__ADS_1


"Tu mobil yang kemaren, kali ini gua kagak boleh kehilangan jejak lagi." Bima berbalik, menerjang kemacetan yang disebabkan lampu jalan itu. Banyak orang yang mengumpatinya melalui klakson yang mereka tekan. Cacian dan makian tak ia pedulikan, ia harus satu arah dengan mobil itu.


Bima memarkir motor di pinggir sebuah toko, menyalakan sebatang rokok, menunggu lampu jalanan menjadi hijau. Matanya menyipit karena udara panas yang menyengat. Bima tergesa membuang rokok di tangannya, menginjaknya sebelum mengenakan helm dan membuntuti mobil tersebut di saat melintasi tempatnya menunggu.


Jarak yang agak jauh, dengan beberapa kendaraan yang menghalangi, membuat Bima tak dicurigai. Ia terus membuntuti laju mobil tersebut hingga berhenti di sebuah bangunan tinggi menjulang dengan papan nama yang besar. Pratama Grup.


Seorang gadis yang usianya berada di atasnya itu keluar dari dalam mobil tersebut. Ia menunggu laki-laki yang memiliki rupa sepertinya. Namun, tak ada siapa pun lagi yang keluar dari dalam mobil tersebut.


"Ke mana laki-laki tua itu? Ngapa kagak keliatan?" Bergumam dengan dahi yang mengernyit dari dalam helm. Bima mengedarkan pandangan, di kejauhan, di sebuah restoran duduk dua orang laki-laki. Salah satunya adalah orang yang dia cari.


Bima memberanikan diri mendekat, ia mengenakan masker berpura-pura menjadi pelanggan. Duduk dengan tenang di kursi belakang laki-laki tua yang sedang mengganggu pikirannya itu. Ia hanya memesan minuman, dan berpura-pura mengerjakan tugas.


"Kau tahu, Ren, akhir-akhir ini aku merasa dekat dengan Baim-"


"Baim? Bukankah sudah dua puluh tahun berlalu sejak ia jatuh ke dalam jurang, dan polisi telah menutup kasusnya," tukas Rendy terkejut.


Degh!


Apa ...? Tapi Bima menahan diri untuk tidak beranjak. Ia ingin tahu kelanjutan dari kisah anak yang hilang di dalam jurang.


"Aku juga tidak mengerti karena bukan hanya diriku saja yang merasakannya, tapi Aulia, Ayra, juga anak kami yang bungsu turut merasakan hadirnya. Entahlah, Ren! Apakah Baim benar-benar telah tiada, ataukah dia ditemukan seseorang dan dirawat orang tersebut. Aku tidak tahu," ungkap Razka dengan tarikan napas yang dalam ia lakukan.


Bima mengepalkan kedua tangannya, dia adalah bayi yang ditemukan Tina di pinggir sawah. Bukan di dalam jurang. Sial!


"Semoga kemungkinan kedua walaupun terlambat, setidaknya kalian masih bisa saling bertemu. Hanya menunggu waktu saja yang menjawab," sahut suara Rendy yang diaminkan Razka.


Bima masih menunggu kelanjutannya, obrolan tentang bayi yang hilang dan perasaan aneh yang sedang memenuhi hatinya saat ini.

__ADS_1


"Ayah!"


"Paman!"


Suara perempuan dan laki-laki muda terdengar telinga Bima.


"Ayra, Briant, duduk!" titah Razka pada keduanya. Suara bangku yang ditarik ikut terdengar setelah itu, hanya perbincangan yang tak menarik menurut Bima. Ia hendak beranjak, tapi urung saat mendengar ucapan Briant.


"Paman, aku dengar ada yang membuntuti Paman di jalan. Apa itu benar?"


Bokong Bima yang sudah terangkat sedikit itu, kembali mendarat di kursinya. Ia menajamkan telinga.


"Paman sendiri tidak tahu, apakah dia memang sedang mengintai atau hanya kebetulan saja karena jika dilihat dari postur tubuhnya dan kendaraan yang ia bawa, Paman yakin dia masih sangat muda. Mungkin usianya tak jauh dari adik Ayra," jawab Razka.


Bima pada akhirnya sadar, yang sedang dibicarakan adalah dirinya. Getar ponselnya kembali mengganggu, ia mendengus. Sudah puluhan kali teman-temannya menghubungi. Suara decak lidah Bima, mengusik Razka yang duduk membelakangi. Perasaan itu datang lagi, perasaan dekat dengannya yang telah pergi.


"Iya, iya, gua usahin. Bawel bener mulut lu. Gua lagi ada urusan dulu, tapi gua kagak bisa janji entar malam bisa datang apa kagak." Suara Bima yang berbicara lewat sambungan telepon, berhasil menyita perhatian kelompok Razka.


Rendy dan Briant yang kebetulan menghadap ke arah Bima, menatap lekat pemuda yang cara bicaranya terdengar aneh itu. Bima yang sudah berdiri dengan tas yang sudah menggantung di bahu kanannya, memanggil pelayan. Membayar minumannya sebelum gegas keluar dari dalam restoran.


Sosoknya membuat Razka penasaran, tak berkedip mata keempatnya menatap Bima yang berjalan tergesa dengan ponsel masih melekat di telinga.


Siapa pemuda itu?


Razka masih memaku pandangan pada sosoknya sampai Bima menghilang di belokan. Beruntung, ia tak memarkir motornya di lahan parkiran restoran.


"Mungkin orang baru."

__ADS_1


Degh!


Celetukan Rendy membuat dada Razka berdegup kencang. Orang baru? Apakah orang itu yang dimaksud Razka? Orang baru? Dia harus mencari tahunya.


__ADS_2