Bima

Bima
Part. 86


__ADS_3

"Baim!"


"Bima!"


Brak!


"Argh!"


Motor Bima menghantam pembatas jalan karena terdorong sebuah mobil yang melaju tak terkendali dari arah belakang, membuatnya jatuh dan terguling ke tengah jalan.


"Ibrahim!" jerit Aulia pilu. Air matanya kian deras mengalir, Ibrahim masih terbaring di tengah jalan. Merintih kesakitan karena sebelah kakinya yang terjepit badan motor.


Sebelah tangan pemuda itu tergores jalanan, kulitnya mengelupas dan meninggalkan jejak luka yang cukup besar. Beruntung, ia mengenakan helm melindungi kepalanya dari benturan yang tak diinginkan. Orang-orang datang berkerumun membantunya terlepas dari jepitan badan motor itu. Ia mendongak, menatap sayu Aulia yang gelisah melirik kanan dan kiri hendak menyeberang.


Kendaraan yang lalu-lalang tak mengizinkannya untuk melangkah. Ia memaksa kakinya melangkah dengan kedua tangan terbentang menghentikan laju kendaraan yang tiada habisnya.


"Ibu!" Bima bergumam di antara hiruk-pikuk manusia-manusia yang sedang bahu-membahu membantunya. Mobil yang menabrak motor Bima tak berkutik karena dihadang sekelompok anak muda yang mengendarai motor besar seperti milik Bima.


Seorang rekan menelpon polisi, menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Bima. Rekan mereka. Secara kebetulan, Roy dan teman-teman Bima yang lain sedang melintas di jalanan tersebut. Mereka melihat kejadian naas yang menimpa Bima barusan.


Roy berlari ke arah Aulia yang berjalan tertatih saat Bima yang tak henti menatapnya. Ia membawa wanita ringkih itu ke tempat Bima dievakuasi warga. Motornya sendiri dibawa salah satu teman Bima ke tepi. Untuk beberapa saat, jalanan menjadi macet dan kendaraan mengular cukup panjang.


Anak-anak muda geng motor Bima sigap mengatur lalu-lintas sambil menunggu pihak berwajib datang. Kemacetan pun terurai dan jalanan kembali normal. Bima memejamkan mata, merasakan kakinya yang ngilu dan berdenyut.


Ia menarik napas pendek-pendek, tangannya terkepal menahan rasa nyeri yang hebat di sebelah kakinya. Menjerit tertahan, peluh bercucuran bercampur air mata yang ikut jatuh. Bibirnya terlipat kuat, mengerang tertahan.


Semua orang bergidik ngeri melihat luka di kaki Bima yang menganga dan tak henti mengeluarkan darah.


Gua kagak boleh pingsan, gua kudu tetap sadar.


Matanya berkunang-kunang, bayangan Aulia bersama Roy nampak buram mendekat.


"Ibu!" Bibir pucatnya bergumam memanggil wanita itu. Tubuhnya semakin lemas dan lunglai. Pandangannya semakin mengabur dan suram.

__ADS_1


"Bima! Kau tak apa?" Suara Roy mengusik gendang telinga. Bima meraba dalam sayupnya suara yang ia dengar.


"R-roy? Itu lu?" tanyanya lemah.


"Iya, ini aku," jawab Roy panik.


"Baim! Kau harus kuat, Nak!" Suara Aulia turut menjejali rungunya. Bima kembali meraba kehadiran sosok wanita itu.


"Ibu!" Hampir tak terdengar suara yang ia keluarkan.


"Ibu di sini, sayang ... tolong bawa anakku ke rumah sakit. Kalian temannya, bukan? Tolong bawa dia ke rumah sakit," pinta Aulia dengan tangis yang pilu terdengar.


Bima hampir tak sadarkan diri, kelopaknya tertutup sedikit demi sedikit. Semakin lama semakin terasa berat.


Gua kudu tetep sadar, gua kagak boleh pingsan. Kagak boleh!


Tekad dalam hati begitu kuat, tapi seluruh sendi dan otot dalam tubuhnya semakin melemah. Suara Aulia yang menangis berbaur bersama suara teman-teman yang terus menjejali telinganya.


"Kau harus kuat, Bima. Kau dengar! Ambulance sedang menuju kemari," ucap suara Roy lagi dengan getar ketakutan yang tak dapat ia tahan.


Sirine ambulance dan mobil polisi berhenti tak jauh dari posisinya berbaring. Tim medis dengan cekatan membawa Bima ke dalam ambulance, mereka memberi pertolongan pertama pada luka menganga di kaki dan tangannya. Di samping pemuda itu, Aulia tak henti menangis. Tangannya menggenggam erat jemari Bima yang terasa lemah.


Bibirnya tak henti menyemangati pemuda yang terbaring tak sadarkan diri itu. Bima pingsan, begitu tim medis datang.


Polisi membawa si pengemudi yang ditahan teman-teman Bima berikut bukti mobil miliknya yang menabrak bagian belakang motor pemuda malang itu. Keramaian di jalanan, dibubarkan pihak kepolisian usai tubuh korban dibawa ambulance ke rumah sakit.


