
Pagi menjelang siang, sang bayu berhembus lembut, halus menyentuh kulit. Pintu rumah yang terbuka, membiarkan sinar sang mentari masuk untuk menyapa. Di dalam sana, keempat orang masih duduk berhadapan.
Pemuda itu belum berkeinginan mengangkat wajah. Ia gamang dalam tunduk yang dalam. Kalimat lelaki tua sebelumnya terus mengiang di telinga. Jangan hanya karena kesalahan satu orang, lantas semua orang ikut menjadi korbannya.
Razka masih menunggu usai memaparkan apa yang terdetik dalam hatinya. Sesekali tangannya yang hampir keriput mengusap mata yang terasa digenangi air. Mata tuanya tak lepas memandang wajah serupa di hadapan. Tersirat rasa bangga karena ia memiliki rasa empati yang tinggi dan tahu balas budi.
Kedua gadis itu pula terisak mendengar kisah singkat sang Ayah tentang bagaimana perjuangan si sulung dalam meyakinkan hati mereka bahwa anak yang hilang itu masih hidup dan baik-baik saja.
"Kakak!" Suara Bima yang memanggil membuat kepala Ayra terangkat. Pandang keduanya bertemu, beberapa detik saja. Rindu terpancar dari manik mereka, berbinar terang mengundang nyanyian syahdu para perindu.
Bima tersenyum tipis meski air terjatuh dari salah satu matanya. Ayra menggigit daging dalam bibirnya, menahan gejolak ingin merengkuh tubuh itu. Bima melirik gadis lain yang diam tertunduk, hanya kedua bahunya yang nampak terguncang naik dan turun.
Sorot matanya kembali berpijak pada manik indah meneduhkan milik jelmaan Aisyah itu. Ia menggeleng, setetes air jatuh kembali dari bagian matanya yang lain. Ia mengusapnya sambil membuang pandangan.
"Terima kasih. Terima kasih karena Kakak tidak menganggap aku mati. Terima kasih karena Kakak memiliki keyakinan yang tinggi bahwa bayi yang terjun ke dalam jurang itu masihlah hidup. Terima kasih karena doa dan keyakinan Kakak, aku baik-baik saja selama dua puluh tahun ini. Aku tidak tahu seandainya tak ada yang mendoakan aku dan semua orang menganggapku mati, mungkin aku tak dapat menikmati hidup hingga dua puluh tahun ini." Bima terisak, ia tertunduk sambil melipat bibir kuat-kuat.
Wajah itu menengadah, kembali menghujam manik sang Kakak dengan matanya yang memerah.
"Bagaimana Kakak bisa menganggapmu mati, sedangkan detak jantungmu terus hidup di dalam sini," sahut Ayra sembari meletakkan telapak tangan di bagian dada kirinya. Bibirnya mengulas senyum, tapi air dari mata terus berderai jatuh.
Bima beringsut mendekatkan diri padanya. Ia memeluk gadis itu dengan erat, bagaimana jika tak ada yang mendoakan dia tetap hidup? Mungkin saja nasibnya akan berubah seperti yang dikatakan banyak orang.
"Aku berhutang pada Kakak." Bima membenamkan wajah di pundak Ayra, menciumnya dalam-dalam, menghirup aroma segar dari parfum bunga yang dioleskan Ayra di hijabnya.
__ADS_1
"Tidak perlu, sayang. Kau adikku, kau tidak berhutang apapun pada Kakak, Baim," sahut Ayra pula ikut mempererat pelukannya.
Razka menyapu air di matanya, terharu melihat ketulusan cinta yang diberikan Ayra untuk putranya itu meskipun mereka terlahir dari rahim yang berbeda. Ia menarik tubuh Nasya, dan memeluk putri bungsunya itu.
Di balik sebuah tembok yang membatasi ruang mereka, dua lansia ikut terhanyut. Mereka berpelukan, Tina bahkan menangis dengan wajah yang membenam di dada suaminya. Percakapan keempat orang itu, membuatnya tersadar. Baik Bima ataupun Razka keduanya tak akan pernah membiarkan mereka hidup sendiri di masa senja.
"Ibrahim!" Suara Razka membuat Bima melepas pelukan, tapi Ayra tak mengizinkannya beranjak dari sisi tempatnya duduk. Ia menoleh menjawab panggilan sang Ayah.
Razka melirik putri bungsunya yang hendak beranjak, ia tersenyum kala melihat Nasya yang ikut duduk di sisi lain Bima. Kedua gadis itu menggamit sang pemuda di antara mereka. Nasya bersikap manja karena ia akan dapat merasakan kasih sayang seorang Kakak laki-laki yang melindungi untuknya.
Bima melirik kedua gadis itu, membiarkan mereka memegangi tangannya. Tak ia pungkiri hatinya kini berbunga-bunga.
