Bima

Bima
Part. 60


__ADS_3

"Siapa kau?!" pekik sebuah suara dengan lengkingan yang tinggi. Laki-laki yang sedang duduk melamun di dekat jendela itu terlonjak kaget hingga terangkat kedua kakinya. Matanya melebar dengan mulut terbuka pula.


"K-kau ... kenapa mengagetkanku?" tanyanya dengan napas yang memburu. Ia menempel pada jendela, tubuhnya tertekuk di sofa single yang ia duduki.


Langkah gadis itu semakin membuat tubuhnya meringkuk ketakutan. Matanya memicing tajam, kedua rahang mengetat kuat. Ia mengintimidasi lawannya.


"Aku tanya siapa kau? Kenapa kau ada di rumahku?" Ia sedikit membungkuk di hadapan laki-laki itu. Bibirnya yang kehitaman gemetar karena gugup.


"Jawab!" Nasya menghentak sofa dengan kedua tangannya. Matanya melotot lebar semakin membuat laki-laki itu takut.


"I-Ibrahim-"


"Ibrahim? Siapa?" Tubuh Nasya berdiri tegak, dahinya mengernyit berpikir tentang nama Ibrahim. "Ibrahim? Ibrahim? Kakakku?" Ia menghujam tajam manik kecoklatan di hadapannya.


Kepalanya mengangguk beberapa kali dengan ekspresi lucu menggemaskan. Nasya menggelengkan kepala tak percaya.


"Aku tidak percaya. Kau pastilah hanya seorang penipu yang mengaku-ngaku menjadi Kakakku yang hilang itu, bukan? Aku tidak percaya," tolak Nasya sembari melipat kedua tangan di dada.


"Kata Kak Ayra, Kakak Baim lebih mirip dengan Ayah juga mirip dengan Ibu, tapi kau? Sedikit pun tidak memiliki kemiripan dengan salah satunya." Nasya menggeleng lagi. Sekalipun ia tak pernah melihat bayi Ibrahim, tapi dari cerita yang dia dengar kemarin, dia sudah bisa menarik kesimpulan seperti apa Kakaknya yang hilang itu.


"Kau tidak percaya? Aku memiliki buktinya?" katanya mulai percaya diri. Berkat benda itu, semua orang percaya bahwa dialah Ibrahim yang hilang itu.


Ia tersenyum, mulai mengendurkan tubuhnya yang menegang dan menetralkan hatinya. Ia yakin, gadis di hadapannya juga akan percaya padanya. Hatinya dihinggapi rasa congkak yang teramat.


"Bukti seperti apa?" Nasya mengangkat sebelah alisnya. Tatapannya sinis, bibirnya mencibir. Terkesan tak percaya.

__ADS_1


Mengerut dahi gadis itu tatkala Ibrahim memberikan kepalan tangannya. "Bukti itu ada di sini. Benda yang dalam tanganku ini adalah bukti bahwa aku Ibrahim," katanya jumawa. Senyum yang mengembang di bibir pemuda itu menunjukkan kepercayaan dirinya yang tinggi.


Mata Nasya membelalak ketika jemari yang terkepal itu mulai terangkat satu per satu dan memperlihatkan apa yang ada di dalamnya. Tangan Nasya menyambar cepat benda itu, tapi sayang kalah gesit darinya yang menarik kembali tangannya.


"Kau ... dasar pencuri. Itu milikku! Kau mencurinya dariku, kembalikan! Itu milikku!" Nasya hendak merebut kalung itu, kalung pemberian Bima saat ia kecil dulu. Kemarin, tanpa sengaja ia menjatuhkannya dan hilang entah ke mana.


"Eits ... kau tidak dapat mengambilnya dariku. Ini milikku, Kak Ayra sendiri yang membelikannya untukku saat bayi. Kau jangan mengaku-ngaku!" katanya sinis. Mulai menunjukkan sifat aslinya tanpa ia sadari.


Nasya tak mau mengalah, itu milik Bima dan dia harus mengembalikannya pada pemuda itu. Secara kebetulan mereka berada di akademi yang sama hanya berbeda bidang. Kalung itu hilang tanpa ia sadari, dan baru ingat saat bertemu dengan Bima.


"Kau jangan mengakui sesuatu yang bukan milikmu. Kalung itu hanya aku yang memilikinya. Itu bukan milikmu. Kembalikan!" Nasya ingin merebutnya kembali, tapi pemuda itu mendorong tubuhnya hingga terjerembab di atas lantai demi mempertahankan benda tersebut.


"Kau tidak bisa mengambilnya dariku. Pergi dan jangan ganggu aku. Aku tidak sudi memiliki adik sepertimu!" ketusnya seraya beranjak dan pergi meninggalkan sofa tersebut masuk ke dalam sebuah kamar yang diberikan Aulia padanya.


Nasya membelalak tak percaya, mulutnya terbuka. Ia mengedipkan mata sebelum beranjak menyusul si penipu itu. Nasya menggedor-gedor pintu kamar yang baru saja tertutup.


Di ambang pintu tertegun Aulia bersama Ayra yang baru saja datang dari berbelanja. Mereka saling melayangkan tatapan mendengar Nasya yang terus berteriak di sore hari itu.