Tersangka adalah seorang pemuda dengan penampilan berkelas, ia sempat menatap Bima sebelum polisi memaksanya untuk masuk ke dalam mobil. Prodeo menantinya di sana.


"Sayang, bertahanlah, Nak. Jangan tinggalkan Ibu lagi. Jangan pergi lagi. Maafkan Ibu, Ibrahim, Ibu sudah bersikap egois kepadamu. Maafkan Ibu," lirih Aulia sambil mencium tangan putranya.


Tangisnya tak kunjung mereda, bayangan Ibrahim yang jatuh dan menghilang kembali melintas. Itu menjadi ketakutan terbesar dalam hidup Aulia hingga ia trauma berkepanjangan. Lalu, kini setelah mereka bertemu kejadian naas itu menimpa kembali.


Di belakang, rombongan teman-teman Bima mengikuti ambulance sampai tiba di rumah sakit. Sayang, mereka semua tak dapat ikut masuk ke dalam. Bersama Aulia dan Roy, mereka menunggu di depan ruang IGD.

__ADS_1


Tak henti berdoa untuk keselamatan rekan satu tim mereka meskipun Bima telah menyatakan diri keluar dari balapan.


"Ya Allah ... selamatkan anakku. Aku tidak ingin kehilangannya lagi, ya Allah," lirih Aulia sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


Roy yang duduk di sampingnya, mengaminkan doa Aulia. Mereka sama seperti wanita itu, tak ingin kehilangan teman yang hebat seperti Bima.


"Sabar, Bu. Semoga Bima baik-baik saja," ucap Roy mencoba menenangkan Aulia yang tak kunjung berhenti menangis.


Tangan wanita itu terbuka, ia mengangkat wajah menoleh pada sosok pemuda yang seusia dengan Bima.


"Maaf, apa kalian teman-teman anakku?" tanyanya dengan lirih. Matanya yang basah menyiratkan kesedihan hatinya.


"Benar, Bu. Bima teman kami yang hebat sejak pertama kami berteman saat SMA dulu. Kami juga tak ingin kehilangan dirinya," jawab Roy dengan kesungguhan hatinya.


"Benar, Bu. Bima banyak menolong kami, dia tak pernah membedakan kami sebagai teman. Semua ditolongnya, semua dibelanya saat kami sedang kesusahan," sahut yang lain menimpali ucapan Roy.


Aulia melemparkan pandangan pada pemuda lainnya, hanya tiga orang pemuda yang diizinkan. Mereka duduk di lantai menunggu berhadapan dengannya. Mengenakan jaket kulit yang sama dengan logo sama pula.


Wanita berhijab itu tersenyum, mengangguk kecil sebagai rasa terima kasih pada teman-teman anaknya itu.


"Terima kasih, karena kalian ada di sana anakku mendapatkan bantuan dengan cepat. Kalian anak-anak yang baik, suatu saat datanglah ke rumah kita makan bersama-sama," ucap Aulia sembari menyusut air mata yang jatuh di pipi.


"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak." Mereka pun tersenyum, ramah sekali Ibu Bima. Hanya saja Aulia tak terbiasa menyebut Bima untuk panggilan pemuda yang saat ini sedang ditangani dokter di dalam ruangan.


Hening. Mereka semua terdiam, hati tak henti melangitkan doa, berharap kemurahan hati Tuhan untuk menyelamatkan nyawa teman mereka. Bima lebih dari sekedar teman bagi mereka, ia seperti seorang penasihat yang akan memberi petuah dikala melihat hal yang melenceng dilakukan oleh mereka.


Hadirnya di tengah-tengah mereka bagai sebuah bingkisan hadiah dari Tuhan yang sengaja dikirim untuk meluruskan jalan mereka yang berbelok. Berkatnya, mereka dapat mengenal Tuhan. Melalui ibadah yang diajarkan Bima secara tertatih, shalat, mengaji, mengenal satu per satu huruf dari bacaan Al-Qur'an.


Mereka menunduk dikala masa-masa beribadah bersama Bima melintas dalam benak. Itulah saat-saat menenangkan dalam hidup yang pernah mereka rasakan, disaat Bima menjadi imam shalat untuk mereka. Ada rindu di hati, rindu ingin merengkuh kembali ketenangan bersama sosoknya.


Getar ponsel Aulia menyita perhatian mereka, wanita itu gegas mengambil benda tersebut dari saku daster yang ia kenakan. Tangannya cekatan menggeser tombol hijau menjawab panggilan.


"Hallo ... Kak ....!" Aulia tak dapat melanjutkan kata-kata, air mata merangsek turun dikala ia mendengar suara Razka dari seberang telepon itu.

__ADS_1


Laki-laki di sana terdengar cemas, berulangkali memanggil istrinya, tapi Aulia tetap tak menyahut dan hanya memperdengarkan suara tangisan saja.


"Datang ke rumah sakit, Ibrahim kecelakaan."


__ADS_2