"Ayah harap kau tidak membenci Ibumu, Nak. Ibumu hanya perlu melihat bagaimana besarnya cinta kedua orang tua yang telah mengasuhmu sejak bayi. Mungkin dengan begitu, dia akan mengerti dan kita dapat hidup rukun seperti yang diinginkan semua orang dalam berkeluarga," tutur Razka. Pandangannya memohon, meminta pengertian Bima.
"Benar, Kak. Mungkin saja isi pikiran Ibu berbeda dengan keadaan yang sebenarnya. Tolong jangan membenci Ibu. Hatinya sangat rapuh dan mudah dimanfaatkan orang lain. Kakak tidak membenci Ibu kita, bukan?" Nasya menimpali dengan wajah mendongak pada Kakak laki-laki yang baru saja ia ketahui itu.
Nasya mencela dirinya sendiri, yang menginginkan Bima lebih dari sekedar Kakak. Sayangnya, dia adalah Kakaknya.
"Aku tidak membenci Ibu. Bagaimana aku bisa membencinya, sedangkan ia yang sudah berjuang bertaruh nyawa dalam menghadirkan aku ke dunia ini ... tapi, Ayah, aku minta maaf jika Ibu masih bersikukuh ingin aku meninggalkan Nyak ama Babeh, aku belum bisa bertemu dengannya. Kecuali, Ibu sudah merelakan aku merawat mereka di sini," ungkap Bima dengan kelapangan hatinya.
Razka mengangguk setuju, tak apa. Itu pun sebagai pelajaran untuk Aulia supaya mau hidup berdampingan dengan Dewa dan Tina. Tina semakin tergugu, beruntung Dewa mendekapnya. Laki-laki tua itu pula ikut menitikkan air mata terharu mendengar ucapan Bima. Anak itu benar-benar ingin merawat mereka, tak hanya sekedar kata di lisan saja.
"Ayah mengerti," katanya.
__ADS_1
"Nasya?" tegur Ayra dikala sang adik meraih gelas dan menuangkan teh ke dalamnya.
"Aku haus, memangnya menangis tidak menguras tenaga apa? Tenggorokanku kering," sungutnya seraya menyesap teh di cangkir dengan nikmatnya, "ah ... segarnya! Memang pas minum teh hangat selepas hujan. Tubuh yang tadinya dingin perlahan menghangat," ucapnya memandangi cangkir di tangan.
Ekspresi wajahnya menggemaskan, Bima mencubit pipi gembil sang adik dan mengecupnya. Rona merah hadir tanpa diundang. Ah ... Kenapa hatinya masih saja berharap Bima bukan Kakaknya. Oh, sial!
Gelak tawa tercipta di rumah sederhana itu. Bima memanggil Dewa dan Tina untuk bergabung dan berbincang bersama-sama. Kedua gadis itu antusias bertanya tentang bagaimana mereka menemukan Bima. Dilanjut Dewa yang bercerita tentang Bima kecil yang cerdas.
Ayra memicingkan mata saat lengan baju Dewa tersingkap. Tatto naga milik laki-laki itu sama persis dengan milik laki-laki yang ia temui di rumah Bima saat di desa dulu.
"Mmm ... Pak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ayra memancing kejujuran Dewa. Semua orang terdiam, termasuk Bima yang ingin tahu jawaban Dewa.
Tak dinyana, laki-laki tua itu menggulung lengan bajunya. Nampaklah apa yang selama ini tersembunyi di dalamnya. Ia menunjukkan tatto naga yang tergambar di tangannya.
"Apa karena kau melihat tatto di lenganku ini? Itu sebabnya kau merasa kita pernah bertemu?" tanya Dewa sambil tersenyum maklum melihat reaksi Ayra yang terkejut.
Ia menatap wajah dan tatto Dewa bergantian, mengingat kembali sosok tua di hadapannya itu.
"A-apakah Bapak penjaga parkir itu?" Terbata Ayra bertanya dikala mengingat semasa ia mengintai seorang laki-laki paruh baya yang mengatur kendaraan di lahan parkir pasar saat di desa dulu.
Dewa mengulas senyum, ada rasa tak enak di hati yang tersirat di manik tuanya. Tak enak karena ia membawa lari Bima ke kota demi menghindari pertemuannya dengan mereka. Ada sesal terbersit karena pada akhirnya Bima bertemu juga dengan keluarganya.
Benang takdir terkadang memang rumit.
__ADS_1
"Kau benar, Nak. Aku penjaga parkir itu. Maaf karena waktu itu aku tidak mengatakan hal yang jujur kepadamu soal Bima. Aku hanya takut dia pergi dariku dan saat itu aku benar-benar tidak siap kehilangan Bima. Maafkan aku sekali lagi, aku benar-benar menyesal," ungkap Dewa tertunduk dalam-dalam menyesali semua yang terjadi.
Razka menggelengkan kepala untuk memperingati Ayra agar tak lagi membahas soal di desa dulu.