"Ada apa?" Razka bertanya bingung. Kedua wanita itu menggelengkan kepala tak mengerti. Menunjuk ke dalam rumah, dan ikut mendengarkan teriakan putri bungsu mereka.


"Cepat keluar kau, bajingan! Itu kalung milikku. Kembalikan padaku cepat! Pergi kau dari rumahku. Aku tidak percaya kau adalah Kakakku!" Suara tinggi Nasya kembali terdengar berapi-api.


Razka tersenyum, tangannya sigap mencekal Ayra dan Aulia yang hendak menghampiri Nasya. Ia menarik keduanya untuk duduk tenang dan mendengarkan tanpa suara. Tatapan Aulia memprotes apa yang dilakukan Razka, tapi laki-laki itu mengangguk memintanya untuk percaya.


"Siapa yang akan mengembalikannya padamu, jelas-jelas ini milikku bukan milikmu. Dan siapa itu Bima? Aku tidak mengenalnya!" Sahutan dari dalam kamar tersebut tak kalah menggema. Razka mengernyit saat nama Bima disebut. Ini menarik. Apakah dua orang itu juga mengenal Bima?

__ADS_1


"Kau akan tahu saat aku membawanya ke sini nanti. Lihat saja! Apa yang akan kau lakukan saat berhadapan dengannya. Kau tidak mengenal siapa kak Bima! Aku akan mengadukanmu padanya. Kau dengar! Aku akan mengadukanmu padanya! Brengsek!" Nasya memukul pintu kuat-kuat mengakhiri emosinya.


Razka menunduk, ia memijit pelipisnya yang pening. Begitukah Nasya saat marah? Menyeramkan sekali! Ia melirik Aulia yang bergeming. Wajahnya memerah marah, kedua tangan mengepal erat.


"Hei, ada apa denganmu? Tahan emosimu, sayang. Mungkin Nasya punya alasan sendiri kenapa dia seperti itu. Kita akan tanya baik-baik padanya," ucap Razka mencegah ledakan emosi Aulia yang sudah berada di ubun-ubun.


Wanita itu menarik udara sebanyak mungkin, mengeluarkan emosi secara perlahan dan hati-hati.


"Dek!" Suara Ayra membuat mereka semua menoleh pada Nasya yang berjalan dengan kedua tangan bersilang di perut.


"Ka-kalian ... kenapa ada di sini? Dari mana saja kalian? Lihat, di dalam rumah ada orang asing dan mengaku-ngaku sebagai kakak Baim. Apa kalian tahu itu?" sungut Nasya yang tak tahu apa-apa soal kedatangan pemuda itu. Tangannya menunjuk kamar yang dimasuki Ibrahim palsu.


"Nasya, tenang dulu, Nak. Sini, duduk dulu dan jelaskan kepada kami apa yang kau katakan tadi," pinta Razka sembari menggenggam tangan Aulia dan meremasnya. Meredam emosi yang terasa lewat getar di tangan.


Ayra menepuk samping tubuhnya, meminta sang adik bungsu untuk duduk di dekatnya. Nasya yang masih kesal, menghentakkan kakinya saat berjalan mendekat. Ia bahkan membanting dirinya di sofa sebagai bentuk protes hadirnya pemuda itu.


"Katakan, kenapa kau marah-marah seperti tadi?" Razka mengambil tindakan sebelum Aulia.


Nasya memandangi Ayahnya yang berwajah damai, lalu berputar pada Aulia yang terlihat marah padanya.


"Sebelumnya, Ayah, Ibu, Kakak ... beritahu aku siapa pemuda itu? Kenapa dia ada di rumah dan mengaku-ngaku sebagai Ibrahim?" Nasya melempar pertanyaan pada mereka bertiga. Ayra menunduk gelisah, ia yang telah membawa laki-laki itu tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.


"Dia Ibrahim, Nasya. Kakakmu yang hilang. Kau harus menghormatinya sama seperti kau menghormati Kak Ayra!" tegas Aulia tak ingin dibantah. Razka memejamkan mata, keyakinan Aulia benar-benar tidak berdasar. Ia yakin, tapi buta. Laki-laki berlesung pipi itu kembali membuka matanya dan menatap putri bungsu mereka yang terkesan tak percaya.


"Aku tidak percaya. Atas dasar apa kalian percaya begitu saja jika dia adalah Ibrahim? Seharusnya sebagai orang tua kalian bisa merasakan ikatan batin yang kuat terhadapnya, tapi aku melihat keragu-raguan di mata kalian. Jika kalian saja tidak yakin terhadapnya, bagaimana aku akan percaya padanya?" Razka tersenyum, membenarkan apa yang dikatakan gadis itu.

__ADS_1


Sementara Ayra menunduk semakin dalam, dan Aulia menganga tak percaya. Mengingat pertemuannya tadi dengan pemuda itu. Ia sadar tak ada getar yang selama ini ia rasakan di saat keberadaan Ibrahim begitu dekat. Jantungnya berdetak, tapi tak dapat merasakan kehadiran sosoknya.


"Katakan padaku, apa karena kalung yang ada padanya hingga kalian percaya bahwa dia adalah putra kalian yang hilang itu? Perlu kalian tahu, kalung itu milikku!" Aulia membelalak, Ayra pun sama terkejutnya. Hanya Razka yang bersikap tenang.


__ADS_2